Because I Love You

Because I Love You
Aneh


__ADS_3

"Kia, sayang..." panggil Lucky yang baru saja tiba dilokasi acara resepsi Richie. Lucky yang setelah akad nikah ijin karena ada acara lainnya terpaksa putar balik begitu dapat laporan dari Bima berupa video kalau Kia sibuk dengan teman-temannya Richie dan juga Alex, tentu saja Lucky tidak rela keponakannya berakrab-akrab dengan lelaki lain, cemburu? kalau Lucky bilang sih bukan, cuma tidak mau Kia dipermainkan para lelaki, ahiiimmm.


"Loh Om Lucky kok balik lagi? tidak jadi meeting?" tanya Kia yang lagi asik bercanda dengan segerombolan pria entah siapa lagi, beda dengan video yang Bima Kirim tadi. Ck... kenapa harus sama cowok-cowok sih, kesal Lucky dalam hati.


"Ternyata besok, bukan hari ini." jawab Lucky setelah berhasil amankan Kia dari para Lelaki hiding belang, menurut Lucky begitu, cuma dia saja yang tidak belang hahaha.


"Bisa begitu sih, tumben sekretaris Om tidak professional." Kia mencibir, sebenarnya Lucky yang jadi tidak professional malam ini, minta asistennya wakilkan pertemuan dengan Keiko yang ingin bicarakan pekerjaan mereka malam ini. Bukan hanya Keiko saja ada beberapa pihak terkait yang akan ikut pertemuan malam ini.


"Bukan salah dia sih." jawab Lucky tertawa.


"Opa Micko mana?" tanya Lucky lagi.


"Itu sama Manta." tunjuk Kia pada keluarga Lucky yang sedang berkumpul saksikan acara panggung yang sedang seru-serunya kerjai Richie dan Tori.


"Ayo kesana Om." ajak Kia, bermaksud antarkan Lucky lalu mulai keliling cari jodoh, banyak cowok ganteng malam ini, Kia tidak mau sia-siakan kesempatan yang ada. Siapa tahu ada yang jadi jodohnya, begitu pikir Kia.


"Tidak mau, nanti mereka bahas perjodohan, malas." Lucky menolak.


"Kia bilang sama Tante Lee saja Om." kata Kia, menurutnya mumpung Lucky lagi sering bertemu dengan mantan pacarnya itu.


"I never look back sayang." jawab Lucky mantap.


"Jadi maunya sama siapa? Om ribet deh. Kasihan Opa Micko tuh, mau tenang biar anak bontotnya tidak jadi playboy." Kia mengomel.


"Enak saja playboy." Lucky mendengus.


"Buktinya pacar Om tak terhitung, huh." Kia balas mendengus.


"Pacar boleh banyak, tapi istri cuma satu dong." jawab Lucky terkekeh.


"Mana istrinya?" tanya Kia.


"Ini." jawab Lucky merangkul Kia sambil tertawa.


"Hmmm..." Kia mencibir.


"Kita tunangan saja yuk, biar Om tidak didesak menikah, kamu kan mau ke Ohio empat tahun. Lumayan Om aman tidak diburu-buru kalau alasannya menunggu kamu selesai kuliah, bagaimana setuju?" bujuk Lucky sambil berbisik, bukan takut didengar orang tapi suara music yang terdengar mengharuskan ia bicara lebih dekat dengan Kia tanpa harus berteriak.


"Ini cuma buat bantu Om, supaya Om aman tidak menikah akhir tahun ini?" tanya Kia polos.


"Hu uh." Lucky anggukan kepalanya.


"Nanti nasib Kia bagaimana? setelah tunangan sama Om, malah Kia yang dipaksa menikah." Kia berpikir, "Kita cuma tunangan main-main supaya Om bebas kan?" Lucky kembali anggukan kepalanya, ia juga belum yakin apa memang Kia yang ia mau jadikan istrinya, tapi ia pikir tunangan dengan Kia paling aman saat ini, Lucky belum mau menikah.


"Kia pikir-pikir dulu deh, nanti kalau di Ohio Kia bertemu cowok yang Kia taksir kan repot, sementara Kia sudah tunangan sama Om Lucky." Kia kerutkan dahinya.


"Kamu kan disana kuliah, kenapa naksir-naksir cowok sih?" omel Lucky tidak terima.


"Ya Kia kan harus pikirkan masa depan Kia juga." jawab Kia sok iye.


"Nih masa depan kamu nih." tunjuk Lucky pada hidungnya.


"Hahaha..." Kia terbahak anggap Lucky bercanda.


"Kalau kita tunangan kan, berarti Om masa depan kamu, jangan cari cowok lain lah." kata Lucky mencubit pipi Kia yang masih dirangkulnya.


"Ck, Om sok iye. Memang Om mau jadikan Kia istri? jangan ngaco deh, Om cuma mau bebas karena belum mau menikah kan? jadi manfaatkan Kia." Kia mencubit perut Lucky yang tertawa dibuatnya.


"Kia, kalau ternyata kita berjodoh bagaimana?" tanya Lucky pada Kia.


"Aneh ah." jawab Kia.

__ADS_1


"Jodoh memang kadang suka aneh sih. Lihat saja Panta sama Manta, Baen sama Daniel dan Ichie sama Tori, mereka semua aneh." kata Lucky berikan contoh.


"Dan yang paling aneh kalau Kia sama Om Lucky menikah." jawab Kia terbahak.


"Ya namanya saja jodoh." Lucky mengedikkan bahunya.


"Om mau kita berjodoh?" tanya Kia pada Lucky.


"Sekarang sih belum kepikiran, cuma kepikiran ajak kamu tunangan saja." jawab Lucky.


"Terus setelah tunangan?" tanya Kia.


"Ya kamu berangkat sekolah yang benar sampai selesai jangan pikir cari cowok, genit-genitan di Ohio." jawab Lucky.


"Terus Om di Jakarta pacaran sana sini?" tanya Kia.


"Om bekerja sayang." jawab Lucky.


"Om ribet, kenapa tidak ajak tunangan cewek yang om mau jadikan istri saja sih?"


"Om belum tahu siapa yang mau om jadikan istri karena Om belum mau menikah, Kia." jawab Lucky.


"Terus korbanin Kia jadi tunangan Om, enak saja." Kia tidak terima.


"Dengar deh, kalau kamu sudah selesai kuliah Dan ternyata belum jatuh cinta sama cowok lain dan Om juga begitu, kita menikah." jawab Lucky.


"Kalau Om jatuh cinta sama cewek lain, sementara Kia masih jadi tunangan Om, konyol deh nasib Kia." Kia gelengkan kepalanya, agak ngeri bayangkan tunangannya menikah dengan wanita lain.


"Loh kan kamu tidak mau menikah sama Om juga." jawab Lucky.


"Memang Om mau menikah sama Kia?" tanya Kia.


"Kalau kamu sudah lulus Dan ternyata kita tidak bertemu yang lain, berarti kita jodoh dan harus menikah." jawab Lucky.


"Tidak boleh!" tegas Lucky.


"Loh, Kia bingung ah."


"Tidak boleh kalau mencari dengan sengaja." jawab Lucky.


"Kalau tidak sengaja boleh?" tanya Kia.


"Mana ada tidak sengaja bertemu jodoh, sudah jelas punya tunangan." jawab Lucky mutar-mutar.


"Bingung ah sama Om Lucky." Kia menepuk bahu Lucky, mereka masih saja berangkulan, sambil negosiasi.


"Kamu tuh yang bikin bingung." jawab Lucky pandangi Kia.


"Kenapa jadi Kia yang bikin bingung, Om Lucky yang punya ide juga." tidak mau disalahkan, ya Lucky memang bingung bagaimana perasaannya pada Kia, jujur ia belum mau menikah, saat ini. Meski dengan Kia sekalipun, keponakan yang menyita habis waktu, pikiran dan energinya. Tunangan dengan Kia sambil menunggu Kia selesai kuliah rasanya pilihan yang tepat untuk Lucky yakinkan perasaannya pada Kia seperti yang banyak orang bilang saat ini, kalau Lucky mencintai Kia.


"Kita tunangan dulu saja Kia, Om tidak bisa kalau harus menikah sama yang lain." Lucky menghela nafas.


"Om mau menikah sama siapa, menikah sama Kia?" tanya Kia galak sedikit mendongak pandangi Lucky.


"Tidak sekarang." jawab Lucky yang memang belum mau menikah.


"Bingung ah, Om bikin Kia bingung tahu." sekarang Kia menjewer telinga Om kesayangannya itu.


"Iih, sakit Kia." Lucky selamatkan telinganya.


"Habis Om aneh sih." kesal Kia.

__ADS_1


"Tidak aneh Kia, kan sudah jelas Om ajak kamu tunangan."


"Tujuan Om ajak Kia tunangan itu apa?" Kia sedikit berteriak, kesal sudah pasti.


"Supaya kita aman." jawab Lucky.


"Aman bagaimana?" tanya Kia.


"Om tidak didesak menikah dan kamu tidak kecentilan sama cowok-cowok lain karena sudah punya tunangan." jawab Lucky nyengir.


"Bodo ah, Om Lucky tidak jelas." sungut Kia berjalan tinggalkan Lucky.


"Kia, mau kemana?" Lucky berlari mengejar Kia.


"Kia mau cari jodoh." jawab Kia berjalan lebih cepat lagi.


"Eh, jodoh kamu disini." Lucky menarik lengan Kia dan memeluknya, tidak ijinkan Kia cari jodoh. Tentu saja aksi pelukan mereka jadi perhatian kedua Micko dan Raymond.


"Gue bilang juga apa Ray, anak gue tidak bisa jauh dari anak lu, kita nikahkan saja lah." kata Micko yang sedang didekat Raymond.


"Kia masih mau kuliah Om." jawab Raymond,matanya tidak lepas dari dua sejoli itu.


"Om, lepasin." pinta Kia karena Lucky masih saja memeluknya.


"Apa yang bikin kamu bingung sih?" tanya Lucky pada Kia.


"Om ajak Kia tunangan." jawab Kia.


"Biar kamu bisa kuliah." jawab Lucky.


"Biar om bebas dari desakan menikah kan?"


"Biar tidak didesak menikah dengan. wanita lain." jawab Lucky.


"Kalau kita tunangan nanti Om didesak menikah sama Kia." jawab Kia.


"Tidak apa kalau kamu mau." jawab Lucky akhirnya.


"Kia masih mau kuliah Om." jawab Kia.


"Makanya Om ajak kamu tunangan dulu setelahnya baru kita menikah." jawab Lucky.


"Tadi Om tidak bilang begitu." Kia menepuk bahu Lucky, berusaha lepaskan pelukan Lucky.


"Om berubah pikiran, Om akan tunggu kamu." jawab Lucky terkekeh.


"Ah..." Kia mengerutkan keningnya.


"Jangan cari cowok lain."


"Ah..." Kia hentakkan kakinya, dia jadi bingung.


"Om tidak mau menikah sama yang lain Kia."


"Kia bingung." katanya segera berlari.


"Ih mau kemana?" kembali ditangkap Lucky.


"Om aneh tiba-tiba ajak tunangan."


"Om juga aneh tiba-tiba mau menikah sama Kia." lanjut Kia lagi.

__ADS_1


"Aaah..." Kia kembali berteriak, lagi-lagi Lucky memeluknya.


"Kalau kamu berdebar kamu harus bilang iya Kia." bisik Lucky sementara Kia berkerut dan segera mencari tahu apa ia berdebar atau tidak, sudah pasti jantungnya berdebar, tapi Kia mencari tahu debarannya apa sama dengan debaran saat ia menonton film-film uwu selama ini.


__ADS_2