
"Maaaam... eh ada Pap juga" sambut Cadi sambil tersenyum tanpa dosa saat Balen datang ke kamar Jelita bersama Daniel.
"Kamu tidak bilang-bilang mau kesini, Papa dan Mama cari kamu sampai bingung Cadi." tegur Daniel pada bungsunya yang bukakan pintu, dibelakangnya tampak Kate dan Jelita ikut terserah.
"Aku sudah bilang sama Galen, kalau Mam and Pap cari aku di atas." jawab Cadi, Balen anggukan kepalanya kebetulan tadi dia iseng bertanya pada Galen, ternyata memang Cadi titip pesan sama adiknya.
"Kak Jelita maaf jadi merepotkan." kata Balen akhirnya menyapa Jelita.
"Kamu kehilangan Cadi? aku tidak tahu dia anak siapa, yang aku tahu tadi dia bersama Kia dan Belin." kata Jelita sambil tertawa.
"Iya ini dia anak bungsu ku." jawab Balen tersenyum.
"Ayo masuk." ajak Jelita.
"Baen turun saja, geng ganteng lagi latihan." jawab Balen.
"Oh iya Kak kenalkan ini suami Baen." Balen menepuk bahu Daniel.
"Memang belum kenalan ya?" tanya Jelita tapi ulurkan tangannya pada Daniel.
"Ndak tahu Baen lupa, kenalan lagi aja." kata Balen terkikik geli.
"Oke Daniel Salam kenal." Jelita ikut tertawa geli.
"Salam kenal Kak." Daniel mengangguk sopan sambut uluran tangan Jelita.
"Kate Salam Om dulu." Jelita arahkan Kate untuk salami Daniel, gadis cantik itu pun ikuti perintah Mamanya.
"Auntie, aku belajar berenangnya sama Cadi saja." kata Kate setelahnya.
"Bukan sama Chandra?" tanya Balen karena tahu Cadi sempat menolak.
"Sama Aku saja Mam, Kate sudah janji kalau aku marah dia tidak ikut marah." kata Cadi bikin Jelita terbahak.
"Ajari berenang kok pakai marah?" Daniel ikut terkekeh.
"Kan kalau salah harus dikasih tahu." jawab Cadi.
"Kate, kita belajar berenangnya shubuh tidak apa kan, kamu kerumah Papon saja, ada yang antar tidak? atau kamu menginap dirumah Papon." langsung atur strategi.
"Boleh menginap Ma?" tanya Kate.
"Shubuh kita antar saja, rumah Papon kan dekat. Tapi memangnya Papon dan Mamon mau terima tamu shubuh hari? Cadi minta ijin Papon dulu ya." Jelita mengacak anak rambut Cadi.
"Kamu juga belum ijin Papa dan Mama untuk tinggal di rumah Papon." kata Daniel pandangi Cadi.
__ADS_1
"Hanya dua bulan, lagi pula aku kan kerja." jawabnya bikin semua tertawa.
"Kata siapa kerja, kamu juga latihan kalau pagi." Balen tertawa.
"Kata Auntie aku mau dikasih hadiah nanti kalau Kate sudah pintar berenangnya, berarti kan aku di gaji kalau begitu." jawabnya, tentu saja semua kembali tertawa.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya Smith ikut mengintip keluar.
"Oh sayang, ini suami Balen, namanya Daniel. Ayolah masuk dulu." kata Jelita karena mereka dari tadi berdiri saja didepan Pintu. Daniel dan Smith pun berkenalan, mereka mulai bercakap-cakap.
"Kita kebawah lagi deh, Kakak juga lagi bersiap kan." kata Balen menolak untuk masuk.
"Cadi ayo." kata Balen ajak anaknya.
"Auntie apa boleh kita mulai berenang sekarang?" tanya Kate pada Balen.
"Boleh tapi nanti setelah acara selesai ya." Balen ijinkan jika acara sudah selesai.
"Sekarang kita harus bersiap dulu." kata Jelita pada Kate.
"See you later Kate." kata Cadi berpamitan pada Kate, lalu salami Jelita dan Smith. Balen dan Daniel pun ikutan salami semuanya, lalu segera berjalan menuju lift sambil mengganggu Cadi.
"Katanya ndak mau ajari Kate berenang, kenapa jadi mau?" tanya Balen saat didalam lift.
"Habisnya Maureen sih sayangnya sama Chandra Cayi saja." sungutnya masih kesal.
"Bukan, Chandra sama Cayi kan sudah ada Maureen, aku sama Kate saja mainnya." jawab Cadi, Daniel pun tersenyum sambil naikkan alisnya pada Balen.
"Lagipula Kate pilih aku, makanya aku keatas itu karena Kate mau kenalkan aku sama Papanya." Cadi kembali menjelaskan.
"Sudah beritahu Chandra dan Cayi?" tanya Balen.
"Justru karena Kate pilih aku jadi Chandra dan Cayi kuasai Maureen, tidak boleh kiss aku masa." Daniel dan Balen pun tertawa bersama, persaingan anak-anak soal wanita rupanya.
Balen dan Daniel segera antarkan Cadi ke restaurant bergabung bersama yang lain, ia harus kembali mengintip sebentar siapa lagi yang belum datang, geng Bang Raymond sama Geng Bang Nanta tadi belum terlihat.
"Aban temani C's ya, takut hilang lagi." kata Balen pada suaminya.
"Iya setelah mereka makan kami bersiap." jawab Daniel yang masih kenakan kaos dan celana trainingnya.
"Ichie Tori, thank you. Baen ke aula lagi." kata Balen pamit pada Richie dan Tori.
"Anteee..." Galen merengek minta digendong Balen.
"Galen, Ante ndak pernah gendong-gendong, ndak kuat. Nanti aja Ante pangku lagi kalau Ante santai ya. Kamu sama Papa dan Mama dulu." kata Balen pada anaknya itu, Anak Balen selain C's sudah bertambah satu dari Kia, dua dari Tori, satu dari Selin dan satu dari Ulan. Banyak betul anak-anaknya, kadang Balen sering tertukar sebut namanya. Tapi kata orang dulu banyak anak banyak rejeki, makanya semua Balen sebut anaknya saja biar banyak rejekinya.
__ADS_1
"Baeen." Balen disambut tiga orang pria tampan berwajah mirip dengan gaya yang berbeda, Abang Chico yang perlente dengan gaya paling rapi diantara kedua kembaranya, Abang Arkana masih saja seperti dulu rambut agak panjang dan sedikit berantakan tapi tidak mengurangi kadar gantengnya, satu lagi Abang Naka, ini yang paling Balen suka gayanya, santai dan sedikit slengean.
"Ini kok ndak tua-tua sih bertiga?" tanya Balen bikin ketiganya tertawa.
"Chico tuh yang paling tua." kata Arkana tunjuk adiknya.
"Paling ganteng Aban, paling rapi." kata Balen tertawa, mulai peluki ketiganya bergantian.
"Ingat Jakarta juga kamu." kata Naka mengacak anak rambut Balen.
"Ingat dong, kalau di Ohio ndak ketemu Aban bertiga." jawabnya terkikik geli.
"Aban, kakak-kakak mana?" Balen tanyakan istri ketiganya.
"Mak-mak rumpi tuh dipojokan lagi reuni sama Ayu, Anggita dan Roma." kata Arkana tunjuk Sarah istrinya bersama Iparnya yang lain.
"Anak-anak Aban ndak diajak?" tanya Balen.
"Mereka seperti kamu Balen, lupa negara sendiri." jawab Chico mendengus, pasti adiknya Jelita masih di London.
"Jelita juga kalau tidak ada urusan tidak ke Jakarta tuh." Arkana tertawa.
"Sama ya, anak lu juga." kata Arkana lagi pada Naka.
"Anak gue sebentar lagi juga di jemput Omanya, lu tahu sendiri Mama Intan kalau sudah marah." Naka terbahak.
"Jangan sombong, anak lu juga biar di Jakarta jarang pulang, sibuk di rumah sakit." Chico gantian tertawakan Arkana.
"Iya sih, kalian anak-anak kenapa menyebalkan sih, tidak ingat punya orangtua ya kalau sudah senang sendiri." dengus Arkana akhirnya kesal sendiri karena kedua anaknya menjadi dokter dan jarang pulang karena sibuk tangani pasien, baru pulang sebentar sudah berangkat lagi.
"Aban cucunya ada berapa?" tanya Balen.
"Sorry ya Baen kita masih muda, memangnya kamu sama Raymond masih kecil sudah punya cucu." jawab Naka tengil mereka berempat pun tertawa dibuatnya.
"Heloo..." tiba-tiba bahu Balen ada yang menepuk.
"Aaah Bang Romi, sudah bertemu Ben?" tanya Balen pada Romi anak Intan dan Anto.
"Nah ini gue mau tanya kamarnya dimana? itu anak mau dicoret dari ahli waris beneran ya, tidak telepon sudah sampai Jakarta, malah gue tahu dari Nanta." gerutu Romi, derita bapak-bapak yang punya anak terlalu mandiri.
"Kan gue bilang, harta kekayaan Daddy Leo lebih banyak, jadi tidak pusing kalau lu coret, Daddy pasti sudah siapkan untuk Ben." kata Arkana sambil tertawa.
"Dari daddy ke Anggita sama Hilma dulu lah, Ben sih urusan gue sama Anggita."
"Nah itu Ben." Balen tunjuk Ben yang sedang bercanda bersama Nanta.
__ADS_1
"Bapaknya dia pikir si Nanta kali ya." Romi mulai meradang karena Ben hanya lambaikan tangan lalu kembali ngobrol seru bersama Nanta dan Larry.