
"Kalian Masih disini?" Daniel lagi-lagi gelengkan kepalanya, bagaimana mungkin empat orang ini malah tidur dikasur sudah seperti sarden bersama Balen. Tidak ada yang menjawab Daniel, malah asik saja bercanda.
"Hei, keluar, keluar, kami harus istirahat." usir Daniel pada anak-anak Baen.
"Uncle, boleh kami tidur sini? uncle bisa bergabung dengan anak-anak laki. Mereka menunggu uncle." bujuk Tori pada Daniel.
"Tidak bisa, sana kembali ke kamar kalian." tolak Daniel tak mau dibujuk.
"Jahat!" Belin langsung cemberut.
"Biar saja jahat. Sana mengadu sama ayahmu." kata Daniel tanpa senyum.
"Ih Om Daniel, cium nih." kata Belin pada Om nya.
"Nanti saja ciumnya, mau keluar sendiri atau Om minta Ayah dan Papa kalian yang jemput kesini?" ancam Daniel pada keempatnya.
"Iya, begitu saja langsung mengadu, tadi bukannya uncle yang suruh kita mengadu, sekarang kenapa uncle yang mau ngadu?" Tori ngajak ribut.
Daniel keluarkan handphonenya,
"Oke Om, selamat tidur." katanya Kia menarik Tori dan yang lainnya buru-buru keluar kamar, tidak mau dimarahi oleh Papa Lemon.
"Uhuui..." teriak Balen menggoda empat geng rusuh sambil tertawa.
"Mereka itu konyol juga, kamu harusnya sudah tidur malah diganggu." gerutu Daniel segera membentangkan sajadah untuk Sholat Isha.
"Hahaha Aban sudah wudu malah marah." Balen terbahak.
"Pura-pura marah." Daniel ikut terbahak.
"Aban jamaah, tunggu." pinta Balen pada Daniel.
Akhirnya mereka sholat berjamaah, kemudian setelah berdoa masing-masing, barulah Balen salami suaminya.
"Sini peluk." kata Daniel yang masih duduk di sajadah setelah berputar menghadap Balen. Balen ikuti kemauan suaminya dekati badannya untuk dipeluk Daniel.
"Begini ya rasanya mimpi jadi kenyataan." Daniel mengecup pucuk kepala istrinya.
"Memangnya Aban mimpi?" tanya Balen.
"Yah, impian Abang kan bisa terus bersama kamu seumur hidup Abang.' kata Daniel jujur.
"Ih so sweet." Balen terkekeh.
"Dari dulu juga so sweet, kamu saja yang sok galak."
"Aban sih suka kerjain Baen." kata Balen memukul dada suaminya.
"Sudah tidak bersin tuh, sekarang istirahat yuk." ajak Daniel, Balen anggukan kepalanya tapi enggan beranjak, merasa nyaman dipeluk Daniel.
"Ayo bangun..." Daniel menepuk bahu Balen.
"Nanti aja." katanya manja.
"Abang capek perlu rebahan juga." bisik Daniel.
"Memang habis apa capek, Baen lebih sibuk dari Aban tadi di kolam." mulai komplen.
__ADS_1
"Yang tadi sore itu menguras energi tahu." Daniel mencubit pelan pipi Balen.
"Masa? Baen kok ndak?"
"Ih mau coba lagi, biar tahu?" kata Daniel bercandai Balen.
"Jangan, Baen besok bisa ndak bangun." jawab Balen merengut.
"Kenapa tidak bangun?" tanya Daniel.
"Energi Baen, Aban kuras." jawabnya bikin Daniel tertawa.
"Ayo bangun." kembali Daniel menepuk bahu Balen.
"Aban, Baen mau begini terus." rengeknya pada Daniel.
"Dikasur saja kalau mau begini, nanti Abang pingsan lagi loh." Daniel takuti Balen.
"Ih, jangan." Balen langsung berdiri kemudian ulurkan tangannya pada Daniel.
"Aban kok ndak mau Baen bantu?" tanya Balen sedikit kecewa saat Daniel menolak uluran tangannya.
"Abang takut kamu tidak kuat tahan badan Abang, sayang." Daniel terkekeh.
"Paling Baen jatuh ke badan Aban." jawabnya santai.
"Tidak mau, energi kamu lagi habis sih." Daniel tertawa, menarik Balen cepat ketika mereka sudah mendekati pinggir tempat tidur.
"Aban!!!" teriak Balen saat badannya menimpa badan Daniel.
"Tadi bilangnya paling jatuh ke badan Abang." Daniel terkekeh menggoda Balen.
"Aban..." mulai uhuii nih Baen.
"Selamat bobo sayang." kata Daniel akhiri ciumannya. Menahan hasrat demi kesehatan istri tercinta yang sedang flu.
"Ndak mau." teriak Balen bikin Daniel heran.
"Maunya apa?" tanya Daniel.
"Baen udah ndak ngantuk." sungutnya.
"Jadi mau apa?" tanya Daniel lagi sambil terkekeh.
"Ndak Tau, ndak mau bobo pokoknya." jawab Balen gelengkan kepalanya. Daniel kembali mengecup bibir Balen, ********** dan tangan mulai meraja lela. Tidak ada penolakan, ah Baen rupanya minta aktifitas ini, meski capek Daniel turuti kemauan istrinya. Yang tadi sore bikin kecanduan rupanya.
Setelahnya mereka benar-benar tertidur pulas tanpa terjaga sekalipun hingga shubuh. Aktifitas menguras energi itu rupanya menjadi obat tidur yang ampuh bagi mereka.
"Aban..." Balen bangunkan Daniel yang membuat ruang geraknya terhambat saat terjaga.
"Hmm..." mata Daniel masih lima wat.
"Baen mau kamar mandi." katanya lagi, Daniel segera lepaskan pelukannya biarkan Balen ke kamar mandi sendiri.
"Ndak kuat jalannya." rengek Balen lagi.
"Kenapa?" bingung sendiri.
__ADS_1
"Sakit kakinya Baen." kata Balen lagi tunjuk pahanya.
"Hmm Abang gendong ya." Daniel bangun perlahan karena masih sedikit mengantuk lalu ambil posisi mengangkat Balen agar tidak jatuh bersama.
"Sekalian mandi saja." kata Daniel pada istrinya dengan suara bantal.
"Yah..." anggukan kepala setuju sambil kalungkan tangannya dileher Daniel.
"Baen sayang Aban." katanya lagi bikin Daniel tersenyum senang mendengarnya.
"Makasih ya Aban." kata Balen lagi.
"Kenapa terima kasih?" tanya Daniel membuka pintu kamar mandi dengan kakinya.
"Aban udah mau tunggu Baen lama." jawab Balen, Daniel tersenyum selebar-lebarnya.
"Kalau sudah selesai panggil Abang." kata Daniel menepuk pipi istrinya pelan setelah Balen aman untuk ditinggal, Daniel pun keluar kembali Ke kasurnya.
"Yah."
Tak lama...
"Aban..." Balen memanggil Daniel, sepertinya butuh bantuan, dengan sigap Daniel hampiri istrinya yang sudah berendam di bathtub.
"Sudah selesai?" tanya Daniel.
"Sini..." panggil Balen.
"Kenapa?" Daniel dekati Balen duduk dipinggiran bathtub.
"Mau mandinya sama Aban." kata Balen lagi, aih mancing-mancing terus, nanti yang ada tidak sarapan bersama keluarga kalau begini caranya.
"Nanti Baen capek." kata Daniel pada Balen.
"Kan cuma mandi, kok capek." bersungut kesal.
"Oke cuma mandi." akhirnya Daniel ikuti kemauan Balen, tapi fokus untuk mandi saja tidak lakukan yang lain. Sekuat tenaga menahan sesuatu. Duh kan sudah halal kenapa harus tahan-tahan, pikir Daniel. Belum sholat shubuh woi, bergaya ala Mike mengingatkan diri dalam hati. Oh iya jangan sampai tidak sholat shubuh, akhirnya setelah Daniel fokus ingat sholat shubuh, Daniel berhasil mandi tanpa uhuiii.
"Ayo kita harus sholat shubuh." kata Daniel setelah membungkus tubuhnya dengan handuk dan serahkan handuk yang lain pada Balen.
"Yah..." bergegas keringkan badan dengan handuk lalu keluar kamar cari baju yang akan dipakai pagi ini.
"Aban, kita pulang kerumah hari ini ya?" tanya Balen.
"Terserah Baen maunya bagaimana, yang lain kemungkinan setelah makan siang pulang." jawab Daniel.
"Pulangnya kerumah siapa?" tanya Balen sambil pakai bajunya, tidak malu terlihat polos oleh suaminya.
"Ke rumah Papa James dulu bagaimana?" Daniel minta pendapat Balen.
"Boleh." menganggukkan kepalanya setuju.
"Tapi kalau Mamon minta kamu pulang kerumah kalian, ya kita ikuti saja." kata Daniel kemudian.
"Aban, nanti Baen boleh bobo sama Papon sama Mamon ndak kalau dirumah Baen?" aih kenapa begitu kan sudah menikah, Daniel mendengus kasar.
"Sekali aja habis itu ndak lagi deh,
__ADS_1
Cuma sekali aja rasain lagi bobo sama Papon Mamon, Baen kangen." pintanya lagi.
"Boleh, kalau Papon dan Mamon setuju." Daniel terkekeh, tidak tega menolak keinginan istrinya.