
"Sayang, sudah minum Pil KB?" Daniel ingatkan Balen setelah aktifitas olah raga malam mereka.
"Sudah Aban." jawab Balen cepat.
"Jangan sampai lupa." Daniel mengingatkan.
"Takut anak kita tambah lagi ya?" Balen terkikik geli.
"Bukan takut tapi enam saja lebih dari cukup ya, lagian seperti apa saja anaknya sampai tujuh." kata Daniel memeluk tubuh istrinya sambil tertawa.
"Seingat Baen sih, Baen minum Pil KB rutin ya Aban, tapi kalau ternyata hamil juga bukan salah Baen, Aban rajin bikinnya sih." jawab Balen buat Daniel terbahak dan ciumi istrinya gemas.
"Kenapa tidak pakai yang suntik saja, kalau pil khawatir kamu lupa, apa Abang perlu sterile ya?" tanya Daniel.
"Baen takut kulit Baen lecet kena jarum, nanti Aban ndak napsu kalau Baen lecet-lecet." Balen abaikan pertanyaan Daniel.
"Mana pernah tidak nafsu lihat Mamanya C's ini." kata Daniel mulai ******* bibir istrinya. Semua anak mereka masuk member C's sekarang, Dalvina walaupun D, tetap saja mengaku C's.
"Iya sih." jawab Balen setelah Daniel melepaskan bibir Balen.
"Aban, Baen jadi mau lagi." kata Balen mulai menyerang suaminya, sama saja mereka berdua, rajin sekali bikin anak.
"Aban, kata Mamon, triplets sementara disekolahin yang di Mal aja, bagaimana? biar ndak dirumah terus." Balen minta persetujuan Daniel, sambil menjelajahi tubuh suaminya.
"Apa tidak terlalu kecil ya? kalau mau ajak ke Mal main-main saja tidak perlu disekolahkan." Daniel agak keberatan, ia ikut aktif bergerilya di sekujur tubuh istrinya.
"Itu juga cuma main-mainan aja sekolahnya, ah Aban jangan di gigit." teriak Balen.
"Tidak digit kok, cuma gemas." jawab Daniel terkekeh, "Kalau triplets kelelahan jangan di sekolahkan dulu, sayang." Balen anggukan kepalanya, sesekali pejamkan matanya.
"Aban..."
"Hmm?"
"Semuanya ikut Aban Leyi kan?" Balen tanyakan anak-anaknya.
"Iya, sekarang cuma kita berdua dirumah, yang lain ikut Leyi semua mengawal C's " bisik Daniel bikin Balen merasa nyaman menikmati cumbuan suaminya. Tidak akan ada gangguan saat olah raga malam kali ini, beruntung punya Abang-abang yang pengertian, Nanta dan Larry bergantian seminggu sekali mengajak anak-anak menginap dirumah mereka Balen dan Daniel bisa me time ala-ala jadinya.
__ADS_1
Kegiatan malam bikin Balen tumbang, saat shubuh dipaksa mandi sama suaminya jadi bisa sholat shubuh tepat waktu, setelahnya tidak ada kegiatan lanjutan selain sarapan dan ngobrol di dapur karena mereka lumayan mengantuk, tapi ingat kalau tidur setelah shubuh itu tidak baik.
"Aban ndak kerja?" tanya Balen setelah sholat shubuh dan minum air lemon madu.
"Berangkat siang, kamu mau lagi?" Daniel menggoda istrinya, Balen tersenyum malu-malu sambil mencubit bahu suaminya, kemudian gelengkan kepalanya sambil terkikik geli, bertambah usia semangat suaminya masih sama saat muda dulu.
"Aban anak-anak kok libur ya?" tanya Balen sambil memeluk Daniel dari belakang.
"ada ujian nasional jadi diliburkan." jawab Daniel, ia sedang potongkan buah untuk mereka sarapan. Seperti biasa Daniel kerjakan semua di dapur jika tidak ada Asisten Rumah Tangga, sewaktu di Ohio, urusan makan istrinya pun Daniel yang siapkan, begitu juga sekarang.
"Aban, ini kaya kita baru menikah ya, berdua aja di rumah." Balen berasa de javu.
"Semalam juga seperti waktu baru menikah kan?" tanya Daniel, Balen nyengir lebar.
"Tiap malam juga begitu, eh tapi kalau ada anak-anak ndak sebebas semalam kita ya Aban." walaupun begitu tetap saja tidak bisa berpisah lama dengan anak-anak.
"Jadi kamu senang anak-anak menginap ya?" tanya Daniel membuang sarung tangan plastik yang tadi dipakainya, Balen gelengkan kepalanya masih memeluk Daniel dan senderkan kepalanya dipunggung suaminya.
"Sarapan dulu Mam." kata Daniel sambil berjalan perlahan memegang piring dan tangan Balen yang masih memeluknya dari belakang, otomatis Balen ikuti langkah suaminya, enggan lepaskan pelukannya. Ini hal yang biasa buat Daniel, kalau Balen tidak manja begini malah Daniel yang bingung.
"Aban, Baen mau biji nangka dong." kata Balen bikin Daniel meringis, sedikit khawatir.
"Ndak, Baen cuma pengen aja." jawab Balen.
"Waktu hamil Cayi, kamu ngidam biji nangka, ingat?" Balen anggukan kepalanya kemudian tertawa.
"Aban ketakutan Baen hamil." katanya masih tertawa.
"Bukan takut, tapi kita sudah dapat bonus waktu triplets lahir, jadi ramai sekali rumah kita, lagian triplets masih terlalu kecil Mam, masa punya adik lagi." Daniel terkekeh mencubit hidung Balen.
"Sayang, apa Abang steril saja?" tanya Daniel pada istrinya.
"Ndak usah ah Aban." Balen khawatirkan suaminya, ia tidak mengerti detail apa itu steril, tapi tetap khawatir saja kalau suaminya kesakitan.
"Kita berdoa aja, ndak usah steril-steril." kata Balen mengecup bibir Daniel lalu ambil posisi siap menikmati buah potong yang disiapkan suaminya. Daniel ikuti Balen duduk disebelah istrinya.
"Aban, kalau ternyata hamil lagi bagaimana? gugurkan aja? dosa tapi ya?" Balen jadi berpikir keras.
__ADS_1
"Tidak boleh digugurkan hasil karya Daniel." jawab Daniel tersenyum.
"Sayang, tapi kalau minum Pil KB rutin pasti aman seperti beberapa tahun ini." kata Daniel.
"Iya Aban."
"Papa dan Mama sarankan steril saja, apalagi Bunga dan Chita lumayan jumpalitan." kata Daniel lagi.
"Nanti Baen pikirin deh Aban, Baen ndak mau Aban sakit, bisa-bisa Baen ikut sakit juga." Balen mendesah, resah dan gelisah.
"Doakan kita semua sehat terus. Hari ini kamu mau kemana? sendirian di rumah pasti bosan." Daniel tanyakan istrinya.
"Baen mau bobo dulu, mungkin agak sore jemput C's." tuh kan walaupun senang ditinggal berdua tetap saja sudah mau jemput anak-anaknya.
"Mereka menginap di Villa tiga hari."
"Ya ampun lama betul." bibir Balen mengerucut.
"Kamu kerumah Papon saja." Daniel tersenyum suapi istrinya buah.
"Baen ikut Aban kerja aja deh, Baen telepon Kia biar ikut Aban Lucky."
"Boleh, coba telepon dulu, khawatir Kia pergi bersama Abang Raymond."
"Ya." Balen segera hubungi Kia, ditambah Ulan dan juga Belin, Tim jumpalitan. Ulan yang dulu kalem ikutan jumpalitan juga sekarang. Untung saja Redi sudah terbiasa dengan Balen dan Belin sejak kecil.
"Aban, kita nanti siapin satu kamar ya pasangin alat karaoke juga." kata Balen setelah menutup sambungan teleponnya.
"Tidak di restaurant?"
"Ndak, mau private party." jawab Balen.
"Di rooftop saja rumah kita."
"Kia ndak mau ketinggian katanya." Balen tertawa, Kia pernah alami lift macet jadi sekarang lebih suka naik tangga.
"Kamar yang di lantai dua aja." kata Balen lagi.
__ADS_1
"Ok sayang." Daniel ikuti kemauan si pemilik hotel dan pemilik hatinya itu.