Because I Love You

Because I Love You
Om-Om


__ADS_3

"Aban kok lama?" sambut Balen saat Daniel masuk ke kamar, ia sedang berbaring menunggu kedatangan suaminya.


"Kan temani Abang Nanta dan Leyi, sayang."


"Tapi Baennya kesepian." keluhnya.


"Tadi Baen asik sama Mamon, Bunda dan Mama. Abang ajak ke seberang tidak mau." Daniel hampiri Balen dan mengecup pipinya.


"Aban mau kemana?" tanya Balen saat Daniel menjauh.


"Keluar dulu sebentar, Papon sendirian." kata Daniel berniat temani mertuanya ngobrol.


"Aah Aban disini aja." rengek Balen. Daniel kembali mendekat dan rebahkan badannya disebelah Balen.


"Kita keluar yuk ngobrol sama Papon, kamu bisa rebahan di sofa." ajak Daniel.


"Papon suruh disini aja, Aban." pintanya pada Daniel.


"Masa begitu." Daniel terkekeh.


"Baen mau dipeluk Aban sama Papon." katanya lagi, manja sekali Balen hari ini.


"Sebentar..." Daniel beranjak dan segera keluar kamar.


"Papon, Baen panggil ke kamar." pinta Daniel pada Kenan.


"Mau apa anak Papon nih?" tanya Kenan segera beranjak menuju kamar Balen dan Daniel.


"Papon..." Balen yang berbaring segera ulurkan tangannya minta dipeluk.


"Hei, sudah besar mau punya anak masih begitu." Kenan terkekeh tapi hampiri Balen dan memeluk kesayangannya.


"Baen mau bobo dipeluk Aban sama Papon." pintanya pada Kenan.


"Mau Papon bacakan dongeng?" tanya Kenan sambil tertawa.


"Papon mah, Baen kan bukan anak kecil." Balen bersungut sementara Daniel ikut tertawa pandangi istri dan mertuanya.


"Bukan anak kecil tapi minta tidur dipeluk Papon." Kenan gelengkan kepalanya.


"Baen kan kangen sama Papon." rengeknya saat Kenan lepaskan pelukan Balen.


"Papon juga kangen, makanya Papon ke sini."


"Papon disini sampai Balen melahirkan dong." pintanya lagi.


"Nanti Syahputra group siapa yang urus?" tanya Kenan pada Balen.


"Aban Lemon aja." jawab Balen seenaknya.


"Abangmu sudah sibuk Papon tinggalkan berapa hari ini. Baen saja ikut ke Jakarta, setelah melahirkan nanti baru kembali ke Ohio, bagaimana?"


"Aban kan kerja disini Papon, kuliah Baen juga bagaimana?" Balen keberatan tinggalkan suaminya sendiri.


"Kuliah cuti saja sementara atau kalau bisa online kamu minta kuliah yang online." jawab Kenan.


"Baen ndak bisa bobo kalau ndak dipeluk Aban." jawabnya jujur bikin Kenan terbahak.


"Bulan kemarin kamu masih peluk guling bisa pulas kok tidak dipeluk Daniel." Kenan menggelengkan kepalanya.


"Sekarang kebiasaan Papon." jawabnya lagi bikin Daniel cengar-cengir.


"Kalian pindah ke Jakarta saja Daniel, Papon agak khawatir lihat Baen seperti ini." kata Kenan pada Daniel.


"Tidak bisa cepat kalau mau pindah Papon. Daniel harus urus beberapa hal, bicarakan serius dengan teman Daniel baru bisa tinggalkan Ohio dan amati usaha kami dari Jakarta." jawab Daniel pada mertuanya.

__ADS_1


"Urus saja secepatnya Daniel, Papon harap Baen bisa melahirkan di Jakarta saja." jawab Kenan.


"Ndak mau Papon, anak Baen biar lahir disini aja." jawab Balen ngeyel.


"Daniel ikuti maunya Baen saja Papon, yang pasti Daniel siap bereskan semua secepatnya." kata Daniel lagi.


"Nyamannya kamu saja, Nak. Yang Papon pikirkan itu kamu sendiri dirumah sementara Daniel bekerja. Walaupun ada auntie Khiel tetap saja beda kalau kamu ada diantara kami. Di Jakarta banyak yang bisa awasi kamu."


"Baen baru mau pulang kalau sudah ada hasilnya Papon." jawab Balen seperti perantau yang mengadu nasib dinegeri orang.


"Apa hasilnya?" tanya Daniel terkekeh.


"Ijazah sama anak dong." jawabnya bikin Kenan dan Daniel tertawa.


"Papon bagaimana kamu saja Nak." jawab Kenan tidak lagi mendesak Balen dan Daniel.


Sementara itu di sebuah coffee shop tampak Lucky sedang memesan minuman untuk Kia dan dirinya, sementara Kia duduk manis dikursi pilihannya sambil mainkan handphone. Hari ini terakhir di Ohio, besok malam mereka sudah kembali ke Jakarta.


Om Lucky mau nikah nih.


Kia kasih laporan di group anak-anak Baen.


Sama siapa? *Belina


Tidak tahu, mau dijodohkan katanya. *Kia


Nanti aku carikan Om-Om lain, Kak. *Bima


Lu kira gue sugar baby??? *Kia


😄😄😄😄 *Billian


Kalian Jangan minta oleh-oleh 😡 *Kia


Maaf deh, bawakan aku apa memangnya? *Bima


Om Lucky itu nanti menikahnya sama Kak Kia tahu. *Shaka


Sok tahu Shaka. *Belina


Gue orang dalam kali, ya tahu lah. *Shaka


Tidak percaya. *Kia


"Ini minum kamu, mau apa lagi?" tanya Lucky yang hampiri Kia bawakan minumannya.


"Ini saja Om." jawab Kia letakkan handphonenya dimeja.


Kak Kia. *Bari


Hello Kak Kia. *Shaka


Woiii Kak Kia!!! *Aca


Ngambek dia? *Shaka


Kayanya begitu. *Bima


Elu sih Bim, bercandanya begitu. * Aca


Ih, biasanya juga tidak ngambek. *Bima


Habis Shaka bilang orang dalam tuh, Kak Kia menghilang. *Bima


Elu sebar berita hoax ya Shaka? *Billian

__ADS_1


Rese, gue serius, itu informasi yang gue dapat *Shaka


Buset pada menikah semua, habis deh cewek cantik kita satu-satu diambil Om-Om. *Billian


🤣🤣🤣🤣 kalah pamor kita sama Om-Om. *Aca


Om Daniel, Om Ichie, Om Lucky sebentar lagi menyusul Om Redi, ampun deh. Kenapa mereka ambilnya gadis-gadis kita sih. *Bima


Masih ada aku loh. *Belina


Duh kalau yang ini agak malesin, bobo dulu ya🥱🥱🥱 *Aca


Woiii kakak gue tuh Ca🤣 *Billian


Heh pada ghibah nih bocah. *Richie


Suami Ante dibilang Om-Om lagi. *Balen


Ante, benar kan semua cewek-cewek disini di gaet Om-Om, kasihan Belin tidak kebagian Om-Om." *Bima


Rese Bima *Balen


Aku nanti jadi Om-Om dulu ah baru menikah sama yang mudaan. *Bima


"Handphone kamu bisa di silent tidak? Om mau ngobrol sama kamu jadi tidak konsentrasi." pinta Lucky pada Kia karena group rusuh sedang aktif-aktifnya.


"Bisa Om." Kia segera aktifkan nada senyap untuk geng rusuhnya.


"Kita harus susun strategi supaya Om tidak dijodohkan." kata Lucky pada Kia.


"Strategi apa? lagi pula Om belum lihat calon istri Om, siapa tahu cantik."


"Kalau Om lihat dan ternyata cantik seperti yang kamu lihat, Om menikah secepatnya loh."


"Jangan." Kia langsung merengek.


"Maka itu kamu bantu Om dong."


"Bantu apa?" tanya Kia.


"Om akan bilang kita pacaran, bagaimana?" Lucky minta persetujuan Kia.


"Kia mana boleh pacaran Om. Bisa langsung dinikahkan kalau bilang begitu." sungut Kia.


"Terus bagaimana dong?" tanya Lucky bingung.


"Kamu tahu sendiri Papa Om, orangnya bagaimana." kata Lucky lagi.


"Tapi sebenarnya Kia tidak punya hak juga sih mau larang Om menikah." Kia tahu diri.


"Jadi Om kamu ijinkan menikah nih?" tanya Lucky, kenapa juga minta ijin sama Kia, Lucky jadi bingung sendiri.


"Kalau memang jodoh Om sudah dekat, masa Kia larang-larang. Tapi bisa tidak ya kalau Om menikah Kia tetap ikut Om liburan?"


"Bisa saja sih." Lucky terkekeh.


"Om harus cari istri yang terima Kia seperti Nami yang terima Ante Baen disayang Ayah Leyi." berat juga syarat dari Kia.


"Kamu tahu ya Om sayang kamu?" Lucky tertawa mengacak anak rambut Kia yang bersandar dibahunya. Bagaimana bisa menerima kehadiran gadis lain kalau bersama Kia, Lucky bisa senyaman ini.


"Tahu dong, makanya Kia berat hati melepaskan Om untuk menikah, tapi Kia tahu diri deh. Apa pelan-pelan Kia belajar menjauh dari Om ya. Biar nanti saat Om punya istri, Kia sudah terbiasa tidak memgandalkan Om Lucky?" suara Kia terdengar lirih.


"Kamu mau menjauh dari Om?" tanya Lucky tidak rela.


"Kia pikir sebaiknya begitu." Kia mendesah.

__ADS_1


"Sudah jangan dipikirkan mengenai perjodohan itu deh. Sekarang kita senang-senang dulu saja. Minum dong capucinonya, jangan dilihat saja." Lucky terkekeh berusaha menghilangkan kegusaran dihatinya yang tiba-tiba saja muncul saat Kia bilang akan menjauh.


__ADS_2