
"Aban, Baen ikut berenang ndak?" Balen bertanya pada Daniel, mereka sedang berdua di kamar saat ini, Balen sudah berganti pakaian dibantu crew yang bertugas tadi.
"Enaknya kamu saja." kata Daniel yang masih jet lag, kepalanya mulai cekat cekot menahan kantuk. Ia segera naik ke kasur tanpa berganti pakaian, masih memakai kemeja dengan sepatu dan kaus kaki yang tergeletak dilantai.
"Baen, Abang bobo dulu ya, nanti bangunkan Abang setengah empat." kata Daniel pada Balen.
"Baen juga ngantuk." jawab Balen menguap, tapi Balen harus bersihkan make up nya dulu.
"Sini bobo, kan sudah boleh peluk, tidak dosa." Daniel tersenyum menatap istrinya, matanya sudah Lima watt.
"Baen bersihkan wajah dulu." jawab Balen tunjuk wajahnya yang masih full make up.
"Nanti ke sini ya." kata Daniel yang tidak kuasa menahan kantuknya. Perbedaan jam antara Jakarta dan Ohio membuat Daniel belum beradaptasi atasi jam tidurnya.
"Aban sholat dulu." Balen ingatkan Daniel.
"Yah..." Daniel segera beranjak menahan kantuk segera ambil wudhu untuk Sholat Dzuhur.
"Kamu tidak sholat?" tanya Daniel pada Balen, mulai bentangkan sajadahnya.
"Tadi udah." jawab Balen tersenyum manis pada Daniel. Saat Daniel sholat Balen langsung ambil posisi peluk guling dan tidak lama terdengar dengkuran halusnya. Malah Balen yang lebih duluan bobo dibanding Daniel.
Selesai sholat Daniel segera berbaring disebelah Balen, dikecupnya kening, pipi dan bibir Balen, saat ini sudah tidak takut Balen terbangun karena mereka sudah resmi jadi suami istri, kemudian ditariknya guling yang sedang dipeluk Balen, agar lebih leluasa memeluk istrinya yang tidak terganggu diapakan juga oleh Daniel. Kalau pulas begini siapa yang bangunkan mereka nanti.
"Bang, bangunin gue nanti jam setengah empat ya, ngantuk berat nih." Daniel akhirnya hubungi Larry.
"Suruh bangunin Baen lah." Larry tertawakan adiknya.
"Dia sudah pulas duluan." Daniel pandangi wajah istrinya dan kembali mengecup pipinya.
"Iya nanti gue bangunin, jangan sampai tidak bangun ya, anak gue sudah heboh kita semua harus saksikan mereka berlomba." kata Larry pada Daniel.
"Ya." jawab Daniel kemudian putuskan sambungan telepon dengan Abangnya, tak lama ia pun tertidur sambil peluki Balen, setelah lepaskan kemejanya. Saat ini Daniel hanya kenakan t-shirts sesuai warna kemeja yang dipakainya.
Tapi jangan dikira Daniel bisa tidur pulas, Matanya mengantuk tapi otak mesumnya bikin Daniel terjaga, apalagi ada sesuatu yang harusnya tidur dari tadi mulai terbangun.
"Baen..." Daniel bangunkan Balen, bagaimanapun ia harus minta ijin, supaya Balen tidak kembali histeris karena keperawanannya hilang tanpa setahu Balen.
"Baen sayang..." bisik Daniel lagi, kali ini dengan kecupan yang bertubi-tubi, sesekali dilumatnya bibir Balen. Ah tidak bangun juga malah sekarang posisinya telentang seakan pasrah dengan keadaan. Daniel harus bekerja sendiri kalau begini caranya.
__ADS_1
Terserah deh Balen mau bangun apa tidak, Daniel fokus dengan bibir Balen yang sedikit menganga saking pulasnya, dilumatnya perlahan semakin lama semakin menuntut hingga Balen gelagapan.
"Aah..." Balen tampak berontak saat tangan Daniel sudah kesana kemari, segera Daniel lepaskan ciumannya.
"Bikin anak sekarang ya?" bisik Daniel dengan wajah memelas mohon pengertian istrinya.
"Ini kan masih sore, harusnya malam, Aban." kata Balen fokus pada kata Malam pertama.
"Tidak harus malam." Daniel kembali mengecup bibir Balen dan **********. Balen tampak tidak menolak, nikmati apa yang Daniel lakukan.
"Sayang..." Daniel berbisik dengan mata sayu, ia mulai menjelajah ke area telinga dan leher Balen.
"Aban..." Balen tahu ia tidak boleh menolak sesuai ceramah Ustadz tadi sebelum ijab kabul. Tapi bagaimana ia benar-benar mengantuk.
"Baen ngantuk Aban." bisik Balen dengan sesekali mendesah saat Daniel sudah menjelajah keseluruh wilayah.
"Bobo saja." jawab Daniel, biarkan Balen tidur tapi ia tetap bekerja. Bagaimana mau bobo kalau perlakuan Daniel bikin Balen terus berteriak, selama ini hanya dengar cerita teman di kampus atau saat lagi fashion show tapi sekarang ia alami langsung.
"Aban, jangan sakit-sakit." Balen ingatkan Daniel, banyak orang bilang kalau pertama itu sakit.
"Pelan-pelan kok, Baen tahan ya."
"Ndak mau..." Balen gelengkan kepalanya takut sakit.
"Ndak mau kalau pakai sakit." masih saja menolak ketakutan.
Setelah berjuang yakinkan Balen dan tawar menawar yang agak alot karena Balen takut kesakitan akhirnya Daniel berhasil lakukan pekerjaannya. Istrinya tetap saja rewel ada saja yang dibahasnya saat Daniel sedang konsentrasi pikirkan cara agar Balen tidak kesakitan.
"Aban, Teman-teman Baen itu pada udah mulai sebelum menikah loh." kata Balen pada Daniel setelah mereka selesai lakukan babak pertama.
"Itu tidak halal." Daniel terkekeh.
"Kita dong halal." kata Balen bangga sambil melingkarkan tangannya dibahu Daniel.
"Bagaimana rasanya?" tanya Daniel tertawa geli.
"Kepala Baen kaya mau meledak, tahu." katanya membuat Daniel terbahak.
"Apa lagi yang Baen rasakan?" tanya Daniel ingin tahu.
__ADS_1
"Ndak tahu ah, aban aja rasain sendiri." kata Balen mendengus.
"Aban lupa, tadi Baen berisik sih, Aban jadi tidak fokus." Daniel mulai modus.
"Mandi Aban, sebentar lagi ke kolam." Balen tunjukkan jam dinding di kamar hotel.
"Sambil mandi juga bisa loh." kata Daniel masih usaha.
"Aban udah ndak ngantuk, ya?" tanya Balen pada Daniel, masih saja peluki suaminya. Sekarang maunya peluk terus mentang-mentang sudah halal.
"Tadi mengantuk, sekarang sih tambah mengantuk." Daniel terbahak, setelah aktifitas memang jadi tambah mengantuk saja Daniel.
"Terus gimana? nanti pada kecewa loh." kata Balen lagi.
"Iya, kamu saja yang ke kolam ya, Abang bobo." Daniel tiba-tiba malas ke kolam, sebenarnya mau berenang dikamar saja bersama Balen.
"Ya udah, Baen mandi dulu." jawab Balen segera beranjak dari kasurnya.
"Aban kok ini kaya ada yang ketinggalan disini?" Daniel terbahak mendengarnya.
"Mesti Aban ambil lagi yang ketinggalan.' kata Daniel menarik Balen hingga kembali terbaring dikasur.
"Bisa diambil lagi?" tanya Balen pada suaminya.
"Bisa tapi jangan ngomong terus, fokus." kata Daniel bikin Balen ingat saat Daniel ajari Balen Tenis pertama kali. Daniel mulai menjelajah lagi, sesuai keinginannya mengambil yang ketinggalan, entah apa yang ketinggalan. Balen benar-benar menuruti arahan suaminya tidak banyak bicara, hanya mendesah dan mendesah saja nikmati apa yang Daniel lakukan. Hingga akhirnya Daniel kembali berhasil lakukan babak ke dua.
"Bisa diambil ndak Aban?" tanya Balen pada suaminya.
"Tidak usah diambil, biar jadi anak bayi." jawab Daniel tertawa berhasil kerjai Balen.
"Aban! tadi bohong ya?" Balen langsung belalakan matanya, baru sadar kalau Daniel modus.
"Aaah, aban bohongi Baen." kembali berteriak lalu pukuli lagi Daniel dengan bantal didekatnya.
"Baen bilangin Papon, Abang bohong." masih menghajar Daniel yang tertawa geli dengan bantalnya.
"Bukan bohong, Abang pikir juga tadi ada yang ketinggalan." bisik Daniel menahan tangan Balen yang memegang bantal.
"Terus aban tahunya ndak ada yang ketinggalan kapan?" tanya Balen memastikan.
__ADS_1
"Pas kamu merem melek." jawab Daniel.
"Aaah Aban godain Baen." langsung tutup wajahnya dengan selimut karena malu, bikin Daniel tertawa puas, hingga ngantuknya pun hilang seketika. Diangkatnya tubuh Balen menuju kamar mandi, karena mereka harus bersihkan diri demi menyenangkan hati anak-anak yang sudah berharap dapat hadiah dari kemarin.