
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
Ivanna dan Max kembali ke perkebunan. Ketika tiba disana, sudah ada William, Ben, dan Natasha dihadapan mereka.
"Max, lo udah gila! Bisa bisanya lo kabur dari rumah sakit setelah lo terluka seperti ini!" bentak Ben.
"Bro, gue udah sembuh."
"Kalau infeksi gimana?" tanya Natasha.
"Tenang, Nat. Gue punya asisten pribadi yang siap membantu gue untuk membersihkan luka jahitan gue." kata Max.
"Dasar anak nakal! Masalah seperti ini, kamu anggap sepele! Kamu pikir papa ga panik mendengar kamu kabur dari rumah sakit?" tanya William.
"Pah, Max tiba tiba pergi dari rumah sakit karna nyawa Max dan Ivanna terancam jika terus berada disana, pah."
"Siapa yang berani menganggu keluarga kita? Kasih tau papa, biar papa yang selesaikan semuanya!"
"Pah, mengertilah. Kami juga sedang mengumpulkan bukti. Bila nanti sudah pasti, kita akan melaporkannya bersama sama." ucap Max.
"Baiklah. Papa percaya pada kalian semua."
"Max, sekarang kamu istirahat dulu ya. Ayo." ajak Ivanna yang bersikap 180° ketika dibandingkan saat tadi diperjalanan.
"Iyah, sayang. Ayo." jawab Max.
"What? Sayang?" tanya Ben.
"Ah lo salah dengar kali, Ben."
__ADS_1
"Gue bilang iyah, Vanna."
"Ngeles aja lo, Max!" timpal Natasha.
"Papa juga mendengarnya, Max! 6 telinga yang mendengar ucapanmu itu." tambah William.
"Max bercanda. Ya kan, Van?" tanya Max pada Ivanna.
"Iyah uncle. Max memang kalau bercanda itu suka keterlaluan. Jadi Vanna sudah memakluminya." jawab Ivanna.
"Baiklah, Max kamu istirahatlah." saut William.
Max dibawa oleh Ivanna ke kamarnya untuk beristirahat.
"Kenapa sikapmu beda, Van?" tanya Max.
"Apa lo mau jika uncle tau perilaku bejat lo?"
"Bahkan sekarangpun juga, gue akan cerita pada papa tentang kita." ucap Max yang beranjak dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Max! Jangan. Please." ucap Ivanna.
"Kamu harus bersikap baik padaku! Kalau ga, aku akan bilang ke papa dan yang lainnya."
"Gila! Okay okay! Gue bersikap baik sama lo di depan uncle Will itu karna gue ga mau uncle Will tau mengenai kita. dan gue juga ga mau dianggap ga berterimakasih setelah mencelakakan elo!" jelas Ivanna.
"Itu yang aku mau! Kamu jujur sama aku."
"Kalau bisa, gue mau reset semuanya!"
"But, you can't reset everything!" jawab Max.
"Nyebelin lo, Max!"
__ADS_1
###################################
Ivanna menemui William dimalam hari untuk membicarakan hal penting.
"Uncle, besok Ivanna akan kembali ke Jakarta. Dan meneruskan Vancos yang selama ini Vanna tinggal. Mama dan papa sudah meminta Vanna untuk kembali karna sudah berhasil membuktikan bahwa Vanna bisa. Thanks, Uncle. Sudah mengajarkan Vanna semuanya."
"Padahal keberadaanmu disini itu bagai moodboster untuk uncle. Tapi uncle tau, jika keberadaanmu disini itu hanya sementara. Ga papa, kita bisa sering bertemu di Jakarta."
"Thanks for everything, uncle."
"Sama sama." jawab William.
Ivanna kembali ke pondoknya untuk menemui Helen. Disana, Helen sedang bersama Maul yang tengah mengobrol.
"Nona. nona ga papakan?" tanya Helen.
"Saya ga papa, Helen. Maaf saya belum sempat memberi kabar lagi."
"Tidak masalah, nona."
"Oh ya, Len, Ul. Saya mau berpamitan sama kalian. Besok, saya akan kembali ke Jakarta." kata Ivanna.
"Jadi nona ga akan kembali lagi kesini?" tanya Maul.
"Di Jakarta, saya punya pekerjaan yang saya tinggal setelah datang ke sini, Ul. Nanti saya akan kesini lagi, dan kalian akan saya ajak ke Jakarta kalau ada kesempatan."
"Nona, boleh saya memeluk nona?" tanya Helen.
"Tentu, kemarilah."
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
__ADS_1
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰