
"Ganteng kan Noah?" bisik Balen pada Belin saat Noah dibawa Daniel ke kumpulan para pria. Belin anggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Mau ante jodohin kamu sama Noah." bisik Balen lagi.
"Ck... Ante." Belin berdecak malas.
"Kamu kenapa kusut kaya banyak masalah?" tanya Balen sementara Kia menyimak, biarkan syabda anak semata wayangnya bersama Opa Oma dan ketiga Abangnya yang baru saja tiba.
"Beyin curhat lah, jangan dipendam sendiri. Kata anak-anak Beyin menjauh sekarang." kata Kia pada Belin.
"Beyin sibuk kerja Kia." jawab Belin berkelit.
"Ante tahu kamu ada masalah percintaan, terlihat kusut di wajahnya. Terserah Beyin mau cerita apa ndak sama kita, yang pasti Ante cuma mau kasih tahu kalau restu orang tua itu yang utama. Kalau orang tua ndak restui berarti Allah juga ga restui, itu aja sih." Balen menepuk bahu Belin yang tampak menghela nafas.
"Selagi Beyin bisa memilih, Beyin pilih yang ndak bikin wajah Beyin lecek kaya belum di setrika." lanjutnya bikin Belin tertawa.
"Ante ah, Beyin sudah serius dengarnya." kata Belin terkikik geli.
"Eh beneran tahu, kalau sama Noah Ante jamin wajah Beyin licin, bersinar, bahagia." katanya bikin Belin mesem-mesem.
"Mau ndak sama Noah?" tanya Balen.
"Tau ah Ante, Beyin pusing nih mikirin Ayah sama Panji." kata Belin akhirnya mulai curhat.
"Memang kenapa Panji bikin Ayah kesal?" tanya Belin.
"Ya dia kalau jemput Beyin tidak pernah turun temui Ayah sama Nami, malah klakson saja." jawab Belin.
"Ih ndak sopan dong, orang sih kalau mau sama anaknya ya dekati orang tua dulu dong kaya Aban Daniel." Balen terkekeh.
"Ayang Lucky juga deketin Papa dulu." Kia ikutan.
"Panji belum mau sama Beyin sih." jawab Belin jujur, "Dia cuma anggap Beyin partner pesta, bukan teman dekat juga." Belin mendesah.
"Ada tuh partner pesta bayaran, mending Beyin buka Jasa itu aja, enak lagi dapat duit." kata Balen konyol.
"Bercanda terus nih Ante." Belin menepuk bahu Balen.
"Ante serius tahu, banyak yang begitu di Ohio. Nah disini kalau belum ada mending jadiin ladang usaha." Balen naikan alisnya.
"Setuju, ayo kita buka, Beyin kita kerahkan." kata Kia semangat.
"Pada konyol deh." Belin tertawa.
"Kalau bagian dari pekerjaan sudah pasti Ayah ndak marah sama Beyin. Tabungan Beyin bertambah deh, butuh kantor? Ante siapkan ruangan kerja di Balena Hotel nih." kata Balen serius.
__ADS_1
"Bodo ah Ante, Panji bagaimana ya?" tanya Belin pada Balen.
"Bagaimana bagaimana? kalau bikin pusing cari yang ndak bikin pusing aja lah." kata Balen santai.
"Beyin, Achara aja bisa ambil keputusan setelah Markus ndak jelas, padahal dia sedang hamil, sekarang happy tuh. Beyin belum menikah bahkan belum pacaran juga sama Panji." oceh Balen pada Belin.
"Lagian ya, kalau awalnya saja sudah bikin pusing kebelakangnya bisa tambah pusing tuh Beyin. Cari suami yang ngemong lah jangan kita yang ngemong suami, kata teman Kia capek hati tahu kalau punya suami emosional Dan suka ngambek-ngambek." Kia ikutan kasih saran.
"Ante sama Kia sih enak sudah ada Om Lucky sama Om Daniel." sungut Belin.
"Om Noaaah, sini dong ngobrol." tiba-tiba Balen panggil Noah Om, Kia terkikik geli.
"Tuh dikasih Om-Om sama Ante." Kia kembali tertawakan Belin.
"Noah disini saja sayang, kita lagi seru." Daniel yang jawab karena Noah tampak sedang membahas sesuatu yang serius.
"Oh ya sudah deh." Balen sok santai kemudian tersenyum jahil pada Belin.
"Om Noah juga ngemong loh." katanya kemudian masih sambil cengar-cengir.
"Ante, Beyin bingung ya. Panji tuh katanya tidak mau jadikan Beyin pacar, tapi kalau Beyin dekat dengan cowok lain dia bisa marahnya kalah-kalahin pacar loh." kata Belin, "Kayanya begitu deh, Beyin kan belum pernah punya pacar jadi belum tahu juga kalau pacar cemburu tuh kaya apa." Belin terkikik geli.
"Menurut Kia aneh tuh Panji, jangan deh. Nanti Beyin makan hati lagi."
"Begitu ya?"
"Iya lah pakai ditanya lagi. Beyin tahu ndak, kalau orang tua kita ndak mungkin marah-marah ndak jelas. Seperti ndak tahu aja kalau Bapak-bapak dikeluarga kita ini pada santai. Ndak pilih-pilih berteman, ndak gila harga juga." kata Balen yakinkan Belin.
"Iya Ante, Panji masa cemburu juga sama anak-anak Baen, geng rusuh." kata Belin.
"Tuh ndak benar kan, padahal dia tahu mereka tuh yang totalitas jagain kita." jawab Balen, Belin anggukan kepalanya.
"Semua terserah Beyin, karena yang merasakan susah senangnya itu Beyin, tapi jangan pernah kasih hati kita untuk disakiti deh." kata Balen pada Belin.
"Ante kaya orang bener sore ini." Belin terkekeh.
"Anak Ante udah tiga tuh, kalau Ante ndak bener mereka bisa tegur loh." Balen tunjuk C's yang sedang asik bersama geng rusuh, serasa sama besar, Syabda juga ikutan seru bersama mereka.
"Ante peluk." Belin minta dipeluk Balen. Mereka berdua berpelukan sedang Kia cengar-cengir melihatnya.
"Peluk bertiga dong Kia." kata Balen pada Kia.
"Nanti pada bingung lihat kita peluk-pelukan." kata Kia.
"Justru kalau ndak bertiga pelukannya mereka kira Beyin menggalau, walaupun memang iya sih." kata Balen konyol Belin langsung lepaskan pelukannya dan tertawa terbahak, lupa sakit dibahunya karena jatuh tadi.
__ADS_1
"Ante curiga kamu ndak jatuh deh." kata Balen.
"Jatuh beneran, tadi yang tolong Beyin teman Ante tuh." Belin tunjuk Noah.
"Cie kaya iklan apa gitu, jatuh ditolongi terus jodoh." Kia tersenyum jahil.
"Jangan menghayal deh Kak Kia." sungut Belin.
"Ya menghayal saja dulu." kata Kia konyol.
"Maaa..."
"Yah Syabda kenapa tuh sudah mulai rewel." kata Kia langsung hampiri anaknya.
"Kenapa sayang Mama?" tanya Kia pada Syabda.
"Om Nakal." tunjuk Bima.
"Nakal kenapa?" tanya Kia.
"Ndak mau dendong yabda." mengadu karena Bima tidak mau menggendongnya.
"Gendong dong Om Bima." kata Kia membujuk Bima.
"Kak Kia anakmu berat gitu, aku cuma kuat setengah jam gendongnya. Dari tadi sudah kugendong, di pangku tidak mau." jawab Bima jujur.
"Duh Syabda kamu sih gembrot." kata Aca konyol.
"Ini bukan gembrot ya, semok Aca, keponakan kalian ini semok." kata Kia pada sepupunya.
"Ya sudah tuh gendong Mama saja ya Syabda." kata Aca pada Syabda.
"Syabda tidak usah gendong ya sayang, kan pintar sudah bisa jalan, sana main lagi sama Om." Kia menepuk pantat anaknya gemas.
"Menggemaskan begini dibilang gembrot lagi." Kia terkekeh lalu menciumi Syabda gemas.
"Gembot Om Bima tuh." kata syabda bikin semua terbahak.
"Enak saja ini roti sobek udah enam nih, tuh Om Aca baru dua rotinya." tunjuk Bima pada perut Aca.
"Biar begini tidak ada lemak tahu." kata Aca lalu bergaya pria di iklan susu dan obat kuat.
Kisah Belin nih all
__ADS_1