Because I Love You

Because I Love You
Sayang


__ADS_3

"Senangnya yang mau punya hotel." Daniel tertawa menggoda Balen saat percakapan mereka selesai via telepon.


"Jadi juga Baen punya Oten." jawabnya terkekeh.


"Siapa nanti yang urus hotel kamu?" tanya Daniel.


"Abanlah, Baen kan jadi Bos aja dirumah." seenaknya lempar tanggung jawab.


"Abang punya kantor sendiri." Daniel gelengkan kepalanya.


"Bantuin sih Aban, kalau Baen yang urus nanti Aban pusing lihat Baen sibuk."


"Kalau Abang sibuk kamu tidak pusing?" tanya Daniel.


"Kan Baen bisa susul Aban ke kantor." jawabnya tersenyum manis.


"Abang tidak ada pengalaman mengurus hotel, nanti malah kacau." jawab Daniel jujur.


"Nanti kita belajar sama Popo Erwin, dia punya hotel juga. Aban Chico, Aban Naka, Aban Atan, mereka bisa ajari kita." Balen sebutkan sahabat Reza dan anak-anaknya.


"Siapa mereka?" tanya Daniel bingung.


"Popo sahabatnya Ayah Eja. Aban-aban anaknya Popo, teman Ban Lemon juga." Balen jelaskan pada Daniel.


"Kita pikirkan nanti, sekarang jangka pendek acara hari minggu, kamu bicarakan sama Oma Margareta, kamu bantu sebarkan undangan di group Ibu-ibu kamu itu, undang juga teman-teman kamu, Abang undang kenalan Abang." kata Daniel pada Balen.


"Yang kenal dekat aja kan Aban? ndak cetak undangan kan?"


"Lisan saja dan via chat, makan waktu kalau cetak undangan."


"Iya, Baen minta dibantu sama Oma Margareta." jawab Balen.


"Aban, Adira mana deh. Rumahnya kok gelap terus. Masih di Indonesia ya?" Balen teringat tetangga seberang rumahnya.


"Tidak tahu." Daniel gelengkan kepalanya.


"Masa ndak tahu sih? Semoga aja dia udah pindah rumah." Balen tertawa sendiri.


"Baen telepon saja tanya dia dimana." kata Daniel ikut tertawa.


"Ih, ndak mau." langsung bergidik.


"Kenapa tidak mau." Daniel terbahak lihat ekspresi istrinya.


"Ndak suka Baen sama dia. Aban ndak teleponan sama dia kan?"


"Kalau telepon pasti Abang tahu dia dimana, kamu tidak suka malah cari Adira." Daniel terkekeh.


"Baen pikir mau undang dia apa ndak, kan tetangga. Ah... Aban sih terlalu ganteng." Balen mendesah, salahkan wajah suaminya.


"Hahaha..." Daniel terbahak dibuatnya.


"Ayo tidur, sudah malam." ajak Daniel pada istrinya.


"Besok kita kemana Aban?" tanya Balen masih belum mengantuk, masih ngomong terus pada suaminya, pikirnya besok hari libur masa dirumah saja.

__ADS_1


"Pesan baju untuk kamu pakai makan siang minggu depan." jawab Daniel ternyata sudah punya rencana belikan baju untuk Balen.


"Baen dapat sponsor untuk baju waktu catwalk terakhir, dia suruh Baen pilih langsung ke butiknya. Kita ke sana ya besok." Balen langsung teringat janji perancang yang ingin berikan Balen baju.


"Bajunya seksi, tidak?" tanya Daniel ingat kena tegur Nanta dan Larry karena Balen pakai baju seksi waktu di catwalk.


"Nanti Baen pilih yang ndak seksi." jawab Balen.


"Oke sayang, Nite-nite." Daniel mengecup bibir istrinya lalu pejamkan mata agar Balen juga ikut tidur.


"Nite Aban." ikut memeluk Daniel dengan bibir menempel pada leher suaminya. Bikin Daniel tidak konsen saja.


"Kamu menggoda Abang?" bisik Daniel pada istrinya. Balen terkikik geli, ternyata sengaja betul mengganggu Daniel.


"Mau lagi?" tanya Daniel ingat tadi mereka sudah lakukan dua gaya.


"Terserah Aban..." dasar Balen, Daniel tertawa dibuatnya, dan mulai ikuti kemauan istrinya yang bilang terserah itu, entah gaya apa yang mereka pakai saat ini, hingga akhirnya mereka benar-benar tidur hingga pagi hari.


Sarapan sudah siap, hari sabtu dan minggu, Auntie Khiel tidak datang, karena ada Daniel yang temani Balen, tapi ia sudah siapkan sarapan di lemari pendingin, hingga Balen dan Daniel tinggal panaskan saja.


"Aban, jus sudah Baen buat." Balen tersenyum bangga sudah bikinkan Daniel jus. Mereka baru saja pulang lari pagi, sesama pencinta olah raga kalau tidak bergerak mana bisa. Badan mereka pasti akan sakit-sakit jika tidak lakukan itu.


"Pasti enak buatan Istriku." jawab Daniel tersenyum manis sambil mengecup pipi Balen.


"Enak dong." bangga, sudah pasti enak siapa pun yang bikin karena buahnya sendiri sudah enak.


"Aban, sandwich mau di panaskan?" tanya Balen pada Daniel setelah nikmati jus bersama.


"Tidak usah, kita mandi dulu baru panaskan sandwich." jawab Daniel.


"Eh ada lasagna juga Aban." sebutkan apa saja yang ada dikulkas.


"Apa lagi?" tanya Daniel.


"Itu aja." jawab Balen.


"Baen mau sarapan apa?" tanya Daniel.


"Lasagna, gendut ndak ya?" langsung pegang-pegang perut.


"Lemak?" Daniel terbahak.


"Sekali-sekali ndak apa ya. Kan kita olah raga." ambil keputusan sendiri tanpa menunggu saran dari Daniel.


"Tidak apa." Daniel terkekeh, makan istrinya memang banyak tapi rasanya badan Balen selalu saja stabil.


Setelah aktifitas mandi masing-masing agar terhindar dari sesuatu yang mereka inginkan, Daniel dengan sigap panaskan menu sarapan yang sudah dibuat Auntie Khiel untuk keduanya, Balen masih keringkan rambut, hobby Balen kalau mandi harus selalu keramas, walaupun tadi pagi sudah keramas tapi setelah lari pagi kepalanya kembali berkeringat jadi Balen keramas lagi.


"Sayang, makanan sudah siap." Daniel beritahukan istrinya yang masih di kamar.


"Ya..." jawab Balen sambil menggulung kabel hairdryer kesayangannya. Kebiasaan Balen menatap rambut ala-ala salon.


"Harum." Daniel mengecup pucuk kepala istrinya yang selalu harum.


"Aban suka?" tanya Balen. Daniel anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Ayo sarapan, setelah itu kita ke boutique." ajak Daniel pada istrinya.


"Suapin ya Aban." selalu manja malas suap sendiri.


"Ya." Daniel tersenyum menggandeng Balen ke Meja makan.


"Kok dikit Aban?" protes karena lasagna yang dipotong Daniel hanya sedikit.


"Biar tidak gendut, setelah makan lasagna, bantu Abang habiskan spaghetti." kata Daniel terkekeh, mulai suapi Balen dan menyuap untuk dirinya sendiri.


"Manja betul sih kamu." kata Daniel pandangi istrinya.


"Aban dapat pahala loh suapi istri." jawabnya bikin Daniel nyengir lebar.


"Aban, Papon juga suka suapi Mamon." ceritakan Papon.


"Baen meniru mereka?" tanya Daniel.


"Hu uh." Balen anggukan kepalanya.


"Papon sayang Mamon ya, seperti Abang sayang Baen." kata Daniel terkekeh.


"Aban sayang Baen terus ndak sampai mati?" tanya Balen.


"Semoga." jawab Daniel tersenyum.


"Baen doa biar Aban sayang Baen selama-lamanya." kata Balen pandangi Daniel.


"Abang juga doa biar Baen sayang Aban selama-lamanya." Daniel terkekeh.


"Cuma dua sendok sudah habis lasagnanya, pelit deh Aban." kembali protes karena Lasagna terlalu sedikit.


"Katanya takut gendut, itu takaran sesuai kalori yang boleh masuk." jawab Daniel.


"Baen kan udah ndak jalan di catwalk Aban."


"Tapi harus tetap bagus badannya, kalau banyak lemak jadi penyakit." jawab Daniel.


"Oh biar sehat ya?"


"Iya sayang." Daniel terkekeh mulai suapi Balen spaghetti.


"Duh ini enak boleh tambah ndak sih Aban?" lihat sepiring spaghetti harus dimakan berdua.


"Tidak boleh, harus berhenti makan sebelum kenyang." jawab Daniel tersenyum jahil.


"Untung Baen sayang Aban." sungutnya, dikasih sarapan hanya sedikit, padahal sebelumnya sudah minum segelas jus, satu slice spaghetti dan setengah piring spaghetti lumayan bikin kenyang. Daniel saja sudah merasa kenyang saat ini.


"Ini untuk Baen semua, Abang sudah kenyang." jawab Daniel jujur, masih suapi Balen.


"Ndak takut Baen gendut?" tanya Balen.


"Cuma sedikit lagi, tidak akan bikin gendut." jawab Daniel ciumi pipi istrinya gemas. Balen terkikik geli dibuatnya, berdua saja dirumah bersama Daniel ternyata lebih menyenangkan dari yang Balen bayangkan sebelumnya akibat tidak ada Redi dan Richie.


"Makasih ya Aban sudah sayang Baen." kata Balen setelah spaghetti dipiringnya habis.

__ADS_1


"Sama-sama sayang." Daniel kembali mengecup pipi istrinya.


__ADS_2