
"Mam aku bobo sama Abang Aca loh." lapor Charlie dengan bangga pada Balen saat Mamanya hubungi ketiga bocah melalui telepon Aca.
"Ndak mau nyusul ke Hotel?" tanya Balen.
"Tidak usah, kata Abang Aca Mam and Pap lagi pacaran." jawab Charlie polos.
"Ih Aca nih." Balen terkekeh, sementara Aca yang disebelah Charlie melet-melet menggoda si Ante.
"Chandra sama Cadi mana?" tanya Balen.
"Chandra tidur di kamar sendiri Mam, Cadi tidur sama Bang Bima." jawab Charlie. Chandra yang merasa sudah besar tidak mau tidur di temani, ia sudah merasakan enaknya tidur di kamar sendiri, sementara Charlie santai saja mau sendiri atau berdua tidak masalah, beda dengan Cadi yang memang masih belum berani tidur sendiri, itulah kenapa Cadi suka lihat Papanya menggendong Mama atau menciumnya karena suka menumpang tidur di kamar Mama atau dikamar kedua Abangnya.
"Mama telepon Bang Bima dulu ya, mau bicara sama Cadi." kata Balen pada Charlie.
"Eh tunggu Mam, Pap mana?" tanyakan Daniel.
"Lagi di Balkon, terima telepon." jawab Balen.
"Aku mau bicara."
"Nanti minta Abang Aca telepon Papa ya, sekarang jangan di ganggu dulu karena Papa sedang sibuk urus pekerjaannya." Balen beritahukan Chandra.
"Mam, apa kalau Mam kerja, Mam and Pap akan sering menginap di hotel?" tanya Charlie.
"Tidak sayang, ini hanya karena Mama mau coba kamar hotel kita, kalau kamu mau menyusul Mama dan Papa boleh kok." Balen beritahukan Charlie.
"No, aku sama Bang Aca saja." jawab Charlie.
"Tapi kamu sepertinya mau ikut menginap disini." Balen tahu sebenarnya Charlie juga tidak bisa jauh dari Balen dan Daniel.
"Aku cuma rindu Mam and Pap." mulutnya maju beberapa senti.
"Ya sudah kesini saja ya, dari pada kamu tidak bisa tidur." Balen jadi khawatir.
"Kalau aku menyusul Mam, nanti aku tidak dapat hadiah, tidak usah deh Mam." jawabnya pasang wajah sendu.
"Aca, adiknya dijanjikan apa tuh, bisa ditagih terus kamu nanti kalau belum dapat." kata Balen pada Aca.
"Aku cuma bilang yang pintar tidak merengek sama Papa dan Mama aku ajak keliling Jakarta naik helicopter." jawab Aca tertawa.
"Ih Aca, kaya banyak duit aja, mubazir tahu ndak?" Balen mulai mengomel, biasa ibu-ibu mikirnya daripada sewa helicopter mending buat beli barang branded.
"Bukan pakai uangku kok." jawabnya nyengir.
"Uang siapa?" tanya Balen.
"Uang Papon." jawabnya sambil terbahak.
"Aca, kamu palakin Papon?" pasng wajah sangar.
__ADS_1
"Papon yang mau, sudah ih Ante rewel deh." sekarang Aca yang ngomel.
"Nanti anakku kebiasaan tahu." omelnya.
"Biar saja sih, cari uang juga buat siapa kalau bukan buat anak cucu." dasar Aca bikin Balen tidak bisa berkata-kata.
"Terserah kamu deh." dengus Balen.
"Memang terserah aku kalau aku yang jaga bocah." Aca terkekeh.
"Aca, besok jangan terlambat." pesan Balen pada Aca.
"Siap Anteku sayang yang baik hati tapi bawel, cerewet, tukang ngomel, pelit."
"Eh Aca, Baen ndak pelit tahu." Balen protes dibilang pelit.
"Hahaha iya tidak pelit tapi perhitungan, sewa helicopter saja komplen." sungut Aca.
"Ish, Aca ndak ngerti sih kalau cari uang itu susah, otak mikir, tuh Om Daniel jam segini masih aja pikirin barang masuk di Ohio. Belum lagi kalau ada tugas luar kota harus boyong anak istri, ongkosnya berapa coba Aca, belum lagi kalau keponakan minta ganti HP lah, beli komputer lah, sepatu yang baru keluar lah, Mobil mau di..."
"Sindir teruuuus." Balen langsung terbahak.
"Ante jangan khawatir mulai sekarang aku sama Bima yang akan menyenangkan adik-adik, Mam and Pap santai saja. Anggap saja balas budi." jawabnya bikin Balen terkekeh.
"Seperti sekarang kan sampai mau sewa Helicopter?" tanya Balen.
"Nah itu tahu." jawabnya bangga.
"Papon." Aca ikut nyengir.
"Berarti yang senangkan adik-adik siapa?" tanya Balen lagi.
"Aku." jawabnya percaya diri.
"Ish Papon lah." Balen langsung membenarkan.
"Aku yang punya ide dan Papon menyetujui, lalu gelontorkan Dana." jawab Aca terkikik geli.
"Aca asal kamu tahu ya, Papon sama Ayah Eja itu dididik sama Opa dan Oma supaya tidak hamburkan uang, Mobil mewah saja mereka ndak pakai loh, eh giliran buat cucu habis-habisan." Balen gelengkan kepalanya.
"Kan aku sudah bilang cari uang jungkir balik tuh buat siapa kalau bukan buat anak cucu." ulang Aca lagi.
"Ish anaknya Nanta nih, kamu tuh keturunan Micko tahu ndak bukan keturunan Kenan, keturunan Kenan jajannya ndak banyak."
"Nah ini yang ngoceh nih keturunan Kenan banget." jawab Aca kemudian mereka tertawa bersama.
"Mam, apa Pap masih online?" tanya Charlie.
"Masih sayang." jawab Balen pada anaknya.
__ADS_1
"Apa Mam tidak bisa kasih tahu Pap kalau anaknya sangat merindukan Pap." kata Charlie bikin Aca tertawa sambil mengetuk jidat Charlie karena gemas.
"Abang what are you doing?" protes Aca sambil mengelus dahinya.
"Kamu lebay, baru juga ditinggal berapa jam, sangat merindukan." Aca tertawakan Charlie.
"Karena aku sangat sayang Pap." jawabnya bikin Balen kembali tersenyum.
"Tuh Aca, anak tuh begitu kalau sama orang tua, hilang sebentar saja dari pandangan mata sudah rindu." kata Balen pada Aca.
"Memang Ante begitu? buktinya Ante bertahun-tahun di Ohio tidak mau pulang kalau tidak ada hotel." Aca tidak mau kalah.
"Ante telepon semuanya setiap hari tahu, komunikasi. Kamu telepon Tania sama Aban setiap hari memangnya?" tanya Balen karena Aca kuliah di Malang, tinggal bersama Richie.
"Tidak." Aca terkekeh.
"Telepon kalau apa?" tanya Balen.
"Uang bulananku menipis." jawabnya sambil menepuk jidat.
"Aku mau Pap sama Mam saja, tidak mau uang." Charlie bikin Balen acungkan jempolnya.
"Semoga ya Charlie, kamu tidak terkontaminasi sama Abang-abangmu." kata Balen bikin Aca terbahak.
"Ante sudah ya, aku mau telepon Panta sama Manta." Aca ingin menutup sambungan teleponnya.
"Mau apa?" tanya Balen.
"Aku merindukan Panta sama Manta." jawabnya sambil terbahak.
"Mencurigakan." Balen tidak percaya.
"Ih tidak percaya."
"Coba telepon saja sekarang, Ante mau dengar." kata Balen penasaran. Aca ikuti permintaan Balen segera menghubungi Nanta.
"Pantaaa..." langsung berteriak begitu mendengar suara Nanta.
"Ya Ca, kenapa?" tanya Nanta.
"Aku rindu." kata Aca pada Nanta, sementara Balen terkikik geli.
"Tumben, mau minta beli apa?" tanya Nanta bikin Balen terbahak.
"Ih Pantas aku serius." Aca yakinkan Nanta.
"Habis kejedot dimana nih anak gue?" kata Nanta, Balen tambah terbahak saja mendengarnya.
"Baen diapain tuh Aca sampai bilang rindu, mesti mandi kembang nih Abang." kata Nanta lagi karena janrang dengar Aca bilang rindu.
__ADS_1
"Panta, Abang Aca miss you sama seperti aku sekarang yang merindukan Pap." Charlie yang polos menjelaskan.
"Oh sayang, karena kamu toh." Nanta terkekeh sementara Aca menggaruk kepalanya yang tidak gatal.