Because I Love You

Because I Love You
Statistik


__ADS_3

"Pa, boleh ya nanti saja kita bahas." pinta Lucky pada Papanya.


"Selalu saja menghindar kamu ya."


"Bukan begitu, Pa. Moment nya tidak tepat." jawab Lucky sambil mengambil rambut Kia dan masukkan ujungnya ketelinga Kia.


"Ooom..." teriak Kia sambil pukuli Lucky.


"Tuh kan Pa, Kia berisik nih Pa." lapor Lucky pada Papa Micko, mau tidak mau Micko jadi tertawa bayangkan pasti Lucky jahili Kia.


"Bohong Opa, Om Lucky gangguin Kia nih." teriak Kia pada Micko.


"Kalian ini, ya sudah Papa tunggu dirumah." kata Papa Micko akhiri sambungan teleponnya pada anaknya.


Lucky tertawa sambil matikan telepon, sambil menahan pukulan demi pukulan dari Kia.


"Sudah sampai, jangan pukul terus." kata Lucky pada Kia.


"Om sih jahil." sungut Kia segera turun dari Mobil.


"Pak ikut makan saja." ajak Kia pada supir Lucky.


"Terima kasih Non, saya sudah bawa makan." tolak Pak supir sambil anggukan kepalanya.


"Ya sudah, kalau mau makan turun ya." kata Kia sambil menutup pintu Mobil.


"Beneran tidak mau makan?" tanya Lucky.


"Tidak Bos, masih kenyang."


"Bungkus mau, bawa pulang?" tanya Lucky.


"Boleh Bos." langsung mau begitu ditawarkan bawa pulang, mungkin pikirkan anak istrinya.


"Beli oleh-oleh dulu ya Om, setelah itu baru makan." kata Kia pada Lucky.


"Iya." ikuti saja maunya Kia.


Setelah memilih beberapa kotak oleh-oleh yang akan dibagikan pada geng rusuh, Kia dan Lucky pun mulai nikmati batagor yang Kia mau.


"Mau bawa buat oleh-oleh juga?" tanya Lucky, Kia gelengkan kepalanya.


Setelah makan mereka langsung kembali Ke Jakarta.


"Om jangan ajak ngobrol." kata Kia saat di dalam heli.


"Kenapa?" tanya Lucky terkekeh.


"Kia mau nikmati suasana." jawabnya bikin Lucky mengacak seluruh rambut Kia, kembali bahu Lucky jadi samsak yang ditinju oleh Kia. Yang ditinju hanya mengaduh sambil tertawa. Tidak ada suasana romantis diantara keduanya. Tapi Lucky sangat nikmati kebersamaanya dengan Kia.


"Kia tidak bawa sisir nih, Om." sungut Kia karena rambutnya diacak habis oleh Lucky.


"Cantik kok, tidak usah disisir." jawab Lucky sambil terkikik geli, Kia langsung mengambil kaca di handphonenya, penampakan rambutnya sudah kesana kemari.


"Biarin deh." Kia letakkan kembali kaca ke dalam tas lalu biarkan rambutnya berantakan acak kadut.

__ADS_1


"Cantik kan?" tanya Lucky menggoda Kia.


"Iya cantik." jawab Kia.


"Sini Om rapikan." kata Lucky akhirnya berniat menyisir rambut Kia dengan tangannya.


"Tidak usah, begini saja sudah cantik." jawab Kia sebal, Lucky kembali terbahak.


"Biar saja Om Lucky yang malu kalau temannya lihat Om Lucky jalan sama orang gila." sungut Kia.


"Iya makanya sini Om rapikan." kata Lucky membujuk Kia.


"Kenapa dirapikan, kan sudah cantik." masih saja bersungut, membuat Lucky gemas dan merangkul Kia, ingin rasanya mencium dahinya, tapi Lucky menahan itu.


"Kamu tuh selalu cantik diapakan juga, mau botak juga pasti tetap cantik. Siapa yang nanti beruntung jadi suami kamu ya?" kata Lucky pada Kia.


"Tidak tahu." Kia mengedikkan bahunya.


"Kamu tahu tidak kalau Opa Micko minta Om melamar kamu?" tanya Lucky pada Kia.


"Idih..." Kia langsung mengedikkan bahunya.


"Kok idih sih?" Lucky tidak terima tapi tersenyum pandangi Kia.


"Om bilang apa?" tanya Kia.


"Ada deh." Lucky sok rahasia gitu.


"Kasih tahu saja kalau Om balikan sama Tante Lee."


"Kalau gitu Kia nanti yang lapor sama Opa, Kia jadi mata-mata Opa, kasih tahu Om Lucky jalan sama cewek mana saja, biar langsung ditangkap dan dinikahi." ancam Kia bikin Lucky terbahak. Tidak terasa mereka pun tiba di Jakarta.


"Om terima kasih ya, ajak Kia ke Bandung." kata Kia ketika mereka sudah berada di Mobil Lucky.


"Tinggal bilang mau kemana, nanti Om sempatkan." janji Lucky.


"Kita sudah tidak bisa kemana-mana lah Om, secara Kia bulan depan sudah di Ohio, Om Lucky juga sebentar lagi jadi suami orang."


"Hmm..." agak risih Lucky mendengarnya.


"Persiapan kamu ke Ohio sudah sampai mana?" tanya Lucky.


"Sembilan puluh persen sih Om, tinggal selangkah lagi, begitu Visa disetujui langsung cuss." jawab Kia.


"Yakin mau kuliah di Ohio?" tanya Lucky.


"Yakin." Kia anggukan kepalanya.


"Bisa jauh dari Om?" tanya Lucky.


"In Syaa Allah bisa, kemarin kan tiga minggu sudah di coba. Kalau hari ini tidak sengaja bertemu juga pasti akan berlanjut sampai Om Ichie menikah minggu depan." jawab Kia mantap.


"Om tidak bisa Kia." Lucky mendesah.


"Maksudnya bagaimana Om?" tanya Kia kurang yakin, takut salah tanggap.

__ADS_1


"Om tidak bisa jauh dari kamu." kata Lucky jujur sambil fokus menyetir, Kia kerutkan alisnya.


"Tidak bisa begini terus Om, Kia harus tahu diri. Mungkin karena Om belum bertemu orang yang tepat, yang bisa bikin Om Lucky nyaman." Kia terkesan dewasa.


"Selama ini yang bikin Om nyaman hanya kamu." desah Lucky.


"Makanya Kia menjauh itu supaya Om bisa konsentrasi penuh sama calon istri Om."


"Siapa yang minta kamu begitu?" tanya Lucky.


"Ya Kia mau sendiri, tidak ada yang minta." jawab Kia.


"Jangan menjauh sampai kamu ke Ohio, bisa?" pinta Lucky pada Kia.


"Bisa saja sih, tapi kan Om dapat target, Kia cuma pikirkan Om saja." sok bijaksana, pikir Lucky.


"Om tidak usah dipikirkan, mau menikah atau tidak itu urusan Om, mau kabur saat acara pernikahan juga itu urusan Om, yang penting selama kamu masih di Indonesia jangan pernah abaikan Om, mengerti?"


"Ok lah. Jangan saja ada cewek lagi yang datangi Kia karena Om Lucky." sungut Kia.


"Tenang, saat ini Om sedang tidak dekati siapapun." jawab Lucky.


"Hebat." Kia terbahak.


"Gara-gara kamu tahu, semua pacar Om minta putus."


"Enak saja gara-gara Kia, ada juga gara-gara Om, Kia sampai sekarang tidak ada yang naksir." sungut Kia.


"Memang tidak boleh ada yang naksir kamu, Kia. Kamu belum cukup umur."


"Kia sebentar lagi kuliah loh, sudah besar tahu."


"Tapi belum boleh pacaran kan?" Lucky tertawakan Kia.


"Iya, kata Oma langsung menikah saja."


"Kapan mau menikah?" tanya Lucky.


"Tidak tahu, tergantung jodohnya kapan datang." jawab Kia.


"Kalau jodohnya didepan mata, bagaimana?" pancing Lucky.


"Maksudnya kalau jodoh Kia, Om Lucky gitu?" tanya Kia memastikan, Lucky naikkan alisnya. Kia menarik nafas panjang.


"Kia pikir-pikir dulu, sepertinya tidak mungkin sih." jawabnya polos.


"Kenapa tidak mungkin, kamu kalau belajar ilmu statistik ya disitu dibilang kalau semua probability itu selalu ada."


"Tidak mengerti, ilmu Kia belum sampai kesana." jawab Kia.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Kia."


"Oh..."


"Cuma Oh?"

__ADS_1


"Habis apa? Kia belum kebayang bakal jadi istri Om, lagian Kia juga bulan depan sudah berangkat, bye bye Om, jangan sedih ya." eh malah bilang begitu, bikin Lucky jadi senewen saja.


__ADS_2