Because I Love You

Because I Love You
Nego


__ADS_3

"Enak kan Aban?" tanya Balen pada Daniel yang sedang mencoba bakpau buatan Mama Lulu. Daniel anggukan kepalanya, bakpau ini beneran enak kalau Daniel sampai mengambil lagi untuk yang kedua kalinya.


"Tuh kan, Aban Lucky sudah coba belum?" tanya Balen, Lucky gelengkan kepalanya,


"Mau makan nasi saja." jawab Lucky takut keburu kenyang kalau makan bakpau.


"Ini gluten free loh, isinya juga enak tadi ubi ungu, itu kacang hijau ya Aban?" tanyakan pada Daniel.


"Iya." Daniel kembali menganggukkan kepalanya.


"Ada yang kacang merah juga Ante, tadi Kia coba." Kia beritahukan Balen.


"Tuh, banyak macam. Baen mau ini ada di menu sarapan pagi kita Aban, sarapan sehat." katanya pada Lucky.


"Boleh, coba minta resepnya." kata Lucky.


"Enak aja minta, beli dong Aban, professional." jawab Balen.


"Kalau beli berarti sudah resmi jadi resep Balena hotel." kata Balen lagi.


"Ya sudah, sana nego." Lucky serahkan pada Balen.


"Aban aja yang nego, Baen kan ndak tahu caranya." jawab Balen.


"Ya sudah senin saja negonya, kita temui Mama Lulu, nanti senin ada dimana dia." kata Lucky pada Balen.


"Mama Lulu, senin ya nego harga resep, kalau sudah dijual ke Balena Hotel ndak boleh kasihkan ke orang loh." kata Balen pada Lulu.


"Memang mau beli harga berapa? 2M?" tanya Mama Lulu.


"Mama buka harga segitu ya?" tanya Balen.


"Iya." jawab Lulu santai.


"Tuh Aban, 2M kata mama." Lucky monyongkan bibirnya.


"Mahal betul Ma, 2M. Sama anak sendiri." dasar Lucky bawa-bawa anak.


"Loh kalian tawar saja, itu kan Mama buka harga." jawab Lulu santai. Lucky segera maju sambil menarik Balen dan bisikan sesuatu, Balen terkikik geli.


"Aku tawar dengan satu ciuman di pipi kiri, Baen di pipi kanan." mereka mencium Lulu berbarengan.


"Aduh anak-anak ini paling pintar merayu ya, bagaimana ini Pa, resep mama ditawar dengan ciuman pipi." kata Lulu pada Micko sambil terbahak: Kenan dan Nona ikut terbahak dibuatnya sementara Kia terkikik geli.


"Baen ndak ngerti soal harga loh Mama, tapi kalau kasih sayang yang tulus Baen ngerti." kata Balen bikin Lulu gemas dan langsung menciumi pipi Balen.


"Anakmu Non, sudah punya bocah masih menggemaskan saja." katanya pada Nona.


"Jadi bagaimana nih harga resep?" tanya Lucky.


"Ciuman saja masih kurang, harus ditambah pelukan." kata Lulu pada Lucky, langsung saja Lucky memeluk Mamanya dengan erat. Semua kembali tertawa.


"Lunas?" tanya Lucky.


"Coba itu 2M memang tidak sebanding dengan kasih sayang yang tulus dari anak-anak, ditambah pelukan dan ciuman, baiklah Lunas, resepnya nanti Mama kirimkan." kata Lulu sambil tertawa geli.


"Wah Mama nanti kalau Baen sudah ngerti baru Baen setor ke Mama, Sekarang anggap lunas dulu ya." kata Balen tertawa.

__ADS_1


"Mbak Lulu, gurunya tidak marah Mbak Lulu sebar resep?" tanya Nona pada Lulu.


"Oh ini kan sudah resep yang aku kembangkan sendiri, bukan resep dari guruku itu." jawab Lulu, Nona anggukan kepalanya.


"Baen suatu saat nanti kalau kamu mau bayar tidak usah ke Mama, Kirimkan saja ke rumah yatim dan sejenisnya." kata Lulu beritahukan Balen.


"Siap Mama." Balen langsung tersenyum lebar dan peluk Mama Lulu.


"Aku dataaaang." Sinna yang ditunggu-tunggu berteriak saat masuk kedalam rumah.


"Sinna, ucapkan salaam dong, masa teriak seperti Tarzan." protes Micko pada cucunya, diikuti Bima dan Aca lalu Winner dibelakangnya. Dasar bocah tidak peduli, langsung bergabung dengan rombongannya.


"Assalamualaikum..." kata ketiganya berbarengan.


"Waalaikumusalaam." jawab Micko dan yang lainnya.


"Bawa apa?" tanya Micko lihat Winner bawa kantongan.


"Ini titipan makanan dari Lina." jawab Winner tersenyum, letakkan menu makanan dimeja.


"Istrimu tidak ikut?" tanya Lulu.


"Sibuk dia sama keluarganya, sudahlah biarkan saja." kata Winner yang sudah tahu Papa dan Mamanya mau komplen.


"Kapan sih kamu bisa ajari istrimu biar ikut juga kumpul sama kita?" tanya Lulu.


"Yah bagaimana ya Ma, Winner juga susah ngomong, keluarganya banyak urusan, apa saja diurusi, Winner tidak mau pusing lah, yang penting Lina sehat, Sinna juga sehat." jawab Winner tersenyum.


"Baen, apa kabar dek?" tanya Winner hampiri Balen dan memeluknya.


"Sehat Aban, itu suami Baen." Balen tunjuk Daniel yang berdiri hampiri Winner.


"Iya Alhamdulillah, sehat Win?" tanya Daniel.


"Alhamdulillah sehat, kamu juga kan."


"Seperti yang kamu lihat, itu C's dari tadi tunggu Sinna." kata Daniel tersenyum lihat anak-anak sudah bergabung. Sinna dan ketiga anaknya beberapa kali bertemu saat Lucky dan Kia berlibur ke Ohio bersama Sinna, belum ada Syabda saat itu.


"Sudah kumpul semua kan? ayo kita makan." kata Mama Lulu pada semuanya.


"Ayo." semua langsung menuju ruang makan yang jaraknya lumayan jauh dari ruang tamu, salahnya rumah Micko terlalu besar, tapi karena sudah biasa mereka santai saja berjalan sambil ngobrol dan bercanda.


"Tidak ada yang disuapi ya, sudah besar kan." Balen ingatkan anak-anaknya terutama Charlie dan Cadi.


"Iya." jawab mereka sudah tahu itu ditujukan kepada mereka berdua, apalagi ada Bima dan Aca yang sukarela manjakan adik-adiknya.


"Sinna mau suapin Ante." eh Sinna langsung bergelayut minta disuapi Balen.


"Waduh Sinna kan sudah besar." jawab Balen.


"Tapi Sinna kangen Ante." akal-akalan biar disuapi.


"Oke deh." Balen terkekeh.


"Mam curang." protes Cadi karena Balen bersedia suapi Sinna.


"Ini karena Sinna kangen Mama." jawab Balen.

__ADS_1


"Aku setiap hari rindukan Mam." jawab Cadi setengah merajuk.


"Kamu kan boy, Sinna girl." Balen bawa-bawa gender.


"Kalau girl boleh?" tanya Cadi.


"Boleh sedikit manja." jawab Balen.


"Boy juga boleh manja padahal." gerutu Cadi, Bima tertawa melihat ekspresi Cadi yang setengah merajuk.


"Suapi Abang mau?" tanya Bima.


"Kalau Mam kasih ijin." jawab Cadi pandangi Balen.


"Mam..." panggilnya karena Balen pura-pura tidak mendengar.


"Punya anak lain sih, jadi lupa anak sendiri." omel Cadi bikin semua tertawa.


"Sini berdua Mama suapi." kata Balen akhirnya.


"No, aku mau sama Bang Bima." jawab Cadi.


"Ya sudah sana." kata Balen akhirnya.


"Mam aku juga ya?" Charlie ikut-ikutan.


"Kamu mau disuapi siapa?" tanya Bima.


"Abang Aca." jawab Charlie.


"Eh buset bocah, manja juga ya kamu." Aca tertawa.


"Kan boy boleh manja sedikit." jawab Charlie bikin Aca tertawa.


"Besok kita kemana?" tanya Aca.


"Naik heli yeaaaaiii..." mereka langsung bersorak.


"Papiii Sinna mau ikut." langsung saja Sinna merengek pada Winner.


"Waduh, kapan kalian naik heli? bisa nyempil tidak nih satu bocah?" tanya Winner berharap anaknya bisa disempilin mengingat ada kapasitas penumpang.


"Nanti aku tanya Shaka deh, dia kan mau upgrade heli yang lebih besar, upgrade yang berapa orang dia."


"Siapa saja?" tanya Winner.


"Aku, Bima, Shaka, Billian, Bari, C's, kita berdelapan." jawab Aca.


"Bisa tuh satu nih anak gue, mau kan ajak Sinna, jangan pilih kasih jadi Abang." langsung winner mengoceh.


"Tuh Syabda ajak sekalian." kata Lucky bercandai Bima dan Aca.


"Beneran nih si gembul di ajak?" tantang Bima, yakin Lucky tidak akan ijinkan anaknya dibawa tanpa dia atau Kia ikutan. Benar saja Lucky langsung kibaskan tangannya sambil gelengkan kepalanya.


"Syabda nanti sama Papa dan Mama saja ya." katanya sambil ciumi Syabda yang pasang wajah sedih karena berharap bisa bergabung dengan kakak dan Abang-abangnya.


"Wah sudah mengundang main ditinggal makan saja." Reza yang baru muncul bersama Kiki, Raymond dan Roma gelengkan kepalanya pura-pura merajuk pada Micko.

__ADS_1


"Hahaha Opa sini Opa, kita belum mulai kok." jawab Micko tambah ramai saja ruangan makan Micko karena semua sudah komplit berkumpul untuk makan siang bersama menyambut kedatangan Balen dan Keluarganya.


__ADS_2