
Beginilah kalau menikahi bocah, dari selesai sholat shubuh sampai pukul enam lewat sambil menunggu restaurant dibuka menggelendot saja Balen dipelukan suaminya. Bergerak sedikit Daniel langsung di komplen.
"Sayang, Abang berat nih." Daniel menepuk bahu Balen, bukan tidak suka tapi tangannya mulai kesemutan.
"Aban, ndak sayang Baen nih." merengek bikin Daniel menghela nafas.
"Kata siapa tidak sayang, enak saja." Daniel mengecup pipi istrinya.
"Ayo jalan pagi sambil tunggu restaurant buka." ajak Daniel, kalau dikamar terus bisa gawat, keluarganya masih berkumpul semua dihotel. Apalagi semalam kia sudah berteriak jangan keenakan.
"Baen masih mau dikamar." ish benar-benar bocah merengek saja bisanya. Tapi Daniel tidak marah sudah siap menanggung segala resiko karena istrinya masih belum dewasa. Eh belajar dewasa apa kabarnya, Daniel jadi mau tahu.
"Kamu masih belajar dewasa?" tanya Daniel terkekeh.
"Udah." jawabnya singkat.
"Mana? ini kok belum terlihat dewasa, menggendot terus seperti koala." kata Daniel tertawa.
"Aban, ndak suka?" mulai merajuk.
"Suka, tapi Abang kesemutan." kata Daniel goyangkan tangannya.
"Aban sih ndak bilang dari tadi." malah marahi Daniel kemudian lepaskan pelukannya.
"Kan Abang sudah minta kamu bangun." Daniel tersenyum.
"Tapi Abam ndak bilang kesemutan." tetap ya yang salah Daniel.
'Iya, Abang salah tidak bilang." Daniel tertawa.
"Ayo keluar kita harus cari udara segar, jangan di ruangan ber ac terus." ajak Daniel pada Balen yang tampak lebih segar pagi ini, sudah tidur cukup.
"Aban, jalan Baen nanti aneh, ndak?" tanya Balen ragu mau keluar.
"Tidak kan sudah biasa." jawab Daniel.
"Baru tiga kali." jawab Balen bikin Daniel tertawa, dihitung rupanya mereka sudah lakukan itu berapa kali.
"Memang yang jalannya tidak aneh harus berapa kali?" tanya Daniel tertawa gel
"Ndak tahu, mesti sering mungkin." jawab Balen bikin Daniel gemas langsung mencubit pipi istrinya.
"Kita menginap disini lagi saja, biarkan mereka semua pulang nanti siang, lusa kita baru pulang, biar bisa sering, jadi jalan Baen akan seperti semula." kata Daniel sambil tertawa.
"Oke." acungkan jempolnya dengan senyum menggoda, dasar bocah menggemaskan, pikir Daniel tidak tahan untuk tidak mengecup bibir istrinya.
"Mau lagi pagi ini?" tanya Daniel menawarkan.
"Nanti mandi lagi dong?" tanya Balen.
"Iya harus." jawab Daniel.
"Nanti aja deh, Baen malas keringkan rambut." jawab Balen, Daniel pun anggukan kepalanya.
"Kalau begitu harus keluar kamar, Abang tidak tahan kalau kita dikamar terus." bisik Daniel bikin Balen jadi tidak karuan, kalau mau ikuti nafsu sudah pasti Balen mau lagi. Tapi ingat anak-anak jadi harus tahan dulu.
"Baen sayang Aban." kata Balen kalungkan tangannya dileher Balen, mulai melompat dan minta digendong Daniel kembali seperti koala.
__ADS_1
"Aban mesti banyak latihan angkat beban kalau kamu terus begini." kata Daniel sambil tertawa lalu mulai ciumi istrinya. Kalau sudah begini dapat dipastikan akhirnya mereka pun kembali mandi dan Balen lagi-lagi harus keringkan rambut, lupakan jalan pagi cari udara segar.
"Aban obat sama vitamin Baen, mana?" tanya pada Daniel, terbiasa selama dua tahun ini selalu diurusi keperluannya oleh Daniel dan Richie. Daniel ambilkan obat dan vitamin Balen.
"Simpan di tas kamu ya, nanti setelah sarapan baru deh kamu minum obatnya." kata Daniel pada Balen.
"Kurang makan buah sama sayur nih Baen jadi gampang flu." kata Balen sedikit mengeluh.
"Kamu juga kurang tidur pasti."
"Iya, Baen kepikiran mau menikah kemarin itu." jawabnya jujur.
"Kepikiran kenapa?"
"Baen malu, teman Baen di Ohio belum ada yang menikah." jawab Balen.
"Tapi mereka sudah *** bebas?"
"Iya."
'Harusnya mereka yang malu, kita halal." jawab Daniel terkekeh..
"Aban kalau sudah menikah tuh bikin anaknya harus tiap hari ya?" bertanya dengan polos.
"Iya, kecuali Baen lagi halangan, sudah tahu kan kalau itu?" Daniel balik bertanya.
"Kenapa sih kalau lagi halangan ndak boleh?" malah konsultasi dikira Daniel dokter atau guru agama kali.
"Tidak baik untuk kesehatan kamu." jawab Daniel.
"Bisa sakit ya? sakit apa emangnya?" hahaha Daniel jadi bingung harus jawab apa. Daniel juga tidak tahu detail.
"Yah..." anggukan kepalanya.
"Aban, Baen dengar Ichie ndak ikut pulang ke Ohio loh, Papon lagi urus kuliah Ichie disini." mulai ceritakan Richie.
"Iya Abang sudah dengar."
"Nanti yang siapin makan Baen siapa ndak ada Ichie." pikirkan makannya lagi, Daniel terkekeh.
"Belajar masak dong." kata Daniel pada istrinya.
"Belajar sama Mamon ya? apa sama Mama?" tanya Balen.
"Belajar menu yang kita suka saja." jawab Daniel.
"Kalau gitu kita pulang aja deh, Baen harus belajar masak." katanya lagi.
"Eh jangan, belajar masaknya minggu depan saja masih ada waktu." jawab. Daniel tidak mau rugi. Nanti kalau dirumah belum tentu bisa sebebas sekarang, kalaupun tidak diganggu pasti malu kalau ada suara-suata aneh.
"Baen harus bisa masak ya?" tanya sama Daniel.
"Tidak harus, Abang bisa makan apa saja."
"Tapi repot kalau beli terus, bosan juga." kata Balen pandangi suaminya.
"Iya sih, yang bikin kamu nyaman saja deh, kita hanya berdua kok nanti." jawab Daniel.
__ADS_1
"Kan ada Aban Redi." jawab Balen.
"Redi kemungkinan akan lebih sering di California, karena banyak pesanan." jawab Daniel.
"Kalo Aban ke California, Baen sendirian dong." takut ditinggal Daniel.
"Abang tetap di Ohio bersama Baen, Redi handel disana." Daniel jelaskan pada Balen.
"Jangan tinggalin Baen pokoknya."
"Iya sayang, mana mungkin Abang tinggalkan Baen sendirian. Nanti kamu di ganggu Noah." ingat Noah saingannya.
"Noah ndak pernah ganggu, malah jagain Baen."
"Itu mengganggu namanya, kamu kan harus Abang yang jaga."
"Aban kan sibuk kerja."
"Baen, Abang cemburu sama Noah, jangan sebut dia terus." tegas Daniel pada Balen.
"Oh cemburu ya, kok Baen ndak tahu?"
"Sekarang kan sudah Abang kasih tahu."
"Baen juga cemburu sama Adira makanya dia Baen tabrak-tabrak aja pakai badan Baen." tertawa geli sendirim
"Aban, Adira ke Ohio lagi ndak sih?"
"Tidak tahu, dia kan Kerja disana. Mungkin juga kembali lagi."
"Baen ndak suka dia aneh."
"Biarkan saja yang pentingkan kita sudah menikah." jawab Daniel terkekeh.
"Pokoknya Adira ndak boleh dekat Aban Daniel Baen." menghela nafas panjang.
"Kita jadi pindah rumah, tidak?"
"Ndak usah deh, repot."
"Nanti dekat Adira."
"Biar aja Adira yang pindah rumah."
"Hahaha bagaimana caranya?"
"Baen peluk Aban aja lama-lama kalau ada Adira." jawab Balen tersenyum.
"Dikamar saja kamu peluk Abang lama-lama." Daniel tertawa.
"Biarin, Baen kaya koala aja kalau Adira datang." berencana sambil bersungut.
"Hahaha tidak usah datang kamu tetap kaya koala tahu." Daniel yang gemas ciumi pipi istrinya bertubi-tubi.
"Aban, Baen ndak mau mandi lagi pagi ini." teriaknya bikin Daniel tertawa geli lepaskan ciumannya dan memeluk tubuh istrinya erat.
"Ayo keluar, bahaya ini." ajak Daniel segera beranjak mengambil dompet dan handphone, Balen pun ikuti suaminya ambil tas slempang dan segera keluar kamar.
__ADS_1
"D