Because I Love You

Because I Love You
Bobo siang


__ADS_3

"Opon kok ndak bobo siang?" tanya Balen saat keluar kamar lihat Opon malah asik ngobrol sama Papon, Om Deni dan Om Samuel.


"Kalau bobo siang, Opon tidak tidur malam." jawab Opa Baron pada cucunya.


"Kamu kenapa tidak tidur siang? lihat Richie sudah pulas dari tadi."


"Baen mau bobo siang sama Tori aja." jawab Balen tersenyum manis.


"Tori sudah ditemani Mamon dan Ante-Ante." Deni beritahukan Balen.


"Wah enak Tori banyak yang peluk dong, Baen mau juga ah." jawabnya tersenyum manis lalu segera tinggalkan semuanya menuju kamar Mamon dan Tori. Begitu disana tampak Tori bersama Mamon dan kedua tantenya asik ngobrol dan ketawa ketiwi.


"Baen kira Tori bobo baru mau ditemani." Balen lemparkan senyum manisnya pada semua yang ada di kamar.


"Kamu kenapa disini? sana temani Daniel." usir Nona saat Balen mendekat.


"Mamon, Baen kan mau ikut ngobrol." segera duduk menyempil diantara Mamon dan Ante Dini.


"Lanjut lagi dong tadi lagi bahas apa." kata Balen siap mendengarkan pembahasan yang ada.


"Bahas kisah cinta kami waktu sebelum menikah." jawab ante Dini tertawa geli.


"Seru cerita Mamon dan Papon, Baen." komentar Tori sambil acungkan jempol.


"Oh, itu sih iya." Balen belum apa-apa ikut Ante Dini tertawa geli. Merasa sempit karena duduk menyempil Balen beranjak dari kasur ambil posisi di sofa.


"Baen disini aja dengerinnya." kata Balen pada semua kemudian berbaring di sofa siap menerima cerita Mamon.


Nona kembali menceritakan Kisah kasih pertemuan dengan Kenan pertama kali, karena sudah tahu ceritanya Balen hanya dengarkan sambil lewat, ia mulai mengantuk selain itu juga pikirkan suaminya di kamar yang berbeda. Balen dengarkan cerita Mamon sambil pejamkan mata, dengarkan cerita Mamon mulai sayup-sayup hingga akhirnya Balen tertidur pulas.


"Eh dengar dongeng malah tidur anak Mamon." Nona tertawa lihat anaknya sudah tertidur pulas.


"Tori kamu bobo juga deh, kita keluar yuk." ajak Nona pada yang lain. Ketiganya segera beranjak tinggalkan Tori dan Balen.


"Mamon, Balen aku bangunkan biar pindah kasur ya?" tanya Tori.


"Tidak usah, biarkan saja dia di sofa." kata Nona pada Tori.


Tori pun pejamkan mata setelah ketiga wanita dewasa itu keluar kamar. Ia paksakan tidur supaya bisa ikut istirahat seperti Balen, sampai akhirnya ia tertidur.


Sementara itu di luar Daniel sudah bergabung dengan Kenan dan yang lainnya. Daniel menyimak saja sesekali pamit karena ada telepon masuk terkait pekerjaan.


"Sibuk Bang?" tanya Ichie saat keluar kamar, ia sudah bangun tidur rupanya.


"Lumayan, ada permintaan bumbu instant khas minang itu loh, ini lagi koordinasi dengan penyedia." jawab Daniel pada Richie.


"Wah tambah banyak saja modelnya Bang."


"Iya itu makanya, karena kemarin trial ternyata peminatnya banyak juga." Daniel terkekeh.


"Baen mana Bang?" tanya Richie.


"Bobo dikamar Tori." jawab Daniel yang tadi diberitahu Mamon kalau Balen begitu masuk kamar langsung pulas.


"Kebanyakan makan dia, jadi mengantuk deh." Richie tertawakan Kakaknya.


"Kasihan nanti tidak ada kamu, Chie. Makanan restaurant saja bisanya Abang pesankan."


"Iya sih, pindah saja kuliahnya seperti aku." Ichie memberikan saran.


"Tanyakan saja, tapi kalaupun pindah ke Jakarta, Abang tetap harus di Ohio dulu sementara, supaya tetap bisa berjalan, market kita sudah luas, sayang kalau dilepas ke distributor lain."

__ADS_1


"Baen harus ikut Abang lah, masa harus hubungan jarak jauh."


"Iya, Abang maunya begitu." Daniel tersenyum.


"Aban..." Balen keluar kamar langsung peluki Daniel, wajahnya tampak masih mengantuk.


"Eh kenapa, sebentar sekali tidurnya?" tanya Daniel menyambut pelukan Balen.


"Ndak bisa bobo." jawabnya dengan manja, mungkin kalau dikamar sudah bergaya koala lagi Balen.


"Masih mau bobo?" tanya Daniel pada Balen.


"Mau." Balen anggukan kepalanya.


"Sana bobo lagi."


"Sama Abang."


"Idih..." Richie langsung meringis.


"Kisna mana deh?" abaikan eksprey Richie malah tanyakan Krisna.


"Dikamar, main game." jawab Richie.


"Mama Ai kok belum datang ya?" mulai segar tampaknya, sudah banyak tanya.


"Don't know." Richie mengedikkan bahunya.


"Ichie, pempek buat anak-anak Baen lupa beli kemarin. Cuma 10 pack kan yang dibawa, itu untuk Opon aja."


"Mau pesan berapa?" tanya Richie pada Balen.


"Lima puluh pack deh Ichie. Bilangin Kisna suruh pegawainya antar, bayarnya transfer aja minta nomor rekeningnya."


"Cukup ndak Aban segitu?" tanya sama Daniel.


"Sepertinya cukup ya." jawab Daniel.


"Aban ndak suka ya?"


"Suka tapi tidak terlalu." jawab Daniel merangkul Balen.


"Kamu jadi bobo lagi? Tori mana?"


"Jadi, Tori masih bobo dikamar."


"Kenapa tidak ditemani?"


"Torinya kepulasan Baen ajak ngomong ndak jawab."


"Hahaha namanya juga tidur, kamu tidur kok bisa ajak ngomong orang sih?" Daniel tertawakan Balen.


"Baen kebangun terus Baen ajak ngobrol Torinya diam aja."


"Ish namanya juga pulas, Baen." Richie mendengus.


"Iya sih." Balen rebahkan kepalanya didada Daniel.


"Sayang, bobo kamar sana nanti Abang menyusul." Daniel menepuk bahu Balen.


"Aban mau apa?" tanya Balen pada Daniel.

__ADS_1


"Abang mau hubungi Redi dulu soal kerjaan." jawab Daniel.


"Jangan lama-lama ya Abang." Daniel anggukan kepalanya, Balen pun segera menuju kekamarnya.


"Sudah besar kenapa jadi manja? waktu kecil mandiri loh, malah cerewet seperti orang tua." Samuel tertawakan keponakannya.


"Om Muel ih." tertawa malu sendiri.


"Kalau sama Daniel peluk-peluk, sama Opon marah-marah." Opa Baron langsung protes.


"Opon, nanti Baen peluk deh, Baen masih ngantuk nih, jadi bobo dulu ya."


"Sudah mau sore masih mau bobo." Mamon gelengkan kepalanya.


"Belum selesai ngantuk Baen, Mamon." mata Balen berkedip tiap sebentar menahan kantuk.


"Nanti malam tidak bisa tidur loh." kata Dini sambil tertawa.


"Ndak apa udah ada temennya ini kalau begadang." jawab Balen tertawa jahil, Kenal jadi nyengir mendengarnya.


"Udah ah, Baen bisa ndak bobo kalau ngobrol terus."


"Iya sana Bobo, cepat. Nanti rewel dia kalau tidak bobo siang." kata Nona tertawakan Balen.


"Emang Baen masih kecil, kalau ndak bobo siang, rewel." sungut Balen tertawa.


"Tuh kamu ngobrol terus, disusuli Daniel deh." Deni menujuk Daniel.


"Hehehe emang maunya Baen begitu." Balen cengengesan.


"Daniel, Balen diajari mandiri lah. Waktu kecil dia mandiri loh, kenapa sekarang manja begitu." sambut Samuel saat Daniel dan Richie datang.


"Di Ohio jadi ratu dia Om." jawab Richie tertawa.


"Enak aja Ichie, Baen kan bagian bersihin rumah, upik Abu kali bukan ratu." protes Balen bikin semua tertawa.


"Aban ayo ke kamar." langsung ajak Daniel ke kamar.


"Sana Niel temani, nanti dia rewel lagi." Deni menggoda Balen.


"Om Deni, Baen ama Aban nginap rumah Om Deni dong, Baen mau rasain kamar Aban waktu nginap sana." kata Balen pada Deni.


"Itu loh kamar tamu yang samping."


"Disitu ya, Papon kita nginap Cirebon dong." minta menginap sama Paponnya.


"Bagaimana Non?" Kenan minta pendapat Nona.


"Boleh saja, aku malah senang ya, bisa kuliner deh."


"Ya sudah kita menginap tapi satu malam saja ya Baen." Papon membujuk Balen.


"Kalau Papon mau pulang duluan, nanti Baen sama Aban naik kereta deh." mulai mandiri sepertinya ya.


"Satu malam saja Baen, Daniel dan Papa banyak pekerjaan."


"Terserah Mamon deh."


"Mamon Baen ngantuk nih, kekamar ya. Nanti Mama Ai datang Baennya masih ndak enak badan, kurang seru deh."


"Oke sayang, kiss Mamon Baen." tunjuk pipi kanannya, Balen segera dekati Nona dan memeluk juga ciumi Mamon.

__ADS_1


"Sudah cukup Baen." Nona menepuk pantat Balen karena mencium pipi Nona lama sekali.


"Aban ayo." Balen menarik tangan Daniel lalu lambaikan tangan dengan mata khas Garfield.


__ADS_2