Because I Love You

Because I Love You
Perhatian


__ADS_3

"Aban, kenapa sih Aban yakin itu anaknya Markus?" tanya Balen saat mereka sudah berada di kamar.


"Markus selalu gunakan pengaman sayang, itu yang Abang tahu." jawab Daniel.


"Tapi kan katanya dia vasektomi." Balen sedikit berkerut.


"Bukan type Markus yang mau repot seperti itu setahu Abang." jawab Daniel yakin.


"Kasihan deh Aban kalau dipikir-pikir." desah Balen pikirkan jalan hidup sahabatnya.


"Itu pilihan Achara, dia sudah tahu pasti ada resiko, entah hamil, entah penyakit."


"Kita jadi gosipin Achara ndak sih?" Balen terkekeh.


"Review..." Daniel jadi ikut terkekeh.


"Baen kasihan sama teman Baen kalau jadi single mom."


"Ini hanya sementara, nanti kalau Achara bertemu jodoh juga punya Papa anaknya."


"Kalau DNA selagi hamil katanya bahaya buat baby ya Aban?" tanya Balen.


"Katanya sih begitu, kamu tidak usah berpikir keras sayang, kasihan anak kita kalau Mama banyak pikiran." Daniel ingatkan istrinya.


"Baen jadi ndak ngantuk tahu, Baen kepikiran."


"Sini peluk." Daniel rentangkan kedua tangannya.


"Aban ih, mau besuk baby ya?"


"Ih, cuma mau peluk. Hampir saja kamu di peluk Leyi tadi." Daniel mengecup dahi istrinya.


"Kemarin itu Baen di peluk Ledi Dei, Aban ndak marah."


"Redi beda sama Leyi." jawab Daniel.


"Aban Leyi kan Aban Baen."


"Pokoknya tidak boleh, Abang cemburu kalau sama Leyi." jawab Daniel jujur.


"Padahal Aban itu lebih ganteng dari Aban Leyi loh." Daniel tertawa dengar gombalan istrinya, gemas dan langsung memeluk erat Balen.


"Pengap Aban." teriak Balen sambil terkikik geli.


"Kamu sih gombal." Daniel tertawa.


"Baen serius Aban."


"Tapi cowok pertama yang kamu Lamar kan Leyi."


"Hahaha itu kan waktu Baen masih kecil banget." Balen terbahak mengingat kecentilannya dimasa kecil.


"Makanya abang cemburu."


"Harusnya Aban terima kasih sama Aban Leyi, karena dia kita bisa jadi suami istri loh."


"Iya sih Hahahaha." Daniel jadi tertawa dan kembali memeluk erat istrinya.


"Baen belum telepon Papon sama Mamon nih Aban kalau kita sudah sampai di Jakarta."


"Tadi Abang sudah laporan." jawab Daniel ternyata cepat tanggap.


"Apa kata Papon?" tanya Balen.


"Tidak apa kita menginap disini sehari dua hari, setelah itu baru kesana."


"Kita tunggu pendamping Achara dulu aja ya Aban, setelah Achara ke Malang, baru kita keliling Jakarta."


"Achara tidak datang ke pernikahan Ichie?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Ndak mau dia takut bertemu temannya Markus katanya."


"Loh ini temannya Markus juga." Daniel tunjuk dirinya.


"Sahabatnya malah." Daniel tertawa.


"Aban aja yang tahu, yang lain jangan." jawab Balen.


"Nanti Adira datang ndak ke pernikahan Ichie?"


"Memang kenal keluarga kamu?" Daniel tertawa.


"Kan waktu pernikahan kita dia datang." sungut Balen.


"Om Bambang sahabat Papa." Daniel mengingatkan.


"Oh iya, Om Bambang ndak kenal Papon, semoga ndak kenal Aban Steve juga." Balen tersenyum.


"Baen ndak mau Achara bertemu Adira, nanti mood Achara rusak." dengus Balen.


"Mood Achara apa mood kamu?" pancing Daniel.


"Mood Baen juga sih." Balen terkekeh.


"Ante!!! jangan dikamar terus dong!" teriakan Belin dari luar kamar bikin Balen tertawa.


"Duh sudah datang tuh pengganggu." gerutu Daniel karena Belin sering kali mengganggu kebersamaannya dengan Balen.


"Aban! Beyin kan anak kita.". Balen bergaya seperti orangtua Belin.


"Iya-iya." Daniel tidak mendebat istrinya tapi ikuti Balen yang sudah bangun dan berjalan menuju pintu kamar.


"Ganggu terus sih." omel Daniel bercandai Belin.


"Makanya carikan calon suami untuk Beyin dong, jadi Om tidak terganggu." jawab Belin bikin Daniel menganga.


"Sekolah dulu yang benar." Daniel mengacak anak rambut Belin.


"Enak saja mau sabotase istriku." Daniel monyongkan bibirnya sambil memeluk Balen yang tertawa geli lihat Om dan keponakannya.


"Teman Ante sudah Beyin antarkan makanan tadi." lapor Belin.


"Ante ndak di antarkan makanan?" tanya Balen.


"Ante ambil sendiri lah, jangan seperti tamu yang tidak enak badan." kata Belin konyol.


"Bagaimana persiapan pernikahan Om Ichie?" tanya Balen.


"Biasa saja, tinggal suruh orang ini itu." jawab Belin sok tahu.


"Mereka pesta dimana sih?" tanya Balen mengajak Belin ke ruang keluarga, Daniel mengikuti keduanya.


"Di GBK." jawab Belin.


"Gelora Bung Karno?" tanya Balen.


"Hu uh, dilapangan hockey." jawab Belin.


"Kok?"


"Seru tahu ante, itu acara outdoor, Semoga saja tidak hujan."


"Berapa banyak tamu yang diundang?" tanya Balen.


"Lumayan banyak Ante, Beyin tidak ikuti sampai disana."


"Om, ngobrol sama Opa gih." perintah Belin pada Om nya.


"Tidak mau." Daniel gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Om posesif betul sih, Beyin pinjam sebentar Ante Baennya." sungut Belin.


"Om juga kangen sama kamu Beyin, kamu saja yang tidak pernah kangen sama Om." jawab Daniel bikin Belin langsung senyum-senyum senang, matanya berkaca-kaca karena terharu.


"Beyin terharu." katanya jujur.


"Ya ampun anak gue lu apain Daniel, sampai berkaca-kaca begitu?" tanya Rumi yang baru saja muncul entah dari mana.


"Nami, Om Daniel ternyata kangen sama aku. Aku kira Om Daniel tidak pedulikan aku, cuma Billian saja." lapor Belin matanya tambah basah saja.


"Eh Beyin, lebay deh." Balen terkikik geli.


"Beneran ante, Beyin terharu. Om... I love you so much." kata Belin bikin Daniel terbahak.


"Kenapa punya pikiran begitu Beyin, om hanya pedulikan Billian. Itu tidak benar." Daniel gelengkan kepalanya.


"Btw, I love you too, Beyin." Daniel mengacak anak rambut Belin yang sibuk mengusap matanya dengan tissue.


"Sayang... Beyin ternyata melankolis." Daniel tertawa sambil pandangi istrinya.


"Beyin, maapin Ante ya, lupa tegur Om kamu karena terlihat kurang perhatian sama kamu."


"Kamu juga lebay sayang." Daniel terkekeh.


"Duo lebay." celutuk Rumi terkikik geli.


"Kak Rumi, I miss you." Balen hampiri Rumi dan memeluknya.


"Telat Baen, harusnya Dari tadi kamu bilang begitu." protes Rumi.


"Aku fokus ke Beyin, Kak Yumi." jawab Balen panggil Rumi seperti saat dia kecil dulu.


"Gimana hamil kamu rewel?" tanya Rumi mengusap perut Balen.


"Ndak..." Balen gelengkan kepalanya.


"Sempat mengeluh gatal saja waktu itu." sahut Daniel.


"Iya, Aban garukin pakai sisir." jawab Balen tertawa.


"Sekarang sudah aman kan?" Rumi memastikan, Balen anggukan kepalanya .


"Teman kamu mana?" tanya Rumi lagi.


"Lagi istirahat, jetleg pasti." jawab Balen.


"Kalian tidak jetleg?"


"Tadi mau tidur di ganggu Beyin." adu Daniel.


"Kan aku kangen sama Om dan Ante." jawab Belin.


"Ciee sekarang kangennya sama Om dan Ante loh, bukan Ante saja."


"Hahhaa Ante, jangan komplen deh."


"Kak Rumi, anakmu minta dicarikan jodoh." lapor Daniel pada Rumi.


"Om tukang ngadu nih!" teriak Belin sambil mendorong bahu Daniel.


"Mau ku jodohkan sama temanku saja ya?" tanya Rumi pada Daniel sambil melirik Belin.


"Nami, kriterianya maksimal seumuran Om Lucky." Belin ajukan persyaratan.


"Mana ada teman Nami yang seumuran Lucky. Kalau begitu minta carikan sama Redi atau Lucky sajalah. Tapi Belina kamu sekolah saja belum lulus sudah mau cari jodoh." omel Rumi pada anak gadisnya.


"Kak Kia saja sudah sama Om Lucky." dengus Belina.


"Kamu mau cari Om-Om juga?" tanya Billian yang baru keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian suka Om-Om sih." gerutu Billian lagi tanpa menunggu jawaban dari Belin.


"Om-Om lebih perhatian." jawab Belin bikin. semuanya tertawa geli.


__ADS_2