Because I Love You

Because I Love You
Perpisahan


__ADS_3

"Selin aku bertemu Mas Dodi, dia tinggal di Korea ternyata." lapor Tori pada Kakaknya.


"Oh ya, sehat dia?" tanya Selin ingin tahu.


"Sehat, bahagia dan tambah ganteng." jawab Tori bikin Richie menoyor kepala istrinya. Daniel tertawa melihatnya.


"Alhamdulillah kalau begitu aku ikut senang." jawab Selin tertawa.


"Kamu masih ada rasa?" tanya Tori.


"Idih, cerita lama woi, sudah move on lah." jawab Selin terbahak.


"Aku dong yang belum move on." Tori ikut terbahak.


"Suami gue lebih ganteng kan, please deh Toy." kata Selin terkekeh.


"Don't call me Toy." teriak Tori bikin Selin terbahak, Richie ikut nyengir lebar baru tahu kalau istrinya bakal protes dipanggil Kakaknya begitu, sementara dipanggil Roti atau Woti oleh Richie biasa saja.


"Makan malam perpisahan nih." kata Balen pada Ulan dan Redi, biarkan Tori asik bicara dengan kakaknya. Mereka sudah mampir kebeberapa tempat di Itaewon seperti yang Balen mau. Bahkan sudah habiskan sore di taman sungai Han yang terkenal di Korea.


"Pisah sementara, nanti in syaa Allah bertemu lagi." jawab Redi tersenyum.


"Aamiin, Ledi Dei kalau Ulan lulus kuliah kembali Ke Indonesia, ndak?" tanya Balen.


"Sepertinya belum ya Baen, kan baru buka jalur di Jepang, kalau lancar sayang sekali ditinggal pergi." jawab Redi sambil menatap Ulan.


"Tidak apa kan dek?" tanya Redi pada Ulan.


"Iya, ndak apa." jawab Ulan ikut saja bagaimana baiknya.


"Mungkin seperti Dodi tadi sampai pensiun di Jepang. Kita harus cari rumah kalau nanti punya anak, Tidak mungkin tinggal di apartment." kata Redi pada Ulan.


"Lihat nanti saja Bang, kalau beli rumah Ulan mau yang ada kolam air hangatnya." Redi pandangi Ulan yang sedang berhayal, sambil tersenyum ingat semangat istrinya tadi saat berenang.


"Gampang itu." jawab Lucky ikut nimbrung.


"Baen maunya kita kumpul semua di Jakarta." kata Balen pada Redi dan Ulan juga Lucky dan Kia, Richie tidak mungkin karena bisa jadi sampai pensiun di Malang urus perusahaan Opon.


"Masih dua tahun lagi sayang." Daniel terkekeh.


"Iya sih, tapi dua tahun tuh ndak berasa Aban, apalagi nanti sudah ada baby." jawab Balen, Daniel anggukan kepalanya.


"Kapan sih melahirkan?" tanya Kia.


"Enam bulan lagi." jawab Balen, perutnya juga belum begitu besar, malah cenderung tidak terlihat hamil karena Balen kurus tinggi menjulang layaknya seorang peragawati.


"Sebentar lagi, kita ke Ohio kan Ay kalau Ante melahirkan?" tanya Kia pada Lucky.

__ADS_1


"Boleh kalau tidak sibuk urusan kantor dan kuliah kamu. Kamu sudah yakin pilih kuliah di Jakarta?" tanya Lucky.


"Kalau Papa sudah minta bujuk Kia, itu sih sebenarnya dia tidak rela kita ke Ohio, Kia ikuti ridho orang tua juga kan biar berkah." jawab Kia bikin Lucky tersenyum bangga, tidak susah payah membujuk istrinya, malah Lucky belum lakukan apapun, tapi Kia sudah bisa ambil kesimpulan keinginan Mama dan Papanya.


"Tambah sayang sama kamu jadinya." kata Lucky memeluk Kia.


"Biasa saja, please." Redi terkekeh.


"Jangan iri, kamu bisa peluk istrimu Redi." Lucky monyongkan bibirnya pada Redi.


"Minta dicium." dengus Redi bikin semuanya terbahak.


"Geli dicium sama elu sih." jawab Lucky bergidik ngeri, semua kembali tertawa.


Esok harinya semua menuju Bandara bersama mengantar Redi lebih dulu baru menuju jet pribadi yang akan mengantarkan mereka ke Jeju. Sedikit drama karena diselingi acara tangis menangis saat Balen memeluk Ulan, Daniel gelengkan kepalanya, mungkin efek hamil jadi istrinya gampang melow.


"Kok jadi cengeng?" bisik Daniel pada Balen.


"Iya Aban, Baen sedih aja." jawab Balen sedikit terisak.


"Nanti kita bisa ke Jepang kan kunjungi Redi dan Ulan." Daniel mengusap bahu istrinya.


"Janji ya?" tangisnya sedikit mereda seperti anak kecil yang dijanjikan permen.


"Iya dong, yang penting kamu fisiknya kuat." kata Daniel terus mengusap bahu istrinya.


"Ledi, Ulan telepon Baen tiap hari ya." selalu pesan begitu sama siapapun anggota keluarganya jika mau berpisah.


Gue jadi ikutan sedih nih." kata Redi ulurkan tangannya siap memeluk Balen.


"Boleh ndak Aban?" Balen minta ijin suaminya.


"Boleh." Daniel relakan istrinya dipeluk Redi. Keduanya berpelukan, bagaimanapun sering perang mulut tetap saja saling sayang.


"Ulan sini." Balen tarik Ulan hingga mereka berpelukan bertiga. Kia mengusap air matanya ikutan menangis tapi tidak sebanyak Balen.


"Idih nangis juga." Lucky terkekeh.


"Huhu Kia ikut sedih, ay. Kan sempat berhayal temani Ante di Ohio kalau Kia jadi kuliah disana." jawab Kia air matanya tambah deras, Lucky langsung memeluk istrinya, bagaimana ini hanya Tori yang tampak santai tidak menangis. Bagi Tori yang penting ada Ichie disampingnya sudah huraaaiiii.


"Sudah ya, pesawatnya sudah menunggu." Tori ingatkan semuanya.


"Kalau sudah sampai kabarin." pesan Balen pada Redi dan Ulan.


"Iya Baen." Ulan anggukan kepalanya.


Setelahnya rombongan Balen langsung bersiap menuju Jeju, seperti yang Balen mau. Hotel juga ikuti maunya Tori dan Kia, Itinerary sudah diperiksa Richie supaya tidak kacau seperti yang Tori buat kemarin. Rencananya di Jeju mereka akan lebih banyak di hotel dan pantai sekitaran hotel, karena fokus bulan madu bukan traveling.

__ADS_1


"Harus jadi anak ya." canda Lucky saat mereka tiba di hotel.


"Harus itu target." jawab Richie konyol.


"Seru nih anaknya seumuran." Lucky mulai berhayal.


"Memang kita mau langsung punya anak?" tanya Kia pada Lucky.


"Loh kamu baru tanya sekarang, dari kemarin-kemarin aku tidak pernah pakai pengaman loh." Lucky langsung pandangi Kia khawatir. Jika Kia belum mau punya anak harusnya Lucky pakai pengaman dari awal, atau ajak Kia ke dokter kandungan untuk pasang KB.


"Sudah keburu pembuahan Kia, kalau nanti hamil di syukuri saja." Kata Richie pada Kia.


"Iya Om." jawab Kia pasrah.


"Seperti Baen lagi hamil tetap ke kampus, aku juga nanti begitu." Tori ikut berhayal.


"Semoga ya pulang dari sini kalian positif." kata Balen tersenyum.


"Musafir doanya di kabulkan ini." celutuk Daniel terkekeh.


"Aamiin." Lucky dan Richie langsung saja cepat bilang Aamiin.


"Ya sudah selamat bikin anak." kata Daniel lambaikan tangannya masuki kamar mereka.


"Selamat nambah anak." sahut Lucky terkekeh.


"Ketemu makan malam atau bagaimana?" tanya Daniel pada Richie dan Lucky.


"Nanti berkabar." jawab Lucky belum bisa berikan kepastian.


"Memangnya kalau anak belum keluar bisa tambah anak lagi Aban?" tanya Balen pada suaminya saat mereka sudah dikamar.


"Sepertinya tidak." jawab Daniel kurang yakin.


"Menurut Baen juga ndak sih, kenapa tadi bilang selamat tambah anak sih?" Balen berkerut keningnya.


"Hahaha itu kan doa dari mereka." Daniel terbahak.


"Keluar juga belum sudah disuruh tambah." Balen gelengkan kepalanya, matanya masih bengkak karena saat dipesawat nangisnya bersambung.


"Abang mau kok tambah anak." Daniel menyeringai.


"Nanti di California control ya Aban, Baen mau cek siapa tahu anak kita kembar." kata Balen nyengir.


"Memang ada keturunan kembar?" tanya Daniel.


"Ndak ada ya?" Balen berpikir keras.

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan, yang penting kita buat dulu until anak berikutnya." kata Daniel mulai mencumbu istrinya.


"Aban ih, ikutan mereka aja." Balen terkikik geli tapi mulai balasi perlakuan Daniel.


__ADS_2