Because I Love You

Because I Love You
Anak Kecil


__ADS_3

"Pap kemarin itu seru ya?" kata Cadi pada Papanya yang fokus menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan ke apotik dekat rumah.


"Kemarin yang mana?" tanya Daniel karena banyak keseruan yang anak-anaknya bikin.


"Itu loh yang di Balena Hotel." sahut Charlie.


"Oh seru kenapa? kalian banyak teman disana ya?" tanya Daniel terkekeh.


"Aku suka saat kita semua dansa bersama Pap." celutuk Chandra.


"Ya aku juga suka itu, semua dansa keren sekali." Cadi ikut-ikutan. Daniel tertawa, acara pagi setelah sarapan yang tadinya senam bersama berubah menjadi dansa latin bersama. Ide siapa lagi kalau bukan idenya Redi dan Balen.


"Kalian suka yang mana? poco-poco?" tanya Daniel karena ada poco-poco bersama juga.


"Aku suka Chilli Cha Cha Cha." jawab Charlie.


"Aku suka anak sekolah." timpal Chandra.


"Aku juga suka anak sekolah satu sma, Pap." Cadi ikutan juga. Lalu mulai nyanyikan lagu lawas itu sambil bergoyang.


"Jangan disini Cadi." omel Chandra yang merasa terganggu.


"Iiih Chandra." Cadi mendengus.


"Pap aku nanti jadi anak SMA juga ya?" tanya Cadi pada Papanya.


"Iya nanti kalau sudah SD, SMP baru SMA." jawab Daniel.


"Masih lama ya Pap?" tanyanya lagi.


"Masih Cadi, kamu sekolah dasar saja belum." jawab Charlie menoleh ke belakang karena ia yang duduk didepan bersama Papanya.


"Cayi kamu juga masih lama." Cadi julurkan lidahnya, Chanda cengengesan saja melihat kedua adiknya saling julurkan lidah.


"Memangnya sudah tidak sabar mau sma?" tanya Daniel.


"Sabar." jawab Cadi bikin Daniel tertawa.


"Pap kita mau apa ke apotik?" tanya Cadi lagi.


"Beli testpack untuk Mam." Charlie wakili Daniel.


"Itu untuk apa?" tanya Cadi. Charlie mengedikkan bahunya, ia juga tidak tahu untuk apa.


"Untuk tahu apakah didalam perut Mam ada adiknya." jawab Daniel.


"Pap sudah suntik Mam ya?" tanya Cadi polos, Daniel terbahak dibuatnya.


"Sok tahu kamu, memangnya kalau mau punya adik, Pap suntik Mam." Charlie tertawakan Cadi.


"Kamu sih tidak dengar waktu Papa Lemon bilang Panta." kata Cadi gelengkan kepalanya.


"Pap kapan adiknya lahir?" tanya Chandra.


"Harus ditest dulu sayang, kalau sudah ada adiknya diperut kamu tunggu saja." jawab Daniel.


"Aku tidak sabar cium perut Mam saat ada adik." Chandra tersenyum.


"Aku juga." Charlie ikut tersenyum.


"Yah kasihan kamu Cadi belum pernah cium perut Mam saat adik di dalam perut." Charlie terkekeh.


"Berarti kalian cium aku ya waktu diperut Mam." Cadi malah tertawa senang.


"Cium perut Mam bukan cium kamu." jawab Charlie.


"Secara tidak langsung kan cium aku ya Pap."


"Iya." jawab Daniel.

__ADS_1


"Tuh kan Cayi tidak mau mengaku sih kalau sayang sama aku." Cadi langsung bangga diri.


"Idih." Charlie mengedikkan bahunya.


"Chandra kamu juga cium aku kan diperut Mam hahaha kamu sayang aku tuh." kata Cadi lagi sambil tertawa puas.


"Memang aku sayang sama kalian." jawab Chandra santai.


"Ih Chandra, kamu baik sekali." Cadi langsung senang dan ingin memeluk Chandra.


"Cadi, jangan begitu." Chandra langsung mendorong tubuh adiknya.


"Pap masa Chandra tidak mau aku peluk." langsung mengadu pada Daniel yang tertawa dibuatnya.


"Boys ada yang mau ikut turun atau mau tunggu dimobil?" tanya Daniel setelah parkirkan kendaraannya.


"Aku dimobil saja, Pap." jawab Chandra.


"Aku juga di mobil."


"Aku ikut Pap." Cadi langsung membuka pintu mobil, ingin ikut masuk kedalam apotik.


"Kalian tidak mau pilih es krim?" Daniel tunjuk minimarket disebelah apotik.


"Pap saja yang belikan ya, repot tidak?" tanya Chandra.


"Tentu tidak, kamu juga Papa yang pilihkan Cayi?" tanya Daniel.


"Iya Pap." jawab Charlie.


"Pap aku belikan minuman herbal ya." pinta Cadi sambil menggandeng tangan Daniel.


"Apa, jahe?" tanya Daniel.


"Temulawak." jawabnya yang sekarang ketagihan minum temu lawak.


"Besok minta bibi di rumah Mamon saja yang bikinkan ya, yang langsung diolah, jangan yang kemasan." kata Daniel pada bungsunya.


"Besok pagi saja Bibi yang belanja." jawab Daniel. Ia segera sampaikan pada petugas apotik apa yang dibutuhkannya. Tidak lama kemudian transaksi mereka pun selesai, Daniel dan Cadi segera menuju minimarket disebelah apotik, belikan ice cream yang diinginkan Chandra Dan Charlie.


"Pap, Cayi belikan yang kacang hijau saja." kata Cadi pada Papanya.


"Nanti tidak dimakan." jawab Daniel.


"Padahal kata Papon kacang hijau itu bagus untuk kesehatan."


"Kamu mau yang kacang hijau?" tanya Daniel.


"Aku tidak suka Pap." jawabnya bikin Daniel terbahak.


"Kamu saja tidak suka, tapi mau belikan Cayi." Daniel terkekeh.


"Ya kan aku biar Cayi sehat Pap."


"Memangnya Cayi tidak sehat?"


"Sehat sih." Cadi terkikik geli.


"Pap nanti adiknya perempuan apa laki-laki ya?" tanya Cadi pada Daniel yang sedang bertransaksi di kasir.


"Semoga perempuan ya." kata Daniel tersenyum pada Cadi.


"Nanti adik sayang aku kan Pap?" tanya Cadi.


"Sayang dong, Cadi juga sayang adik kan?" Daniel balik bertanya.


"Sayang kalau dia sayang aku, tapi kalau cuma sayang Chandra dan Cayi seperti Maureen aku tidak mau sayang." Cadi menghela nafas.


"Maureen sayang Cadi kok." jawab Daniel, ia kembali menggandeng Cadi setelah transaksinya selesai.

__ADS_1


"Maureen bilang tidak sayang."


"Masa?" Daniel terkekeh.


"Semua harus saling sayang." kata Daniel bukakan pintu untuk Cadi yang bawakan ice cream sambil tersenyum manis pada Chandra.


"Chandra ini untuk kamu." katanya berikan ice cream pada Chandra.


"Thanks." jawab Chandra menerima pemberian Cadi.


"Cayi tadi ada ice cream kacang hijau loh." katanya serahkan plastik berisi es krim pada Charlie.


"Kamu beli?" tanya Charlie.


"Kata Papa nanti kamu tidak mau makan." jawab Cadi.


"Iya kamu kan tidak suka, Nak." jawab Daniel.


"Aku mau coba sih kalau ada." jawab Charlie.


"Mau beli? mumpung masih disini?" tanya Daniel.


"Nanti saja Pap, ini masih banyak." tunjuk Charlie, Daniel anggukan kepalanya dan mulai lajukan kendaraannya.


"Testpack sudah Pap?" tanya Chandra.


"Sudah sayang." jawab Daniel tersenyum. Dalam perjalanan pulang Cadi tidak banyak mengoceh karena sibuk nikmati ice cream.


"Jangan tumpah-tumpah ya." Daniel mengingatkan.


"Iya Pap, makanya aku tidak ngobrol." jawab Cadi, Daniel tertawa dibuatnya. Rupanya suasana hening karena Cadi takut es nya tumpah kalau sambil ngobrol.


"Kita sudah sampai." kata Daniel parkirkan kendaraannya, semua bersiap turun sambil memegang tentengan masing-masing.


"Ada Ayah Leyi, Pap." kata Chandra saat melihat mobil Larry terparkir disebelah mobil mereka.


"Iya sudah janjian tadi." jawab Daniel.


"Assalamualaikum..." teriak Cadi masuki rumah yang lain mengikuti dibelakangnya.


"Waalaikumusalaam..." Larry tersenyum menyambut Daniel dan anak-anak.


"Ayah sendiri?" tanya Cadi.


"Sama Nami dan Abang Billian." jawab Larry ulurkan tangannya ingin memeluk Cadi.


"Ayah aku mau punya adik loh." katanya masuk kedalam pelukan Larry.


"Sudah ada adiknya?" tanya Larry mendekap erat Cadi.


"Baru mau di test, Maaaaam." berteriak memanggil Mamanya.


"Jangan teriak Cadi." tegur Chandra yang ikut masuk kedalam pelukan Larry.


"Aku mau dipeluk juga Ayah, gantian dong Cadi." kata Charlie.


"Cayi seperti anak kecil." dengus Cadi lalu persilahkan Charlie dipeluk Larry sementara ia kembali berteriak memanggil Mamanya.


"Kenapa? Mama lagi temani Nami di belakang." tanya Balen yang terpaksa hampiri anaknya.


"Itu testpacknya ayo aku penasaran apa sudah ada adiknya." katanya minta Balen segera gunakan testpack.


"Besok pagi baru mama test." jawab Balen tersenyum lebar.


"Tidak bisa sekarang?" tanya Cadi, Daniel tertawa melihatnya.


"Lebih akurat pagi hari boy." kata Daniel mengacak anak rambut Cadi.


"Pap gendong." katanya kemudian langsung melompat kearah Daniel, hingga sekarang sudah digendong Papanya.

__ADS_1


"Cadi kata anak kecil." gantian sekarang Charlie yang ledeki Cadi.


__ADS_2