Because I Love You

Because I Love You
Panggil Om


__ADS_3

"Sayang, mau sarapan apa?" tanya Lucky pada Kia yang baru saja selesai lari pagi keliling taman. Hari pertama menjadi suami istri, belum unboxing karena Lucky berjanji tidak akan menyentuh Kia sampai Kia jatuh cinta sama Lucky.


"Om, kita kan harus sarapan di rumah Opa." Kia ingatkan Lucky.


"Tidak usah kalau kamu capek." jawab Lucky yang sebenarnya dia sendiri malas, sedikit kesal juga karena dapat jebakan batman dari Mama dan Papanya, walaupun jebakan itu menguntungkan Lucky. Tetap saja Lucky sebal, karena semalam Papa dan Mama berhasil membuat Lucky menangis didepan penghulu dan orang banyak.


"Jangan cari masalah Om, Kia pusing kalau ada ribut-ribut." Kia ingatkan Lucky, kadang Kia terlihat lebih dewasa dari usianya meskipun rada slengean.


"Kalau begitu kita siap-siap, nanti keburu macet." kata Lucky cepat bergerak.


"Dan keburu lapar." jawab Kia sambil tertawa, Lucky ikut tertawa dibuatnya, ia tidak tahu apa yang ada dipikiran Kia, tapi Kia terlihat begitu santai sejak semalam, seperti tidak ada beban.


"Sayang, are you happy now?" tanya Lucky pada istrinya.


"Always happy every day, Om." jawab Kia nyengir.


"Setelah menjadi Nyonya Lucky bagaimana, lebih happy dari biasanya atau biasa saja?" tanya Lucky.


"Masih gamang sih." jawab Kia jujur, "Tapi tidak menyedihkan juga, Kia terlihat bahagia kan?" tanya Kia.


"Pura-pura bahagia?" tanya Lucky nyengir.


"Om tuh yang pura-pura bahagia." dengus Kia.


"Enak saja." Lucky langsung memiting leher istrinya sambil tertawa.


"Aah Om." Kia menjerit seperti biasa mereka berdua selalu rusuh bikin orang yang melihat ikutan senyum-senyum.


"Om?" pitingan Lucky malah bertambah-tambah.


"Hahaha..." Kia terbahak, ia masih bingung harus panggil Lucky apa, rasanya sejak bisa bicara sudah panggil Lucky Om.


"Panggil sayang dong." bisik Lucky, pitingan menjadi rangkulan, hingga mereka terlihat mesra, Kia malah tambah terbahak mendengarnya.


"Langsung berangkat saja yuk, mandi di rumah Papa saja." kata Lucky pada Kia.


"Bau?" Kia mencium badannya Kiri kanan.


"Harum kok." jawab Lucky mencium pipi Kia.


"Om modus nih." Kia langsung mencubit perut Lucky.


"Biarin, sama istri sendiri ini." jawab Lucky cengar-cengir, tidak pernah bayangkan bisa menikah dengan Kia secepat ini.


Mereka sudah tiba di lobby dimana supir Lucky ternyata sudah standby menunggu kedatangan bosnya.


"Om manja nih, disupirin terus." dengus Kia saat melihat mobil Lucky sudah terparkir di Lobby.

__ADS_1


"Memang, kalau sama kamu maunya pakai supir saja." jawab Lucky tertawa jahil, langsung bukan pintu untuk Kia.


"Kenapa?" tanya Kia setelah mereka duduk dibangku belakang.


"Biar bisa begini." jawab Lucky langsung baringkan kepalanya di paha Kia.


"Perasaan Kia yang larinya banyak deh, malah Om yang tiduran." Kia memencet hidung Lucky sampai tidak bisa bernafas kemudian terbahak lihat Lucky gelagapan dan lupa bernafas lewat mulut. Pak Supir ikut tertawa lihat kelakuan mereka berdua.


"Ketawa lagi." protes Lucky pada supirnya, malah tambah terbahak Pak Supir dibuatnya.


"Sayang, aku bobo sebentar ya." ijin Lucky pada Kia, sekarang sebut dirinya aku tidak Om lagi.


"Masih mengantuk?" tanya Kia.


"Mulai mengantuk." jawab Lucky.


"Loh semalam Om tidak tidur?" tanya Kia.


"Mana bisa tidur setelah kejadian semalam, kamu enak betul ya bobo pulas tanpa beban." sungut Lucky.


"Loh, sudah kejadian mau diapakan Om, yang penting kan Om sudah janji tidak jadikan Kia janda." jawabnya bikin Lucky menoyor pelan dahi Kia.


"Mana mungkin dijadikan janda Non." celutuk Pak Supir.


"Eh ikut-ikutan lagi." omel Lucky bikin Kia dan Pak Supir tertawa.


"Tapi nanti aku ditinggal nih Pak, empat tahun huhu." Lucky pura-pura mewek, tapi jujur Lucky agak berat hati LDR dengan Kia.


"Betul kan kamu di Ohio empat tahun. Kita LDR an." Lucky balas mencubit pipi Kia gemas.


"Sebentar lagi loh Om, Kia berangkat. Tiga minggu lagi, tidak berasa." Kia mengusap pipinya yang habis dicubit Lucky.


"Empat tahun jauh dari kamu rasanya bagaimana ya?" gumam Lucky bayangkan seminggu saja tanpa Kia hatinya tak karuan.


"Kan bisa video call Om." jawab Kia santai.


"Kamu maunya aku sering berkunjung atau bagaimana?" tanya Lucky, tidak jadi tidur.


"Yang tidak bikin Om repot saja." jawab Kia, belum merasakan rindu kalau jauh dari Lucky sepertinya.


"Kamu bisa ya jauh dari aku?" tanya Lucky.


"Ih Kia kan sekolah." masih sok cool, efek belum cinta pikir Lucky.


"Tapi nanti kalau kamu rindu bagaimana?" tanya Lucky.


"Video call." jawab Kia.

__ADS_1


"Kalau signalnya jelek bagaimana?" tanya Lucky.


"Hari gini signal jelek?" Kia tertawa.


"Ya mungkin saja efek cuaca." Lucky mencari alasan.


"Tunggu cuaca bagus kalau begitu." jawab Kia.


"Sok cool deh, ternyata nanti kamu yang nangis-nangis karena kangen aku." Lucky menghayal.


"Bisa jadi." celutuk Pak Supir konyol, Kia jadi tertawa dibuatnya.


"Pak, lu ngerusak suasana saja sih." Omel Lucky bikin Kia tambah terbahak.


"Pokoknya kalau kamu kangen aku langsung pulang saja ke Indonesia ya." pesan Lucky pada Kia.


"Kuliah Kia bagaimana?" tanya Kia.


"Tinggal saja." jawab Lucky bikin Kia mencubit kedua pipi suaminya gemas.


"Mulai gemas ya sama aku, sebentar lagi cium deh." Lucky kembali berhayal.


"Jangan ngoceh lu Pak." belum Pak Supir nyelutuk, Lucky segera ingatkan supirnya.


"Siap boss, saya nyimak saja." jawabnya terkekeh.


Tidak terasa mereka tiba dikediaman orang tua Lucky, Mobil-mobil masih dipanaskan ada yang sedang di cuci oleh supir masing-masing, menandakan belum ada yang keluar rumah.


"Morning..." sapa Lucky ramah pada setiap orang yang ditemuinya, terlihat sangat bahagia, sedang tangan kirinya menggandeng Kia, keduanya kenakan pakaian olah raga komplit dengan topi dikepala.


"Mas Lucky selamat ya atas pernikahannya, maaf kita tidak hadir." sapa salah satu pegawai dirumah Papa Micko.


"Nanti kita bikin pesta khusus buat kalian." janji Lucky bikin mereka bersorak senang.


"Wiih pengantin baru janji apa nih sampai pada girang?" sambut Winner di depan pintu.


"Aturin pesta buat mereka dong, kasihan mereka kemarin tidak datang." jawab Lucky kasih perintah pada Abangnya.


"Lah elu yang janji, gue yang disuruh atur." dengus Winner gelengkan kepalanya.


"Elu kan salah satu penggagas biar gue cepat menikah, ya lu bantu lah. Gue mau senang-senang dulu sama Kia, tiga minggu lagi gue ditinggal loh empat tahun." katanya sambil acungkan empat jarinya.


"Beneran Kia kamu mau tinggalin suamimu yang playboy ini?" Winner mulai kompor.


"Saran aku sih mending kamu bawa deh ke Ohio, repot aku jaganya nanti."


"Memang harus dijaga Om?" tanya Kia pada Winner.

__ADS_1


"Jangan panggil Om kali, panggil Abang saja, kan sudah jadi adik ipar." Winner tersenyum.


"Lah gue yang suaminya dia panggil Om juga." jawab Lucky bikin Winner terbahak mendengarnya. Micko dan Lulu jadi ikut tertawa walau belum disapa oleh pengantin baru.


__ADS_2