Because I Love You

Because I Love You
Konyol


__ADS_3

"Roti, kita sepertinya harus pulang lebih cepat." bisik Richie pada Tori setelah aktifitas panas mereka.


"Kapan?"


"Malam ini bagaimana?" Richie minta pendapat istrinya.


"Kita belum ke Bukhara, Chie. Urgent kah?" Tori sedikit keberatan.


"Kata Bang Lucky S.O.S." Richie terkekeh.


"Nanti kita kesini lagi tanpa gangguan." janji Richie memeluk istrinya yang berekspresi datar karena harus pulang lebih awal.


"Kenapa ganggu kita sih?"


"Bang Lucky butuh bantuan Wot."


"Bantuan apa? kamu bisa bujuk Kia via handphone, Chie. Kenapa harus ganggu kita." memikirkan perjalanan panjang selama dipesawat tentu saja Tori malas pulang cepat.


"Kamu tidak mau pulang?" tanya Richie.


"Belum mau bukan tidak mau." jawab Tori.


"Tidak huraaaiiii." dengus Richie mencubit hidung Tori yang mancung.


"Om Lucky yang tidak huraaaiiii." Tori balas mendengus.


"Woti, nanti kita kesini lagi." bujuk Richie lembut.


"Tidak mau." Tori menolak, egoisnya muncul karena kesenangannya terganggu.


"Kasihan Bang Lucky."


"Kamu lebih kasihan Om Lucky daripada aku?" judesnya Tori keluar.


"Om Lucky mau dibantu apa? aku bisa suruh orang, jangan ganggu kita dong." Richie menghela nafas jadi serba salah, masa iya lagi honeymoon main kesal-kesalan sama istrinya.


"Coba kamu telepon Kia." pinta Richie pada Tori.


"Bilang apa?" tanya Tori.


"Ajak ngobrol saja, biasanya dia curhat kalau lagi galau." Tori naikkan alisnya dengar ucapan Richie. Agak kesal lagi honeymoon malah harus pikirkan orang lain, meskipun itu keluarga sendiri, tapi begitulah Richie. Tori pun segera mengambil handphonenya ikuti kemauan Richie.


"Mestinya kita tidak perlu repot begini." gerutu Tori sambil menunggu Kia angkat teleponnya.


"Yang kita bantu bukan orang lain Roti." Richie eratkan pelukannya pada Tori.


"Berat Ichie." Tori berusaha lepaskan pelukan suaminya, mereka belum berpakaian lengkap saat ini, hanya bertutupkan selimut tapi malah pikirkan Lucky dan Kia.


"Ichie?" Richie mencium gemas pipi Tori yang sibuk menghubungi Kia, tapi belum juga diangkat.


"Yes Ichie, so what?"


"Mana darlingnya?" tanya Richie menggoda Tori.


"Bodo..." sungut Tori sabar menghubungi Kia berkali-kali.

__ADS_1


"Apa sih Kak Tori?" akhirnya suara judes Kia terdengar, Tori menarik nafas lega.


"Kamu dan Om Lucky, bisa tidak ya tidak ganggu honeymoon kami?" tanya Tori tidak kalah judes.


"Aku kan tidak ganggu Kak Tori." jawab Kia.


"Angkat telepon Lucky, Kia! Kami terganggu karena kamu menghindari Om Lucky" teriak Tori galak pada Kia.


"Huaa, kok Kak Tori lebih galak dari Mamaku."


"Awas saja kalau kamu bikin aku pulang lebih cepat ya!" ancam Tori lagi.


"Aah Kak Tori jangan marah-marah dong." rengek Kia.


"Kamu tahu tidak kalau aku dan Ichie baru saja sampai beberapa jam di sini tapi sudah dua orang yang minta kami untuk pulang?" sepertinya Tori keluarkan kekesalannya pada Kia.


"I'm sorry kakak, itu semua karena aku ya?" tanya Kia merasa bersalah.


"Menurut kamu karena siapa??? makanya kalau Om Lucky telephone diangkat dong. Jangan bikin repot suamiku." jiah dasar Tori makin keluarkan isi hatinya.


"Huhu Kak Tori tidak tahu masalah Kia sih."


"Aku tidak mau tahu." dengus Tori, sementara tetap nikmati perlakuan suaminya yang mendusel-dusel diketiaknya.


"Kakak pulang cepat dong, aku mau curhat." Nah ini orang ketiga yang minta pengantin baru pulang cepat.


"Curhat saja sekarang." Richie buka suara.


"Om Ichie, pulaaang." Kia merengek.


"Ichie, geli." desah Tori bikin Richie terbahak.


"Huaaa, aku mau curhat, kalian malah bermesraan." kali ini Kia yang merengek.


"Kakak..., Om Ichie..." teriak Kia lagi karena keduanya malah sibuk sendiri.


"Iya mau curhat apa?" tanya Richie akhirnya.


"Om lagi apa sih?" tanya Kia.


"Pelukan sambil cium-cium." jawab Richie tanpa beban.


"Hei, aku dibawah umur." sungut Kia bikin Richie tertawa.


"Kenapa tidak mau angkat telephone Bang Lucky, Kia?" tanya Richie kemudian.


"Kia bingung, kenapa jadi Kia harus menikah sama Om Lucky dalam waktu dekat."


"Kamu tidak mau sama Om Lucky Kia? dia suami idaman." kata Tori pada Kia.


"Idaman apa?"


"Ck, jangan pura-pura deh. Siapa yang tidak mau punya suami seperti Lucky." kata Tori pada Kia.


"Kak Tori mau?" tanya Kia.

__ADS_1


"Aku kan sudah punya Ichie." jawab Tori.


"Kalau waktu itu tidak ada Om Ichie mau sama Om Lucky?" tanya Kia.


"Tidak, Om Lucky tidak bisa olahraga." jawab Tori tertawa, menurutnya suami idaman itu seperti Richie meskipun bukan atlet tapi pintar berenang dan basket.


"Tapi Om Lucky pintar main piano loh." Kia banggakan Lucky.


"Makanya lebih cocok sama kamu, kalian suka musik, pasangan ideal." jawab Tori pejamkan mata ketika Richie ******* bibirnya tiba-tiba.


"Kia, angkat telepon Bang Lucky ya, jangan menghindar. Masalahmu tidak akan selesai kalau menghindar." kata Richie kemudian.


"Om pulaaang." rengek Kia lagi.


"Ichie, lagi." bisik Tori yang sudah mulai sayu, Richie tidak berhenti memancingnya dari tadi.


"Tapi angkat teleponnya ya, Om pantau kamu Kia." kata Richie lagi, tangannya kembali bergerilya ke tubuh istrinya.


"Kia..." Tori tidak jadi lanjutkan perkataannya karena Richie kembali ******* bibirnya, mengambil handphone disamping Tori lalu matikan sambungan teleponnya pada Kia, tanpa ijin lagi pada keponakannya. Richie sudah tidak bisa menahan ular cobra yang kembali minta masuk kedalam sangkarnya.


"Ish dimatikan lagi." gerutu Kia, karena sambungan teleponnya tiba-tiba terputus, berbarengan dengan masuknya videocall dari Lucky. Ingat pesan Richie, Kia pun angkat telepon dari Lucky.


"Om Lucky seperti anak kecil deh." omel Kia langsung tapi bukan wajah Lucky yang muncul.


"Kamu yang seperti anak kecil." malah wajah Raymond papanya yang terlihat dilayar handphone.


"Papa kenapa pakai telephone Om Lucky." tanya Kia pada Papanya.


"Lucky lagi dikantor Papa, handphone Papa ketinggalan, minta Mama siapkan, Papa suruh orang untuk ambil." tegas Raymond pada Kia.


"Ish, kenapa Papa tidak telepon Mama langsung?" gerutu Kia.


"Tidak aktif, kamu dimana sayang?" tanya Raymond pada Kia.


"Kia dirumah Papon, mau bertemu Ante Baen." jawab Kia, tidak selesaikan masalah Raymond yang enggan suruh asisten rumah tangga yang siapkan semuanya.


"Kalau begitu sekarang kamu pulang." perintah Raymond pada Kia.


"Papa, Kia baru saja sampai." Kia merengek.


"Ya sudah kamu tunggu disana, Lucky yang jemput kamu dan antar kamu pulang, langsung siapkan handphone Papa dan ikut Lucky ke kantor Papa." tegas Raymond dengan ekspresi yang tidak bisa di tolak, benar saja belum Kia menjawabnya Raymond menutup sambungan teleponnya pada Kia.


"Itu diangkat." kata Raymond pada Lucky.


"Biasanya tidak, Bang." jawab Lucky yang rupanya mengadu pada Raymond.


"Sana jemput Kia." Raymond kembalikan handphone pada Lucky.


"Terus ke rumah Abang?" tanya Lucky.


"Langsung kesini saja, handphone gue ada dilaci." jawab Raymond tertawa jahil.


"Nanti aku bilang apa sama Kia?"


"Bilang gue sudah beli handphone baru." jawab Raymond konyol, Lucky tertawa calon mertuanya memang sudah kony dari dulu.

__ADS_1


__ADS_2