Because I Love You

Because I Love You
Market


__ADS_3

"Kalian dimana?" tanya Balen menelepon Bima.


"Dihatimu." jawabnya bikin Balen mendengus.


"Bima!"


"Mau gabung ya? kangen kan?" bukannya langsung jawab malah menggoda Ante Baen.


"Ya sudah ndak jadi nyusul." pura-pura merajuk.


"Nanti menyesal loh lihat foto-foto seru kita." malah terus menggoda.


"Ya sudah makanya dimana?" tidak sabaran. Bima tertawa dibuatnya.


"Ayo, mereka di kuil Shinto, nanti kita bertemu di nishiki market saja." kata Redi yang sudah berkirim pesan dengan Lucky


"Bima, bye." Balen langsung matikan teleponnya. Tidak lama handphone Baen kembali berdering.


"Ante, main matikan saja." protes Bima.


"Kamu lelet, ditanya malah mutar sana sini."


"Iya maaf, ini masih di kuil Shinto." jawab Bima terkekeh.


"Ya sudah be..."


"Eh Ante, sini menyusul."


"Nanti ante pikir-pikir dulu." gantian bikin kesal Bima.


"Ck...!" berdecak kesal. Balen tertawa puas dan matikan sambungan teleponnya.


Ante, awas ya kalau tidak menyusul!!!!!!Balen kembali tertawa membaca pesan dari Bima.


Nanti ketemu di Market.


supaya Bima tidak rusuh Balen pun akhirnya balas pesan Bima.


"Ayo!" ajak Ulan tidak sabar.


"Kita naik train saja ya." kata Ulan lagi.


"Naik taxi saja." jawab Daniel.


"Naik train saja." Redi naikkan alisnya, Daniel menyeringai lihat adiknya ingin berlama-lama dengan Ulan.


"Oke lah." jawab Daniel senyum simpul.


"Restaurantnya tadi disini." tunjuk Ulan saat lewati restaurant yang tadi ia datangi bersama Redi.


"Nanti kalau aku ke Kyoto lagi, ajak makan ditempat lain ya." kata Redi pada Ulan.


"Emang iya mau kesini lagi?" tanya Balen.


"Iya lah, mau ajak Ulan ke Tokyo juga gue." jawab Redi bikin Daniel dan Balen senyum-senyum.


"Jauh ya Ulan, Marketnya?" tanya Balen karena belum sampai juga.


"Sabar dong." jawab Redi tertawa. Redi malah mau sampai lebih lama supaya bisa konsen mengenal Ulan.


"Sebentar lagi Baen, cuma satu stasiun kok." jawab Ulan pada Balen.


"Baen cuma tanya aja." jawab Balen terkekeh.

__ADS_1


"Tidak sabaran." gerutu Redi.


"Redi maunya lama-lama berdua Ulan, sayang." bisik Daniel.


"Oh ndak bilang sih, kan Baen ndak ngerti." jawab Balen terkekeh.


"Baen ada yang mau dibeli ndak?" tanya Ulan pada Balen.


"Ndak sih, teman Baen mah ndak suka souvenir, sukanya oleh-oleh masakan Indonesia sama minyak angin." jawab Balen tertawa.


"Baen bawakan apa mereka?" tanya Ulan.


"Rendang ayam suwir." jawab Balen.


"Wah enak tuh."


"Ulan kan ada dikulkas, tadi Baen bawain." jawab Balen.


"Oh kok Ulan ndak tahu."


"Baen taro aja sih dikulkas, ndak bilangin Ulan." Balen terkekeh.


"Aban..." panggili suaminya yang diam saja.


"Yaa..."


"Baen panggil aja kok." jawabnya bikin Daniel tertawa.


"Kalau tidak lihat wajah Kuda Nil sebentar saja pasti begitu." Redi tertawa.


"Iya dong, Baen kan kangen." jawabnya bikin Daniel senang saja.


"Gombalin Abang gue lu." Redi tertawa.


"Abang juga kangen terus." jawab Daniel sambil menjulurkan lidahnya pada Redi.


"Rese!" Redi terkekeh.


"Ayo sebentar lagi turun." Ulan segera berdiri menuju pintu train, dimana penumpang lain pun lakukan hal yang sama.


"Dompet awas dompet." Balen ingatkan semuanya.


"Duh seperti di stasiun Tenabang." Daniel tertawa pegangi bahu Balen.


"Tetap harus waspada Bang." jawab Ulan tersenyum.


"Ya benar juga." Daniel pun segera pindahkan tas selempangnya ke depan.


"Tidak biasa seperti ini ya Bang." Ulan tertawakan Daniel dan Redi.


"Hmm..." Daniel sedikit berpikir. Memang ia tidak biasa naik transportasi umum sepertinya, berusaha mengingat kapan terakhir naik transportasi umum saat bepergian. Sepertinya waktu sekolah umum sebelum dimasukkan ke Asrama oleh Papa James.


"Sepertinya kita duluan yang sampai ya." kata Redi pada Ulan.


"Ya, jarak kita lebih dekat, tapi kan mereka naik mobil tidak harus jalan kaki."


"Jadi mereka duluan yang sampai?" tanya Redi.


"Kita deh, karena tadi mereka belum selesai juga." jawab Ulan.


Berjalan kaki selama sepuluh menit dari stasiun menuju Nishiki Market, tidak terasa karena banyak turis yang juga menuju kesana. Terlebih lagi Redi yang asik mengajak Ulan bicara sementara Daniel menarik Balen agar berjalan jauh dibelakang keduanya. Kalau ada Balen pasti istrinya ikut ngobrol dan Ulan akan lebih banyak diam saksikan Redi dan Balen adu mulut.


"Aban, Ledi Dei natsi Ulan ndak menurut Aban?" tanya Balen pada Daniel.

__ADS_1


"Sepertinya masih berusaha mengenal, yang pasti tertarik untuk kenal lebih dekat." jawab Daniel.


"Kenapa sayang?" tanya Daniel.


"Sepertinya mereka cocok." jawab Balen.


"Ya, Ulan tenang, Redi jumpalitan." jawab Daniel bikin Balen tertawa.


"Seperti kita ya Ban?" tanya Balen.


"Kamu yang jumpalitan ya?" Daniel tertawa.


"Aban juga kan?" tidak mau dibilang hanya Balen yang jumpalitan.


"Berarti tidak sama dong dengan mereka, kita berdua jumpalitan."


"Tapi Aban ndak terlalu sih." jawab Balen tertawa.


"Mungkin karena sudah tua?"


"Ih Aban Baen belum tua dong. Masih banyak yang natsi kan." Balen langsung merangkul suaminya.


"Tapi ndak boleh, kalau ada yang ganggu langsung Baen kaya macan." katanya bergaya macan yang akan mencakar. Dani terbahak dibuatnya.


"Kamu tuh gemesin betul sih."


"Aban ndak malu punya istri Baen?"


"Kenapa malu, bangga malah. Istriku berprestasi." jawab Daniel mengecup punggung tangan Balen.


"Tapinya ndak bisa diam, seperti anak kecil, Baen tuh sebenarnya mau kalem aja kaya Ulan biar Aban ndak malu sama teman Aban."


"Teman Abang malah suka lihat gaya kamu loh, apa adanya tidak jaga image, meskipun kadang kekanak-kanakan."


"Tuh kan Baen kekanak-kanakan. Itu yang bikin Baen sempat takut nikah sama Aban loh."


"Tapi kok akhirnya berani?" Daniel terkekeh.


"Dipaksa berani sama semuanya." jawab Balen.


"Jadi menikah sama Abang terpaksa?" tanya Daniel.


"Ndak dong, malah menyesal, kenapa ndak Dari lulus sekolah aja." jawabnya terbahak.


"Ih, bikin Abang nyesal saja, kenapa tidak dari kamu lulus paksa kamu menikah sama Abang." Daniel mengacak anak rambut Balen.


Balen yang katanya tidak mau belanja, mampir kesetiap tempat, ada saja yang dibelinya, baru saja melangkah sedikit sudah berhenti lagi.


"Ya ampun Aban, ini Baen perlu ndak sih." gemas lihat pernak-pernik yang lucu-lucu.


"Beli saja." kata Daniel tertawa, lalu Balen pun membelinya, bukan karena murah tapi karena lucu dan menarik perhatiannya.


"Aban, ini enak deh." katanya saat melewati penjual aneka macam seafood.


"Baen mau sate udang Aban." katanya lagi. Daniel pun pesankan untuk Balen


"Apa lagi sayang?" tanya Daniel.


"Cumi dong Aban." pintanya sambil mencari keberadaan Redi dan Ulan yang menghilang entah kemana.


"Aban Ulan ama Ledi dei kita beliin ndak?" tanya pada Daniel.


"Mereka juga sedang beli didepan." Dani tunjukkan status Redi, tampak candid foto Ulan yang sedang membeli aneka seafood sama seperti Balen. Duh Redi sudah pasang status saja, kode-kode buat Nanta sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2