Because I Love You

Because I Love You
Ciprat


__ADS_3

"Terima kasih, Aca." Richie langsung saja tertawa senang sambil merangkul Aca keluar dari kantor management artis menuju parkiran.


"Bodo amat Om." sungutnya kesal tidak kesal terpaksa menerima tawaran jadi bintang video clip karena Richie bilang itu sebagai hadiah pernikahannya dengan Tori nanti.


"Kamu nih ternyata membanggakan juga ya." goda Richie lagi tertawa puas.


"Dih!" hanya meringis dengan mulut masih sedikit monyong.


"Ciee, sebentar lagi dapat honor loh." kembali Richie menggoda.


"Jangan minta!" masih dengan nada ketus.


"Tidak, nanti Om tambahin deh kalau sudah terima gaji." janji Richie terkikik geli.


"Beneran loh ya." melirik Richie masih tanpa senyum.


"Ambil ke Malang tapi ya, tidak pakai transfer." Richie terbahak.


"Awas saja kalau bohong." putar otak bagaimana caranya ke Malang tanpa keluarkan biaya.


"Jangan bilang-bilang yang lain." desisnya begitu mendekati Mobil.


"Aku tidak mau jadi bahan bullian." sambungnya lagi.


"Hahaha..." Richie tertawa senang, Aca terpaksa menerima tawaran dan langsung tanda tangan kontrak secepat kilat atas saran Richie kepada mas Ipang supaya Aca tidak berubah pikiran.


"Kenapa muka lu asyeeem???" tanya Bima pada adiknya saat keduanya masuki Mobil, perbedaan ekspresi yang sangat bertolak belakang.


"Digrepe-***** dia." jawab Richie terbahak.


"Wah beneran ada artis yang histeris lihat elu, Ca?" tanya Billian nyengir.


"Tau ah." malas menjawab.


"Baru tahu kalau Aca ganteng disini gue." kata Richie tertawa.


"Gue keturunannya Kenan kali, ya pasti ganteng lah." sahutnya dengan wajah judes, tapi Richie tertawa melihatnya. Walaupun marah tapi Aca tidak menolak permintaan Richie.


"Iklas kan Ca?" Richie menoel pipi Aca.


"Iklas lahir bathin Om." jawabnya dengan senyum dipaksakan.


"Tos dulu dong." Richie arahkan telapak tangannya pada Aca dan bocah tampan itu pun ikuti kemauan Omnya tanpa ekspresi.


"Kenapa sih Om?" tanya Bari penasaran.


"Berkat Aca dapat endorse gue." jawab Richie senang.


"Buset, kok bisa?" Bari penasaran.


"Apa sih yang gue tidak bisa?" jawab Aca menghela nafas.


"Risa nanti ikut sumbang dua lagu free loh di acara gue." kata Richie senang sebut nama Risa penyanyi yang sedang hits saat ini.


"Beneran lu, Ca. Bisa gaet Risa?" Billian langsung pasang wajah kagum.


"Risa kali yang gaet gue." jawabnya tanpa nada sombong.


"Hebat adek gue, kok bisa sih?" Bima ikutan bangga.


"Jadi..."


"Om!!!" pasang wajah sangar pandangi Richie.

__ADS_1


"Ya begitu deh." kata Richie akhirnya tidak jadi cerita.


"Aah, tidak seru kalau begini." Shaka kesal karena cerita menggantung.


"Jadi, lu semua besok bantu persiapan Om Ichie, sementara Om Ichie gue temani urus Risa." kata Aca akhirnya.


"Begitu Om? gue ikut lah urus Risa." Billian tawarkan diri.


"Undangan cuma buat dua orang." jawab Richie terkekeh.


"Ah curang!" Bari komplen.


"Siapa suruh tidak ikut turun." kata Aca pada semuanya.


"Besok gue temani Ante Baen deh." kata Bima.


"Selesaikan tugas dulu Bim!" Richie menepuk bahu Bima yang sedang menyetir.


"Eh ada yang cemburu." Bima terkekeh.


"Ish Baen ada Bang Daniel, Ulan sama Redi. Tidak butuh kalian, gue lebih butuh."


"Iya Om siap." jawab mereka kompak.


"Besok beres semua om, tenang." jawab Shaka kemudian. Setelah antarkan Billian, Shaka dan Bari selanjutnya kembali kerumah Papon dimana semua sudah menunggu ketiganya.


"Helooow..." sambut Balen pada Richie, Bima dan Aca yang baru akan masuki rumah, Balen berjoget sambil naikan telunjuk tangan kiri kanannya bergantian.


"Helooow..." Bima membalas dengan ikuti gerakan Balen, semua yang ada tertawa melihat keduanya.


"I miss you, Ante." Aca hampiri Balen dan langsung mencium pipi Antenya yang masih joget-joget, lalu hampiri Nanta sambil monyongkan bibir karena tadi Nanta setujui Richie yang bergaya sebagai manager Aca.


"Miss you too, Aca my artist." jawab Balen masih joget-joget.


"Tuh kan Panta aku jadi tambah di bully." sungutnya pada Nanta yang tertawa sambil mengacak anak rambut bungsunya.


"Ck... iya sih." masih setengah hati, Dania dan Nanta tertawa melihatnya.


"Ante, Om Daniel mana?" tanya Bima pada Balen setelah mereka capek joget-joget tidak jelas.


"Berenang." jawab Balen tunjuk kolam rumah Papon.


"Aku juga mau ah, ayo Om." Bima langsung saja semangat hampiri Daniel, sebelumnya salami semua yang ada terburu-buru.


"Biii... handuk antar ke kolam." teriaknya ke arah dapur dan langsung ambil posisi dipinggir kolam .


"Pemanasan dulu Bim." Daniel yang baru saja selesaikan satu putaran ingatkan Bima.


"Tungguin ya Om." pintanya pada Daniel.


"Iya." jawab Daniel yang sedang nikmati hangat alami air kolam renang. Satu hal yang paling Daniel rindukan saat di Indonesia berenang sore hari dengan sinar matahari yang tidak terik.


"Om lomba ya, menang atau kalah hadiahnya buat aku." dasar Bima langsung saja ambil cara yang menguntungkan dirinya.


"Hahaha..." Daniel terbahak sambil menyipratkan air kewajah Bima, bocah pun ikut terbahak dibuatnya.


"Katanya ada teman Ante, Om?" tanya Bima pada Daniel setelah tawa mereka reda.


"Ada di kamar tamu." jawab Daniel.


"Yang cantik itu ya Om?"


"Paling cantik Ante Baen kan?" Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Ih takut ya bilang perempuan lain cantik."


"Sok tahu kamu." Daniel tertawa.


"Ayolah lomba." ajak Daniel kemudian.


"Hadiahnya?" tanya Bima konyol, tetap saja mau menang atau kalah dia dapat hadiah.


"Apa hadiahnya?" tanya Daniel mau tahu Bima minta apa.


"Belikan aku sepatu sport yang model baru Om, belum masuk Indonesia, di Amerika baru kemarin keluar." bisiknya pada Daniel padahal hanya mereka berdua yang ada dikolam berenang.


"Ok, one two three, start ..." Daniel langsung saja berhitung dan berenang tinggalkan Bima, padahal Bima belum ambil posisi.


"Ish Om! curang!" tetap tidak terima walaupun hadiahnya nanti buat Bima juga, ia segera menyusul Daniel yang sudah sampai diujung lebih dulu. Tentu saja Daniel tertawa senang melihat Bima baru setengah jalan.


"Ada kepuasan tersendiri kalau menang walaupun hadiahnya tetap buat kamu." jawab Daniel tertawa.


"Tapi itu curang namanya." sungut Bima kesal, Daniel terbahak senang bisa kerjai Bima.


"Om, serius dong. Aku juga pengen menang kali." pintanya pada Daniel.


"Bukannya kamu cuma mau hadiah?" tanya Daniel tertawa.


"Ya kalau menangnya serius kan bangga, apalagi bisa kalahkan Om Daniel." jawab Bima.


"Kalahkan Ayah Leyi dululah, kalau bisa kalahkan Ayah Leyi baru bisa kalahkan Om." kata Daniel tersenyum.


"Aku pernah menang lomba sama Ayah, ayo Om." Bima langsung semangat karena bulan lalu ia berhasil kalahkan Larry lomba berenang.


"Masa?" Daniel pura-pura tidak percaya padahal ia ikut menonton lewat story Belin.


"Beneran Om, memang Om tidak nonton?" tanya Bima.


"Lupa." jawab Daniel tertawa.


"Om ayo, tuh ada Ante jadi juri." Bima langsung semangat saat Balen bergabung duduk di kursi sambil membawa cemilan dan handuk untuk Daniel dan Bima.


"Sayang jadi juri ya." kata Daniel pada Balen.


"Lomba ya, gaya apa?" tanya Balen.


"Gaya meliuk-liuk." jawab Bima.


"Ih kaya ikan paus dong." Balen langsung teringat ikan paus yang meliuk-liuk.


"Aban ndak usah kaya ikan paus ah, biar Bima aja." kata Balen pada suaminya.


"Siapa yang mau jadi istri ikan paus sih." mulai ngomel.


"Tuh Bima, kamu sih cari gara-gara." Daniel kembali cipratkan air kewajah Bima.


"Hahaha Ante Om Daniel dari tadi sudah seperti ikan paus tahu." malah tambah-tambahin biar Balen terus ngomel.


"Ayo lomba bertiga." Nanta ikut bergabung, tambah ramai saja kolam menyusul Richie dan Aca yang ikutan ceburkan diri.


"Berlima ya yang lomba?" tanya Bima.


"Iya." jawab yang lain kompak.


"Om, sepatu!" langsung berbisik pada Daniel khawatir sepatu tidak jadi dibelikan.


"Beres." jawab Daniel tertawa.

__ADS_1


"Oke, one, two..."


"Belum!!!" yang lain langsung cipratkan air kewajah Bima yang main langsung berhitung saja.


__ADS_2