Because I Love You

Because I Love You
Empat pasang


__ADS_3

"Ante...!" teriak Kia saat masuki rumah Papon dan hanya dapati asisten rumah tangga saja yang ada disana. Mamon sedang tidak ada dirumah, begitu yang Mamanya beritahukan tadi sebelum berangkat.


"Di kamar, mau dipanggilkan, Non?" tanya asisten rumah tangga pada Kia.


"Tidak usah, Kia saja yang panggil." jawabnya tersenyum lalu hampiri kamar Balen.


"Om Daniel..." panggil Kia saat lihat Daniel keluar dari kamar disusul Balen dibelakangnya.


"Mana Lucky?" tanya Daniel yang sudah mendapat telepon dari Lucky untuk menahan Kia.


"Entah..." jawab Kia mengedikkan bahunya.


"Kok entah sih?" Balen tersenyum jahil.


"Ante..." Balen yang langsung dipeluk Kia segera lindungi perutnya.


"Aduh, untung anak Aban ndak kenapa-napa nih." Balen pandangi suaminya nyengir.


"Lebay deh Ante, anaknya tidak kena juga." Kia memberengut, Balen dan Daniel tertawa dibuatnya.


"Kia kapan nikah? setelah Ante Ulan ya?" tanya Balen menggiring Kia ke ruang keluarga.


"Heran deh sama keluarga ini, menikah kok kaya arisan mingguan, Kia mau sekolah dulu Ante sama cari cowok ganteng." jawabnya konyol.


"Lucky kurang ganteng apa coba?" Daniel tersenyum, suka betul Kia lihat suami Antenya ini, kharismanya luar biasa.


"Om Daniel tuh ganteng banget kalau lagi senyum loh." kata Kia nyengir pandangi Daniel, abaikan perkataan Daniel yang bilang Lucky ganteng. Di puji begitu oleh anak Baen tidak membuat Daniel GR, sudah tahu kalau memang dia ganteng sih.


"Oh iya dong Aban Daniel Baen." jawab Balen memeluk Daniel yang tertawa melihat kelakuan istrinya.


"Ante waktu kecil bagaimana rasanya dibucinin Om Daniel?" tanya Kia pada Balen.


"Seperti kamu dibucinin sama Aban Lucky deh, apa yang kamu rasa itu yang Ante rasa." jawab Balen.


"Bedalah, Ante mana pernah menghindar dari Om Daniel, kalau aku sering. Sebenarnya sampai sekarang saja Kia malas bertemu Om Lucky." Kia menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kenapa, ndak rindu memangnya? Baen sih rindu terus sama Aban." Balen sandarkan kepalanya dibahu Daniel, dibalas Daniel dengan mengecup dahi istrinya.


"Rindu sih, tapi kesal kenapa juga karena Kia harus menikah sama Om Lucky sebelum ke Ohio." dengus Kia kesal.


"Maunya menikah kapan?" tanya Lucky yang tiba-tiba ambil posisi duduk disebelah Kia.


"Iih Om." Kia langsung memukul bahu Lucky dengan kening berkerut luapkan emosinya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Lucky nyengir senang saja bisa bertemu Kia yang tidak mau mengangkat teleponnya.


"Kia mau selesai kuliah baru menikah." katanya pada Lucky.


"Loh, Om juga maunya begitu, yang maksa kita menikah cepat kan Papa kita, Papa kamu apalagi judes betul waktu Om bilang tunangan dulu." Lucky bersungut.


"Om sih peluk Kia dilapangan." Kia salahkan Lucky.


"Om cuma mau pastikan perasaan kita sama waktu itu." Lucky membela diri, Balen dan Daniel saling nyengir.


"Kia sayang, dengar Om deh, kita menikah setelah itu kamu selesaikan kuliah kamu baru jalankan hidup berumah tangga dengan normal." kata Lucky pada Kia.


"Maksud Om bagaimana?"


"Om tidak akan ganggu kamu selama di Ohio kalau itu yang kamu mau." jawab Lucky, bilang saja dulu begitu, pelaksanaannya nanti bisa diatur yang penting Kia mau menikah dulu sebelum berangkat.


"Mana mungkin begitu." Kia sudah tahu gayanya Lucky.


"Bisa dong, kalau kamu tidak mau bertemu Om tidak akan kesana, kecuali Om memang ada urusan pekerjaan disana, ya kamu jangan menghindari suami kamu juga." jawab Lucky bikin Kia nyengir mendengar kata suami.


"Betul ya, Om tidak ganggu Kia."


"Memang Om Lucky pernah ganggu Kia?" pancing Balen.


"Tidak pernah sih, malah bikin Kia senang terus." jawab Kia polos, Lucky tersenyum selebar mungkin mendengarnya.


"Kia risih saja bayangkan Om Lucky harus jadi suami Kia. Lagipula Tante Hilma bilang apa nanti kalau ternyata akhirnya kita menikah." Kia menghela nafas.


"Ya ampun jadi kamu terpikirkan Hilma?" tanya Lucky, Kia anggukan kepalanya.


"Waktu bertemu di Ohio saja dia masih kesal lihat Kia." jawab Kia bayangkan pandangan Hilma padanya, Lucky pun membenarkan, Hilma masih salahkan Kia saat itu.


"Ndak usah pikirkan Kak Hilma, Kia. Jodoh siapa yang tahu sih. Kalau Kak Hilma sama Aban Lucky putus itu karena mereka memang tidak berjodoh. Kalau Kia sama Aban Lucky jadi menikah ya berarti kalian memang berjodoh." jawab Balen santai, Daniel anggukan kepalanya.


"Tuh dengar Baen bilang apa." Lucky merasa diatas angin.


"Tapi Kia jadi tidak bisa akrab sama Kak Noah dong."


"Kamu naksir Noah?" tanya Lucky khawatir.


"Ya Kia sempat bayangkan itu." jawab Kia tidak pikirkan perasaan Lucky.


"Waduh-waduh." Lucky gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kali ini Om maafkan." jawab Lucky kemudian.


"Kalau sudah jadi istri Om, jangan pernah bayangkan Noah atau siapapun jadi jodoh kamu." ketus Lucky bikin Daniel terkekeh, terlihat sekali kalau Lucky cemburu.


"Gue titip bro." katanya pada Daniel yang semakin tertawa geli, sementara Kia santai saja tanpa beban.


"Ayo kita kekantor Papa." ajak Lucky pada Kia.


"Om saja, Kia sudah minta bibi dirumah cari handphone Papa." jawab Kia malas diadili Papanya nanti, Kia juga sedang menghindar bertemu Papanya berlama-lama. Supaya Papa tidak mengoceh mengenai pernikahannya dengan Lucky.


"Kia, sudah packing untuk ke Malang belum?" tanya Balen pada Kia.


"Sudah dong." jawabnya semangat.


"Seragam kita belum jadi loh." Balen beritahukan Kia.


"Kita sudah belum?" tanya Lucky pada Daniel.


"Sepertinya sudah, Kak Rumi yang urus semuanya." jawab Daniel, Lucky juga diberikan seragam oleh Redi yang berasa soulmate dengan teman barunya ini.


"Lucu ya, Om Redi ternyata menikah sama Ante Ulan." Kia terkikik geli.


"Nah itu kan kita ndak tahu namanya jodoh." jawab Balen tersenyum sambil naikkan alisnya menggoda Kia.


"Setelah menikah kalian honeymoon dulu kan?" pancing Balen.


"Ish Ante apaan sih." Kia bergidik ngeri.


"Kia, kita ke Jepang atau Bukhara ganggu Ichie?" tanya Lucky pada Kia sambil tertawa.


"Eh kita ikut mereka dong Aban." Balen langsung tidak mau ketinggalan.


"Mereka tuh siapa?" tanya Daniel tertawa, istrinya mau ikut saja.


"Kita empat pasang honeymoon, seru deh pasti." jawab Balen langsung membayangkan bisa berangkat bersama.


"Bukhara yuk Ante." Kia terbawa euforia, lupa kalau dia tadi bergidik ngeri, Lucky jadi tertawa geli dibuatnya.


"Korea yuk Kia." jiah Balen pancing semangat Kia.


"Mau, mau..." langsung berjingkrak senang calon istri Lucky.


"Ini honeymoon loh." Daniel ingatkan Kia.

__ADS_1


"Iiih, Om Daniel apaan sih. Aku bobo sama Ante ya di Korea." pintanya pada Balen, Lucky ngengir saja, terserah Kia mau minta tidur sama Balen atau Ulan yang penting mereka sudah sah jadi suami istri, itu saja yang ada dalam pikiran Lucky.


"Mana ada honeymoon tidur sama orang lain, sama pasangannya lah." jawab Daniel terkekeh. Kia menghela nafas sambil menggaruk kepalanya, pandangi Lucky yang masih saja cengengesan.


__ADS_2