Because I Love You

Because I Love You
Hayalan


__ADS_3

"Kamu mau kemana Cadi?" tanya Kenan lihat cucunya sudah bersiap menunggu jemputan di depan pintu rumah, padahal Daniel baru saja kabarkan kalau mereka baru keluar dari hotel.


"Ikut Mam ke dokter kandungan." jawabnya tanpa melihat pada Papon, ia tetap perhatikan setiap mobil yang lewat.


"Tunggu Mama selesai periksa saja baru kamu dijemput, disana kamu juga tidak boleh masuk, menunggu diluar sendiri malah bikin Mama dan Papa tidak konsen sayang." kata Nona pada Cadi.


"Tapi aku mau lihat adik diperut Mam, Mamon." Cadi penuh harap. Nona tersenyum sambil memandang Kenan minta agar suaminya membujuk Cadi.


"Cadi sini sayang." panggil Kenan menepuk paha nya, Cadi langsung berlari dan duduk dipangkuan Papon.


"Senang ya mau punya adik?" tanya Kenan, Cadi anggukan kepalanya.


"Papon juga senang mau punya cucu lagi." Kenan tersenyum sambil memeluk Cadi erat, selalu bahagia bisa memeluk salah satu cucunya.


"Nanti yang jaga Papon aku sama adik." jawab Cadi pada Kenan.


"Wah sudah dapat tugas adiknya." Nona terbahak mendengarnya.


"Iya, adik harus sayang Mamon dan Papon juga." jawab Cadi menepuk-nepuk pipi Kenan.


"Karena adik belum lahir, Cadi temani Papon dulu disini, Mam and Pap biarkan ke dokter dulu, mau kan?" rayu Kenan pada Cadi yang tampak sedikit berpikir.


"Papon kesepian?" tanya Cadi, Kenan anggukan kepalanya, pasang wajah sedih.


"Mamon tidak bikin ramai ya?" bisiknya pada Kenan, Kenan terbahak sambil memandang istrinya.


"Ayo bisik-bisik apa itu?" tanya Nona curiga.


"Kalau ada aku ramai ya, Mamon?" tanya Cadi abaikan pertanyaan Mamon.


"Iya makanya Papon minta ditemani biar tidak kesepian." jawab Nona.


"Mamon sih, anaknya sedikit. Harusnya seperti Mam tuh tambah lagi anaknya." kata Cadi bikin Kenan dan Nona terbahak. Malah disalahkan oleh cucunya.


"Papon call Mam please, tell her I'm here with you." kata Cadi memutuskan. Kenan turuti maunya Cadi sambil tersenyum dan naikkan alisnya pada Nona, ia segera hubungan Balen sampaikan Cadi menunggu di rumah saja bersama Papon dan Mamon.


"Thank you baby." kata Kenan mengecup pipi Cadi, sementara sang bocah memutar bola matanya malas sekali dipanggil baby, mau komplen khawatir Papon sedih.


"Kenapa baby?" Nona menggoda Cadi malah panggil baby, ia tahu cucunya pernah komplen. Cadi menghembuskan nafasnya kasar.


"Badanku besar kan?" tanyanya pada Nona sambil berdiri berkacak pinggang lalu miringkan badan sedikit kiri dan kanan.


"Ya, kamu bongsor. Tinggi kamu diatas rata-rata anak seusia kamu." jawab Nona tersenyum sambil menahan tawa.


"Oke." jawabnya sok tua.


"Kenapa sayang?" tanya Kenan.


"Nah aku lebih suka Papon dan Mamon call me sayang." katanya tanpa menyatakan keberatan dipanggil baby.


"Jadi panggilnya sayang saja ya, itu lebih membahagiakan, Papon dan Mamon pasti suka lihat aku bahagia kan?" Nona dan Kenan terbahak, cucunya sangat menjaga perasaan mereka berdua.


"Oke sayangnya Papon." jawab Kenan.


"Sayangnya Mamon juga kok." jawab Cadi sambil tersenyum pada Nona.

__ADS_1


"Lebih sayang mana, Mamon apa Papon?" tanya Nona.


"Mamon tidak boleh tanya begitu, tidak fair." katanya membuat Kenan tertawa, Nona monyongkan bibirnya pura-pura merajuk.


"Semuanya harus disayang sama rata, tidak pilih-pilih." jawab Cadi sok tua.


"Duh sudah pantas dipanggil Abang nih." Nona mengacak anak rambut cucunya.


"Panggil Cadi saja tidak usah Abang-abang." jawabnya.


"Mana boleh begitu, tidak sopan nanti adiknya." kata Nona.


"Aku tidak panggil Chandra dan Cayi Abang."


"Harusnya panggil Abang." jawab Kenan.


"Semua di Amerika hanya panggil nama kok, tetap sopan."


"Ini Indonesia sayang." Nona tetap mau mempertahankan tradisi.


"Lihat nanti ya Mamon, adiknya mau panggil apa."


"Diajari dari awal." Nona bersikeras.


"Duh Mamon aku sakit kepala." Cadi membuat Kenan terbahak, Cadi menghindar mendebat Omanya.


"Mamon bawel sih." kata Kenan, Nona delikkan matanya pada suami tersayang.


"Aku tidak bilang bawel kok, hanya sakit kepala." Cadi pasang wajah lucu menatap Nona, "Papon jangan bilang bawel nanti Mamon sedih." bisiknya, Kenan langsung cekikikan.


"Coba ya cucu sama Paponnya bisik-bisik, pasti bicarakan Mamon." dengus Nona kesal.


"Pfff..." Kenan jadi geli sendiri.


"Oh hahaha oke sayang." Nona langsung terbahak dibuatnya. "Pap kamu boleh juga ya ajari anaknya jadi manis begini." kata Nona lagi.


"He is the best Mamon." Cadi memuji Papanya.


"Mama tidak the best?" tanya Nona.


"The best juga, Mamon tidak boleh banding-bandingkan." sekali lagi Cadi ajarkan Nona.


"Iya nih Mamon suka sekali banding-bandingkan." Kenan provokasi sambil terkekeh.


"Mas Kenan ih." kesal Nona lalu tinggalkan keduanya menuju ke kamar.


"Eh Mamon merajuk." bisik Kenan sambil tertawa jahil.


"Papon sih, kan aku sudah bilang jangan dibikin sedih." Cadi jadi kasihan sama Mamon.


"Sana temani Mamon dikamar." Kenan menepuk punggung Cadi pelan.


"Ayo Papon." ajak Cadi.


"Papon di ruang kerja dulu ada yang harus Papon periksa." jawab Kenan.

__ADS_1


"Oke." Cadi langsung beranjak menyusul si Oma yang sedikit merajuk.


Sekitar dua jam kemudian Balen dan Daniel baru tiba di rumah Kenan, suasana rumah tampak sepi, Nona dan Cadi bercengkrama dikamar, sementara Kenan diruang kerjanya. Balen langsung temui Papanya diruang kerja, sementara Daniel duduk diruang keluarga menunggu istri dan anaknya.


"Papon, Baen hamiln tiga minggu." lapor Balen pada Papon.


"Alhamdulillah, kondisi kamu dan calon bayi bagaimana, Nak?" tanya Kenan pada Balen.


"Alhamdulillah Papon, semoga ndak ada keluhan. Opon sudah suruh Baen istirahat aja, ndak boleh kerja. Baru sedikit pintarnya Baen dihotel." Balen mengadu pada Kenan.


"Kalau nanti ternyata menyulitkan kamu memang harus istirahat sayang, biar abangmu dan anak-anak yang urus hotel, ada Daniel juga bisa bantu kamu." jawab Kenan.


"Iya."


"Mana Daniel?" tanya Kenan.


"Diluar, ayo Papon." Balen ajak Kenan keluar.


"Ayo, kamu sudah laporan sama Mamon?" tanya Kenan.


"Belum, langsung keruangan Papon." jawab Balen.


"Duh, merajuk lagi nanti Mamon, sana susul Mamon dulu kasih laporan, Papon temani Daniel." kata Kenan bikin Balen cekikikan.


"Mamon kaya anak kecil aja sih."


"Eh jangan bilang begitu." omel Kenan, Balen malah terbahak.


"Mamon ditemani Cadi di kamar ya? Baen ke kamar dulu ya Papon Baen." katanya berjalan beriringan bersama Papanya keluar ruangan.


"Oke Baen Papon." jawab Kenan terkekeh


"Mamooon." teriak Balen masuki kamar.


"Salaam Baen, Salaam." Nona ingatkan Balen, ia bersama Cadi yang sedang mengerjakan tugas sekolah.


"Eh iya Assalamualaikum."


"Waalaikumusalaam, apa kata Dokter?" Nona langsung minta laporan Balen.


"Tiga minggu Mamon." Balen mengusap perutnya yang masih rata.


"Aman?" Nona memastikan.


"In syaa Allah aman adiknya Cadi." kata Balen duduk disebelah Cadi lalu mengusap punggung belakang anaknya yang sebentar lagi melepas predikat bungsunya.


"Adik tanyain aku tidak?" tanya Cadi bikin Nona dan Balen terbahak.


"Mana bisa tanya." jawab Nona.


"Loh kan pakai alat dokter, memang tidak bisa dari alat? film kartun yang aku tonton anak diperut bisa bicara kok."


"Itu cuma film sayang, Dunia hayal." Nona menjelaskan.


"Oh Begitu ya, tapi adiknya diperut ada kan? bukan hayalan?" Cadi memastikan.

__ADS_1


"In syaa Allah nyata sayang, doakan saja Mama dan Adik di perut sehat-sehat sampai adik keluar lihat Abang ya." kata Balen tersenyum manis.


"Yes Mam, aku berdoa terus supaya adiknya bisa main sama aku." jawabnya Balen dan Nona saling senyum sambil berpandangan.


__ADS_2