Because I Love You

Because I Love You
Perhatian


__ADS_3

Handphone Balen berdering saat Daniel sedang pesankan makanan untuk Balen. Redi sedang ke toilet, tapi sudah sebutkan menu makanan yang diinginkannya.


"Noah..." panggil Balen saat menjawab telepon dari Noah.


"I'm so sorry for yesterday." Noah langsung saja minta maaf untuk kejadian kemarin.


"Ih kenapa Noah yang minta maaf." Balen tertawa.


"Dia kan datangnya sama aku." jawab Noah.


"Dia kalau bertemu Baen pasti cari masalah kok, jadi bukan salah Noah." jawab Balen menghela nafas.


"Tapi tetap aku tidak enak hati, kapan ada waktu ajak temanmu juga, kita makan siang bersama." kata Noah pada Balen.


"Mau traktir ya karena menang." Balen langsung saja senang.


"Sekaligus minta maaf." jawab Noah.


"Ndak mau ah, bukan salah Noah itu. jangan merasa bersalah." kata Balen bijaksana.


"So wise." Noah terkekeh.


"Baru tahu ya." Balen langsung kembang kempis hidungnya.


"Besok bisa?" tanya Noah.


"Baen sama Achara lagi di California sampai akhir pekan." jawab Balen.


"Berarti setelah kalian kembali Ke Ohio ya, kabari aku." kata Noah.


"Oke." Balen tersenyum walau Noah tidak melihatnya.


"Bawa obat gatal tidak?" tanya Noah pada Balen.


"Bawa kok." Balen terkikik geli.


"Soalnya aku jauh, tidak ada yang bantu ke apotik disana." kata Noah lagi bikin Balen terharu.


"Tenang, semalam kita mampir apotik dulu kok, beli lagi takut kehabisan." jawab Balen bikin Noah lega.


"Okelah Balen, enjoy your trip."


"Thanks Noah." Balen tutup sambungan teleponnya.


"Kenapa Noah?" tanya Daniel sambil mainkan rambut istrinya.


"Undang makan siang mau minta maaf untuk kejadian kemarin." jawab Balen.


"Kapan?"


"Setelah pulang dari sini minta dikabari, boleh kan Aban? Achara dan Althea juga diajak." Balen minta ijin Daniel.


"Abang tidak diajak?" tanya Daniel.


"Aban memangnya bisa? Aban kan kerja." Balen mencibir.


"Bisa kalau diajak." Daniel menggoda istrinya.


"Aban mau kumpul sama kita? tumben." Balen pandangi suaminya.


"Habis Noah perhatian sekali sama kamu, tanyakan obat gatal segala." gantian Daniel yang mencibir.


"Aban, dia kan yang bantu kita ke apotik."


"Iya Abang bercanda." Daniel terkekeh, Balen langsung mencubit perut suaminya kesal.

__ADS_1


"Tapi benar Abang cemburu kalau dia terlalu perhatian sama kamu." bisik Daniel sambil mengusap perutnya.


"Ndak bosan ya cemburu sama Noah." Balen mendengus.


"Dia naksir Kia." kata Balen lagi.


"Mending kamu suruh cari cewek lain deh." kata Daniel.


"Kenapa?"


"Nanti kejadian dinikahi Lucky lagi si Kia." jawab Daniel nyengir.


"Beneran? kemarin itu Noah tanya begitu juga. Ada kemungkinan begitu ya?"


"Bisa jadi mengingat mereka begitu dekat." jawab Daniel.


"Baen suruh pacaran sama Besta ndak mau sih Daniel."


"Mana bisa disuruh sih, itu kan urusan hati." jawab Daniel.


"Tapi Aban suruh Noah cari cewe lain."


"Itu supaya Noah tidak patah hati lagi." jawab Daniel.


"Ih Aban so sweet deh." Balen mencolek dagus suaminya, Daniel tertawa dibuatnya, langsung saja mencium pipi istrinya gemas, tidak peduli dengan lingkungan sekitar.


"Ish kalian ini, nanti kan dikamar bisa." gerutu Redi yang baru saja tiba dari toilet.


"Iri ya?" Balen malah menggoda Redi.


"Kalau lihat kalian begini terus jangan salahkan nanti aku lampiaskan sama Ulan ya." kata Redi modus.


"Awas ya Ledi Dei, nikahi dulu baru cium-cium." ancam Balen pada Redi.


"Memang harus menikah dulu kalau mau cium?" tanya Redi mencibir.


"Apakah?" Redi langsung terkekeh.


"Ih iya tahu Ledi Dei, ndak percaya lagi."


"Percaya sama Baen sih." Redi terkikik geli.


"Makanan lama betul datangnya." Daniel alihkan pembicaraan, tidak mau pembahasan berlanjut.


"Iya nih Ledi, kok lama sih?" tanya Balen ikutan protes.


"Sabar dong, mentang-mentang tidak boleh cium-cium di depan gue." kata Redi nyengir.


"Ulan lagi apa ya?" Redi langsung pikirkan Ulan.


"Lagi bobo lah." jawab Balen tertawa.


"Iya juga ya, tapi dia kan suka begadang kerjakan tugas." kata Redi seperti yang tahu betul aktifitas Ulan.


"Memang Ledi Dei telepon Ulan tiap hari ndak?" tanya Balen Kepo


"Tergantung, kalau Ulan lagi Online ya aku telepon." jawab Redi.


"Sekarang lagi online, ndak?" tanya Balen.


"Belum lihat."


"Terakhir telepon Ulan kapan?" tanya Balen interogasi Redi.


"Tadi sebelum Ulan bobo." jawab Redi.

__ADS_1


"Oh, berarti benar dia lagi bobo." jawab Balen.


"Sudah bilang cinta belum?" tanya Balen lagi, Redi gelengkan kepalanya.


"Bilang sayang?" tanya Balen, Redi kembali gelengkan kepalanya.


"Jadi ngobrol apa kalau sama Ulan?" kepo betul Balen tanyakan sampai detail.


"Kegiatan sehari-hari saja." jawab Redi.


"Tapi pasti bilang kangen sudah deh." Balen nyengir menggoda Redi.


"Itu sih jangan ditanya." jawab Redi tertawa.


"Kangen terus ya sama Ulannya Baen." nyengir pandangi Redi.


"Sok tahu ah." Redi julurkan lidahnya.


"Tadi bilang, Ulan lagi apa ya? itu kan kangen pikirkan Ulan, cie Ledi Dei, so sweet deh." Balen nyengir lebar dengan mata berbinar-binar seakan dia yang sedang jatuh cinta.


"Biasa saja dong Baen, lebay deh." Redi terkekeh.


"Future wife itu beneran?" tanya Balen lagi.


"Ya eyalah." jawab Redi tengil.


"Memang sudah ketemu orang tuanya Ulan, main future wife aja." Balen mencibir sambil nyengir.


"Kalau tidak pikirkan kuliah Ulan sih, aku sudah minta Papa dan Mama ke Malang." jawab Redi mantap.


"Kenapa kuliahnya?" tanya Balen.


"Gue tuh bukan Daniel ya, anak kuliah main dinikahi saja. Gue tunggu Ulan selesaikan kuliahnya baru deh melamar." jawab Redi.


"Ledi dei, menikah itu ndak mesti tunggu jadi sarjana tahu. Kalau sudah mampu ya menikahlah, sempurnakan separuh ibadah." jawab Balen bergaya ustadzah. Daniel tertawa mengacak anak rambut istrinya.


"Masalahnya Baen, Ulan sama gue pisah negara. Kecuali gue bisa pindah ke Kyoto." jawab Redi.


"Besok dia meeting salah satu materinya itu sayang." Daniel jelaskan pada Balen.


"Serius Ledi Dei mau pindah kerjanya ke Kyoto?" tanya Balen semangat.


"Kalau lancar, doakan saja."


"Tapi kan Ledi belum bertemu Mama Ai sama Papa Bagus."


"Itu bisa diatur, urus pekerjaan dulu Baen, kalau lancar baru deh proses pendekatan keluarga. Kata Masanta yang ribet Eyangnya Ulan bukan Mama dan Papanya."


"Yang kasih restu kan orang tua bukan Eyang." jawab Balen.


"Kamu sudah bertemu Eyangnya Ulan?" tanya Redi.


"Aban Nanta saja ndak mau bertemu, apalagi Baen." Balen terkekeh.


"Kenapa begitu sayang?" tanya Daniel.


"Ndak tahu, Aban ndak pernah cerita sih. Tapi Baen pernah dengar Papon suruh Aban ke rumah Eyang, tapi Aban ndak mau, malah ngambek sama Papon." jawab Balen.


"Bang Nanta bisa ngambek juga." Daniel tertawa.


"Kalau urusannya Eyang deh Aban begitu." jawab Balen.


"Gue jadi ketar-ketir." Redi terkekeh.


"Kan yang penting itu Mama Ai sama Papa Bagus, Ledi Dei."

__ADS_1


"Iya sih." Redi menyugar rambutnya sambil menarik nafas panjang.


__ADS_2