
"Baiklah untuk mempersingkat waktu, saya persilahkan Ibu Balena Putri Kenan untuk naik ke atas podium. Sepertinya sudah tidak perlu diperkenalkan lagi, karena kita semua tahu jika beliau pemilik Balena Hotel tempat kita bekerja saat ini dan sudah menjadi rahasia umum kalau kepemimpinan ini akan kembali kepada pemiliknya langsung." Semua bertepuk tangan saat Balen naik ke atas panggung dengan anggun seperti saat berjalan diatas catwalk, langkahnya teratur dan senyumnya menyapu seisi ruangan.
"Silahkan Ibu Balena." Lucky persilahkan Balen untuk berbicara.
"Assalamualaikum, selamat siang semuanya, apa kabar?" Balen tidak melepas senyumnya.
"Waalaikumusalaam..."
"Siang Ibu..."
"Baiiiik."
"Alhamdulillah."
Bermacam gaya para staff hotel menjawab sapaan Balen.
"Sebelumnya mohon maaf kalau bahasa saya agak berantakan, bukan karena saya lebih fasih berbahasa Inggris, tapi memang dari kecil saya nih ngomongnya ndak karuan." semua tertawa padahal Balen tidak bermaksud melucu, tapi kalau mereka tertawa justru bagus toh, suasana jadi hidup.
"Juga terima kasih kepada Bapak Ibu sekalian, terutama Bapak Lucky dan Ibu Shakira atas kerja kerasnya Balena Hotel yang baru berumur empat tahun ini sudah menjadi Hotel Syariah terbaik di Indonesia." semuanya bertepuk tangan ikut merasakan senang atas keberhasilan Balena Hotel.
"Ini semua ndak akan bisa tercapai tanpa kerja keras Bapak dan Ibu sekalian. Rasanya kok saya masih butuh tangan dingin Bapak Lucky Suryadi ya, tapi mau bagaimana lagi Bapak Lucky sudah ditunggu Suryadi Corporate dimana memang seharusnya Bapak Lucky berada disana, Terima kasih loh ya Bapak mau direpotkan, jangan lupa saya masih butuh bimbingannya." Balen melirik Lucky sambil tertawa jahil, Lucky terkekeh sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bapak Ibu, walaupun Bapak Lucky ndak lagi bersama kita, tapi ilmu yang sudah didapat hendaknya terus kita terapkan, untungnya Ibu Shakira masih akan terus bersama kita. Nantinya saya juga akan dibantu duo cowok ganteng di sebelah saya ini, masih available loh ya, boleh dipandang ndak boleh di sentuh tapinya, silahkan perkenalkan diri." Balen serahkan mic pada Aca, semua tertawa sementara Aca dan Bari cengengesan.
Keduanya memperkenalkan diri secara singkat, hanya sebutkan nama, tidak bicara panjang lebar seperti Balen yang memang tidak bisa menutupi kebawelannya, tidak jaga image juga, tampil apa adanya. Bari kembalikan Mic pada Balen.
"Bapak Ibu, rasa rasa cukup sampai disini, semangat bekerja dan berkarya, kalau di jamannya Bapak Lucky kita bisa menjadi Hotel Syariah terbaik di Indonesia, harapan saya kedepannya kita juga bisa membawa Balena Hotel menjadi Hotel Syariah terbaik di Asia bahkan terbaik di Dunia, mari bekerja sama dengan baik, mari mencapai mimpi bersama-sama, terima kasih." kembali tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan, Lucky tersenyum simpul, yang katanya tidak percaya diri malah dengan gamblang ingin wujudkan mimpi menjadi yang terbaik di Asia bahkan Dunia, dasar Balen. Lucky yakin Balen akan wujudkan itu, karena dari kecil Balen selalu serius jika sudah menekuni sesuatu.
"Good job sayang." Daniel hampiri istrinya ketika semua sudah tinggalkan ruangan, kecuali Balen, Lucky, Kia, Aca dan Bari. Tadi Daniel ikut duduk dikursi paling belakang, ia ingin melihat secara langsung, bagaimana istrinya tampil, bagaimanapun ini pertama kalinya Balen bicara dihadapan ratusan karyawannya.
"Aban, Baen gugup ndak?" tanyakan pada Daniel.
"Tidak, kamu bawel." jawab Daniel bikin Balen mencubit perutnya. Daniel terbahak sambil meringis.
"Mau kembali Ke kamar teruskan yang tadi atau mau kerja? kalau kamu kerja Abang pulang, kasihan anak-anak." bisik Daniel bikin Balen senyum-senyum malu-malu, semalaman dibikin tidak tidur oleh Daniel.
"Kerja Aban, nanti dirumah kita lanjut lagi." bisik Balen bikin Daniel terkekeh, kalau dirumah sudah pasti kucing-kucingan sama Cadi.
__ADS_1
"Gue balik ya." Daniel pamit pada Lucky.
"Nanti saja Om." Aca menahan Daniel.
"Kasihan anak-anak kemarin ditinggal sehari semalam, apalagi besok Om juga sudah ke kantor, hari ini ajak mereka jalan-jalan deh, Mamanya biar disini." Daniel tersenyum.
"Ih ndak ajak Baen mau jalan-jalan."
"Kamu kan kerja, tidak boleh iri." Daniel terkekeh, Balen monyongkan bibirnya.
"Take care, Bang. Nanti jemput Baen kita ngopi-ngopi." kata Lucky.
"Boleh, nanti gue ajak bocah deh jemput Mamanya." kata Daniel pada Lucky. Setelah antarkan Daniel ke depan lift, Balen kembali bergabung bersama yang lainnya, mereka sudah menunggu Balen diruang meeting.
"Nanti biar Kia saja yang ajak kalian keliling ruangan ya." kata Lucky pada Balen, Aca dan Bari. Ketiganya setuju dan mulai mendengarkan arahan Lucky.
"Setelah makan siang kita rapat dengan manager masing-masing divisi." kata Lucky kemudian, mereka bersiap untuk makan siang bersama. Lucky sudah meminta staff untuk siapkan makan siang mereka diruangannya yang sebentar lagi akan menjadi ruangan Balen.
"Kalau mau rubah design ruangan ini bisa minta Kia panggilkan orangnya." kata Lucky pada Balen.
"Ruangan Aca sama Bari juga sudah siap sesuai permintaan Ibu Balen." kata Kia tertawa.
"Ish Kia, ba bu ba bu." dengus Balen kesal.
"Eh tadi lancar betul sebut Ibu Kia Bapak Lucky." Kia mencibir.
"Yah itu kan kalau didepan orang-orang, kalau kita aja ndak usah." Balen kibaskan tangannya.
"Panggil Ante nih?" Aca menggoda Balen.
"Iya lah mau panggil apalagi?" tanya Balen.
"Mam." jawab Aca terkikik geli.
"Ih ingatkan Baen sama C's aja nih, Baen belum telepon mereka loh." kata Balen langsung kangen bocah dan segera hubungi melalui handphone Mamon.
"Mam, aku lagi dijalan sama Papon." teriak Cadi sambut telepon Mamanya, rupanya lagi jalan sama Papon dan Mamon.
__ADS_1
"Papa lagi perjalanan pulang loh, mau ajak kalian jalan." Balen beritahukan Cadi.
"Maaf aku sudah ada acara." halah jual mahal dia, Balen jadi tertawa.
"Ya sudah Mama kasih tahu Papa." kata Balen pada Cadi.
"Pap suruh ke hotel Mam saja tungguin Mam kerja, kita berlima mau ke dufan." jawab Cadi tidak pedulikan Mama dan Papanya karena senang diajak Papon dan Mamon jalan-jalan.
"Oke sayang, jangan merepotkan Papon dan Mamon ya, anak baik." kata Balen sebelum menutup sambungan teleponnya.
"Nanti Mam menginap lagi?" tanya Charlie pada Balen.
"Ndak, Mama pulang kok nanti." jawab Balen.
"Menginap lagi juga tidak apa-apa, kami mungkin pulang malam." Balen meringis baru semalam merengek bilang rindu, sekarang malah suruh Mama dan Papa kembali menginap.
"Papon..." Balen panggil Papanya.
"Iya sayang."
"Terima kasih ya ajak C's jalan-jalan, Mamon juga." kata Balen dengan manisnya.
"Untuk kalian apa sih yang tidak." Kenan terkekeh.
"Papon beneran sewa helicopter buat mereka?" tanya Balen.
"Iya, uangnya sudah Papon kirimkan ke rekening Aca." jawab Kenan santai.
"Ya ampun Papon, pemborosan."
"Ish Ante..." Aca mendesis.
"Buat cucu Papon, Baen. Jangan protes." tegas Kenan bikin Balen mencibir, ini pilih kasih apa tidak ya, dulu Balen dan Ichie tidak mendapatkan fasilitas seperti sekarang.
"Jangan iri juga, dulu Papon tidak kepikiran." kata Kenan lagi, seperti tahu apa yang ada dalam pikiran anaknya.
"Terima kasih Papon I love so much so much." kata Balen, kemudian menutup telepon dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1