
"Pegawaiku dapat rambutan yang sudah di packing nih Bang, sama manisan mangga bukan mangga matang pohon." Dodi sahabat Lucky yang tinggal di Korea hampiri Daniel dan Balen serahkan buah yang Daniel inginkan.
"Alhamdulillah ada ya, terima kasih loh Dod." Daniel langsung saja tersenyum lebar, senang walaupun rambutan dan mangga yang sudah dikemas, bukan yang fresh. Kalaupun mau waktu di Jakarta pun belum tentu dapat karena belum musimnya.
"Mangga Bangkok tidak apa kan?" tanya Dodi lagi, pegawainya tidak dapatkan mangga Indonesia.
"Tidak apa." jawab Daniel kembali tersenyum.
"Istrinya yang hamil, suami yang pengen ini itu." celutuk Balen, Daniel terkekeh dan mengacak anak rambut istrinya.
"Ini Balen teman tennis Noah kan?" tanya Dodi yang baru sempat ngobrol dengan Balen.
"Iya, kok kenal Noah?" tanya Balen heran.
"Aku sepupunya Noah, kan waktu kejuaraan tennis aku suka ikut nonton." jawab Dodi tersenyum.
"Oh pantas saja mirip Noah." Daniel tertawa.
"Ternyata sepupu ya? berarti sepupu Kak Hilma juga?" tanya Balen, tentu saja iya sudah jelas Noah dan Hilma saudara kandung.
"Hahaha iya lah." Dodi terbahak.
"Kan Kak Hilma mantan pacar Ban Lucky." dasar Balen malah bahas itu.
"Iya, aku yang kenalkan mereka dulu. Tapi ternyata memang jodohnya sama Kia." Dodi terkekeh.
"Sama Kia kenal juga dari dulu?" tanya Balen.
"Tahu, gadis cilik yang suka Lucky gandeng kesana kemari." Dodi anggukan kepalanya.
"Kia tahu ndak Mas Dodi ini sepupunya Kak Hilma?" tanya Balen.
"Tidak tahu ya karena Lucky dari dulu tidak ijinkan keponakannya diajak ngobrol sih." Dodi kembali tertawa.
"Lucu juga ya." Balen terkikik geli.
"Apanya yang lucu?" tanya Daniel nyengir.
"Ternyata sahabat Aban Lucky sepupunya Kak Hilma, kan lucu." jawab Balen dengan ekspresi menggemaskan.
"Biasa saja." jawab Daniel bikin Balen monyongkan bibirnya, Daniel dan Dodi terbahak dibuatnya.
"Istri Mas Dodi ndak terganggu ya rumahnya kita berantaki?" tanya Balen polos.
"Istriku lagi ke Indonesia, tapi dia tahu kok kalian ada disini." jawab Dodi.
"Kok ndak ikut ke Indonesia?" tanya Balen Kepo.
"Tanggung ya, dia hanya jemput anakku yang lagi liburan, kalau tidak dijemput Mama tidak mau kembali Ke Seoul, lebih betah di Jakarta sama Omanya." Dodi terkekeh bayangkan anak semata wayangnya.
"Usia berapa anak kamu, Dod?" tanya Daniel.
"Lima tahun, lagi lucu-lucunya. Kemarin itu dibawa pulang mertua yang lagi ke sini."
"Perempuan apa laki-laki?" tanya Balen.
"Laki-laki, lucu deh." Dodi promosikan anaknya.
"Mirip siapa?" tanya Balen.
__ADS_1
"Mirip aku hahaha." Dodi terbahak.
"Walah ada Noah cilik dong." Balen jadi ikut tertawa.
"Besok lanjut ke Jeju ya?" tanya Dodi kemudian.
"Rencana sih begitu, tapi ndak tahu deh, ndak semangat juga karena Ulan dan Redi harus kembali ke Jepang." jawab Balen bikin suaminya nyengir.
"Kalau tidak jadi ke Jeju kami langsung ke California." jawab Daniel.
"Bukannya di Ohio ya Bang?" tanya Dodi.
"Iya, kebetulan ada kerjaan, jadi kesana dulu." jawab Daniel, Dodi anggukan kepalanya.
"Jadi orang rantau kita ya Bang, cari rejeki di negara orang." kata Dodi pada Daniel.
"Ya kebetulan rejekinya di negara orang. Tapi setelah Balen lulus kita kembali Ke Jakarta, kamu sampai kapan di Seoul?" tanya Daniel.
"Sampai pensiun Bang." Dodi terkekeh.
"Wah enak dong, kalau kita ke Seoul bisa numpang berenang lagi." celutuk Balen bikin Dodi terbahak.
"Boleh-boleh, nanti kalau ada Istriku tolong ajari berenang, dia takut berenang." jawab Dodi terkekeh.
"Loh kalau takut harusnya ndak ada kolam di rumah." kata Balen dengan wajah serius.
"Fasilitas kantor, dinikmati saja." Dodi tertawa.
"Enak betul fasilitas kantornya dapat rumah mewah, biasanya apartment." kata Balen terkagum-kagum.
"Ya enaklah Baen, kantor punya bapaknya." jawab Lucky yang ikut bergabung bersama mereka.
"Tetap saja enak." jawab Balen tersenyum pandangi suaminya yang asik sendiri nikmati rambutan yang Dodi kasih tadi.
"Ndak nawarin Baen nih Aban." Balen gelengkan kepalanya.
"Kamu mau? katanya tidak sehat." jawab Daniel tawari Balen setengah hati.
"Jangan diganggu Baen, cuma segitu-segitunya, stock terakhir." kata Lucky pada Balen.
"Ya udah deh." Balen jadi pasrah tidak jadi minta rambutan yang Daniel makan.
"Boleh kok kalau mau." Daniel akhirnya tawarkan Balen, takut juga nanti anaknya tetap ngiler karena istrinya tidak ikut makan.
"Boleh?" tanya Balen, Daniel anggukan kepalanya. Akhirnya mereka berdua asik nikmati rambutan sampai ludes tidak bersisa.
"Duh jadi pengen biji nangka rebus." kata Balen saat melihat biji rambutan di kantong plastik.
"Jangan macam-macam Baen, biji nangka gue cari dimana." kata Lucky bikin Balen terbahak.
"Ndak ngidam kok, cuma pas lihat biji rambutan bayangkan seandainya bisa direbus seperti biji nangka." jawab Balen tertawa.
"Enak juga itu ya, Luck, boleh deh sampai Indonesia paketin biji nangka ke Ohio." pinta Daniel bikin Dodi dan Lucky gelengkan kepalanya.
"Untung waktu istri gue hamil kita di Jakarta." Dodi terkekeh.
"Ini kebetulan saja maunya seperti ini, kemarin-kemarin tidak kok." Daniel membela diri.
"Kia jadinya kuliah dimana Baen, sudah bahas belum?" tanya Lucky pada Balen.
__ADS_1
"Jakarta Ay." jawab Kia langsung duduk disebelah Lucky, dia sudah mandi dan berganti pakaian.
"Tidak jadi ke Ohio?" tanya Dodi.
"Di Jakarta saja, kalau di Ohio ada mantan terindah, Kia malas." jawab Kia menyindir suaminya.
"Idih, mana ada mantan terindah." Lucky terkekeh.
"Kak Hilma ya?" Balen meluruskan.
"Pakai disebutkan Baen." gerutu Lucky khawatir Kia terprovokasi.
"Ya." jawab Kia naikkan alisnya.
"Kia tahu ndak Mas Dodi siapanya Kak Hilma?" Lucky mendelik, tidak mau Balen bahas lebih lanjut, ia belum sempat cerita kalau Hilma dan Dodi sepupuan. Walaupun kedekatan Lucky dengan Dodi tidak berpengaruh dengan Hilma tetap saja Lucky khawatir.
"Kenal Tante Hilma juga Om?" tanya Kia pada Dodi.
"Hehehe kenal." jawab Dodi mengerti apa yang dikhawatirkan sahabatnya.
"Oh iya Om Dodi sahabatan sama Om Lucky sih ya, pasti tahu semua mantan Om Lucky." kata Kia nyengir.
"Apa sih sayang bahas mantan." Lucky mengacak anak rambut Kia.
"Rambutnya masih basah." Lucky alihkan konsentrasi Kia.
"Iya, lupa bawa hair dryer." jawab Kia fokus pada rambut.
"Aku keringkan pakai tissue ya." kata Lucky, bikin Dodi dan Daniel cengengesan.
"Memang bisa?" tanya Kia.
"Bisa, Mama sering keringkan rambutnya pakai tissue." jawab Lucky, segera kasih kode ke Dodi supaya ambilkan tissue, Dodi terkekeh lihat kelakuan sahabatnya.
"Dari dulu gue sudah feeling loh, kalau Kia bukan keponakan biasa." kata Dodi beranjak ambilkan tissue yang agak jauh diujung meja.
"Masa?" Lucky terkekeh.
"Kia kamu tahu, dia putuskan semua pacarnya yang komplen tentang kamu." kata Dodi ceritakan rahasia Lucky.
"Idih, memang semua pacar Om Lucky komplen tentang Kia?" seingat Kia hanya beberapa yang labrak Kia, tidak semua.
"Tidak..."
"Iya..."
Dodi dan Lucky tidak kompak.
"Wah maafkan Kia ya merusak kisah cinta Om Lucky semasa muda." kata Kia merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf Kia, dia memang sengaja menunggu kamu besar sambil iseng-iseng berpacaran dengan gadis lain." Dodi mulai bocor.
"Rese..." Lucky terkekeh.
"Mending gue dong jujur memang naksir Baen dari kecil." Daniel tertawakan Lucky.
"Iya gue dulu menolak naksir Kia." jawab Lucky cengar-cengir.
"Kasihan deh ternyata jodohnya Kia." jawab Kia bikin Lucky gemas langsung memeluk erat istrinya sambil ciumi pipinya, tidak pedulikan Daniel, Balen dan Dodi didekatnya.
__ADS_1