
"Kita sewa mobil saja lah." kata Daniel setelah letakkan koper mereka di hotel.
"Kenapa memangnya Om?" tanya Kia yang dari tadi bergelayut manja dilengan Lucky. Kia yang sudah dari kecil bermanja-manja dengan Lucky tentu saja berpikir hal itu biasa saja.
"Untuk menghemat waktu dan tenaga." jawab Kenan.
"Tapi kalau sewa mobil pada tidak bisa pedekate loh." celutuk Aca bikin bocah-bocah rusuh kembali bereya-eya sambil joget-joget. Daniel tertawa dan gelengkan kepalanya, anak-anak Baen benar-benar menghibur kelakuannya.
"Om hanya pikirkan kenyamanan kalian." kata Daniel terkekeh, sebenarnya malas juga harus ke Universal Studios, tapi hitung-hitung latihan jika punya anak nanti, pasti akan mengajak anak untuk jalan-jalan, pikir Daniel pandangi perut istrinya, berharap bisa segera hamil.
Dan disinilah mereka sekarang, di Osaka Universal Studio, setelah ngotot ingin naik train, akhirnya anak-anak mengalah, menyewa Mobil seharian ini, karena mereka habis perjalanan jauh, pastinya energi sedikit berkurang, setidaknya kalau di mobil mereka bisa tertidur sebentar kumpulkan energi.
Rencana mau letakkan koper di hotelpun batal, mereka putuskan langsung ke Universal Studios. Sebelumnya mampir dulu ke restaurant halal di Osaka, ada beberapa pilihan hingga akhirnya mereka memilih Matsuri. Setelah perut kenyang baru lanjutkan perjalanan ke Universal Studios.
"Wow it's so crowded." gumam Balen saat lihat begitu banyak pengunjung. Balen tidak begitu sukai keramaian, padahal ia salah satu pengisi acara yang mengundang keramaian saat lomba berenang ataupun jalan di catwalk.
"Memang selalu ramai." kata Ulan tersenyum.
"Ulan seeing kesini?" tanya Balen.
"Hanya kalau ada teman atau saudara yang berkunjung ke Jepang, Ulan jadi guidenya deh." jawab Ulan tertawa.
"Ulan, Redi ganteng ndak?" bisik Balen pada Ulan. Ulan mencuri pandang pada Redi untuk pastikan jawaban apa yang akan Ulan berikan pada Balen.
"Iya ganteng." jawab Ulan ikut berbisik takut didengar yang lain.
"Mau ndak sama Redi?" tanya Balen lagi bikin Ulan menepuk bahunya sambil tertawa.
"Ih Baen serius." kata Balen tidak lagi berbisik.
"Ndak tahu, baru juga sekali bertemu." jawab Ulan mengedikkan bahunya.
"Kalau sama Aban Lucky, Ulan pilih mana?" tanya Balen.
"Ndak mungkin sama Aban Lucky dong Baen, dia kan adiknya Tania, Ipar kita." Ulan sedikit mengeram.
"Eh iya, Baen lupa." jawabnya terkikik dan joget-joget.
"Kalau begitu sama Redi mungkin ya." kata Balen lagi.
"Kamu tuh sudah menikah ndak berubah ya." Ulan tertawakan Balen, abaikan pertanyaan Balen.
"Nanti kalau punya anak aja berubah jadi ibu-ibu." jawab Balen tidak lagi mendesak Ulan tentang Redi karena ada Ichie dan yang lainnya mendekat.
"Belum punya anak saja sudah seperti ibu-ibu." celutuk Richie bikin Balen dan Ulan tertawa.
"Ante, Beyin ndak punya teman." keluh Belin karena Kia asik bersama Lucky.
"Sini sama Ante aja." Balen langsung merangkul Belin.
__ADS_1
"Om Daniel sama siapa?" tanya Belin, mereka sedang menunggu rombongan selesai foto-foto didepan Minion area.
"Sama kalian juga dong." jawab Daniel tersenyum.
"Rame betul ya Aban, pusing Baen." kata Balen pada Daniel.
"Mau istirahat? kita tidak usah ikut mutar, duduk saja di restaurant, bagaimana?" tanya Daniel ikuti kemauan istrinya saja.
"Aah Beyin mau mutar, Om." merengek tidak mau menunggu di restaurant.
"Beyin mutar saja sama Ante Ulan dan Om Redi." kata Daniel pada Belin.
"Kita mutar aja Aban, kasihan Beyin. Lagipula sudah tanggung sampai disini juga." kata Balen tersenyum pada suaminya.
"Ante, mau popcorn Minion Bucket? lumayan nanti bucketnya bisa untuk souvenir." tanya Kia pada Balen.
"Ndak Kia, Ante buat siapa di Ohio." jawab Balen menolak.
"Beyin mau." teriak Belin berlari hampiri Kia.
"Aku juga mau." Bima ikut hampiri Kia.
"Buat siapa nanti bucketnya?" tanya Kia pada adiknya itu.
"Buat teman baikku." jawab Bima.
"Ish, pelitnya." Bima mendengus.
"Untuk Cantika saja nanti bucketnya." kata Belin mengangkat kedua alisnya, senang bisa menggoda Bima.
"Ya sudah." Bima pasrah saja, inginnya belikan untuk pujaan hati, tapi ingat Cantika yang menggemaskan jadi lumer hatinya.
Puas hati bermain di Universal Studios sampai sore hari, semua wahana mereka hampiri, Harry Potter, Spiderman dan yang lainnya. Makan pun berulang hingga perut kenyang walau rasa tak seenak di negara sendiri.
"Ayo ke hotel." aja Balen tidak sabar.
"Capek ya?" tanya Daniel, Balen anggukkan kepalanya, ia tidak masuk dalam schedule tapi demi senangkan hati anak-anak, Balen ikuti.
"Besok kalian saja yang pergi ya, kita mau ke rumah Ulan bantu kerjakan tugas kuliahnya." kata Redi pada anak-anak, tersenyum pandangi Richie dan Lucky yang akan mengawal para pasukan bodrek.
"Kita mau kemana besok?" tanya Lucky.
"Di Kyoto kebanyakan ya kuil sama temple, kalau mau keluar malam buat nongkrong enak di Pontocho." Ulan menjelaskan.
"Mau lihat Kia dan Belin pakai kimono jalan-jalan sekitaran kuil besok?" Kata Bari pada Lucky.
"Boleh tuh mukanya dandan kaya topeng, lucu deh." sahut Shaka, bikin Kia menoyor kepalanya.
"Hei jangan kasar dong sayang." Lucky ingatkan Kia, beneran sayang bukan karena ingin merayu.
__ADS_1
"Cie..." kembali bocah-bocah rusuh heboh menggoda Lucky dan Kia.
"Tuh kalau tidak dikasari begitu Om, cie, cie." gerutu Kia, Richie tertawa dibuatnya.
"Biar saja lucu." kata Lucky santai.
"Ih Om Lucky."
"Iya sayang."
"Ciee..." rusuh lagi kan bocah, Lucky juga sih suka pancing-pancing mereka.
"Langsung ke hotel kan?" tanya Ulan pastikan untuk sampaikan pada driver dalam bahasa Jepang.
"Yaa..." jawab mereka serempak, tidak peduli Bapak supir terganggu atau tidak.
"Mau makan lagi, ndak?" tanya Balen pada semuanya.
"Mauuu..." jawab mereka cepat, padahal perut masih kenyang.
"Barusan sudah makan, kok mau saja?" Richie tertawa.
"Nanti kan lapar lagi." jawab Aca, semua kembali tertawa.
"Uang sangu dari rumah kumpulin ke Ante ya." Balen menggoda anak-anaknya.
"Ah Ante, masa jalan sama Bos, uang sangu mesti dikumpulin." gerutu Bima.
"Buat tips guide." jawab Balen tertawa.
"Oalah, sini kumpulin ke Ulan kalau begitu." jawab Ulan ikut tertawa menggoda anak-anak Baen.
"Baru temani satu hari sudah minta tips." tolak Aca pertahankan uang sangunya.
"Kalian sudah tukar yen belum sih?" tanya Balen.
"Sudah." jawab Billian.
"Belum." jawab Bari.
"Belum tukar, yakin betul akan dibayari." Richie terbahak.
"Kata Papa Mike biar saja ada Om Lucky." jawab Shaka. Lucky terbahak dibuatnya.
"Om cuma niat bayarin Kia padahal." jawab Lucky menggoda Shaka.
"Sama keponakan sekejam itu, Kia yakin mau sama Om Lucky?" tanya Shaka.
"Yakin." jawab Kia bikin Lucky mendelik. Aih Kia, Lucky jadi tidak konsen kan, sementara cie, cuwiwit dan aye-aye kembali bergema didalam mobil Van yang mereka sewa.
__ADS_1