
"Aban, badan Baen kok gatal lagi ya?" Balen menggosok punggungnya ke tembok.
"Lotionnya tidak dibawa?" tanya Daniel pada Balen.
"Sudah, tapi disini Baen kegerahan Aban." merengek seperti mau menangis.
"Mau pulang ke Ohio?" tanya Daniel pada istrinya, pikirnya acara Richie sudah selesai, tidak ke Malang pun tidak apa.
"Ke Malang kan belum." niatnya tidak mau di rubah.
"Kalau ke Malang berarti di Batu saja yang dingin ya? di kota tidak terlalu kan?"
"Coba dulu di rumah Papon." ingin tinggal dirumah Papon.
"Richie kan belum datang sayang." Daniel tidak enak karena nanti Richie dan Tori yang akan tempati rumah Papon di Malang.
"kalau ndak di rumah Oma deh." Balen kasih alternative lain.
"Ijin dulu sama Papon dan Mamon deh, kalau kita mau berangkat lebih dulu ke Malang." kata Daniel mengingat rencananya Papon dan Mamon akan ikut mengantar Richie dan Tori saat pindah ke Malang nanti.
"Yah." menurut langsung keluar kamar tinggalkan Daniel.
"Achara..." iseng panggil Achara yang berkurung di kamar saat melewati kamar tamu.
"Yess Baen." berteriak dari dalam, sekarang mulai ikut panggil Baen seperti keluarga Balen yang lain.
"Kita ke Malang hari ini, are you ready?" tanya Balen saat Achara muncul Dari balik pintu, padahal belum minta ijin Papon dan Mamon.
"Yeah, can't wait." tersenyum senang mendengarnya. Asisten pribadi Achara sudah di Malang dari beberapa hari yang lalu. Sebenarnya Achara ingin berangkat sendiri ke Malang, tapi keluarga Balen tidak ijinkan, karena Achara sedang hamil muda.
"Tapi aku ijin sama orangtuaku dulu." Balen terkekeh.
"Aih belum pasti sudah bilang are you ready." Achara tertawa geli.
"Itu kan doa, Markus ada telepon ndak?" penasaran apa Markus mencari Achara.
"Tidak, Berryl malah telepon setiap hari." Achara mendesah, Markus tidak merasa kehilangan Achara.
"Mungkin dia sibuk karena Aban sama Redi tidak ada." jawab Balen memaklumi.
"Mungkin, biar sajalah." Achara berusaha tidak peduli.
"Achara, kamu pilih siapa? Berryl atau Markus?" tanya Balen.
"Tidak ada, aku mau jadi single Mom saja." jawab Achara mantap.
"Duh punggung aku gatal-gatal, harus segera ke Malang." Balen meringis kembali menggesekkan punggungnya ke tembok.
"Sini aku balurkan lotionnya." Achara menawarkan, kasihan lihat sahabatnya.
"Ndak usah, Mamon harus lihat biar segera kasih ijin." kata Balen manfaatkan situasi. Ia segera tinggalkan Achara dan berjalan mencari Mamon.
"Mamon..." langsung tersenyum sambil meringis menahan gatal.
"Ya sayang." Nona tersenyum sambut Balen.
"Baen ndak tahan disini kegatalan punggung Baen." lapornya pada Nona dan duduk disamping Mamon.
"Sini Mamon usap sambil doakan." Nona segera mengusap punggung kesayangannya.
"Naik Mamon." pinta Balen, Nona ikuti maunya Balen.
"Geser Kiri sedikit." kasih aba-aba.
"Nah iya disitu." ketemu titik gatalnya lalu ambil posisi nyaman senderkan dahinya di tangan sofa.
"Baen ndak kuat panasnya Jakarta Mamon, Baen ke Malang ya sekarang." Minta ijin Mamon.
"Tega sekali Mamon ditinggal secepat itu." Nona menepuk bahu Balen.
__ADS_1
"Mamon sama Papon masih rindu kamu Baen." kata Nona pada Balen.
"Tapi Baen kegerahan Mamon."
"Nanti Mamon bilang sama Papon." kata Nona sambil menggosok punggung Balen dan hubungi suaminya di kantor via telepon.
"Ya sayang..." terdengar suara Kenan dari seberang, menjawab telepon istrinya.
"Anaknya kegerahan, punggungnya gatal-gatal, mau di Malang saja katanya." lapor Nona pada Kenan.
"Mana dia?" tanya Kenan.
"Ini lagi aku usap-usap punggungnya."
"Kapan mau ke Malang?" tanya Kenan.
"Minta ijin hari ini, tapi aku masih rindu, Mas." tidak rela kalau Kenan ijinkan Balen berangkat ke Malang.
"Iya saya juga, kamu loudspeaker sayang." pinta Kenan pada Nona.
"Sudah." lapor Nona.
"Baen..."
"Iya Papon, Baen ndak tahan kalau begini." merengek agar diijinkan.
"Papon tambah Ac kamar kamu dengan standing Ac saja ya." membujuk agar masalah Balen teratasi.
"Papon kaya mau kondangan dong." Kenan tertawa mendengarnya jawaban Balen.
"Biar dingin kamarnya."
"Tapi Achara kan harus ke Malang juga."
"Achara biar disini dulu, tanyakan dia perlu standing Ac dikamarnya atau tidak, biar sekalian Papon kirim sekarang. Kita ke Malang bersama saja Baen, tunggu Richie dan Tori."
"Jangan lupa tanyakan Achara sayang."
"Yah." Nona tersenyum senang, sukarela menggosok punggung kesayangannya.
"Baen mau ke kamar ya Mamon."
"Sudah tidak gatal?" tanya Nona.
"Ndak." jawab Balen lemas tidak diijinkan ke Malang.
"Peluk Mamon dulu sini." Nona rentangkan tangannya, Balen segera sambut dan kini mereka berpelukan.
"Kamu perlu standing Ac berapa?"
"Satu Mamon, bisa masuk angin Baen kalau kebanyakan." jawab Balen bikin Nona tertawa.
"Sabar ya cucu Mamon." Nona mengusap perut Balen.
"Nanti Mamon belikan obat pereda gatal." janji Nona pada Balen.
"Iya." segera tinggalkan Nona menuju kamarnya, sebelumnya mampir ke kamar Achara.
"Achara..."
"Yess..." Achara segera membuka pintu kamarnya.
"Nanti saja ke Malang tunggu Richie ya."
"It's ok Baen." nyengir tahu kalau Balen tidak mendapat ijin.
"Kamu perlu tambahan Ac dikamar ndak?" tanya Balen pada Achara.
"Tidak usah, anakku suka udara Jakarta." jawab Achara.
__ADS_1
"Ndak ada keluhan?" tanya Balen.
"Keluhan Mamanya merindukan pelukan Markus." jawab Achara terbahak.
"Katanya mau jadi single Mom." Balen terkikik geli.
"Entah kenapa setelah kamu tanya Markus aku jadi rindu."
"Telepon saja."
"No, nanti aku ketergantungan, lagipula Markus mana mau sama perempuan hamil, Baen."
"Siapa tahu mau, apalagi anak Markus disini." Balen mengusap perut Achara.
"Sok tahu." Achara terkekeh.
"Ya sudah kamu istirahat lagi, kalau mau makan apa kasih tahu, nanti aku pesan."
"Baen aku mau asinan." ketagihan karena dibawakan asinan bogor oleh Nanta kemarin.
"Nanti aku telepon Aban Nanta."
"Baen, Redi bagaimana?"
"Dia sibuk urus persiapan pernikahannya."
"Di Malang?"
"Iya, makanya Ichie ndak boleh lama-lama di Uzbekistan."
"Kasihan lagi honeymoon malah diganggu."
"Ndak apa, nanti bisa berangkat lagi. Oke aku ke kamar dulu. Nanti kalau asinan sudah datang aku kabari."
"Thank you Baen."
"Anytime Achara darling." Balen monyongkan bibirnya bergaya akan mencium Achara.
"Aban, telepon Papon kasih tahu Ac tambahan satu aja." langsung kasih instruksi pada Daniel begitu masuki kamar.
"Tidak diijinkan ke Malang, mau dikasih standing Ac." Daniel terkekeh karena Kenan sudah hubungi Daniel sebelumnya.
"Kok Aban tahu sih?"
"Apa sih yang Abang tidak tahu." tersenyum pandangi Balen.
"Aban, telepon Ichie dong kasih tahu ndak boleh lama-lama di Uzbekistan, Ledi Dei acaranya sebentar lagi." kembali kasih instruksi pada Daniel.
"Biar saja Richie tidak hadir. Kasihan jangan diganggu."
"Masalahnya Papon mau kita sama-sama ke Malang."
"Ya sudah nanti Abang hubungi Richie."
"Sekarang Aban."
"Richie baru sampai sayang, belum juga buka baju." Daniel terkekeh.
"Kok Aban tahu?"
"Tadi begitu sampai lapor cari makan, mereka belum ke hotel, berarti belum buka baju kan?"
"Aban ih." Balen menepuk bahu Daniel sambil senyum-senyum mesum.
"Kenapa?"
"Baen jadi mau buka baju." jawabnya bikin Daniel terbahak dan segera bantu istrinya buka-bukaan.
"
__ADS_1