
"Bobo sini aja yuk, Aban." Balen merengek peluki Daniel, mereka baru saja selesai makan malam di Batu.
"Buka kamar?" tanya Daniel pada istrinya.
"Iya, ayo Aban, Baen capek." jawab Balen kembali merengek.
"Aku juga capek Baen, ini terlama aku di dalam mobil." Tori tertawa dapat pengalaman baru. Bukan hanya ke kota Batu saja, tapi Tori dan Daniel diajak memutari komplek perumahan, melewati rumah Papon, Bang Raymond dan Oma Nina. Semua rumah kosong hanya dihuni oleh asisten rumah tangga saja.
"Tapi kamu senang kan Tori?"
"Iya pakai banget." jawab Tori.
"Kamu juga mau menginap di sini?" tanya Richie pada Tori.
"Iya." jawab Tori tersenyum manis bikin Richie jadi tidak tega.
"Tapi tidur di kamar sendiri, berani?" tanya Daniel pada Tori yang menganggukkan kepalanya yakin. Daniel sudah pasti tidak mau pisah dengan istrinya.
"Kita berdua ya Kis." kata Richie pada Kisna.
"Aku ijin Mama dan Papa dulu, Mas." kata Krisna pada Richie. Kalau Papa dan Mama tidak ijinkan, Kisna akan minta jemput.
"Kita juga harus ijin, lagipula benar juga aku pun capek." kata Richie pandangi Daniel.
"Minta ijin dulu deh, baru kita cari hotel." kata Daniel pada Richie dan Balen.
"Ichie aja ah yang telepon, energi Baen mulai habis nih Ichie." malas bergerak masih saja peluki suaminya, tidak peduli lingkungan sekitar banyak orang hilir mudik.
"Sebentar." Richie segera hubungi Papanya.
"Assalamualaikum Chie, kalian dimana?" langsung saja Kenan tanyakan posisi anaknya.
"Waalaikumusalaam, di Batu. Tapi terlalu lelah mau kembali Ke rumah, Pa. Kami menginap disini saja ya. Ada Kisna juga."
"Oke, jaga diri ya. Tori tidur sama Baen?" langsung tanyakan partner tidur.
"Tori sendiri, Baen sudah menggelendot sama Abang, mana mungkin disuruh tidur sama Tori." kata Richie bikin Balen memonyongkan bibirnya.
"Kamu sama Kisna? Tori berani sendiri di kamar?" khawatir Tori takut tidur sendiri.
"Papa tanya kamu berani tidak tidur sendiri?" tanya Richie pada Tori.
"Berani Papon." jawab Tori sedikit berteriak.
"Ya sudah istirahat deh ya. Perjalanan jauh kan semalam."
"Iya Papa." Richie tutup sambungan teleponnya.
"Tidak bawa baju loh kita." Daniel tertawa.
"Besok pagi ada yang antar Aban, gampang." kata Balen tersenyum, sudah pasti akan merepotkan orang suruhan Opon ataupun Papon dan Bang Raymond.
"Mau disuruh antar malam ini juga bisa." kata Richie tertawa.
__ADS_1
"Malam ini saja boleh, Chie? aku harus bersihkan diri." pinta Tori pada Richie.
"Oke." Richie langsung kirim pesan pada Papanya untuk kirimkan orang yang mengantar koper mereka.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di hotel, baju ganti pun sudah diterima masing-masing. Balen sudah di kamar bersihkan diri, begitu juga Daniel. Saatnya untuk tidur.
"Aban, balurin badan Baen pakai minyak angin dong." pintanya pada Daniel.
"Seperti Oma saja pakai minyak angin." Daniel tertawa.
"Ih Aban, ini kan biar peredaran darah Baen lancar." jawab nya bikin Daniel tertawa, ambil minyak angin baby di tangan Balen lalu balurkan ke punggung istrinya.
"Tidak tanggung jawab kalau terjadi sesuatu ya?" kata Daniel setelah Balen mengangkat bajunya.
"Aban..." Baen merengek saat Daniel malah menciumi punggungnya.
"Ya..." jawab Daniel cengengesan.
"Balurin." pinta Balen, padahal Daniel sudah balurkan.
"Apa? Ciumi? Ok." kembali Daniel ciumi punggung istrinya.
"Iih Aban," membalikkan badan tapi malah pipinya yang Daniel cium sekarang.
"Aban, nanti Baen ndak konsen nih." katanya lagi sambil tertawa, pikirannya mulai mesum.
"Kenapa tidak konsen." tanya Daniel sekarang cium bibir Balen.
"Aah Aban!" merengek dan segera naik kepangkuan suaminya yang duduk bersila di kasur.
"Tidak jadi dibaluri?" tanya Daniel mengecup bibir Balen.
"Kiss aja sambil balurin." pintanya bikin Daniel tertawa, lalu ******* lembut bibir istrinya sambil tangannya bekerja kembali balurkan minyak angin baby ke punggung istrinya. Selanjutnya aksi melancarkan peredaran versi Balen dan Daniel pun dimulai.
"Aban ndak capek?" tanya Balen saat Daniel lepaskan ciumannya, bibirnya sudah menjelajah ke wilayah lain.
"Hmm..." lagi bekerja ya cuma begitu saja jawabnya.
"Aah Aban, ndak boleh berisik loh." berbisik dengan suara tertahan.
"Aban..."
Begitulah tetap mengoceh sampai aktifitas selesai.
"Baen bobo ya." katanya kemudian setelah selesai melancarkan peredaran darah.
"Nite sayang." Daniel pejamkan mata sambil benamkan wajah di dada istrinya.
"Aban..." kembali merengek ketika Daniel masih bermain-main disana. Daniel tertawa dan hentikan aksinya, ia juga sudah mengantuk tapi senang saja kalau mendengar Balen merengek manja. Akhirnya keduanya tertidur pulas hingga pagi hari.
"Aban, boleh bobo sampai siang ndak sih?" tanya Balen saat pagi hari Daniel bangunkan Balen untuk sholat shubuh.
"Mandi dulu sayang, sholat. Kamu harus temani Tori sarapan. Kita mau checkout jam berapa? Krisna harus kerja kan?". tidak ijinkan Balen bobo sampai siang.
__ADS_1
"Boleh ndak di Malangnya yang lama? Baen kok betah disini." peluki Daniel yang masih berbaring belum juga mandi.
"Aban..." mengguncang tubuh suaminya karena tidak mendapat jawaban.
"Baen mau mandi." katanya lagi tapi tangannya masih peluki Daniel.
"Aban, yang lain sudah bangun memangnya?" tanya lagi pada Daniel pertanyaan yang lain, padahal yang tadi belum dijawab.
"Aban, mau sarapan di hotel atau keluar, Baen mau jus apel deh." kembali pikirkan yang lain.
"Ayo mandi." Daniel beranjak dari kasur dan ulurkan tangan pada Balen yang mulai ikut beranjak juga.
"Setelah mandi nanti Abang hubungi pihak hotel, kamu mau jus apel ya? Abang juga deh." menggendong istrinya yang bergaya koala.
"Si malas bergerak." Daniel ciumi pipi istrinya.
"Masih bau Aban." kembali merengek.
"Memang." jawab Daniel terkekeh.
"Tapi kok Aban cium?" tanya Balen heran.
"Because I love you." jawab Daniel menutup hidungnya.
"Aban..." kesal lihat Daniel yang tutupi hidungnya lalu balas ciumi suaminya. Daniel tertawa senang.
"Aban juga bau." kata Balen tapi masih saja ciumi Daniel
"Aban, kita mandi berdua ini rahasia loh, ndak boleh kasih tahu orang." ingatkan Daniel padahal kemarin yang keceplosan juga siapa.
"Iya." jawab Daniel tertawa.
"Aban jangan cerita-cerita." kembali mengingatkan Daniel.
"Kemarin yang keceplosan siapa?" tanya Daniel menyipratkan air ke wajah istrinya.
"Baen hahaha." tertawa geli.
"Sudah tidak rahasia dong?" tanya Daniel.
"Jadi ndak apa ya kalau keceplosan?" tanya Balen pada suaminya.
"Jangan dong, pokoknya aktifitas di kamar kita cuma rahasia kita saja."
"Kalau kamarnya di rumah Opon?"
"Ck... pokoknya aktifitas kita di kamar manapun itu rahasia kita saja." Daniel membenarkan kalimatnya.
"Kecuali kalau keceplosan, iya kan?" tertawa pandangi suaminya.
"Tidak boleh keceplosan." tegas Daniel kembali cipratkan air di wajah istrinya.
"Aah Aban." balas cipratkan air ke wajah suaminya, mereka tertawa bersama, aktifitas mandi pagi mulai rusuh.
__ADS_1
Maafkan updatenya sedikit dan lama, banyak undangan menjelang puasa dua hari ini😅