
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
William datang ke kantor kepolisian untuk memberikan keterangannya dan mencari tahu kelanjutan dari penyelidikan.
"Selamat siang pak, saya ingin bertemu Inspektur Hadi, ada?" tanya William pada seorang polisi yang sedang piket disitu.
"Dari pak siapa?"
"William ayah dari Maximillian. Kasus penculikan di hutan."
"Silahkan naik pak, dilantai 2."
"Ok terimakasih."
William berjalan menuju ruangan inspektur yang menyelidiki kasus ini di lantai 2.
Tok Tok Tok
"Masuk!" terdengar sautan dari balik pintu.
"Permisi, saya Wliiam, ayah dari Maximillian yang melaporkan kejadian penculikan dihutan."
"Silahkan duduk, pak."
"Terimakasih pak inspektur. Bagaimana pak kelanjutan penyelidikan kasus ini?" tanya William.
"Pelaku berhasil kabur. Kami menemukan sebuah cincin dari TKP." jawab Inspektur sambil mengeluarkan barang bukti dari dalam lacinya.
"Apa sudah diperiksa DNA yang ada di cincin itu pak?"
"Kami masih mencocokkan DNA dicincin ini. Kami juga membutuhkan keterangan dari korban dan juga pelapor."
"Anak saya, Max, yang menjadi pelapor masih belum sadarkan diri pak atas penembakan yang dilakukan oleh para penculik itu."
"Untuk kasus penembakkan putra bapak, kami sudah mengantongi nama pelakunya, pak. Dan pelaku juga saat ini menjadi pasien di rumah sakit."
"Bagaimana bisa?"
"Kami sudah memintai keterangan dari pelaku penembakan. Dia bersaksi bahwa putra bapak Maximillian datang ke TKP dan langsung menghajar mereka. Dan kepala pelaku dipukul oleh pelapor yang harus kami selidiki lebih lagi."
"Tapi anak saya itu hanya melindungi diri dan juga korban, pak."
__ADS_1
"Kami paham maksud bapak. Tapi kami juga harus melakukan penyelidikan sesuai prosedur pak. Dan harus memintai keterangan dari pelapor maupun saksi."
"Baiklah kalau begitu. Secepatnya saya akan membawa korban penculikan untuk bersaksi. Permisi, pak inspektur."
William keluar dari ruangan inspektur itu dan segera memanggil taksi.
###################################
Di kamar rawat Max.
Suster membuka pintu kamar tanda pengecekan sudah selesai.
"Dok, bagaimana keadaannya? Apakah ada yang mengkhawatirkan?" tanya Ben pada dokter.
"Tanda vital pasien bagus, dan kekhawatiran kita tentang lika dikepalanya juga tidak terjadi. Karna luka di kepala pasien hanya robek dibagian luar dan tidak ada yang serius. Mungkin sebentar lagi pasien akan sadar. Tolong diperhatikan terus ya, dan diharapkan pasien jangan banyak bergerak dulu. Jahitan operasi dan dikepalanya belum kering." jelas dokter.
"Ah syukurlah. Terimakasih dokter. Terimakasih." ucap Ben.
"Baiklah. Saya permisi dulu." pamit dokter.
"Bro, gue yakin lo kuat menghadapi semua ini."
*
Natasha dan Ivanna POV
"Kak, Vanna mau ambil air minum di mobil dulu yah." ucap Ivanna.
"Baiklah, aku temani."
Natasha menemani Ivanna mengambil beberapa botol air dari dalam mobil Max yang ia bawa. Saat Ivanna sibuk memasukkan botol ke dalam plastik, Natasha melihat ada sesuatu barang yang jatuh di bawah tempat duduk mobil.
"Van, ini sepertinya hp Max deh." ucap Natasha.
"Oh ya kak ini benar ponselnya Max."
"Coba periksa deh siapa tau ada bukti yang sempat Max simpan di ponsel itu." ucap Natasha.
Ivanna segera membuka ponsel Max.
"Yah, baterainya habis kak."
"Aku bawa chargeran. Kita isi dulu yuk di dalam." kata Natasha.
Ivanna dan Natasha pun berjalan memasuki rumah sakit. Saat berada di lobby, Ivanna melihat sosok yang sangat tidak asing baginya. Ya, dia adalah Anna, rival terbesar Ivanna dalam dunia kerja. Beruntung Anna tidak melihat Ivanna yang juga berada di rumah sakit ini.
__ADS_1
("Ngapain Anna ke sini ya? Apakah ada yang sakit?") tanya Ivanna dalam hati.
Akhirnya Ivanna dan Natasha masuk ke dalam rawat inap Max.
"Ben, bagaimana kata dokter?" tanya Natasha.
"Semua baik baik saja dan tidak ada yang dikhawatirkan. Dokter bilang mungkin sebentar lagi Max akan bangun. Kalian sudah makan?"
"Sudah kak. Oh ya, tadi aku sempat buat sandwich. Makanlah dulu." kata Ivanna memberikan sekotak sandwichnya kepada Ben.
"Thanks, Van." ucap Ben.
"Sama sama kak."
"Van, ini chargeran punyaku, coba di charger dulu itu ponsel Max." kata Natasha memberikan chargeran. Dengan segera Ivanna mencharger ponsel Max.
"Kalian temukan dimana?" tanya Ben.
"Mobil." jawab Ivanna.
"Van, boleh mobil Max aku bawa sebentar?" tanya Ben.
"Boleh. Untuk apa kak?" Ivanna memberikan kunci mobil Max pada Ben.
"Aku mau ngecek kamera dashboard mobil Max. Siapa tau ada bukti juga."
"Apakah perlu aku ikut?" tanya Natasha.
"Kamu disini aja, temani Vanna. Aku akan menemui temanku dan om Will dulu."
"Baiklah. Hati hati ya, beb."
"Pasti. Aku jalan dulu ya." pamit Ben.
"Kenapa kita ga kepikiran untuk cek kamera dashboard juga ya?" ucap Natasha.
"Aku bahkan tidak tau kalau Max memasang kamera di mobilnya kak." jawab Ivanna.
"Semoga saja ada titik terang dari kasus ini."
"Amin."
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
__ADS_1
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰