Because I Love You

Because I Love You
Jahil


__ADS_3

"Jangan gila deh." Redi terkekeh.


"Natsi ndak natsi?" tanya Balen cengar-cengir.


"Baen memang suka jahil." Ulan jelaskan pada Redi tutupi salah tingkahnya.


"Iya tahu." jawab Redi nyengir lebar.


"Ulan nanti kalau butuh info tentang Ledi tanya Baen aja." kata Balen angguk-anggukan kepala sambil senyum-senyum.


"Langsung tanya aku saja Ulan." kata Redi pada Ulan.


"Kalau sudah di jawab cross check ke Baen." kata Balen lagi.


"Ih, maksudnya apa?" Redi gemas sekali ingin mencubit kedua pipi Balen, tapi ingat ada pawangnya.


"Yah kan Baen mau tahu Ledi gombalin Ulan apa ndak." jawabnya sambil nikmati pempek.


"Kamu tadi merasa aku gombali, Ulan?" tanya Redi.


"Ndak kok Baen, tadi serius belajar dan mengajar." jawab Ulan.


"Bagaimana kesan-kesannya kenal sama Ledi Dei?" Balen bergaya reporter.


"Anda juga bagaimana kesan-kesannya kenal dengan Ulan?" tanyanya lagi pada Redi.


"Ada deh." jawab Redi julurkan lidahnya bikin semua tertawa sementara Balen monyongkan bibirnya.


"Kita mau keliling atau disini saja?" tanya Ulan kemudian.


"Nanti kita cari makan deh Ulan, dimana makanan enak disini?" jawab Daniel balik bertanya.


"Ada kok, tapi jalan kaki mau ya?" Ulan minta persetujuan.


"Ndak apa Ulan, kalau jalan mah Baen kuat."


"Ndak minta ojek kan?" Ulan tertawakan Balen.


"Ndak lah, Baen kan biasa olah raga. Mending olah raga terus makan deh daripada masak." Balen tertawa.


"Kamu bisa masak Ulan?" tanya Redi ingin tahu.


"Bisa." jawab Ulan disambut senyum lebar Redi.


"Hebat!" Redi masih tersenyum pandangi Ulan.


"Tapi Ulan ndak bisa olah raga." Ulan tertawa menutup mulutnya.


"Plus minus lah, bisa masak ndak bisa olah raga, bisa olah raga tapi ndak bisa masak." Balen membela diri.


"Cari pembenaran." Redi tertawakan Balen.


"Suamimu bisa semua tuh." tunjuk Redi pada Daniel.


"Iya dong, Aban Daniel Baen gitu loh." malah bangga sambil memeluk suaminya yang terkekeh dibuatnya.


"Bingung juga abangku kok mau sama kamu." Redi menggoda Balen.


"Ish Ledi Dei, kamu Baen tolak aja, kalau Baen mau, pasti mau juga kan?" Balen mendengus kesal.


"Mereka berdua kalau bertemu selalu ribut." Daniel jelaskan pada Ulan sambil mengelus punggung istrinya, tidak mau Balen teruskan keributan dengan Redi.

__ADS_1


"Ulan kamu sudah punya pacar?" tanya Redi pada Ulan, mau tahu juga.


"Cie mulai cari tahu." ledek Balen tertawakan Redi.


"Loh nanti kalau aku telepon ternyata ada pacarnya, bisa ribut kan." Redi beralibi.


"Ledi nanti kalau Ulan telepon ternyata ada pacarnya juga ndak?" pancing Balen naikkan alisnya.


"Bang, si Baen rusuh, ajak ke kamar kali." kata Redi sambil tertawa.


"Kalau dikamar bisa sampai besok kita tidak keluar, repot nanti." Daniel tertawa.


"Ulan jawab dong pertanyaan Ledi, nanti Ulan tanya balik." Balen ajarkan Ulan.


"Apa sih Baen." Ulan tersenyum malu-malu.


"Aku free." jawab Redi tanpa ditanya.


"Maksudnya?" Ulan tampak bingung.


"Tidak punya pacar jadi kamu kalau mau telepon aku anytime, kalau tidak diangkat biasanya lagi bekerja atau lagi setir kendaraan." Redi menjelaskan.


"Sama lagi tidur." sahut Balen sementara Daniel hanya menyimak saja sambil mainkan rambut Balen yang duduk disebelahnya.


"Oh iya." Ulan anggukan kepalanya sambil tertawa.


"Nah kalau aku yang hubungi kamu bagaimana? apa ada yang marah?" tanya Redi.


"Ndak ada." jawab Ulan.


"Berarti tidak punya pacar atau pacar kamu bebaskan kamu untuk berteman dengan siapapun?" tanya Redi.


"Ulan ndak boleh pacaran sama Masanta." jawab Ulan jujur.


"Oke." jawab Redi tersenyum, yang penting tahu dulu kalau Ulan belum punya pacar, jadi enak kan kalau pedekate, perlu minta restu lagi sama Bang Nanta kalau begini, pikir Redi.


"Mau cari makan siang sekarang?" tanya Ulan pada semuanya.


"Baen masih kenyang." jawab Balen.


"Ya iyalah, pempek yang kamu goreng, kamu makan sendiri." Redi mencibir.


"Tadi kan pada ndak mau, kalau ndak ada yang makan Baen habiskan aja. Kalau dingin itu ndak enak nanti." Balen membela diri, Danien dan Redi kembali tertawa.


"Kita keluar yuk sayang." ajak Daniel pada Balen.


"Berapa kilo dari sini restaurantnya?" tanya Daniel kemudian.


"Ndak sampai dua kilo sih Bang. Jalan kaki sekitar setengah jam dari sini." kata Ulan lagi.


"Lumayan loh jalan kaki setengah jam, pulang pergi satu jam." kata Balen pada Daniel.


"Tidak apa, ayo." ajak Daniel semangat.


"Duh Baen ngantuk lagi." ada saja alasannya kalau sudah mager.


"Tuan putriku mengantuk rupanya, kalian saja yang jalan, bungkus saja untuk kami bagaimana?" Daniel minta pendapat Ulan dan Redi.


"Baen beneran ndak mau ikut?" tanya Ulan.


"Boleh ndak ikut ya Ulan? boleh kan?" bujuki Ulan.

__ADS_1


"Iya boleh, Abang Daniel sama Baen tiduran saja di kamar tamu." kata Ulan tunjuki kamar tamu.


"Kebanyakan makan ya jadi mengantuk?" Daniel menggoda Balen yang mencubit pinggangnya. Bagaimana tidak mengantuk kalau semalam dibikin kurang tidur oleh suaminya.


"Mau makan apa?" tanya Ulan pada Balen dan Daniel.


"Bebas lah, Redi tahu menu kami kok." jawab Daniel.


"Iya Ulan tenang aja, masuk restaurant mana juga Ledi tahu kita bisa dibungkusi makanan apa, sudah hapal dia." kata Balen banggakan Redi.


"Oke, ayo Bang." Ulan mengajak Redi.


"Baen bobo, kami pergi perkiraan satu setengah jam ya, apa Bang Daniel kuat tahan lapar?" tanya Ulan sedikit khawatir.


"Nanti dia makan Baen saja, pasti kuat." sahut Redi tertawa.


"Ih, Ledi kaya yang ngerti aja." Balen mencibir.


"Hahaha..." Redi terbahak tinggalkan Balen dan Daniel berdua.


"Ledi gawat tuh." Balen gelengkan kepalanya.


"Dia sudah dewasa." jawab Daniel tertawa, memeluk Balen.


"Kamu beneran mengantuk?" tanya Daniel pada istrinya.


"Ndak, pura-pura aja biar mereka bisa ngobrol berdua lebih banyak." jawab Balen pandangi suaminya cengengesan.


"Trus kita ngapain?" tanya Daniel menyeringai.


"Iya ngapain dong Aban?" malah balik bertanya.


"Pinjam kamar Ulan, bikin anak, siapa tahu sampai Ohio langsung positif?" senyum-senyum pandangi Balen.


"Baen ndak bawa koper Aban, hairdryer disini ndak ada." butuh persiapan ternyata.


"Ya sudah tidur saja kalau begitu." Daniel mengajak Balen ke kamar yang ditunjuk Ulan.


"Aban, masa kita dikamar aja ya. Kalau tahu mending ikutan mereka tadi." sedikit menyesal rupanya.


"Baen mau keluar? kita jalan saja berdua." Daniel tawarkan istrinya.


"Malas juga Baennya. Kiss aja deh Aban." monyongkan bibirnya minta dicium, Daniel terbahak lalu mulai mengecup bibir Balen.


"Lagi Aban." minta lagi dengan manja, kembali Daniel tersenyum lalu ******* bibir Balen dengan lembut dan berlangsung lama, tangan mulai bergerilya. Balen nikmati semua yang dilakukan suaminya.


"Ndak bisa bikin anak ya." desahnya sambil memeluk Daniel erat.


"Mau kembali Ke hotel?" bisik Daniel hentikan aktifitasnya.


"Nanti kita dicariin." jawab Balen tertawa dengan mata sayu.


"Aban, ndak usah keramas boleh ndak?" tanyanya polos.


"Tidak boleh sayang, nanti bagaimana mau sholat." jawab Daniel.


"Aban sih..."


"Kenapa Abang?"


"Pancing-pancing Baen." salahkan Daniel yang terbahak mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu yang minta di kiss tadi." jawab Daniel mengetuk dahi istrinya pelan.


"Kiss lagi dong Aban." Hahaha malah minta lagi.


__ADS_2