
"Ayo sarapan." ajak Daniel setelah menutup telepon dari Papanya.
"Kita berdua aja ya?" tanya Balen.
"Iya, yang lain mungkin masih tidur, Abang tidak mau ganggu." jawab Daniel merangkul bahu istrinya, mereka pun keluar kamar menuju restaurant.
"Aban, Baen mau berenang air hangat deh." kata Balen pada suaminya.
"Nanti kita cari kolam yang ada air hangatnya." jawab Daniel.
"Disini ndak ada ya?" tanya Balen.
"Nanti kita tanyakan, mau cari rambutan dulu apa berenang?" Daniel balik bertanya.
"Setelah sarapan cari rambutan lalu berenang." jawab Balen nyengir.
"Oke, sekarang fokus makan dulu." Daniel persilahkan istrinya duduk saat mereka sudah masuki restaurant.
"Mau apa?" tanya Daniel, sudah pasti bukan buah lagi karena Balen sudah makan buah saat di kamar tadi.
"Apa ya, Baen bingung kalau disini." Balen kerutkan keningnya.
"Buah aja Aban sama salad." jawab Balen akhirnya.
"Sup rumput laut saja ya?" Daniel menawarkan.
"Iya yang banyak ambilnya." Daniel tertawa sambil anggukan kepalanya.
Balen duduk manis sambil lihat kanan Kiri, belum ada rombongannya yang muncul, mereka nikmati saat-saat dikamar rupanya. Sampai akhirnya handphone Balen berdering, tampak Ulan yang hubungi Balen.
"Sarapan yuk Baen." ajak Ulan saat Balen angkat teleponnya.
"Ini Baen sudah di restaurant." jawab Balen terkekeh.
"Ndak ajak Ulan ih." protes karena tidak diajak.
"Ulan kan pulang malam, Baen pikir masih ngantuk." jawab Balen.
"Memang ngantuk sih, tapi lapar sudah saatnya makan." jawab Ulan tertawa.
"Sini Baen tunggu."
"Iya, ini sudah di lift." jawab Ulan, Balen anggukan kepalanya walaupun Ulan tidak melihatnya.
Tidak berapa lama muncul Ulan dan Redi sambil cengengesan, wajah mengantuk terlihat jelas diwajah mereka.
"Ndak tidur ya?" tanya Balen pada Redi sambil memicingkan matanya.
"Tidur sebentar." jawab Redi nyengir.
"Pulang malam sih." dengus Balen seperti ibu-ibu yang kesal karena anaknya terlambat pulang.
"Mumpung disini, kita di street food sampai jam dua Baen, tidak terasa masih ramai saja." Redi ceritakan pada Balen.
"Lihat fotonya dong Baen, di medsos Kia." kata Ulan.
"Malas ah, ndak ada Baen." jawabnya bikin Ulan terkikik geli.
__ADS_1
"Sana Ledi ambil sarapan, Aban Daniel lagi keliling." Balen tunjuk Daniel yang sedang memilih menu.
"Kamu mau apa dek?" tanya Redi pada Ulan.
"Ulan ambil sendiri deh." jawab Ulan letakkan tas slempangnya dimeja, "Titip ya Baen." katanya pada Balen.
"Iya." Balen anggukan kepalanya. Kembali sendiri duduk manis sambil menunggu menu yang dibawakan Daniel, entah kenapa Daniel lama juga ambilkan makanannya, mungkin rumput laut ya dipilah-pilah, pikir Balen sambil tertawa sendiri bayangkan suaminya memilih rumput laut satu persatu, tentu saja itu hanya hayalan Balen.
"Ketawa sendiri ih, Ante." Kia yang sudah duduk di depan Balen bergidik ngeri.
"Eh kapan datang? ndak ngantuk?" tanya Balen yang tidak melihat saat Kia datang.
"Kia dari tadi duduk disana tahu, sama Om Daniel disuruh pindah temani Ante." jawab Kia tunjuk Daniel yang sedang bicara dengan Lucky dan Redi.
"Pantas aja lama." Balen terkekeh, untungnya belum begitu lapar karena tadi sudah di isi buah lebih dulu lambungnya.
"Kia, habis dari Jeju, Ante langsung ke California." lapor Balen pada Kia.
"Iya, tadi Om Daniel lagi bahas sama Om Redi dan Om Lucky." jawab Kia yang ternyata sudah tahu.
"Ih pantas aja lama, ngobrol dulu." ulang Balen karena ketiganya belum juga datangi meja mereka.
"Kia masih bingung nih Ante, jadi kuliah di Ohio apa di Jakarta." Kia mulai curhat.
"Ndak dikasih pindah ya?" tanya Balen.
"Papa bilang kan Kia sudah menikah, kemarin mau ke Ohio karena pikir Om Lucky menikah sama orang lain."
"Tuh kan betul, Kia cuma mau jauhi Aban Lucky waktu itu." Balen terkekeh.
"Tapi Ban Lemon kan malah tawarkan Kia supaya kuliah di Jakarta, jadi ndak masalah sih." jawab Balen santai.
"Ante tidak jadi Kia temani dong."
"Ndak apa, setelah lulus kan harus segera ke Jakarta, Baen harus urus hotel tahu, ndak boleh sama Ban Lemon kasih ke orang. Baen harus tanggung jawab jangan cuma minta aja kata Aban kemarin." Balen menghela nafas.
"Kia nanti bantu Ante deh di hotel, mau ndak?" tanya Balen.
"Boleh." Kia anggukan kepalanya.
"Beneran ya?" Balen langsung semangat.
"Iya." Kia menganggukkan kepalanya yakin.
"Kalau begitu selama Baen di Ohio, Kia mulai belajar aja." kata Balen.
"Gitu?"
"Iya lah biar bisa langsung jadi Bos, bukan cuma staff." jawab Balen nyengir.
"Dasar Ante, Kia tanya Om Lucky dulu tapi." kata Kia baru sadar sudah punya suami.
"Kok Om sih?" Balen kernyitkan keningnya.
"Kalau dekat ay ay, kalau jauh Om." jawab Kia terbahak.
"Dasar, jangan panggil Om lah."
__ADS_1
"Masa bahas sama Ante bilangnya ay ay juga." Kia langsung terbahak.
"Kia panggil Mas aja."
"Idih Ante." Kia kembali terbahak.
"Kaya Baen aja panggil Aban." kembali memberi saran.
"Ih Ante, Kia masih risih deh." jawab Kia jujur.
"Tapi peluk-pelukan ndak risih." dengus Balen bikin Kia merah merona, mereka tertawa bersama.
"Kia nanti Baen Kirim gaya-gaya yang dari ibu-ibu di group Baen ya." katanya pada Kia.
"Apa sih Ante..." Kia kembali tertawa malu.
"Ih Mama Amelia Baen kasih gaya itu juga tahu waktu mereka ke Ohio. Gaya yang paling populer gaya miring-miring." bisiknya sambil tertawa geli melihat Kia yang menutup telinganya karena tidak mau mendengar ocehan Balen.
"Istri gue diapain Baen?" tanya Lucky sambil letakkan Baki di meja.
"Baen ajarin biar Aban senang." jawab Balen santai.
"Itu sampai malu lu bikin." Lucky gelengkan kepalanya.
"Mana suami Baen sih?" tanya Balen karena Daniel belum datang juga.
"Lagi nunggu sup, dia minta di panasin ulang, padahal sudah panas." Lucky terkekeh. Tak lama Daniel datang dengan senyum manisnya.
"Aban kok lama?" tanya Balen.
"Semua yang kamu minta Abang minta yang fresh." jawab Daniel nyengir.
"Memangnya yang di meja ndak fresh?" tanya Balen.
"Kurang yakin saja, kan baby kita ikut makan." jawab Daniel bikin Balen nyengir.
"Nanti kita mau cari rambutan, kalian mau ikut?" tanya Daniel pada Lucky dan Kia.
"Buset, cari rambutan disini." Lucky tertawa.
"Gue ngidam rambutan." jawab Daniel garuk kepala yang tidak gatal.
"Tidak usah keliling, gue minta teman gue yang cari deh." kata Lucky.
"Kalau tidak ada rambutan, mangga juga boleh." kata Daniel, Lucky tertawa dan anggukan kepalanya.
"Tidak sekalian minta kesemek sama kecapi, Bang?" Lucky menggoda Daniel.
"Hahaha rese, yang dua itu saja susah kan?" kata Daniel terbahak.
"Kalau tidak ada bagaimana?" tanya Kia.
"Terpaksa menunggu paket dari Jakarta." jawab Daniel tertawa.
"Nanti gue Kirim sekapal." jawab Lucky.
"Ya tidak usah sebanyak itu juga Lucky Luck." Daniel terbahak sambil menoyor kepala Lucky.
__ADS_1