
"Kamu tuh abis dapat hadiah renang harusnya traktir loh." protes Balen pada Aca.
"Aku mau ganti handphone Ante, uangnya masih kurang, jadi tidak bisa traktir. Nanti kalau aku sudah jadi juragan jengkol seperti Om Daniel aku traktir deh." jawab Aca bikin Daniel tertawa.
"Handphone kamu kenapa?" tanya Daniel pada Aca.
"Old fashion Om, mestinya handphonenya Om tuh buat aku." tunjuk iphone keluaran terbaru milik Daniel.
"Ini mesti kamu otak-atik kalau mau di pakai disini." jawab Daniel terkekeh.
"Tidak masalah sih." jawab Aca mulai negosiasi.
"Nanti ya Om pikir-pikir dulu." jawab Daniel terkekeh.
"Om..." langsung menggandeng Daniel.
"Apa sih?" Daniel jual mahal.
"Buat aku ya handphonenya." tidak mau lepaskan gandengan tangannya pada Daniel.
"Nanti Om pakai apa?" Daniel menoyor kepala Aca.
"Pakai handphone aku dulu." membujuk Daniel dengan manisnya.
"Nomor ini tidak bisa dipakai, harusnya Om beli dulu yang baru sebelum kesini, baru bisa kasih kamu yang lama." jawab Daniel pikirkan kliennya pasti kesulitan hubungi Daniel nantinya.
"Om paketin dari sana, aku tunggu?" langsung berharap.
"Beyin juga mau kalau Aca dikasih." mulai ada yang iri.
"Kia juga Om..." hahaha Daniel langsung sakit kepala, semua minta belikan iphone model terbaru.
"Kalian kira murah, mahal tahu." Balen langsung saja protes.
"Disana kan murah Ante." kata Kia pada Balen.
"Iya nanti saja dikirim dari sana." jawab Balen supaya tidak pada rusuh.
"Beneran?" langsung Aca melonjak senang.
"Duh, mana bisa belikan kalian saja kalau begini caranya. Nanti saja kalau ada yang ulang tahun dikirimi. Kalau belikan sekalian kan mahal." Balen protes berat, pikirkan anaknya yang minta dibelikan Iphone terbaru.
"Ya ampun Ante, Om Daniel uangnya ndak pakai seri kata Ayah." Belin langsung saja buka suara.
"Beneran Aban?" tanya Balen pada Daniel, matanya langsung berbinar-binar.
"Leyi bercanda, dia tuh yang tidak berseri uangnya." jawab Daniel tertawa melihat ekspresi istrinya.
"Ya kalau begitu nanti Ante bilang Ayah Leyi supaya belikan kalian semua handphone." jawab Balen tertawa senang. Biar saja Aban Leyi yang belikan jangan suaminya.
"Rasanya beda kalau Om yang belikan, tidak setahun sekali juga ish." gerutu Belin.
__ADS_1
"Sama saja mau Om atau Ayahmu yang belikan, Iphone juga kan." Daniel tertawa.
"Beyin baru bulan lalu dibelikan Ayah handphone Om, pasti Ayah ndak mau belikan." Belin pasang wajah sedih.
"Sudah punya handphone baru masih iri sama aku." kata Aca menoyor kepala Belin.
"Aca, kita kan saudara harus sama-sama senang dong." Kia membela Belin.
"Om jangan pikirkan mereka, pikirkan aku saja." kembali merangkul Daniel.
"Ish kalian ini, ada berapa orang yang harus Om belikan handphone sih?" tanya Daniel pada Aca.
"Hanya handphone yang benar-benar tidak layak dan harus diganti yang Om belikan, kalau masih bagus jangan harap." kata Daniel lagi.
"Aku aja Om kalau begitu, yang lain handphonenya masih pada Bagus." kata Aca tertawa senang.
"Ih curang Aca." Kia tidak terima.
"Kasih lihat handphone kamu sama Om Daniel coba." tantang Aca pada Kia.
"Tapi bukan iphone." sungut Kia.
"Ya sudah nanti Aca Om belikan handphone yang seperti kalian." kata Daniel pada Kia dan Belin.
"Om, aah jangan Om, mereka yang model perempuan gitu, ayo lah Om." merengek pada Daniel.
"Beneran kata Ayah Leyi, kalian ini pemerasan." Daniel tertawa jadinya.
"Janji ya Om, pokoknya janji loh." kata Aca lagi.
"Ih, kok kamu yang atur."
"Tadi kan Aca bilang ndak bisa traktir karena uangnya mau beli handphone." kata Belin lagi.
"Iya-iya nanti uangnya aku kasih Om Daniel, tapi Iphone loh Om, seperti punya Om." bujuk Aca lagi, Daniel kembali menoyor kepala Aca sambil tertawa.
"Oke silahkan pergi kasihan yang lain menunggu " kata Daniel pada Aca, Kia dan Belin. Setelahnya mereka benar-benar pergi sarapan beramai-ramai, sementara Balen dan Daniel berjalan berdua sekitaran hotel sambil berburu buah seperti yang Balen mau.
"Aban, disini ada food street ndak ya?" tanya Balen.
"Pasti ada." jawab Daniel yakin.
"Toko buah ada ndak, biasanya ada bangku jadi kita bisa makan buah sambil duduk santai." kata Balen pada suaminya.
"Ada, sabar ya, ada di gang sebelah, lumayan agak jauh dari sini, kamu kuat kan?"
"Kuat lah Aban." jawab Balen.
"Daaa Ante..." teriak rombongan anak-anak yang lewati Balen dan Daniel, rupanya lebih cepat Balen dan Daniel keluar hotel dibandingkan mereka.
"Daaaa..." balas Balen ikutan rusuh. Untung saja Daniel sudah hapal dan terima kelakuan Balen dan anak-anak nya.
__ADS_1
Setelahnya setelah berjalan jauh tidak ada food street ataupun toko buah, yang ada malah pasar traditional.
"Beli buah di pasar saja?" tanya Daniel pada Balen.
"Makannya dimana Aban?" tanya Balen bingung.
"Di lapangan nanti." Daniel terkekeh.
Jus akhirnya mereka temukan di minimarket ada Abang jus yang mangkal disana.
"Itu bukan Jus murni, Aban." protes Balen pada suaminya.
"Jadi bagaimana? minta bikinkan yang murni saja." kata Daniel pada Balen.
"Iya."
"Bang bikinkan jus murni ya, jangan pakai es, gula dan susu. Airnya dikit saja, banyakin buahnya." Daniel pesankan untuk istrinya.
"Mana enak kalau tidak pakai es, gula dan susu Pak." protes si Abang pada Daniel.
"Bikin kan saja, nanti saya bayar sesuai buah yang kamu pakai. Banyakin buahnya supaya Manis."
"Biasanya saya pakai air Pak."
"Iya pakai sedikit saja airnya." Duh si Abang merasa lebih pintar jadi protes saja ketika adonan jusnya di otak-atik sama pembeli.
"Kalau tidak enak jangan protes loh ya." kata si Abang lagi.
"Enak kalau kamu ikuti yang kita mau loh." kata Balen pada Si Abang, gemes juga si Abang jawab terus bukannya ikuti kemauan pembeli. Akhirnya si Abang penjual ikuti maunya Daniel dan Balen bikinkan dua gelas jus sesuai keinginan mereka.
"Ini ya." Daniel berikan selembar yang merah pada Abangnya.
"Masih pagi belum ada kembalikan Mas, Pakai uang pas saja." katanya pada Daniel.
"Ambil saja." jawab Daniel segera ajak Balen kembali Ke hotel,.lumayan jauh mereka berjalan pagi ini.
"Capek?" tanya Daniel saat lihat keringat Balen mengucur.
"Ndak." jawab Balen tersenyum pandangi suaminya.
"Cukup jusnya?"
"Cukup, ini masih ada jeruk sama manggis." Balen tunjukkan buah yang tadi dibelinya di pasar.
"Nanti mau main berdua apa sendiri?" tanya Daniel pada Balen.
"Pada mau ndak ya, main Ganda?" Balen langsung pikirkan coklat hadiah itu.
"Mau tambah saja coklatnya." jawab Daniel tertawa.
"Aban tuh tahu terus apa yang Baen pikir sih?" langsung menepuk bahus Daniel.
__ADS_1
"Abang sudah amati kamu dari kamu nomonna ndak ancal." kata Daniel menggoda Balen sambil tertawa.
"Aah Aban, Baen kan malu." teriaknya bikin Daniel merangkul Balen sambil tertawa geli, mau sendiri atau ramai-ramai tetap saja rusuh, dasar Balen .