Because I Love You

Because I Love You
Heli


__ADS_3

"Baiklah, sesuai pembicaraan kita tadi, Maka Papa dan Om Bagus setuju jika pernikahan kamu dan Ulan dilaksanakan dalam waktu dekat, sebelum kamu pindah ke Kyoto, Redi." kata Papa James pada Redi.


"Eh..." Redi kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jujur Redi senang tapi ia pikirkan Ulan yang masih mau selesaikan kuliahnya. Redi tidak masalah jika harus menunggu dua tahun lagi.


"Apa Eh? tidak setuju?" tanya Mama Amelia.


"Bukan begitu, Ulan kan masih mau selesaikan kuliahnya. Redi tidak mau mengganggu konsentrasi Ulan." jawab Redi.


"Kalau begitu kamu tidak usah pindah ke Kyoto, tunda dulu saja kepindahanmu sampai Ulan selesai kuliah." tegas Papa James.


"Ya, saya keberatan kalau kamu ada disekitaran Ulan, Redi. Saya hanya khawatirkan anak gadis saya khilaf." Bagus ikut bersuara.


"Papa ndak percaya Ulan." sungut Ulan.


"Percaya sayang, tapi Papa khawatir, karena kamu sendiri disana." Bagus tersenyum pada Ulan.


"Menikah saja seminggu setelah Ichie." celutuk Nanta.


"Nah Mama setuju itu." jawab Mama Amelia.


"Mama..." Redi sedikit keberatan, ia tidak mau Ulan menikah karena terpaksa.


"Iya atau tidak sama sekali." ancam Mama Amelia.


"Oh my god, ya sudah pasti iya kalau diancam begitu." jawab Redi spontan, semua tertawa dibuatnya.


"Oke dek, kamu ikut saja arahan orang tua, dijamin tidak menyesal." bisik Nanta pada adiknya.


"Masanta, Ulan takut." bisiknya.


"Takut sama Redi?" tanya Nanta, Ulan gelengkan kepalanya.


"Takut menikah muda, nanti seperti Papon dan Mama, gagal." bisiknya.


"Ck, itu sih jadikan pelajaran saja, diambil positifnya dek, sekarang sudah seperti saudara kan? semua juga tidak mau alami itu, tapi namanya juga jalan hidup, berdoa saja dek." Nanta tertawa merangkul adiknya. Ternyata perceraian Mama Ai dan Papa Kenan bikin Ulan takut menikah muda.


"Harusnya yang trauma itu Masanta, bukan kamu, buktinya Masanta sama Tania baik-baik saja kan? tidak alami seperti Papa dan Mama." Nanta mengacak anak rambut adiknya.


"Ulan bersiap Nak, Minggu depan kalian menikah." kata Bagus pada Ulan.


"Papa..."


"Bagaimana?" tanya Bagus pada Ulan.


"Eyang?" tanya Ulan pada Papanya.


"Nanti Mama hubungi via telepon, setelah urusan kita beres." jawab Tari tersenyum.


"Kalau tidak lolos via telepon, setelah Ichie menikah kami langsung ke Malang saja." kata Mama Amelia semangat ingin melancarkan pernikahan anak bungsunya.


"Tenang, asal tidak lihat wajah Mas Kenan sih orang tuaku tidak rewel." kata Tari sambil tertawa.


"Masih saja dendam sama saya." Kenan terkekeh mendengarnya.


"Patah hati sepertinya." sahut Bagus tertawa.


"Pesona Mas Kenan luar biasa, sampai sekarang masih saja geram kalau ingat Mas Kenan." kata Tari ingat Ayah dan Ibunya.


"Sudah ada Bagus padahal." Kenan gelengkan kepalanya.


"Sudah ada Ulan dan Krisna malah." sahut Bagus tertawa ikut gelengkan kepalanya.


"Tambah emosi karena Nanta tidak pernah mau datangi Eyang sih." Tari menunjuk sulungnya.

__ADS_1


"Waduh, aku ya?" Nanta meringis.


"Nanti lah Ma, aku ikut ke Malang bertemu Eyang." kata Nanta akhirnya, kasihan juga sudah berapa puluh tahun Nanta tidak datangi Eyangnya.


"Nanti saat Mama videocall Eyang, kamu muncul saja, sama Bima dan Aca juga." Tari memberi ide.


"Videocall saja sekarang." kata Kenan.


"Saya juga mau bicara sama orangtua kamu Tari, sudah tua nih saya harus minta maaf lagi deh sama Ayah dan Ibu kamu, tidak mau punya musuh saya."


"Nanti ya kalau urusan Ulan sudah beres." Tari terkekeh.


"Kalau orangtua kamu masih begitu, sebaiknya saya tidak hadir di pernikahan Ulan, tidak apa ya Ulan, yang penting doa Papon dan Mamon selalu mengalir untuk kamu dan Redi." kata Kenan pada Ulan yang langsung berkaca-kaca.


"Tapi Ulan maunya Papon sama Mamon hadir." rengek Ulan yang sudah pasrah dipaksa menikah dalam waktu dekat.


"In Syaa Allah sayang, kita upayakan." jawab Kenan tersenyum.


"Pernikahan dilaksanakan di Malang, tidak apa toh Mbak?" tanya Tari pada Mama Amelia.


"Tidak masalah Tari, yang penting cepat halal saja mereka." jawab Mama Amelia.


"Ndak pesta ya?" tanya Balen.


"Kamu juga tidak kan." Mama Tari tertawa.


"Iya sih, bikin pengumuman di medsos juga seantero jagat raya tahu kalau kita sudah menikah ya, Ban." kata Balen pada suaminya.


"Hu uh." Daniel anggukan kepalanya.


"Redi bagaimana Redi, ada yang mau disampaikan?" tanya Bagus pada Redi.


"Terima kasih sama Om dan Tante karena mau menerima aku sebagai calon menantu." kata Redi terkekeh.


"Eyang di mana sih Tante? Biar Redi sowan ke Eyang sekarang juga."


"Malang." jawab Tari.


"Nanti malam aku ke Malang deh, besok kalau urusan sudah beres, aku langsung kembali Ke Jakarta." kata Redi pada semuanya.


"Tidak capek kamu Red? belum sempat istirahat sudah harus ke Malang lagi." tanya Mama Amelia.


"Ini kan karena Mama dan Papa maunya aku menikah dalam waktu dekat, jadi aku harus gerak cepat." Redi tersenyum.


"Maunya kamu begitu bukan, wajahmu saja terlihat senang?" tanya Papa James menggoda anaknya.


"Bukan senang lagi." jawab Redi senyum lebar.


"Kamu senang tidak Ulan?" sekarang Papa James yang tanya Ulan.


"Ah... Iya." jawab Ulan agak kurang bersemangat.


"Abang, Ulan ikut ke Malang ya bertemu Eyang?" Ulan tawarkan diri untuk ikut.


"Bagaimana, Om?" Redi minta pendapat Bagus, mau ajak Ulan harus ijin Papa dan Mamanya dong.


"Ulan di Jakarta saja dulu sama Papa, biar saja Redi bujuk Eyang sendiri, kita lihat bagaimana usaha Redi." jawab Bagus dengan wajah jahil.


"Abang temani ya Pa?" Nanta minta ijin sama Kenan.


"Lihat muka kamu Eyang emosi tidak?" tanya Kenan terkekeh.


"Eyang kangen sama Nanta sebenarnya, hanya saja aku yang emosi kalau Eyang rewel bahas Papa berulang-ulang." sungut Nanta.

__ADS_1


"Dengarkan saja, namanya saja orangtua. Kamu tinggal bilang iya saja, apa susahnya." kata Nona pada Nanta.


"Iya sih hehehe, kan dulu aku masih abege Mamon, jadi begitu deh." Nanta terkekeh.


"Sekarang sudah tua toh, sebentar lagi juga punya menantu kamu." kata Bagus pada Nanta.


"Mapan dulu lah, Bima sama Aca ini masih senang main-main, kasihan anak orang mau dikasih makan apa kalau mereka masih senang main." kata Nanta pandangi kedua bocahnya.


"Aku seperti Papon lah Panta, nanti juga sukses. Iya kan Papon." langsung saja minta suaka Opanya.


"Iya dong keturunan siapa?" tanya Kenan terkekeh.


"Cucunya Kenan gitu loh." jawab mereka berbarengan.


"Dasar kalau ada Opanya langsung begitu. Kalian bukan cuma cucu Kenan loh!" Tari langsung saja protes.


"Iya Oma Ai, cucunya Micko juga." jawab Bima terkekeh.


"Eh cuma Micko sama Kenan ya?" Tari langsung pasang wajah galak.


"Cucunya Oma Ai sama Opa Bagus jugaaaa, Mamon jugaaaa, Opa James jugaaa, Oma Amel jugaaaa." sahut Aca konyol, semua tertawa lihat calon artis senangkan hati para Opa dan Oma.


"Kalian ikut ke Malang ya, bantu Om Redi." kata Nanta yang tahu Bima selalu ada saja akalnya untuk cairkan suasana.


"Siap, Om Redi let's go." langsung berdiri bersiap untuk pergi.


"Main let's go saja." Redi tertawa.


"Iya, pesan tiket dulu lah." Nanta ikut tertawa.


"Hari gini pesan tiket, pesan heli lah Panta, masa kalah sama Om Lucky sih."


"Keluar deh gayanya Micko." kata Kenan tertawa lihat cucunya.


"Ayo Panta, aku sudah hubungi Opa Micko bilang kita butuh Heli untuk ke Malang secepatnya." kata Aca pada Nanta, ia ikut berdiri.


"Mana bisa ke Malang sore begini, Hela heli saja, kalau terbang Malam belum ada ijinnya." Kenan beritahukan cucunya.


"Besok pagi saja kalian berangkat, Redi butuh energi khusus hadapi Eyang." tegas Kenan pada Redi dan Nanta.


"Aca kamu besok ada urusan, jangan lupa." Ichie ingatkan Aca yang sudah teken kontrak.


"Duh aku juga ya Om?" Bima ingat janjinya bereskan urusan Richie.


"Kamu bantu Om Redi, Nanti biar Shaka, Billian dan Bari yang lanjutkan urusan Om." kata Richie berkoordinasi.


"Ndak jadi naik heli deh my artist." Balen tertawakan Aca yang sudah usaha keras bujuk Opa Micko pesankan Heli untuk ke Malang, malam ini juga.


"Opa Micko sudah siapkan heli untuk besok seharian, Ok Bima selamat senangkan hati Eyang." kata Kenan setelah membaca pesan dari Micko dihandphonenya.


"Kita butuh Heli juga kan Om, biar tidak kena macet?" tanya Aca pada Richie.


"Jangan banyak gaya Aca, honormu tidak bisa buat bayar Heli." kata Richie bikin Bima tambah penasaran saja.


"Honor apa sih?" tanya Bima.


"Kasih tahu ndak ya?" Balen terkekeh.


"Tuh kan Panta..." langsung saja Aca kembali salahkan Nanta yang ijinkan Richie setujui kontrak Video clip kemarin itu.


"Demi Om kamu sayang." Dania ingatkan Aca.


"Tapi jangan di bully." rengeknya semua langsung tertawa melihat Aca yang keluar gaya bocahnya.

__ADS_1


__ADS_2