
"Baen, yang ini tidak harus dirahasiakan, Mamon cuma ingin pastikan kamu hamil apa tidak, karena Mamon lihat badan kamu sedikit berubah." Nona jelaskan pada Balen. Tapi bagaimana mungkin Balen beritahukan kalau aktifitas ia dan Daniel nonstop.
"Mamon kalau mau tahu Baen hamil, nanti Baen beli aja alatnya. Ada kok yang jual." jawab Balen enggan beritahukan urusan ML sama Mamon dan yang lainnya.
"Sepertinya dia belum datang bulan sejak datang ke Jakarta kemarin." kata Nona simpulkan pada Mama Amelia dan Bunda Kiki.
"Mama bawa kok alatnya, Baen cek besok pagi ya." Mama Amelia tidak sabar ingin dapatkan cucu dari Daniel.
"Kalau Baen ndak hamil jangan marah ya." katanya takut dimarahi karena belum hamil, Mama Amelia terbahak dibuatnya.
"Masa marah, itu kan Allah yang menentukan." kata Mama Amel mengelus bahu Balen. Nona dan Kiki tersenyum pandangi Balen dan Mama Amelia.
"Mama kita mau makan diluar atau Daniel pesan saja?" Daniel tanyakan pada Mama Amelia ketika tanyakan pada Papa dan yang lainnya, mereka serahkan pada para wanita.
"Makan dirumah saja tidak usah beli, kita bawa lauk banyak." kata Mama Amelia pada Daniel.
"Ada masakan juga sih, Auntie Khiel bikin steak." kata Balen pada Mama Amelia.
"Bosan ah makan daging terus, ini Mamon bawakan Teri cabe hijau loh sama orek tempe. Dikulkas ada sayuran apa? tinggal kita rebus karena Mamon juga bawa bumbu pecel." kata Nona semangat mulai bongkar koper khusus makanan.
"Aban... dikulkas ada sayur apa sih? Baen ndak tahu namanya." tanya pada suaminya, pengalaman Balen di dapur baru sebatas memasak omelet ilmu tertingginya. Sayur yang bentuknya sama Dan berwarna hijau kalau tidak ada namanya, Balen tidak akan tahu.
"Ada tomat, timun, brokoli, pakcoy, kubis. Jagung, kacang polong dan wortel." jawab Daniel sebutkan stock sayur yang dibelinya berapa hari lalu.
"Iya sayuran itu pakai bumbu steak yang dibuat Auntie Khiel enak deh Mamon." Balen langsung promosi.
"Tidak cocok dong dengan teri cabe hijau kita." kata Nona.
"Mamon selain daging ada steak ikan juga kok." kata Daniel pada Nona. Tadi pagi ia sudah minta Auntie Khiel untuk bikin dua jenis steak, Ikan dan Daging.
"Keluarkan saja Non, apa saja yang bisa dimakan." kata Kenan pada Nona.
"Kita makan steak Ikan saja deh." Papon, Ayah Eja dan Papa akhirnya memutuskan.
"Pakai nasi Pa?" tanya Daniel.
"Ya, Papa harus pakai nasi." jawab Papa James, khas Indonesia sekali seleranya.
"Papon sayur saja." jawab Kenan.
"Ayah juga sayur dan kentang." jawab Ayah Eja. Daniel anggukan kepalanya dan segera bangkit siapkan apa saja yang di mau oleh para senior.
"Baen, bantu suamimu." tegur Nona pada Balen yang hanya bengong pandangi suaminya.
"Tidak usah Mamon." langsung Daniel menolak.
"Semua sudah siap kok tinggal panaskan di microwave." jawab Daniel buka kulkas dan masukan kotak makanan ke microwave.
"Kamu harus biasakan Balen yang kerjakan di dapur, Daniel. Kapan pintarnya Balen kalau semua kamu yang urus." kata Nona pada Daniel.
__ADS_1
"Baen ada bagiannya kok Mamon. Dia paling pintar bersihkan rumah." jawab Daniel tersenyum.
"Panaskan makanan di microwave juga pasti bisa." Nona delikkan matanya pada Balen.
"Bisa kok, tapi Aban ndak kasih." jawab Balen jujur.
"Biar saja, Daniel yang mau begitu." kata Mama Amelia santai, tidak masalah mau siapa yang menyiapkan.
"Mamon, Mama dan Bunda di kulkas ada minuman sehat loh Baen bikin." kata Balen pamer.
"Apa?" tanya Mama Amelia.
"Bir pletok, Baen sudah bisa bikin." jawabnya bangga langsung menuju kulkas keluarkan minuman yang sudah dikemasnya di botol.
"Siapa yang ajari?" tanya Nona tersenyum.
"Group Ibu-ibu disini." kata Balen.
"Kamu ikut group Ibu-ibu?" Bunda Kiki terbahak.
"Iya, mereka suka kasih berbagai macam ilmu." jawab Balen.
"Ini ilmu yang kamu dapat ya." Mama Amelia tersenyum saat Balen serahkan botol bir pletok.
"Iya." Balen tersenyum bangga.
"Kok Bunda tahu?" tanya Balen heran.
"Iya begitu deh." Bunda Kiki mengedikkan bahunya.
"Ilmu apa yang Baen dapat urusan ranjang?" tanya Nona ingin tahu.
"Nanti Baen forward aja deh, banyak soalnya." kata Balen langsung saja meneruskan artikel yang didapatnya dari group Ibu-ibu pada Nona, Amelia dan Kiki. Semua fokus pada handphone dan buka artikel yang Balen kirim.
"Ya ampun, ini gaya apa?" Nona terbahak tunjukkan gambar pada Besan dan Iparnya. Balen ikut mengintip kemudian tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum? sudah praktek ya?" tanya Nona pandangi putrinya.
"Ada deh." Balen melengos dan tertawa geli.
"Mas Kenan, Ya ampun..." Nona langsung memanggil suaminya.
"Ih Mamon, jangan lebay gitu dong." bisik Balen resah karena semua mata menuju pada Nona.
"Oh iya, tidak jadi Mas, nanti saja." kata Nona tidak mau Balen menjadi malu.
"Hahaha ini gaya apa lagi." Kiki sekarang yang terbahak.
"Banyak gaya deh pokoknya Baen sampai pusing." kata Balen jujur.
__ADS_1
"Pusing kenapa?"
"Pusing bacanya." jawab Balen.
"Mbak Amel bisa langsung praktek nih." Nona terbahak lihat Mama Amelia cekikikan geli sendiri.
"Baen sama Daniel bisa dapat adik baru nih." kata Mama Amelia terbahak.
"Hahaha jangan sampai pulang dari sini kita yang jadi hamil." Bunda Kiki terbahak mendapatkan berbagai macam gaya dari Balen.
"Jangan sampai encok loh, Oma." Balen ingatkan ketiganya. Semua terbahak dibuatnya, sementara para suami hanya memandang dengan kening berkerut, penasaran juga lihat para istri heboh sambil melihat handphone.
"Waduh, dapat ilmu dari Baen?" tanya Daniel terkekeh. Awalnya dekati Mama ingin beritahukan makanan sudah siap, tapi yang terlihat gambar-gambar pada handphone mereka.
"Aban, siap-siap kita punya adik." kata Balen pada suaminya.
"Mama, yang benar saja." Daniel langsung tertawa.
"Bisa saja Daniel, udara disini mendukung." jawab Mama Amelia.
"Suhu heaternya Daniel tambah saja kalau begitu biar pada kepanasan." kata Daniel menggoda Mama.
"Ada juga tidak usah nyalakan heater, biarkan saja kedinginan, nanti juga panas sendiri." kata Nona disambut derai tawa yang lain.
"Ayo makan." ajak Daniel ulurkan tangan pada Mamanya.
"Meskipun manjakan Baen, Daniel tetap manjakan aku, memang anak yang baik." kata Mama Amelia bangga tetap diperhatikan anaknya.
"Aban Daniel Baen gitu loh." langsung Balen banggakan suaminya.
"Mamon sama Bunda sini Baen manjakan." Balen ikutan ulurkan tangan pada Nona dan Kiki.
"Anak manja mau manjakan kita." Nona terkekeh.
"Ih Mamon, Baen tuh udah ndak manja tahu."
"Mana ada tidak manja tidak bisa siapkan makanan dan panaskan makanan. Kamu terlalu bergantung sama suamimu." Nona berdiri menepuk bahu Balen.
"Aban Daniel maunya begitu Mamon. Kalau Baen mandiri, Aban Daniel khawatir." jawab Balen apa adanya.
"Iya Mamon, kalau terlalu mandiri nanti Baen tidak butuh aku." jawab Daniel sampaikan rasa khawatirnya.
"Dia pasti selalu butuhkan kamu dong Daniel, Baen kan istri kamu." Kiki menepuk bahu Daniel sambil tertawa.
"Iya sih. Tapi Daniel mau seperti Papa yang selalu siapkan kebutuhan Mama. Walau Papa sesibuk apapun." jawab Daniel tersenyum pada Papa James.
"Wah saya baru tahu kalau Mas James begitu." Kenan tertawa pandangi Besannya.
"Masa sih Papa begitu?" Papa James terkekeh, entah beneran tidak sadar atau cuma pura-pura.
__ADS_1