
"Maaam, masa aku harus ajari perempuan berenang." Cadi langsung menolak saat Balen sampaikan rencananya.
"Loh memang kenapa?" tanya Balen pada Cadi, mereka dalam perjalanan pulang ke rumah saat ini.
"Malas, perempuan suka merajuk." jawabnya monyongkan bibir.
"Ih perempuan yang mana dulu, memang Mama suka merajuk?" tanya Balen, Cadi mencebik.
"Cayi saja jangan aku." katanya pada Balen.
"Dia rumahnya dekat rumah Papon. Kan Cadi yang ada di rumah Papon, apa gantian saja biar Cayi Dan Chandra yang di rumah Papon, nanti biar mereka yang ajari Kate berenang?" tanya Balen.
"Aku maunya di rumah Papon." jawabnya.
"Kenapa, gantian dong. Opa sama Oma juga mau dijaga kamu loh." Daniel tersenyum sambil melirik Cadi dari kaca spion.
"Aku senangnya dirumah Papon, kalau sore bisa main basket. Bola Panta bagus-bagus." jawabnya bikin Balen nyengir.
"Itu koleksi Panta waktu muda loh, kamu mainkan nanti rusak." kata Balen.
"Panta boleh kok." jawab Cadi.
"Kapan bilangnya?" tanya Balen.
"Waktu itu Papon telepon Panta, boleh mainkan tiga." jawab Cadi.
"Abang Bima dan Abang Aca saja tidak diijinkan, kamu kok dikasih?" tanya Balen heran.
"Kan aku bilang mau seperti Panta dan Ayah jadi atlet basketball, jadi Panta kasih aku tiga bola. Nanti Ayah juga mau kasih." cerita Cadi dengan wajah sumringah.
"Kapan kamu bertemu Ayah?" tanya Daniel.
"Ayah telepon aku setiap hari Pap, lebih sering dari Pap and Mam loh, tanya terus aku lagi apa, kadang Ayah sama Nami datang kerumah Papon juga, aku digendong." jawabnya dengan wajah bahagia.
"Ih pantas saja kamu senang dirumah Papon, bisa manja-manja." Balen tersenyum, Aban Leyinya benar-benar Dari dulu tidak berubah, sekarang perlakuan Cadi seperti perlakuan Balen dulu.
"kan tidak sering." jawab Cadi memeluk Balen dari belakang.
"Jadi bagaimana itu, Mama minta tolong nih ajari Kate berenang." pinta Balen lagi. Cadi monyongkan bibirnya.
"Ajari saja Boy, kamu pasti bisa." kata Daniel.
"Dia perempuan Pap."
"Kenalan dulu sama kakak Kate, nanti baru Cadi putuskan mau ajari apa tidak." kata Balen pada Cadi.
"Wah, Mam bilang Kakak, berarti dia lebih tua, No Mam, aku tidak berani ajari yang lebih tua, apa dia lebih tinggi?" tanya Cadi.
"Masih lebih tinggi Cadi kok." jawab Balen.
"Kalau lebih tua nanti ajarinya susah, kalau dia salah aku bingung kasih tahunya. Chandra saja lah."
__ADS_1
"Berarti Chandra yang di rumah Papon?" tanya Daniel.
"Berdua kalau lagi ajari berenang, aku tetap di rumah Papon dong." jawabnya pertahankan keberadaannya dirumah Papon.
"Bawa saja bola Panta ke rumah kita." kata Balen, biar Chandra yang di rumah Papon.
"No, aku sudah janji sama Panta kalau bola itu selalu aku letakkan ditempat semula." jawabnya beralasan.
"Cayi nanti kesepian kalau tidak ada teman dirumah kita." kata Balen.
"Mam, Cayi kan sudah besar sekolahnya saja sekelas sama Chandra, aku malah masih taman kanak-kanak, seharusnya aku sekolah dasar juga." masih tidak terima karena seragamnya beda dengan kedua Abangnya.
"Kan umurnya beda." Balen tertawakan Cadi.
"Mam tidak apakan yang ajari berenang kakak Kate itu Chandra?" katanya dengan suara yang selembut mungkin, tidak mau Mamanya kecewa.
"Ya tidak apa deh, habis anak Mama yang namanya Cadi menolak sih." kata Balen pada Cadi.
"Thanks Mam." langsung mencium pipi Mama.
"Kenapa bilang thanks?" tanya Daniel.
"Karena Mam mengerti aku, Pap." jawabnya sok tua, Balen dan Daniel terbahak dibuatnya.
"Mam coba lihat Cayi tunggu kita diteras." Cadi terkikik geli lihat Cayi langsung berdiri di teras menunggu Mama, Papa dan adiknya.
"Pasti dia rindu aku." jawab Cadi tengil.
"Masa?" Daniel tertawa sambil menutup pintu mobil dan menekan remotenya setelah memastikan anak dan istrinya sudah turun dengan sempurna.
"Berarti dia rindu Puding." jawab Balen tertawa, Cadi ikut tertawa sambil menggandeng Mamanya.
"Bicarakan aku ya?" tanya Charlie saat ketiganya mendekat.
"Iya, kok kamu tahu." jawab Cadi nyengir.
"Mana pudingnya?" tanya Charlie langsung.
"Tuh kan Mam, apa aku bilang." kata Cadi tersenyum pada Balen sambil mendongak.
"Bukannya peluk Mama malah tanya Puding." kata Balen pura-pura merajuk.
"Aku lapar Mam." kata Charlie pada Balen.
"Loh memang bibi tidak masak?" tanya Balen.
"Masak tapi aku maunya makan Puding." jawabnya.
"Tapi kamu sudah makan nasi?" tanya Balen.
"Tadi makan steak pakai kentang, tadi Oma bikin, aku suka saosnya pedas, tapi Oma makannya pakai lontong loh." lapor Charlie pada Balen, mereka berempat masuki rumah beriringan.
__ADS_1
"Oma, betulkan Oma makan steak pakai lontong?" Charlie pastikan kembali pada Oma Amelia
"Itu bukan steak sayang." Oma Amelia tertawa.
"Itu steak Indonesia, harusnya kamu makan pakai lontong, tapi tadi malah makan pakai french fries." Chandra ikut tertawakan adiknya.
"Sate?" tanya Balen.
"Iya sate padang." jawab Mama Amelia.
"Aku mau sate pakai french fries juga Oma." pinta Cadi pada Oma Amelia.
"Loh kamu kan sudah makan sayang?" Balen langsung ingatkan Cadi yang sudah makan dirumah Papon sebelum mereka pulang tadi.
"Tapi aku mau coba steak Indonesia." rengek Cadi.
"Mama bikin?" tanya Balen pada mertuanya.
"Tadi Mam beli, Biii..." langsung Mama Amelia panggilkan bibi.
"Ya bu."
"Ambilkan sate buat Cadi ya, sama kentangnya goreng lagi." kata Mama Amelia pada bibi.
"Sedikit saja Bi, Cadi tadi sudah makan." kata Balen pada Bibi.
"Iya non."
"Apa rasanya sate pada pakai kentang?" tanya Balen heran.
"Aku suka saosnya pedas Mam." kata Charlie semangat.
"Cadi mana pudingnya." langsung menagih pada Cadi yang hampiri Opa James dan duduk dipangkuannya.
"Ambil saja di tas aku, di plastik merah ya." kata Cadi pada Abangnya.
"Buat aku sendiri ini?" tanya Charlie saat keluarkan plastik merah yang di tas Cadi.
"Buat semua, memangnya kamu bisa habiskan sebanyak itu, Mamon bikinkan buat Opa dan Oma juga Cayi." Cadi ingatkan Abangnya lalu tersenyum pada Opa James.
"Opa rindu aku tidak?" tanyanya sambil mainkan kumis Opa.
"Rindu dong, kapan Cadi mau jaga Opa, masa jaga Papon terus." Opa James menggoda Cadi.
"Ini aku lagi jaga Opa." jawabnya bikin Oma Amelia tertawa geli, Balen dan Daniel juga begitu.
"Jaga apa model begitu." kata Balen terkekeh.
"Ini kan lagi jaga, Maaam." katanya memeluk Opa James.
"Opa tadi makannya pintar kan?" tanyanya lagi seperti Ibu yang tanyakan anak sambil menekan perut Opa James.
__ADS_1
"Bukan pintar lagi" sahut Mama Amelia terbahak, Papa James juga tertawa geli sambil memegang perutnya.
"Kamu lucu banget sih." kata Papa James memeluk gemas cucu bungsunya itu. Cadi tertawa-tawa senang di peluk Opanya.