
"Aban mandi duluan apa Baen?" tanya Balen pada Daniel saat mereka sudah berada di kamar.
"Baen duluan ya, Abang setelah Baen."
"Ndak mau sama-sama ya mandinya?" tanya Balen mancing-mancing.
"Nanti ada yang gedor kamar, repot kita." Daniel tertawa.
"Masa sih di gedor kan kita ndak mungkin di ganggu Aban." kata Balen pada Daniel.
"Baen saja duluan, Aban tidak mau ambil resiko." jawab Daniel menolak.
"Padahal ndak apa loh Aban." sungut Balen segera ambil baju dan handuk lalu masuk ke kamar mandi. Daniel tertawa melihat istrinya bersungut, tapi ia harus menahan diri, sekarang lagi di rumah Opon, dihotel saja banyak gangguan apalagi di rumah Opon yang terkenal jahil.
Benar saja baru lima menit Balen dikamar mandi, pintu kamar sudah diketuk. Daniel segera bukakan pintu dan langsung tersenyum saat melihat Richie cengengesan.
"Aku ganggu Bang?" tanya Richie lagi.
"No, Baen sedang mandi kok? kenapa?"
"Curhat bang." langsung pasang wajah memelas. Daniel tertawa melihatnya.
"Mau masuk atau dimana?" tanya Daniel.
"Masuk boleh ya?" minta diajak ke kamar.
"Boleh, ayo." Daniel persilahkan Richie masuk.
"Sayang, lagi ada Ichie ya, kamu pakai baju baru keluar." teriak Daniel pada istrinya.
"Yaaa..." jawab Balen dari dalam kamar mandi.
"Eh kedengaran keluar tidak ya, aku teriak barusan." Daniel terkekeh.
"Disini kedap suara semua kamarnya, soalnya kita kan pada berisik tuh biar sendirian di kamar juga, Opon sakit kepala kalau kita menginap dan pasang musik keras di kamar." Richie tertawa ingat kelakuannya dan Balen, Daniel ikut tertawa dan langsung senang gitu karena ternyata kamarnya kedap suara.
"Oh, baiklah. Mau curhat apa?" meskipun hati senang dan bersorak, Daniel tetap pasang wajah sok cool di depan Ichie.
"Menurut Abang bagaimana? kesempatan yang dikasih Opon, kalau Abang jadi aku, ambil tidak?" tanya Richie pada Daniel.
"Ambil lah, karena ini perusahaan Opon dan tidak ada penerus yang bisa diharapkan, Abang juga pasti tidak mau usaha yang sudah dirintis Opa Abang dari nol harus jatuh ke tangan orang lain." jawab Daniel tersenyum pada Richie.
"Berarti aku tinggal di Malang ya?" tanyakan pada Daniel.
"Lebih dekat dari di Ohio, bisa pulang Jakarta minimal sebulan sekali kalau kangen keluarga, kalau di Ohio tidak bisa sesering itu, pikirkan capek dijalan saja sudah malas pulang." Daniel terkekeh.
"Iya, Aban Nanta dua minggu sekali bertemu Mama Ai." jawab Richie ingat abangnya.
__ADS_1
"Nah itu, kamu tinggal dibalik saja." jawab Daniel tertawa.
"Oke, menurut Abang aku cerita ke Papa Steve sekarang via telepon atau nanti saja saat bertemu?" tanya Richie lagi pada Daniel.
"Yang membuat kamu nyaman saja, lebih nyaman sampaikan sekarang atau nanti saat bertemu." Daniel serahkan pada Richie.
"Aku telepon paling tidak kasih gambaran ya Bang." tetap minta pendapat Daniel.
"Ya begitu lebih baik." Daniel terkekeh.
"Bang, kalau Tori baiknya aku kasih tahu dia sekarang aku tidak kembali Ke Ohio atau tetap kasih surprise?" tanya lagi sama Daniel.
"Kenapa mau kasih surprise?" tanya Daniel tertawa.
"Senang saja menggoda Tori." jawab Richie tertawa geli sendiri.
"Dia mau kamu perhatikan loh sebenarnya." Daniel ingatkan Richie.
"Iya aku tahu, tapi kan belum menikah."
"Ish Aban perhatikan Baen dari kami belum pacaran loh." Daniel gelengkan kepalanya.
"Loh memang Abang dan Baen pacaran?" Richie terkekeh.
"Ya dan tidak sih." Daniel terbahak.
"Iya dan tidak tetap kasih perhatian lah, dia minta dikenalkan sama Noah loh. Bisa jadi kalau dikenalkan, Noah tertarik sama Tori karena kelakuannya sama dengan Baen." Daniel ingat Richie.
"Tapi Papa Steve dan Mama Ayu kan pro aku Bang." kata Richie tersenyum.
"Yah kita kan tidak tahu jodoh akan bagaimana ya, setidaknya kasih perhatian tidak akan bikin kamu rugi juga." Daniel menepuk bahu Richie.
"Iya sih hehehe." Richie cengengesan.
"Ichie kok disini?" tanya Balen yang sudah tampak segar karena sudah mandi.
"Curhat dong Bang." katanya tertawa.
"Iya nikah sih nikah aja, pakai curhat lagi." Balen sotoy, pikirnya Ichie curhat soql pernikahan.
"Beli cincin sekarang dong Baen?" tanya Richie pada Kakaknya.
"Boleh aja." jawab Balen santai.
"Abang kasih Baen cincin kapan?" tanya Richie.
"Saat akad nikah." jawab Daniel tertawa.
__ADS_1
"Aku kecepatan dong kalau sekarang beli cincinnya." sungut Richie. Balen dan Daniel tertawa dibuatnya, Richie galau sampai curhat.
"Jadi Ichie nikahnya tiga bulan lagi ya? kita ke Jakarta lagi dong Aban?" tanya Balen pada suaminya.
"Iya." jawab Daniel tertawa.
"Aduh Ichie, Baen tuh males dipesawat lama, tapi demi Ichie deh. Kasih tahu yang benar kapan menikahnya. Dimana sih menikahnya?"
"Belum tahu Baen, gue juga kan belum bicara sama Papa Steve. Selin saja bulan depan, masa selisih waktunya dekat sekali ya?" Ichie jadi galau lagi.
"Ya ndak apa dari pada bikin dosa." jawab Balen menaikkan alisnya.
"Nah itu juga Bang yang bikin aku tidak perhatian, malas bikin dosa, kaya itu tuh tiap malam bikin dosa." Richie menyindir Daniel yang terbahak lalu menoyor kepala Richie. Kelakuan Daniel saat mencuri ciuman saat Balen tidur tentu saja diketahui Richie dan Redi, Daniel sangat terbuka pada keduanya.
"Eh siapa yang bikin dosa tiap malam?" tanya Balen Kepo.
"Ada lah orang yang gue kenal, tapi sudah insyaf dia." Richie tertawa geli.
"Wah untung aja kita ndak bikin dosa ya Bang." kata Balen pada suaminya.
"Iya, takut ah bikin dosa." Daniel mengedikkan bahunya.
"Hahaha takut ketahuan." sindir Richie.
"Iya itu juga." jawab Daniel tertawa geli.
"Sholat tobat deh yang pernah bikin dosa." kata Richie lagi.
"Oh iya Baen juga mau sholat tobat ah, kan ndak tahu ya Ban kalau ada dosa yang kita ndak sengaja." katanya lagi pada Daniel.
"Yah, Abang juga harus." jawab Daniel bikin Richie tertawa geli.
"Kamu juga Chie, kamu saksikan dosa itu ikut berdosa juga loh." kata Balen pada adiknya.
"Eh iya, gue juga ya. Padahal gue tidak merasakan hanya menangkap basah." jawab Richie tertawa geli. Semua tertawa jadinya dengan pikiran masing-masing.
"Kasihan deh Ichie ndak bikin dosa ikut berdosa." kata Balen lagi.
"Sudah jangan bahas dosa terus ah, ada lagi Chie yang mau dibahas? Abang mau mandi dulu nih." kata Daniel pada adik iparnya.
"Nanti kalau ada lagi ya Bang." jawab Richie tersenyum manis.
"Anytime Chie." jawab Daniel tersenyum manis.
"Abang mandi ya, kalian kalau mau lanjut berdua silahkan." kata Daniel lagi.
"Thank you ya Bang." Daniel acungkan jempolnya saja kemudian segera ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan baju ganti yang sudah disiapkan Balen sambil mereka ngobrol tadi.
__ADS_1