Because I Love You

Because I Love You
Katabelece


__ADS_3

"Ganteng kan Noah?" tanya Tori pada Lucky.


"Belum lihat jelas." jawab Lucky jujur karena wajah Noah tertutup Pilar. Ketiga orang dimeja itu asik bercanda tidak pedulikan lingkungan sekitarnya. Balen dan Kia saja sampai tidak ngeh kalau keluarga mereka sudah ambil posisi dibangku yang ada, mereka berpencar dan sudah duduk santai, amati Kia sambil pesan makanan yang ada.


"Noah Elfredi, anak keluarga Elfredi yang punya sekolah bahasa itu loh Bang." kata Richie pada Lucky.


"Wait... keluarga Elfredi???" Lucky belalakan matanya.


"Nah tahu kan?" Richie tertawa lihat Lucky garuk kepalanya.


"Kenapa memang kalau dia keluarga Elfredi?" tanya Redi pada Lucky.


"Kakaknya mantan pacar gue." jawab Lucky menghela nafas panjang.


"Elu kenal adiknya dong?" tanya Redi tertawa.


"Kenal tapi tidak dekat, beberapa kali bertemu saat acara keluarga mereka." jawab Lucky.


"Serius dong berarti pacaran sama Kakaknya." Redi kembali tertawa.


"Gue kan selalu serius." Lucky ikut tertawa.


"Kenapa putus?" tanya Ulan ingin tahu.


"Om bohong waktu jemput Kia, om bilang disuruh Papa eh ternyata Hilma bertemu Papa sore itu." Lucky tertawa miris.


"Jadi putus gara-gara jemput Kia?" tanya Tori menutup mulutnya.


"Bukan gara-gara jemput Kia, tapi dia sebelumnya sudah cemburu sama Kia sih. Padahal sudah gue bilang Kia itu keponakan. Pacar-pacar gue sebelumnya mengerti kok, Hilma saja yang cemburuan." jawab Lucky membela diri.


"Lagi kalau jemput keponakan kenapa harus bohong sih?" tanya Ulan gelengkan kepalanya.


"Terpaksa bohong karena Hima sudah cemburu diawal sama Kia." jawab Lucky.


"Aku juga tidak suka kalau dibohongi." Tori melirik Richie.


"Tuh dengar yang Tori bilang Ichie." Ulan tertawa. Richie hanya mencebik.


"Kalau Redi bohong kamu suka tidak?" tanya Lucky menggoda Ulan.


"Apa sih Om." Ulan tertawa mencubit pinggang Lucky yang duduk disebelahnya. Redi cengar-cengir saja, Ulan belum tahu juga kalau Redi suka sama Ulan, kecuali Ulan peka. Sepertinya dia santai saja terima perhatian dari Redi, sesekali salah tingkah tapi masih dalam taraf normal.


"Uncle kalau Kakaknya Noah cemburu sama Kia, aku khawatir hubungan Kia dengan Noah kedepannya akan dapat rintangan dari si kakak yang mendendam karena putus sama Uncle." Tori sampaikan pendapatnya pada Lucky.


"Bisa jadi." Richie anggukan kepalanya.


"Mereka kan hanya kenalan, kalian mikirnya jauh sekali. Belum tentu setelah ini berlanjut." Lucky tersenyum.

__ADS_1


"Menghibur diri kah?" Redi tertawakan Lucky.


"Rese..." Lucky ikut tertawa.


"Uncle kalau suka Kia jujur saja sih." kata Tori pada Lucky.


"Suka sih, tapi bukan untuk dijadikan pasangan. Gue sayang Kia ya seperti keponakan sendiri, ngerti?"


"Alibi, sama ulan dan Baen ndak sebegitunya." Redi terkekeh.


"Iya memang Kia special sih, karena memang sudah dekat dari Kia kecil." jawab Lucky.


"Ya sudah kalau begitu biarkan dia bersosialisasi dengan selain keluarga." kata Redi lagi, Lucky anggukan kepalanya sambil menghela nafas panjang.


"Kalian sebenarnya saling suka loh, tapi denial." Tori terkekeh.


"Bukan denial sih Toy, memang sukanya tuh sebatas saudara saja, apalagi gue anak paling kecil, jadi kehadiran Kia tuh bikin gue seperti punya adik yang bisa gue perhatikan dan gue ajak pergi kesana kemari." jawab Lucky menjelaskan apa yang dirasa.


"Baiklah." Redi anggukan kepalanya, tidak lagi menggoda Lucky, terlebih menu pesanan mereka sudah datang.


"Aku pikir ini bagian dari denial." Tori mencebik masih tidak percaya.


"Makan wot..." Richie ingatkan Tori.


"Apa wot?" Ulan kerutkan alisnya.


"Kalian jangan ikutan panggil begitu." Tori acungkan sendok ditangannya seakan itu benda tajam, semua kembali tertawa bikin konsentrasi Balen dan Kia terganggu, mencari asal suara.


"Sudah datang rupanya." Balen tersenyum lambaikan tangan pada semuanya. Kia juga ikut lambaikan tangan sambil kibarkan brosur ditangannya.


"Keluarga kalian menyusul?" tanya Noah yang anggukan kepala pada Nanta dan Larry.


"Iya, mereka penasaran dengan makanan dan minuman yang aku bilang enak." jawab Balen nyengir.


"Ya memang enak sih. Bikin cafe begini di Jakarta pasti laku." kata Noah lagi.


"Pindah ke Jakarta dong Kak." Kia tersenyum.


"Nanti lah kalau sudah bertemu jodohnya." jawab Noah ikut tersenyum.


"Mau cari jodoh disini? mau cewek Indonesia atau luar?" tanya Kia penasaran.


"Kalau bisa sih cewek Indonesia dong Kia. Jadi bisa dibawa pulang ke Indonesia." jawab Noah.


"Eh tapi, tinggal disini sudah betah sih aku. Kalau tidak pikirkan mama dan Papa disana, maunya aku disini saja terus." jawab Noah kemudian.


"Noah sempat mau pindah warga negara loh." kata Balen pada Kia.

__ADS_1


"Oh ya? segitunya?" Kia gelengkan kepalanya.


"Iya karena sudah betah disini, sudah punya kerjaan juga kan. Tapi ya itu lah, kan masih punya orang tua, tidak boleh durhaka kan." Noah terkekeh.


"Aku sih memang maunya dekat sama Mama dan Papa loh Kak, kalau jauh suka rindu." Kia langsung ingat Mama dan Papanya di Jakarta.


"Loh terus kuliahnya jauh, bagaimana tuh?" tanya Noah.


"Setelah sampai Jakarta nanti langsung ajukan proposal sama Papa, kalau kuliah kan tidak lama Kak, targetku paling lama empat tahun." jawab Kia.


"Kalau Balen pindah ke Jakarta bagaimana? katanya Balen setelah lulus mau pindah kan?" tanya Noah.


"Kalau Kia kuliah disini, Baen tungguin Noah. Ndak mungkin Baen tinggal sendiri." jawab Balen bikin Kia tersenyum senang.


"Ante love you." Kia monyongkan bibirnya seakan ingin mencium Balen yang mengangkap ciuman jarak jauh Kia dengan tangannya dan lemparkan pada Noah.


"Buat Noah aja hadiah dari Baen." jawab Balen bikin Kia dan Noah terbahak.


"Senang ya punya Tante sekonyol ini?" tanya Noah.


"Kita nih seperti kembar sebenarnya." kata Balen pada Noah.


"Masa? tidak begitu mirip ah." jawab Noah apa adanya.


"Yah bukan identik kembarnya. Kelakuan saja yang kembar." jawab Kia terkekeh.


"Masa?" Noah tertawa sedang Kia anggukkan kepalanya.


"Kak Noah pusing tidak berteman dengan Ante Baen?" tanya Kia pada Noah.


"Pusing waktu tiba-tiba dia bilang Daniel itu suaminya." jawab Noah jujur.


"Patah hati ya?" tanya Kia tertawa.


"Ditambah shock." jawab Noah, bikin Balen meringis.


"Lebay." kata Balen kemudian.


"Hahaha..." Noah terbahak.


"Noah banyak yang suka, Kia. Tapi dia seperti ndak suka perempuan, maunya dekat ante, Denise dan Besta aja."


"Aku memang cenderung introvert sih Kia. Jadi agak susah terima pendatang baru." jawab Noah naikkan alisnya.


"Aku pendatang baru kan Kak, sudah diterima apa belum?" tanya Kia.


"Karena kamu ada referensi dari Baen, jadi kamu diterima." jawab Noah terkekeh.

__ADS_1


"Buset mau berteman sama Kak Noah saja mesti pakai katabelece." Kia terkekeh. Balen dan Noah tertawa geli lihat ekspresi Kia saat ini.


__ADS_2