
"Nah itu Ichie sudah datang." kata Dodi saat mendengar bunyi alarm tanda obil terkunci. Benar saja tak lama muncul Tori dan Richie, sudah cengar-cengir dari kejauhan.
"Hai Chie." sapa Dodi tersenyum ramah pernah beberapa kali bertemu Richie saat menginap dirumah Lucky dulu.
"Hei Mas Dodi toh, ternyata tinggal disini?" Richie surprised langsung memeluk Dodi yang menepuk bahunya.
"Menikah muda juga kamu akhirnya ya." Dodi terkekeh.
"Iya, rejeki." jawab Richie tertawa.
"Ini Istriku Tori." kenalkan Tori pada Dodi.
"Aku sudah kenal." jawab Tori cengengesan.
"Idih ini kan adiknya Selin, kok berasa kecilnya dunia." Dodi terbahak.
"Mantan gebetan Kak Selin." kata Tori pada Richie.
"Walah, putar-putar disitu saja." Balen terkikik geli.
"Kok bisa kenal Kak Selin?" tanya Kia pada Dodi.
"Kenal waktu ada kerjaan di Singapore." jawab Dodi.
"Pacaran ndak?" tanya Balen.
"Hanya gebetan, Mas Dodi sudah pacaran sama gadis yang sekarang jadi istrinya, Kak Selin naksir berat sama Mas Dodi." Tori menjelaskan bikin Dodi terkekeh.
"Mana istri Mas Dodi?" tanya Tori.
"Di Jakarta." jawab Dodi, "Selin apa kabar? sudah menikah?" tanya Dodi.
"Sudah sama Ishaq, kenal kan?" tanya Tori.
"Berjodoh juga mereka, syukurlah." Dodi tersenyum, dulu ishaq dan Selin bersahabat saja.
"Lu tebar pesona di Singapore, Dod?" tanya Lucky menepuk bahu sahabatnya.
"Gue mana pernah tebar pesona sih, Elu sih iya." jawaban Dodi mendapat toyoran dari Lucky.
"Mau titip salam sama Kak Selin, Mas Dodi?" tanya Tori.
"Hahaha tidak usah." Dodi terbahak ingat dulu bagaimana dirinya hampir goyah karena Selin.
"Hanya titip salam kok." Tori nyengir.
"Jangan, bahaya. Perselingkuhan banyak berawal dari titip salam." jawab Dodi nyengir.
"Begitu ya." Lucky terkekeh.
"Tuh Ay, jangan suka kirim salam loh." Kia ingatkan suaminya.
"Angkatan Papa tuh suka kirim salam lewat radio." jawab Lucky terbahak ingat cerita Papanya jaman dulu.
"Makan dulu deh Chie." Dodi persilahkan Richie makan, "Kamu juga Tori, ajak suami kamu makan." kata Dodi yang sudah siapkan menu khas Indonesia untuk para tamunya.
__ADS_1
"Kita nih sudah kenyang, tadi karena kelaparan Tori minta mampir ke restaurant." Richie menjelaskan.
"Padahal tahan sebentar saja sudah sampai disini, lebih enak dari restaurant." kata Dodi ia bawa juru masak khusus dari Indonesia.
"Aku sudah kelaparan dari dua jam sebelumnya, Mas." jawab Tori nyengir.
"Pengantin baru, pahamlah kenapa sarapan bisa tertunda dua jam." celutuk Redi yang duduk dipinggiran kolam, cengar-cengir ikutan nimbrung, sementara Ulan masih terus latihan berenang seperti arahan Redi. Kesampaian juga niat Balen kecil kalau Ulan belajar berenangnya sama Redi.
"Pengalaman pribadi ya, Bang?" tanya Richie menggoda Redi.
"Suwe..." Redi dan yang lain terbahak.
"Berenang Chie, ayo." ajak Redi yang betah berlama-lama di kolam.
"Malas mandi lagi, Bang. Di kamar dari shubuh sudah mandi terus." jawab Richie menyeringai jahil.
"Kenapa kok mandi terus? Padahal udaranya dingin." tanya Balen polos.
"Pakai ditanya Baen, memang tidak pernah mandi berulang kali dalam satu hari?" tanya Lucky konyol.
"Pernah sih, waktu kegerahan sama waktu... eh ya ampun, Baen ngerti maksudnya." jawabnya cepat sambil menutup mulutnya, walau sedikit lola Balen akhirnya paham apa yang Richie maksud. Semua heboh tertawakan Balen.
"Ledi Dei betah amat di kolam, ayo sudah kesiangan nih." ajak Balen yang mulai tidak betah.
"Mau kemana lagi setelah ini?" tanya Dodi.
"Itaewon, mau makan Muree." jawab Balen cepat.
"Apaan tuh Baen?" tanya Tori.
"Belum kenyang juga?" tanya Lucky.
"Sekarang sih kenyang, nanti juga lapar lagi." jawab Balen cengar-cengir.
Setelan Redi dan Ulan selesai berenang mereka pun pamit pada Dodi yang sudah direpotkan setengah hari ini. Malah sempat sholat Dzuhur berjamaah di rumah Dodi. Senang sekali rasanya di negara orang bertemu dengan sahabat satu negara, terlebih bisa makan masakan Indonesia dengan cita rasa Dan bumbu yang langsung berasal dari Indonesia juga.
"Kalau ke Ohio mampir, Dod." Daniel tawarkan Dodi dengan tulus tanpa basa-basi, ia benar terbantu oleh Dodi yang carikan rambutan dan mangga untuk Daniel. Semoga nanti anaknya bebas ileran.
"Siap Bang, Noah tahu kan rumah Abang, nanti aku minta antar Noah." jawab Dodi terkekeh.
"Ya tahu lah, Noah mantan gebetan Baen." jawab Daniel cengengesan melirik istrinya.
"Idih, Noah sahabat Baen tahu." jawab Balen cepat.
"Ya Baen dulu gebetannya Noah, kasihan deh Noah patah hati." Dodi terkekeh.
"Ndak kok, Noah anggap Baen teman aja. Malah bantu Aban Daniel carikan obat gatal Baen waktu itu, eh tapi lucu deh Mas Dodi, Noah kan mau Baen jodohin sama Kia waktu itu." cerita Balen bikin Lucky mengernyitkan dahinya.
"Hahaha batal karena Lucky ya." Dodi terbahak.
"Semua cowok yang dekati Kia batal karena Lucky." celutuk Redi.
"Ngaco..." Lucky menyangkal.
"Alex sepupu gue tuh bagaimana?" Redi naikkan alisnya.
__ADS_1
"Hehehe..." Lucky cengengesan, Kia melirik Lucky sambil cengengesan ingat nomor handphone Alex yang Lucky blokir.
"Lucky sih kalau sudah cinta bucin abis." Dodi bongkar rahasia Lucky.
"Oh ya? pernah bucin sama siapa Om?" tanya Kia penasaran.
"Sama kamu." jawab Lucky cepat, Kia mencibir tidak percaya.
"Jelasin Dod." kata Lucky pada sahabatnya, padahal mereka sudah di teras rumah, obrolan masih saja berlanjut.
"Benar Kia, dia bucin sama kamu dari dulu. Bisa batalkan janji sama pacarnya cuma karena kamu minta antar atau minta jemput." jawab Dodi.
"Itu kan karena Kia keponakan Om Lucky, jadi harus di jaga, iya kan Ay?"
"Yah begitulah." Lucky menghela nafas.
"Kalau gue sih dulu kalau sudah janji sama pacar gue, Belin minta antar atau jemput gue tolak tuh, jadi supir lagi saja yang antar jemput Belin." Redi cengengesan.
"Ini dulu ya dek, belum kenal kamu." kata Redi jelaskan pada Ulan yang senyum saja mendengarnya.
"Lu kan tidak sayang keponakan." kata Lucky membela diri.
"Yah kalau elu kan begitu sayangnya sampai dijadikan istri." balas Redi semua terbahak mendengarnya.
"Aduh, ndak pulang-pulang kalau begini, Mas Dodi terima kasih banyak untuk jamuannya, maaf kotori air kolamnya, semoga berkah." Balen segera kasih kalimat penutup untuk Dodi supaya obrolan tidak lagi berlanjut. Bisa sampai sore kalau begini caranya.
"Jadi besok ke Jeju?" tanya Dodi.
"Jadi dong, ayo ikut." ajak Lucky pada sahabatnya.
"Nanti gue telepon istri gue deh, kalau dia bisa berangkat besok langsung ke Jeju, kita bergabung sama kalian." janji Dodi pada Lucky.
"Betul ya gue tunggu." kata Lucky semangat.
"Tergantung Nyonya ya, tidak janji." jawab Dodi tersenyum manis.
Setelahnya,
"Sayang Mas Dodi tidak jadi sama Kak Selin." gumam Tori begitu mereka sudah di mobil.
"Sudah ada jodohnya masing-masing, Selin juga sudah happy sama Ishaq, kamu kenapa?" Richie terkekeh.
"Iya sih, istri Mas Dodi juga baik." Tori menghela nafas, Richie mengacak anak rambut istrinya.
"Jangan bilang begitu didepan Kak Ishaq loh ya." Richie ingatkan Tori.
"Iya, memangnya aku anak kecil." gerutu Tori.
"Kamu sudah besar tapi kadang seperti anak kecil." jawab Richie, Daniel dan Redi menganggukkan kepalanya setuju.
"Idih kenapa pada ikutan mengangguk." protes Tori pada kedua Om nya.
"Betul yang Richie bilang." jawab Daniel terkekeh.
"Om Daniel, aku gigit nih." ancam Tori bikin semuanya terbahak.
__ADS_1
"Tori, suami Baen jangan digigit." pawangnya buka suara, jadi saja semua tertawa geli.