
Seminggu sudah Balen dan Daniel di Ohio, sementara Redi sejak tiga hari lalu langsung berangkat ke California. Pengiriman barang semakin sering efek permintaan yang semakin beragam sehingga Redi putuskan untuk menetap di California saja. Apa lagi sudah tidak ada Richie, Redi juga tidak mau mengganggu kebersamaan Daniel dengan Balen.
"Aban, nanti Baen mau bertemu Noah boleh ya." ijin Balen pada Daniel.
"Mau apa?" tanya Daniel.
"Geng Baen ajak ketemuan. Sekalian Baen antar oleh-oleh deh." kata Balen pada suaminya.
"Mau diantar?" tanya Daniel pada Balen.
"Baen acaranya makan siang Aban, pagi ini ke kampus dulu." jawab Balen beritahukan jadwalnya.
"Pulangnya aja Aban jemput Baen ya?" membujuk suaminya.
"Kamu mau duduk lama sama Noah, sayang?" Daniel mulai resah. "Abang baru bisa jemput kamu sore loh pulang kerja."
"Ndak gitu Aban, tapi kalau sama yang lain kan biasanya ngobrol-ngobrol ndak berasa." Daniel menghembuskan nafas kasar.
"Aban cemburu ya?" tersenyum senang pandangi Daniel.
"Kata siapa?" mendengus kesal.
"Kata Baen." Balen terkekeh.
"Sok tahu ah." masih menyangkal padahal kesal sekali tidak bisa temani Balen bertemu Noah, karena pekerjaan di kantor lumayan banyak hari ini.
"Tapi kan Aban pernah bilang, kalau Aban cemburu sama Noah?"
"Sudah tahu malah tanya." kali ini Daniel seperti anak kecil, tidak bisa tutupi kekesalannya.
"Ndak berduaan kok Aban." Balen kembali yakinkan Daniel.
"Kalau ternyata hanya berdua?"
"Aban ndak percaya Baen." Balen ambil handphonenya menghubungi sahabatnya semua pemain tenis. Lakukan panggilan group dan keluarkan suaranya.
"Yes Balena..."
"Hello Balen."
"Balena darling how are you?"
semua menyapa Balen.
"Nanti jadi kan makan siang?" tanya Balen pada semuanya.
"Jadi." jawab mereka kompak.
"Semua datang kan? aku mau bawakan oleh-oleh nih." kata Balen pada para temannya.
"Wow tidak sabar menunggu pesananku." teriak teman Balen yang lainnya, sementara Noah tidak keluarkan suaranya hanya menyimak saja.
"Noah diam aja, nanti datang kan?" tanya Balen pada Noah.
"In syaa Allah Balen." jawab Noah datar.
"Ok sampai bertemu nanti ya, bye." Baen matikan sambungan teleponnya.
"Dengarkan Aban? Baen ndak berduaan." Balen yakinkan Daniel.
"Yah, oke." akhirnya Daniel melunak.
"Aban tuh ndak usah cemburu sama Noah, dia ndak ada apa-apanya dibanding Aban tahu." Balen hampiri Daniel dan kalungkan lengannya dileher suaminya.
__ADS_1
"Begitu?" tanya Daniel tersenyum simpul.
"Pakai tanya lagi." gantian Balen yang mendengus, karena Daniel tidak lakukan apapun, biasanya kalau Balen mulai mendekat dan kalungkan lengannya di leher Daniel, akan cepat tanggap aksi suaminya.
"Kok ndak cium Baen?" mana bisa gengsi dan tidak protes.
"Masih sedikit, hanya sedikit kesal." jawab Daniel jujur.
"Baen ndak boleh kumpul sama teman-teman Baen?"
"Boleh sayang, cuma Abang harus netralkan perasaan ini supaya tidak pikir macam-macam." jawab Daniel.
"Memangnya selama ini Baen pernah macam-macam ya, kok Aban bisa pikir begitu sih."
"Iya maaf, Abang hanya khawatir. Nanti pulang kantor Abang jemput kamu ya."
"Kalau Baen sudah selesai sebelum Aban pulang kantor bagaimana?"
"Kamu ke kantor Abang saja atau mau pulang sendiri tanpa diantar Noah?"
"Yah Baen ke kantor Aban aja, naik taxi."
"Tunggu saja disana, nanti dijemput supir kantor." kata Daniel pada istrinya.
"Iya, kekantor Aban kan?"
"Hu uh."
"Masih kesal ya? masih ndak mau kiss Baen?" tanya Balen menatap Daniel.
"Hu uh, Abang kesal sama diri sendiri."
"Kalau begitu Baen aja yang kiss Aban." Balen langsung mengecup bibir suaminya.
"Baen kiss lagi." kembali mengecup bibir Daniel, kali ini berulang kali. Daniel tertawa dibuatnya.
"Sudah ndak kesal kan?" tanya Balen.
"Mana bisa kesal lama-lama kalau dekat kamu sih." desah Daniel.
"Sekarang Aban kiss Baen dong, masa Baen terus."
"Begini?" Daniel mengecup bibir Balen.
"Hmm..." naikkan alisnya.
"Atau begini?" Daniel segera ******* bibir Balen beberapa saat lalu lepaskan sambil tersenyum pandangi Balen yang hanya menatap suaminya tanpa lepaskan pandangannya.
"Segitu dulu ya, Abang harus berangkat pagi ini." bisik Daniel mengecup pipi istrinya.
"Aban antar Baen ke kampus ndak?" tanya Balen pada Daniel.
"Kamu ke kampus sekarang?" Daniel balik bertanya.
"Iya."
"Bawa oleh-oleh sebanyak itu?" dahi Daniel langsung berkerut.
"Baen bawa tas gembol." katanya tertawa.
"Ayo mana tas gembolnya?"
"Ini." Balen keluarkan lipatan tas L***champ dari dalam Laci, lalu masukkan oleh-oleh dimeja makan kedalam tas tersebut.
__ADS_1
"Itu bukan tas gembol." protes Daniel bikin Balen tertawa.
"Ndak ketemu tas gembolnya, pakai ini aja." kata Balen jelaskan pada Daniel.
"Bawa dua tas?"
"Iya ini kan dijinjing, yang ini di bahu." kembali jelaskan pada suaminya.
"Oke." Daniel tersenyum.
Sebelum berangkat mereka mampir dulu kerumah Oma Margareta, titipkan kunci untuk pekerja harian yang akan bereskan rumah dan masakan mereka hari ini. Seminggu ini wanita paruh baya yang ditunjuk Oma Margareta sudah mulai bekerja di rumah Daniel, hanya saja Daniel dan Balen jarang di rumah jadi setiap datang ambil kunci di rumah Oma Margareta, lalu saat selesai bekerja ia pun kembali titipkan kunci pada Oma Margareta.
"Balena, kamu semakin bersinar semenjak jadi istri." Oma Margareta tertawa sambut Balen, Wanita Indonesia keturunan Menado Amerika ini sangat lancar berbahasa Indonesia, meskipun sejak lahir tinggal di Ohio dan tidak pernah injakkan kakinya di Indonesia.
"Oma bisa saja." Balen tertawa mendengar pujian Oma Margareta.
"Kalian berangkat pagi ini?" tanya Oma Margareta.
"Iya Oma, nanti Oma ndak usah masak, Balen sudah bilang Auntie Khiel masak sekalian untuk Oma."
"Jangan begitu Balena, Oma tidak mau merepotkan kalian."
"Kita yang selalu repotkan Oma." Daniel ikut bersuara.
"Kalau begitu nanti Oma suruh Khiel agar masak dirumah Oma saja, supaya dapur kalian tidak Kotor."
"Oh jangan Oma, harus masak pakai panci kita." kata Balen cepat.
"Oh I see, kamu takut panci Oma tidak halal toh, oke Oma mengerti."
"Hehehe terima kasih Oma."
"Sama-sama." Oma Margareta tersenyum.
"Daniel..." Oma panggil Daniel yang sudah lama dikenalnya.
"Cepat kasih Oma cucu." katanya kemudian.
"Sedang dalam proses Oma doakan saja."
"Kalian tidak mau bikin pesta kecil umumkan kebahagiaan kalian?" tanya Oma lagi.
"Apa perlu Oma?" tanya Daniel.
"Perlu dan tidak perlu. Tapi apa kamu tidak mau umumkan sama warga Ohio kalau kamu sudah punya istri yang secantik ini?" Oma menggoda Daniel.
"Hahaha benar juga, harus diumumkan biar tidak diganggu orang ya Oma."
"Yah, selama ini mereka hanya tahu kalian beradik kakak." kata Oma Margareta.
"Baik Oma, akan Daniel persiapkan."
"Mau diadakan dirumah? kapan mau diadakan, Oma akan bantu kalian." semangat sekali Oma Margareta.
"Hari ini Daniel pikirkan dulu Oma, bagaimana konsep acaranya. Redi sedang di California soalnya." Daniel berharap Redi hadir.
"Kabari Oma ya, apa yang bisa Oma bantu."
"Pasti Oma, serasa di Indonesia kalau begini, punya keluarga disini." Balen tersenyum pandangi Oma.
"Kita saling menjaga, tahu sendiri Gilbert jarang pulang, Janet juga sibuk tidak karuan." Oma sebutkan kedua anaknya.
"Tapi Oma senang ada kalian, sana nanti kalian terlambat." Oma menepuk bahu Balen dan mengusir keduanya untuk segera berangkat bekerja dan kuliah.
__ADS_1