Because I Love You

Because I Love You
Laporan


__ADS_3

"Aban, kita menginap di hotel atau di rumah?" tanya Balen pada Daniel.


"Terserah, Abang belum booking hotel sih." jawab Daniel serahkan pada Balen.


"Rumah gue rapi kok." Redi sampaikan pada Balen dan Daniel.


"Baen cuma pikirkan kalau di rumah nanti Baen janjian sama Achara bagaimana?" Balen menatap Daniel dan Redi.


"Itu bisa diatur sayang, kita dirumah saja ya. Kamu bukannya tidak terlalu suka menginap di hotel?"


"Terserah Aban aja." jawab Balen ikuti Daniel.


"Dirumah banyak makanan tahu, sudah gue siapkan, tinggal dipanasi saja." Redi pamerkan pada Balen.


"Baik betul Ledi Dei." Balen langsung saja senang, kebutuhan perutnya sudah diamankan Redi.


"Dari dulu gue baik Baen." Redi menghembus nafas kasar.


"Iya sih, tapi nyebelin." jawab Balen terkekeh, Redi langsung saja gelengkan kepalanya sambil nyengir, memang sih Redi sering bikin kesal Balen saat kecil dulu.


"Besok Baen drop Abang terus bisa jemput Achara ke hotel." kata Daniel pada Balen, Redi pergi mobilnya otomatis menganggur.


"Ya sudah." Balen menurut saja.


Setelah makan langsung bergegas ke rumah Redi, mengingat Redi harus ke Bandara nanti sore, jadi mereka tidak jalan-jalan dulu, besok Balen bisa pergi bersama Achara, selanjutnya saat long weekend bisa pergi bersama Daniel keliling California atau kemanapun yang Balen mau.


"Bang, lu di California sampai gue balik dari Jepang?" tanya Redi pada Daniel.


"Tergantung Baen, kalau mau stay di California bisa tunggu elu balik Jepang, kalau mau ke Los Angeles atau kemana ya berarti kita balik ke Ohio dari sana." jawab Daniel mau menyenangkan istrinya dengan manfaatkan liburan tiga harinya.


"Bagaimana Baen?" tanya Redi pada Balen.


"Baen belum cek destinasi yang mau dikunjungi sih Ledi, nanti kalau berubah rencana Baen kasih tahu lewat telepon."


"Memang kenapa sih?" tanya Daniel.


"Kalau tunggu gue kan bisa gue belikan oleh-oleh, kalau tidak berarti tidak ada oleh-oleh ya, nanti lama lagi diterimanya. Terus kunci Mobil tempat biasa sudah tahu kan? Kunci rumah kita sudah pegang masing-masing jadi tidak masalah."


"Nanti kalau kita pulang, rumah Ledi Baen rapikan duluan deh, jadi Ledi kalau sampai rumah tinggal bobo nyaman." kata Balen pada Redi.


"Tidak usah Baen, gue ada yang bantu kok balik hari, nah selama kalian disini dia diliburkan atau kalian butuh?" tanya Redi pada Daniel dan Balen.


"Jangan diliburkan Red, Baen tidak boleh capek." jawab Daniel tidak ingin istrinya repot.


"Oke, gue sudah bilang sih kalau kalian ada disini selama gue di Jepang." jawab Redi, Daniel anggukan kepalanya.


"Seumuran Auntie Khiel ndak orangnya?" tanya Balen.


"Lebih muda, seumuran Leyi rasanya." jawab Redi.


"Baen istirahat ya, Aban sama Ledi ngobrol aja kalau masih kangen." kata Balen langsung masuk kamar yang Daniel tunjuk saat mereka sudah masuki rumah Redi, ada foto pernikahan Balen dan Daniel dikamar itu, entah kapan Daniel pasang fotonya dikamar itu, setahu Balen semenjak mereka menikah, Daniel belum ke California. Pasti Redi yang disuruh pasang, Balen jadi senyum-senyum sendiri pandangi foto pernikahannya dengan Daniel.


"Untung aja dedek di perut ndak rewel diajak jalan jauh." gumam Balen mengusap perutnya yang masih rata. Balen segera bersihkan diri, mengganti pakaiannya lalu rebahkan badannya dikasur, setelahnya Balen benar-benar tertidur pulas, sementara Daniel dan Redi diruang keluarga sedang laporan pada Papa dan Mamanya via telepon.


"Baen dimana?" tanya Mama Amelia.


"Istirahat Ma, capek dia." jawab Daniel.


"Redi sudah siap packing?" tanya Mama lagi.


"Sudah Ma, tidak bawa banyak barang sih. Hanya satu koper kecil." jawab Redi tunjuk kopernya pada Mama.


"Nanti sampai Jepang hubungi Mama ya, Mam mau bicara sama Ulan juga." Mama Amelia memang selalu merangkul calon istri anak-anaknya.


"Ma, apa sebaiknya Ulan aku Lamar secepatnya?" tanya Redi minta pendapat Mama.


"Apa tidak terburu-buru? kalian baru saja kenal. Lagi pula kamu belum tahu apa Ulan bersedia menjadi istri kamu apa tidak."


"Aku rencananya memang mau nikahi Ulan setelah dia lulus kuliah, tapi setidaknya aku ikat dulu biar tidak lari kemana-mana, Ma." kata Redi, Daniel menyimak.


"Bagaimana, Pa?" Mama Amelia minta pendapat Papa James.


"Redi sudah cukup umur. Kenan saja berani ambil keputusan untuk Richie." jawab Papa James.


"Jadi kamu maunya bagaimana?" tanya Mama Amelia.


"Maksudku mama sounding dulu sama orangtua Ulan." Redi cengengesan.


"Kamu kasih Mama dan Papa tugas ya? mereka ada di Malang, berarti Papa dan Mama harus kesana?"


"Menurut Mama bagaimana baiknya, Redi juga bingung. Bukan depan kan Richie menikah, Redi mau ajak Ulan ke Jakarta." kata Redi pada Mama.


"Ijin dulu sama orang tuanya dong."


"Redi sudah bilang sama Masanta sih, dia oke oke saja." jawab Redi.


"Pastikan dulu Ulan mau sama kamu apa tidak." Mama tertawa menggoda Redi.


"Masa tidak mau sama anak mama yang paling ganteng ini." jawab Redi narsis.


"Paling ganteng sih, tapi kalah ganteng sama Papa." sahut Papa James bikin semua tertawa.

__ADS_1


"Kalau Papa paling ganteng kita tidak heran karena bibirnya kan memang dari Papa " jawab Daniel lagi-lagi mereka tertawa bersama.


"Kegantegan Papa menurun ke gue ya, maaf." teriak Larry yang rupanya sedang bersama Papa dan Mama.


"Iya deh iya, kita sih apa kalau dibanding Leyi." jawab Redi, mereka kembali tertawa.


"Leyi, bagaimana ini nasib gue sama Ulan?" teriak Redi pada Abangnya.


"Usaha sendiri dong, masa harus dibantu." jawab Larry.


"Ini kan lagi usaha, lusa bertemu Ulan di Kyoto." jawab Redi nyengir.


"Anak orang jangan diapa-apain."


"Cium boleh kan?" tanya Redi jahil.


"Boleh kalau Ulan mau." jawab Larry bikin Mama melempar banta yang dipeluknya kearah Larry.


"Mama nanti konsultasi sama Nona dan Kenan dulu deh, kamu jangan main cium saja Redi nanti keenakan." kata Mama.


"Justru itu makanya aku mau cepat menikah Ma."


"Mau double sama Richie?" tanya Mama terkekeh.


"Ndak..." mengikuti gaya bahasa Ulan dan Balen, semua tertawa jadinya.


"Kalau sudah pasti pindah ke Jepang saja." kata Daniel pada Redi.


"Nah kalau sudah pasti bisa langsung Papa nikahkan kamu." jawab Papa James semangat.


"Jadi bagaimana nih Mama bicara sama Kenan dan Nona apa tidak?" Mama minta pendapat.


"Bicara saja Ma, lebih cepat lebih baik. Pindah tidak pindah toh aku sudah mau seriusi Ulan." jawab Redi.


"Azura aman kah?" tanya Mama.


"Aman dong, Mama tidak tahu ya Ulan malah sudah aku kenalkan sama Azura. Bahkan aku sudah bilang sama Azura kalau Ulan itu my future wife." jawab Redi bangga.


"Oke sayang, nanti Mama kerumah mertua Daniel." jawab Mama semangat.


"Salaam ya Ma, bilang menantu kangen." kata Daniel nyengir.


"Sama Mertua kangen sama kita tidak kangen." Mama pura-pura merajuk.


"Kangen lah, kalau tidak kangen mana mungkin lapor posisi tiap sebentar sih." jawab Daniel bikin Mama Amelia senyum-senyum senang.


"Mama... Redi kangeeen." teriak Redi.


"Halah, kalau kangen long weekend tuh kamu ke Jakarta bukan ke Kyoto." sungut Mama.


"Kalau kangen pindahnya ke Jakarta bukan ke Kyoto." sahut Larry provokasi.


"Nah itu." Papa anggukan kepalanya.


"Mau punya menantu tidak sih?" tanya Redi kesal.


"Mau lah." jawab Mama cepat.


"Nah calon menantu yang Mama suka tuh ada di Jepang." kata Redi lagi.


"Oh jadi mau sama Ulan karena dia calon menantu yang Mama suka ya, bukan karena kamu suka juga?" tanya Mama jahil.


"Iya aku juga suka sih, tapi kan karena Mama suka." jawab Redi.


"Mama tidak jadi suka deh sama Ulan, ini ada anak teman Mama nih mama suka, kamu sama dia saja ya." Mama menggoda Redi.


"Ah Mama, masa ganti lagi yang Mama suka, Redi sudah terlanjur bilang future wife loh, Mama mau anaknya di cap playboy sama keluarga Om Kenan?" tanya Redi.


"Eh mertua gue tuh." kata Daniel.


"Nah itu nanti hub Mama sama Mertua Daniel rusak loh."


"Paling bisa dia Ma, dia sudah merengek sama Nanta supaya direstui, pakai alasan Mama lagi." Larry mencibir, Redi terbahak dibuatnya.


"Kok tahu aku merengek ke Masanta?" tanya Redi tertawa geli.


"Ada gue kali waktu elu telepon Nanta, satu geng gue juga dengar." kata Larry terbahak.


"Tuh kan Ma, jangan bikin malu keluarga lah kita. Ok ya Ma, Ulan saja jangan ganti lagi." semua terbahak mendengar Redi sekarang membujuk Mama dengan caranya.


"Iya sayang, Mama maunya Ulan kok." jawab Mama tersenyum.


"Memang kamu kapan mau menikah?" tanya Papa James.


"Kata Papa aku sudah cukup umur. Jadi secepatnya kalau bisa. Begitu hasil rapat besok positif aku berarti setelah Ichie menikah langsung ke Malang temui orangtua Ulan." jawab Redi sudah atur strategy.


"Dia lebih gerak cepat Dari kamu Daniel." Papa James tertawa bandingkan Redi dengan Daniel.


"Ya situasinya kan beda Pa." jawab Daniel.


"Calon cucu Mama bagaimana Daniel?" tanya Mama.

__ADS_1


"In syaa Allah sehat ma."


"Gatal-gatal Balen bagaimana?"


"Sudah dibaluri lotion anti gatal yang Mama kasih tahu itu, sudah aman in syaa Allah." jawab Daniel.


"Oh iya, Om Bambang hubungi Papa, katanya Balen dan teman-temannya keroyok dia, apa benar?" Papa James tanyakan Daniel.


"Adira yang cari gara-gara lebih dulu, Pa." jawab Daniel.


"Tapi cerita yang ada tidak begitu."


"Papa diapakan sama Om Bambang, ada videonya sih sama Redi, nanti dikirim ke group keluarga deh." jawab Daniel.


"Baen belum laporan sama gue kok?" tanya Larry belum dapat cerita.


"Belum sempat Bang, kemarin itu setelah kejadian dia emosi jadi sepanjang jalan keluhkan Adira, aku takut kondisi babyku terpengaruh, jadi aku ajak nonton, belanja, pokoknya bikin dia sibuk. Pagi ini juga langsung berangkat kesini, baru sempat istirahat sekarang dia." Daniel jelaskan pada Larry.


"Kirim videonya deh, kalau ada video lain yang dia teriaki Baen dan temannya itu lebih baik." pinta Daniel pada Redi.


"Itu sih bisa minta sama panitia penyelenggara, dia pasti ada dokumentasi aktifitas dilapangan dari awal sampai akhir." kata Redi pada Daniel.


"Panitianya siapa yang kenal?" tanya Larry.


"Teman gue juga sih panitianya, nanti gue minta deh." janji Redi pada kedua Abangnya.


"Pa, Adira itu selalu cari gara-gara sama Istriku." adu Daniel pada Papa.


"Perlu Papa sampaikan pada Om Bambang?" tanya Papa James.


"Sebenarnya kita bisa atasi sendiri, herannya Om Bambang kenapa lapor sama Papa, anaknya kan bukan bocah lagi." Daniel mendengus kesal.


"Karena kami cukup akrab mungkin." jawab Papa James.


"Tapi Papa kenal Baen dari kecil kan? rasanya Daniel tidak perlu bela Baen didepan Papa deh, Papa bisa nilai sendiri." kata Daniel.


"Gue percaya Baen." sahut Larry.


"Mama juga." Mama ikutan.


"Daniel agak kesal sih dengar om Bambang menghubungi Papa membahas ini, dia tidak tahu anaknya seperti apa?" Daniel sedikit mengkerut.


"Sudah jangan emosi, Papa hanya bertanya." Papa James menenangkan Daniel.


"Iya, Daniel hanya mau tahu, apa Aira beritahu Om Bambang kalau dia sebut Balen dan teman-temannya murahan, Cheaper?" suara Daniel mulai melunak.


"Adira bilang begitu?" Mama Amelia langsung emosi.


"Ya, itu sebabnya dia ditampar Besta dan dijambak oleh Achara."


"Bagus deh biar dia tahu rasa." Larry terkekeh.


"Masalahnya dia putar balikkan fakta bilang dia dikeroyok." Redi terbahak.


"Nanti aku minta video lengkap sama temanku Pa." jawab Redi tersenyum.


"Tenang Pa, Baen kita tetap anak yang menyenangkan." kata Larry pada Papanya.


"Ya Papa khawatir saja, Adira minta Om Bambang untuk proses peristiwa ini."


"Pa, sampaikan sama Om Bambang Adira berhadapan dengan Achara Gustav, anak dari Frans Gustavo." kata Daniel beritahukan Papanya.


"Hahaha baik nanti Papa beritahu Om Bambang." Papa James langsung terbahak.


"Papa kenal?" tanya Larry.


"Kita semua tahu siapa dia, mestinya sih Bambang tidak cari masalah dengan Frans." jawab Papa James.


"Siapa dia Pa?" tanya Larry lagi.


"Dia orang berpengaruh dan disegani di Philipina, tidak akan menggangu kalau tidak mengganggu." Papa James menjelaskan.


"Om Bambang kalah pamor Pa?" tanya Redi.


"Bisa dibilang begitu, Papa pun kalah Pamor." jawab Papa James.


"Kalau mau bisnis lancar di Asia, jangan cari masalah sama Frans Gustavo." kata Papa lagi.


"Sepertinya aku harus minta Balen kenalkan aku dengan Papa temannya." kata Redi.


"Lebih baik tidak berurusan dengan dia Redi, cukup kenal sambil lewat saja." jawab Papa James.


"Tapi untuk perluasan bisnis kan bisa manfaatkan Frans Gustavo, Pa."


"Tidak usah, cukup jaringan kita saja." jawab Papa James.


"Papa ada pengalaman buruk dengan dia?"


"Tidak ada, kami saling kenal saja. Tidak pernah terlibat bisnis. Dia ada berapa kali minta tolong Papa waktu di Indonesia." jawab Papa James.


"Berarti hubungan baik dong." kata Daniel.

__ADS_1


"Ya, tapi ada beberapa permintaan dia yang Papa tolak karena berbenturan dengan regulasi." jawab Papa James.


"Oke ya anak-anak, Mama mau bersiap ke rumah Mertua Daniel, membahas Redi." Mama akhiri sambungan. teleponnya padahal Papa dan anak-anak masih asik membahas orang tua Achara, berhubung cerita Papa pasti akan memakan waktu lama, Maka Mama Amelia langsung saja ambil tindakan.


__ADS_2