
"Baen, besok pagi saat kamu ke toilet setelah bangun tidur langsung periksa urine, ini testpacknya." Mama Amelia serahkan tespack pada Balen.
"Berarti malam ini Aban ndak boleh ganggu Baen ya mama?" tanyakan pada Mama dengan polosnya.
"Memang Daniel suka ganggu kamu kalau malam?" tanya Mama menahan tawa.
"Daniel yang diganggu Baen, Ma." lapor Daniel pada Mama sambil tertawa.
"Ih Aban kan yang mancing-mancing." jawab Balen tambah polos, Mama Amelia terbahak dibuatnya.
"Kalian libur saja dulu malam ini." kata Mama Amelia, untung saja hanya mereka bertiga saat ini, jadi Balen dan Daniel tidak begitu lama.
"Libur apa?" tanya Daniel sok polos.
"Libur mengganggu Balen." jawab Mama tertawa menepuk bahu anaknya.
"Kamu merasa terganggu ya selama ini?" tanya Daniel pada Balen.
"Ndak sih." jawabnya bikin Mama dan Daniel terbahak mendengarnya.
"Ya sudah sana istirahat, kamu besok kerja kan Daniel?" tanya Mama Amelia.
"Libur lah, masa lagi ada tamu agung dari Jakarta Daniel ke kantor." jawab Daniel tersenyum.
"Masuk ya masuk saja, Mama dan Papa kan bisa ajak Papon, Mamon, Bunda dan Ayah jalan-jalan. Kalian sih aktifitas saja seperti biasa." Mama Amelia pandangi anak dan menantunya.
"Baen kuliah sih besok pagi, tapi cepat selesai kok, bisa makan siang disini." jawab Balen tersenyum.
"Oke, aku ke kantor tapi makan siang disini juga." jawab Daniel ikut tersenyum.
"Kalian besok mau dimasaki apa?" tanya Mama Amelia.
"Ada Auntie Khiel besok kok, Mama tidak usah capek-capek." Daniel sandarkan wajahnya dibahu Mama.
"Daniel, kamu masih manja saja." Mama mendorong dahi anaknya.
"Mama, kita kan jarang bertemu." rengeknya manja.
"Tuh Baen, aslinya suami kamu tuh seperti ini." tunjuk Mama pada Baen.
"Padahal Aban ndak pernah kelihatan manja loh selama ini." kata Balen malah ikut bersandar di Bahu Mama Amelia.
"Hei kalian ini, Mama Amelia capek loh habis perjalanan jauh." teriak Nona saat keluar kamar melihat kemanjaan Daniel dan Balen.
"Biarkan Non, tadi katanya karena jarang bertemu." Mama Amelia terkekeh. Nona gelengkan kepalanya sambil tertawa, tadi keluar kamar karena ingin haus saja.
"Mamon ndak mau manjain Baen ya? Baen mau bobo sama Mamon dan Papon sih." ijin Balen pada Mamon.
__ADS_1
"Sorry ga, kita lelah kasurnya hanya muat berdua." jawab Nona yang selalu menolak keinginan Balen dari awal, setelah minum kembali masuk kekamar sambil monyongkan bibirnya pada Balen. Mama Amelia tertawa dibuatnya.
"Bobo sama Mama dan Papa saja." Mama Amelia tawarkan Balen.
"Aku sendiri dong." Daniel langsung komplen.
"Kamu tidur dikamar Mama juga lah, gelar kasur seperti saat kita liburan di Villa, bagaimana?" Mama Amelia mulai bernostalgia.
"Wah seru tuh, harusnya ada Redi." Daniel langsung tertawa.
"Ndak usah deh Mama, Aban suka. endus-endus kalo bobo sih." jawab Balen bikin Mama kembali terbahak.
"Sayang, kamu lupa harus jaga rahasia ya?" Daniel ingatkan Balen.
"Ih yang itu harus rahasia juga Aban?" tanya Balen pada Daniel.
"Hahaha Baen, kamu kalau punya anak nanti bagaimana ya?" Mama masih saja tertawa.
"Baen sayang terus anak Baen, Mama. Seperti anak-anak di Jakarta." jawab Balen tertawa.
"Nanti kelakuannya seperti Daniel apa kamu ya." Mama tersenyum lebar.
"Mam doakannya seperti siapa?" tanya Daniel.
"Seperti kalian berdua, lucu-lucu waktu kecilnya, sampai besar menyenangkan tidak pernah menyusahkan orang tua." jawab Mama.
"Itu hanya sekali, setelahnya kamu langsung masuk asrama, disana tidak bikin ulah. Terbukti sampai sekarang." jawab Mama tersenyum bangga dengan keberhasilan anak-anaknya walaupun sering ditinggal bertugas tetap bisa membanggakan.
"Berkat doa Mama." jawab Daniel tersenyum.
"Doa Baen juga Aban." tidak mau kalah sama Mama.
"Hahaha iya doa kamu juga." jawab Daniel terbahak.
"Berkat naksir kamu juga dulu ya, jadi Daniel mau buktikan sama kita semua kalau dia layak jadi pasangan kamu." Mama Amelia sampaikan pada Balen.
"Begitu ya Aban." Balen terkikik geli.
"Iya dong, bocah kecil serba bisa dan banyak duitnya yang Abang incar, jadi diotak Abang tuh uang Abang harus lebih banyak dari kamu, paling tidak setaraf lah." jawab Daniel.
"Malah uang Baen sampai sekarang utuh Mama, tapi nanti habis deh untuk bangun hotel, Papon tambahin. Aban ndak apa kan kalau tabungan Baen habiskan untuk bangun hotel?" minta pendapat Daniel padahal uang tabungannya pribadi.
"Tidak apa habiskan saja, nanti suruh Daniel isikan lagi." jawab Mama Amelia cepat, Daniel tertawa mendengarnya.
"Iya habiskan saja, kalau kurang kasih tahu Abang." jawab Daniel terkekeh.
"Ndak usah, Baen kasih tahu Opon aja." jawab Balen cepat.
__ADS_1
"Kasih tahu saja Baen, Mama rasa tidak masalah Daniel ikut bantu." jawab Mama.
"Aban bantu tenaga dan pikiran nanti, Mama. Kalau Uang Aban juga ikut masuk ke hotel, tabungan Baen ndak ke isi dong." jawabnya. Mama Amelia kembali terbahak mendengarnya.
"Pintar juga kamu." Mama gerakkan bahu kanannya.
"Kalau ndak pintar, Aban ndak naksir Baen dong." jawabnya banggakan diri.
"Kadang-kadang kurang pintar dia, Ma." jawab Daniel terkekeh.
"Ih Aban." protes berat, Mama dan Daniel kembali tertawa.
"Ayo bobo, sudah malam ini. Mama mulai sakit kepala ini efek jet lag dari siang menahan kantuk." kata Mama Amelia pada dua kesayangannya. Daniel dan Balen kompak beranjak dari bahu Mama.
"Daniel antar ke kamar." Daniel menggandeng Mama.
"Tidak usah, Mama bisa kok." Mama menolak sambil tertawa masih merasa lucu lihat Balen dan Daniel yang sekarang sudah menjadi suami istri.
"Mama kadang merasa ini seperti mimpi loh, lihat kalian sudah jadi pasangan hidup." kata Mama sebelum masuk ke kamar.
"Aku tidak berhenti bersyukur, Ma. Allah ijinkan Baen jadi pasanganku." jawab Daniel jujur.
"Walaupun kadang-kadang kurang pintar Aban?" tanya Balen bikin Mama dan Daniel kembali terbahak.
"Nite-nite sayang, besok pagi jangan lupa pakai testpack." Mama kembali ingatkan Balen.
"Iya Mama, ikuti petunjuk ini saja kan?" tanya Daniel yang saat ini pegangi testpack dari Balen.
"Iya, ingat. Istrimu jangan diganggu dulu malam ini." Mama ingatkan Daniel.
"Tenang, habis sholat shubuh kan bisa." jawab Daniel terkekeh.
"Ih Aban, itu kan rahasia." Balen menepuk bahu Daniel.
"Iya besok kalau Mama tanya kamu jangan kasih tahu kita jadi apa tidaknya." jawab Daniel bikin Mama mesem-mesem.
"Baen, paling digemari gaya miring-miring kan?" tanya Mama menggoda Balen.
"Eh jangan bilang Mama mau praktekkan sama Papa gaya itu." Daniel terbahak.
"Rahasia dong." jawab Mama terkikik geli.
"Mama ada gaya jungkir balik juga loh." kata Balen semangat.
"Ada di artikelnya? kok Mama tadi tidak lihat ya?" tanya Mama sambil memegang handel pintu.
"Sudah Mama gaya miring-miring saja, gaya jungkir balik bikin Papa dan Mama sakit pinggang nanti." jawab Daniel segera menarik istrinya masuk ke kamar, jangan sampai Mama tanya gaya jungkir balik ada di point berapa. Ah Balen katanya rahasia.
__ADS_1