Because I Love You

Because I Love You
Pijat


__ADS_3

"Kita ke Jeju nya lusa saja boleh ndak?" tanya Balen pada yang lain saat makan malam di hotel. Hari ini baru ke satu tempat saja, Balen merasa belum puas di Seoul.


"Boleh." Redi anggukan kepalanya ikuti maunya Balen, yang lain pun setuju.


"Mau kemana memangnya besok?" tanya Daniel.


"Mau ke Gangnam, Itaewon, banyak deh Aban." jawab Balen nyengir.


"Myeongdong juga, kita mau belanja tidak sih?" tanya Tori.


"Beli kosmetik, yeay." Kia bersorak senang.


"Seperti yang suka dandan saja." Lucky terkekeh karena Kia bukan type cewek yang suka dandan, selalu tampil alami, paling hanya kenakan foundation dan lipstick tipis-tipis, tapi tetap terlihat cantik di mata Lucky.


"Lipstick." jawab Kia nyengir.


"Kamu mau belanja apa?" tanya Redi pada Ulan.


"Ndak ada, di Jepang juga banyak." jawabnya santai.


"Beli masker jangan lupa." Daniel menggoda istrinya.


"Hahaha Aban. Baen mau yang gratisan aja kaya Tori." jawab Balen terkekeh.


"Itu dikasih Selin, Baen. Dia lagi datang ke acara apa waktu itu ya." Tori sebut Kakaknya.


"Kita lupa ya ndak ajak Selin." kata Balen teringat Selin di Singapore.


"Telepon suruh menyusul." kata Kia berikan ide.


"Mau ndak ya." Balen berpikir keras.


"Coba deh Tori, telepon Selin." pinta Balen pada Tori. Tori langsung hubungi Kakaknya di Singapore.


"Baguuus, liburan tidak ajak aku ya." semprot Selin saat melihat wajah Kia, Balen dan Tori.


"Sini menyusul, Baen kangen tahu." ajak Balen pada Selin.


"Masih repot ini di kantor." jawab Selin yang ikut aktif di Santoso corporate.


"Bisa nyusul ndak?" tanya Balen lagi.


"Tidak bisa Baen, ternyata aku lagi hamil, morning sick parah." jawab Selin, tampak sedang dikantor saat ini, Balen pasang wajah kecewa.


"Mana Om Redi." tanya Selin kemudian.


"Yes Selin." Redi lambaikan tangannya.


"Maaf ya pernikahan Om Redi aku tidak hadir, selamat ya Om Redi dan istri." kata Selin.


"Kamu harus kenalan langsung sama Ulan." kata Redi pada Selin.


"Ke Singapore dong, Selin belum bisa naik pesawat. Salam kenal Ante Ulan." Selin lambaikan tangan pada Ulan yang duduk disebelah Redi.


"Salam kenal Selin, panggil Ulan saja." Ulan lambaikan tangannya.


"Jangan dong, kan istrinya Om Redi." Selin terkekeh.


"Selin... Kia juga pengantin baru tahu." teriak Balen beritahukan Selin.

__ADS_1


"Hahaha aku lihat kok berita viral itu." Selin langsung terbahak.


"Selamat ya Kia dan Om Lucky yang banyak fansnya." kata Selin masih tertawa.


"Widih banyak fans sok tahu ah." Lucky tertawa, ia belum begitu kenal Selin, hanya sambil lewat saja.


"Baca kolom komentar banyak yang patah hati." kata Selin.


"Beneran Kak Selin?" tanya Kia.


"Iya kamu baca dong."


"Tidak usah, bikin pusing." sahut Lucky cepat, tidak mau Kia ikut membaca komentar netijen. Kalau bagus dan positif sih aman, kalau negatif bisa tambah beban pikiran Kia, Lucky tidak mau itu.


"Kapan ke Singapore dong, disini juga banyak yang bagus loh." Selin mengundang semuanya.


"Nanti ya diatur waktu, Ulan harus masuk kampus, ini saja ijin tidak masuk beberapa hari." jawab Redi pikirkan kuliah Ulan.


"Eh iya, Ulan bisa ke Jeju ndak tuh?" tanya Balen langsung ingat Ulan harus masuk kuliah.


"Belum dapat balasan dari kampus, kalau besok belum di balas, lusa Ulan balik ke Jepang ya." ijin Ulan pada semuanya.


"Nanti kalau libur ke Singapore ya." ulang Selin pada Ulan.


"Oke Selin, Ulan tergantung Bang Redi."


"Iya nanti Om atur waktunya." jawab Redi.


"Kita juga ndak?" tanya Balen pada Daniel.


"Lihat nanti saja ya, keseringan bolos kuliah, kamu kapan lulusnya." jawab Daniel pikirkan Balen sudah ditunggu tanggung jawab baru, melahirkan, kuliah dan mengurus hotel.


"Om Daniel, nanti aku melahirkan harus ke Singapore loh." kata Selin pada Daniel.


"Baen juga lagi urus baby itu Selin, sepertinya tidak mungkin." kata Daniel mengingat istrinya juga sedang mengandung.


"Oh iya, kapan dong kita bertemu, sampai waktu melahirkan Selin tidak akan kemana-mana ini, di Singapore saja." kata Selin pada yang lain.


"Nanti ya Selin kalau Aban ada kunjungan bisnis, Baen ikut." dasar Balen masih saja mau ambil kesempatan.


"Idih Baen, Singapore bagian gue kali." Redi terkekeh.


"Ish Ledi Dei ndak kompak." dengus Balen semua jadi tertawa, Richie malah melempar tissue ke wajah Kakaknya.


"Oke ya Selin, bye." Balen lambaikan tangan pada Selin, abaikan tissue yang tidak mampir ke wajahnya hanya lewat saja. Semua ikut lambaikan tangan lalu Tori matikan sambungan telepon.


"Eh lupa ya titip salam buat ishaq." kata Balen sebut nama suami Selin.


"Lain kali saja." jawab Tori nyengir.


"Masih ada tempat yang mau kalian kunjungi malam ini?" tanya Daniel pada yang lain.


"Gue sama Ulan mau muter nih, khawatir kita tidak bisa ke Jeju jadi maksimalkan waktu ketempat yang bisa dikunjungi saja." jawab Redi.


"Kia ikut dong." Kia tawarkan diri.


"Ayo." Redi anggukan kepalanya.


"Kita juga ikut, kan?" Tori pandangi Richie.

__ADS_1


"Ayolah, masa dikamar terus." jawab Richie yang memang senangnya di luar kamar kalau lagi traveling.


"Karena Baen capek, kita stay dihotel saja." jawab Daniel sementara Balen monyongkan bibirnya, inginnya ikut bersama yang lain.


"Harus nurut sama suami, Baen." Lucky tertawakan Balen.


"Iya, iya." jawab Balen, jujur memang Balen capek, tapi masih bisa sih paksakan diri.


"Ya sudah kalian jalan saja." Daniel persilahkan yang lain pergi.


"Ndak kompak kalau begini." gerutu Balen sedikit kesal tapi tidak bisa memaksakan kehendak, bisa diajak pulang ke Ohio sama Daniel kalau Balen memaksa.


"Sorry ya Ante, mumpung ke Korea nih." kata Kia tengil.


"Aku juga sorry Baen." Tori terkikik geli.


"Ih Ulan jadi ndak tega." Ulan memeluk Balen sambil tertawa.


"Ndak tega tapi ketawain." dengus Balen ikut tertawa juga.


"Jangan pada lebay deh, sana cepat pergi. Nanti anakku ngences." kata Daniel sambil tertawa.


"Aban sih gitu." Balen masih saja protes saat mereka sudah dikamar.


"Kasihan baby dong, kamu juga harus pikirkan kesehatan kamu." kata Daniel pada Balen.


"Terus Baen ngapain dong kalau dikamar begini, yang lain jalan-jalan."


"Istirahat, sini Abang pijat kakinya." Daniel segera mengambil minyak telon untuk dibalurkan ke kaki istrinya.


"Sebentar Baen ganti daster dulu." sejak hamil senangnya pakai daster, bukan piyama.


"Daster? tumben." Daniel terkekeh.


"Enak Aban, ndak sesak." jawab Balen segera mengambil daster di kopernya.


"Mau mandi? sudah malam." kata Daniel saat lihat Balen menuju kamar mandi, lagi pula tadi sebelum makan malam Balen sudah mandi.


"Ndak, bersih-bersih aja." jawab Balen tersenyum manis.


"Cantik kamu kalau tidak rewel." kata Daniel ikut tersenyum.


"Memangnya Baen rewel?" tanya Balen.


"Kadang-kadang." jawab Daniel jujur.


"Aban kesal?" tanya Balen.


"Tidak." jawab Daniel.


"Beneran ndak kesal?" Balen memastikan.


"Beneran sayang, ayo bersih-bersih biar cepat Abang pijat kakinya."


"Punggung juga Aban."


"Oke."


"Aban, kalau nanti mau pijat selain punggung sama kaki juga boleh." kata Balen bikin Daniel terbahak, istrinya mulai mancing-mancing.

__ADS_1


"Tidak usah pakai baju ya kalau begitu." jawab Daniel, mereka langsung tertawa bersama.


__ADS_2