Because I Love You

Because I Love You
Pertimbangan


__ADS_3

"Kia!" Lucky menepuk pipi Kia yang tidur dipangkuannya, tadi seperti yang Kia bilang kalau ingin bobo, begitulah adanya. Kia tampak pulas di pangkuan Lucky, entah tadi mendengar cerita Lucky apa tidak, yang pasti dengkuran halus terdengar tidak sampai lima menit ia rebahkan badannya.


"Tidur dia." Balen terkekeh.


"Enak betul bisa pulas dimanapun." Ulan tampak iri, ia kesulitan tidur selama di Ohio. Beradaptasi dengan lingkungan baru bukan hal yang mudah untuk Ulan.


"Kamu mengantuk?" tanya Redi pada Ulan.


"Ndak, cuma iri saja lihat Kia bisa tidur pulas dimanapun." jawab Ulan tersenyum.


"Kamu tidak bisa tidur dek?" tanya Nanta pada adiknya.


"Ndak bisa, seperti biasa Ulan harus adaptasi." Ulan terkekeh.


"Nanti kalau punya suami bisa tidur deh asal dipeluk." jawab Balen pamer.


"Elu sih tidak dipeluk juga pulas Baen." Richie tertawakan Kakaknya


"Ih ndak gitu juga, iya kan Ban." minta dukungan Daniel.


"Pasti Kuda Nil jawab jya saja, asal bisa peluk-peluk istrinya." celutuk Redi bikin semua terbahak.


"Kalau pulas mau dipeluk atau dipelintir seperti apa tetap saja tidak sadar." jawab Daniel disela tawanya.


"Nih pengikutnya." tunjuk Lucky pada Kia yang masih tidak terganggu dengan berisiknya lingkungan sekitarnya.


"Baen ndak ngerti kenapa Hilma cemburu sama Kia, Kak Yumi aja ndak cemburu sama Baen, jelas-jelas Baen kalau telepon Aban Leyi bisa berjam-jam dan setiap hari." Balen gelengkan kepalanya.


"Ooh mau cari yang seperti aku ya susah Baen." Rumi langsung sombong gitu, yang lain tertawa mendengarnya.


"Padahal Kia, bukan wanita yang berdada besar yang harus dicemburui." komentar Tori bikin Redi menoyor kepalanya.


"Uncle Redi ih..." tidak terima kepalanya ditoyor.


"Kenapa harus wanita berdada besar yang bikin cemburu?" protes Redi.


"Yah type uncle Lucky yang begitu kan, semodel-model Hilma itu. Lah Kia lurus rata dan masih bocah pula." kata Tori yang kembali mendapat toyoran dari Richie.


"Biar begitu Kia punya pesona yang luar biasa." kata Ulan naikkan alisnya, langsung ketiga geng kepo bersorak rusuh. Lucky terbahak sambil gelengkan kepalanya. Berhadapan dengan abege rusuh yang semau gue bikin selalu saja tertawa.


Kia terbangun ketika yang lain baru saja mulai tidur dan masuk ke kamar masing-masing. Mereka istirahatkan diri, kalah sama Opa dan Oma yang manfaatkan waktu dengan berkeliling Ohio.


"Pada kemana Om?" tanya Kia pada Lucky yang masih setia pinjamkan pahanya pada Kia sambil sibuk membaca laporan pekerjaan melalui handphonenya.


"Tidur." jawab Lucky tanpa menoleh pada Kia, ia sedang konsentrasi tinggi. Email yang dikirim sekretarisnya beberapa jam yang lalu baru sempat Redi baca sekarang.

__ADS_1


"Om tidak tidur?" tanya Kia.


"Tadi sudah." jawabnya asal.


"Sambil duduk?" tanya Kia.


"Hm..." Lucky naikkan alisnya, masih konsentrasi membaca email. Kia yang sudah bangun dan kumpulkan kesadarannya segera beranjak membawa bantal ke kamar.


"Enak ya, sudah ditemani malah tinggalkan Om sendiri." gerutu Lucky tanpa menoleh pada Kia.


"Kia kembalikan bantal dulu." ijin Kia pada Lucky.


"Nanti saja Kia, sini temani Om dulu." pinta Lucky yang akhirnya pandangi keponakannya itu.


"Kia buluk nih Om, mandi dulu."


"Nanti Kia, ngerti tidak sih kalau Om bilang nanti?" Lucky kesal.


"Iya, iya." Kia kembali ke sofa tempatnya tidur tadi, duduk manis disebelah Lucky tanpa bersuara, Kia tahu kalau Lucky sedang kerja sebaiknya tidak diajak bicara supaya lebih cepat selesai. Setelah menemani sekitar empat puluh lima menit,


"Selesai." Lucky mencubit pipi Kia sambil tersenyum tanpa beban.


"Om, om pacaran lagi sama Tante Hilma?" tanya Kia penasaran.


"Sok tahu." Lucky jentikkan tangannya ke dahi Kia.


"Sembarangan kalau bicara, siapa yang janjian sih." kembali rambut Kia ditarik pelan oleh Lucky


"Itu kenapa bisa disusuli?" tanya Kia penasaran.


"Dia punya radar orang ganteng mungkin." Lucky terkekeh.


"Tadi pakai nangis lagi, pasti menyesal waktu itu minta putus." Kia mencibir, Lucky tertawa dibuatnya.


"Tidak menyesal Kia, buktinya Hilma tambah cantik setelah putus dari Om." jawab Lucky masih tertawa.


"Nah ini sepertinya Om yang menyesal, putus sama Tante Hilma." Kia tertawakan Lucky.


"Enak saja." Lucky kembali tertawa.


"Kalau Om balik lagi sama Tante Hilma, Kia tidak bisa dekat dengan Kak Noah dong." Kia pasang wajah gareng diwajahnya, Lucky terbahak lihat ekspresi Kia.


"Kamu naksir Noah?" tanya Lucky penasaran.


"Belum sih, tapi dia bisa jadi pertimbangkan, ganteng, baik, mapan. Apa lagi coba?" Kia tertawa jahil.

__ADS_1


"Belum se-mapan Om pasti." jawab Lucky tengil.


"Kalau se-mapan Om ya tunggu seumuran Om dong, keburu tua Kia." sungutnya.


"Tidak harus setua Om baru mapan, eh kamu bilang Om tua, tidak sopan." Lucky mencubit kedua pipi Kia dengan kedua tangannya.


"Hahaha memang sudah tua kan? Om aku ceritain deh..." Kia tertawa dan lepaskan cubitan Lucky pada pipinya.


"Apa?"


"Aku kan cerita sama anak-anak Baen tuh di group kalau aku galau Om mau menikah, eh Bima bilang nanti dia carikan Om-Om yang baru." tawa Lucky dan Kia meledak.


"Kurang ajar Bima ya." Lucky tertawa geli dengar jawaban keponakannya itu.


"Terus mereka bilang kenapa cewek-cewek cantik yang mereka punya diambil sama Om-Om." padahal tidak ada kata cantik waktu itu, Kia tambah-tambahin saja.


"Siapa saja Om-Om nya?"


"Om Daniel, Om Lucky, Om Redi dan Om Ichie." jawab Kia.


"Ichie sih Om-Om karbitan." jawab Lucky terbahak, mengingat usia Richie dengan yang lainnya tidak beda jauh.


"Jadi mana stock Om-Om pengganti Om Lucky untuk aku?" konyol Kia menagih pada Lucky.


"Minta sama Bima dong." jawab Lucky mengacak anak rambut Kia sambil tertawa.


"Sembarangan memang Bima tuh, dikira Kia sugar baby carinya Om-Om." Kia bersungut dan Lucky kembali terbahak.


"Kenapa ini berdua seru sendiri?" Dania segera bergabung.


"Kia minta carikan Om-Om, karena aku mau menikah." jawab Lucky menggoda Kia.


"Bima tuh, Manta." Kia ceritakan ulang percakapan di group, Dania terbahak dibuatnya.


"Nanti, Manta kenalkan sama adik temannya manta, mau? seumuran Lucky juga. Lebih ganteng dari Lucky sih." konyol, Dania malah tanggapi serius.


"Kak, yang benar saja." Lucky protes keras.


"Kamu kan sudah mau menikah, kalau yang ini baru putus cinta, siapa tahu cocok sama Kia." jawab Dania.


"Eh jangan macam-macam deh, aku juga baru putus cinta tahu." kata Lucky tidak terima.


"Tapi kan kamu mau dijodohkan dan segera menikah." Dania tersenyum jahil.


"Belum tentu aku terima, aku belum mau menikah." jawab Lucky cepat.

__ADS_1


"Ada yang ganteng tidak mau menikah..." Dania menggantung kalimatnya.


"Namanya Lucky." sahut Kia bikin Lucky gemas dan mencubit lagi kedua pipi Kia.


__ADS_2