Because I Love You

Because I Love You
Piring


__ADS_3

Redi tertawa baca pesan Balen, pasti Ulan mengadu, pikir Redi.


Kata Siapa Baen?


pura-pura polos, balas pesan Balen.


Baen...


Bangun Baen, jangan tidur terus.


Sudah ditunggu lima menit, tidak ada jawaban, bikin Redi penasaran. Ia segera hubungi Balen, namun dijawab oleh pesan suara, terpaksa menunggu kalau begitu, pasti Baen sudah tidur.


Menjelang sore setelah Redi mandi lalu segera keluar kamar, tampak Ulan sudah sibuk di dapur siapkan masakan untuk makan malam mereka.


"Aku bantu apa?" tanya Redi pada Ulan, bagaimanapun ia juga bisa memasak, selama ini bergantian dengan Ichie dan Daniel siapkan makan untuk mereka berempat, karena Balen bagian bersihkan rumah.


"Abang duduk saja, ndak usah bantu. Sebentar lagi selesai kok." jawab Ulan yang sedang menggoreng, sayur capcai pun sudah tersaji di meja makan. Redi bantu mengecek magic jar, pastikan nasi sudah tersedia. Ternyata Ulan sudah siapkan semua.


"Sudah selesai, udang goreng mentega saja nih Bang, Ulan juga bikin sambelan." katanya sambil pindahkan udang ke piring lalu letakkan di meja makan.


"Sudah boleh makan kok." katanya tersenyum manis.


"Masih kenyang, nanti saja." jawab Redi balas tersenyum.


"Biasanya kalau bangun tidur itu lapar loh." kata Ulan lagi.


"Aku tidak tidur kok. Istirahat saja di kamar." jawab Redi.


"Malah Ulan yang tidur tadi."


"Berarti kamu lapar?" tanya Redi, Ulan anggukan kepalanya.


"Ya sudah ayo makan." ajak Redi.


"Ulan belum mandi." jawabnya sambil nyengir.


"Makan dulu saja." saran Redi, Ulan gelengkan kepalanya.


"Ulan mandi dulu ya sebentar, Abang kuat ndak nunggu?" tanya Ulan.


"Kuat, kan belum lapar." Redi tertawa saat Ulan buru-buru masuk ke kamarnya.


Baen...


pesan Redi masih contreng satu.


Balena!!!


Putri!!!


Anaknya Kenan!!!

__ADS_1


Yuhuuu, tahajud woi!


Woi Baen...


sudah tahu handphone Balen tidak aktif, terus membombardir kirim pesan ke nomor tersebut. Redi tertawa saat bayangkan begitu handphone dihidupkan betapa berisiknya bunyi pesan Redi yang masuk.


Lu Kirim pesan ke gue kali bukan Balen.


pesan yang masuk ke handphone Redi bikin Redi mengecek handphonenya beberapa kali. Ternyata Redi Kirim pesan pada Daniel.


"Sorry, kok lu belum tidur?" tanya Redi saat hubungi Abangnya.


"Terbangun, bukan belum tidur." jawab Daniel dengan suara bantalnya, Redi tertawa tanpa dosa.


"Ada apa? tidak sabar mau curhat?" tanya Daniel.


"Lumayan." jawab Redi tidak jelas.


"Lumayan bagaimana?" tanya Daniel.


"Yah, sudah gue bahas openingnya." Redi menghela nafas.


"Selanjutnya nanti saja di Jakarta, yang penting Ulan sudah tahu gue serius." lanjut Redi.


"Bagus deh, pekerjaan bagaimana?" tanya Daniel lagi.


"Tidak perhatian sama kisah cinta gue. Besok gue cari apartment, dua bulan lagi sudah bisa berjalan di sini." Redi beritahukan Daniel hasil pertemuan dengan klien mereka kemarin.


"Kyoto dong." jawab Redi mantap.


"Meniru jejak Kudanil, ada yang mesti gue jaga di Kyoto." lanjut Redi tertawa.


"Benar yang gue bilang kan? elu tuh terlalu mengidolakan gue, jadi semua harus ikuti jejak gue." jawab Daniel tengil.


"Tapi kan pacar gue banyak, lu mana? Balen terus saja dari dia ingusan." Redi tidak kalah tengil.


"Nanti juga kamu menyesal dibayang-bayangi masa lalu." Daniel terkekeh membalas Redi yang tidak bisa menjawab.


"Aban, telepon siapa?" terdengar suara Balen merengek.


"Sudah ya Ledi Dei, istri gue minta dipeluk." Daniel langsung matikan sambungan teleponnya. Dasar ya Kudanil, lagi bicara serius main matikan saja, pikir Redi.


"Ledi Dei, Kirim pesan tidak berhenti." lapor Daniel pada Balen yang terbangun.


"Hmm..." Balen ulurkan tangannya minta dipeluk, abaikan cerita tentang Ledi Dei, matanya masih terpejam, tidak lama setelah Daniel peluk, Balen kembali tertidur pulas.


Sementara itu setelah mandi, Ulan langsung menuju meja makan, walaupun masih sore tapi perutnya sudah lapar, ini memang jam makan Ulan yang sebenarnya, karena saat malam hari Ulan tidak makan lagi.


"Ayo Bang." ajak Ulan serahkan piring pada Redi.


"Nasinya?" tanya Redi yang ternyata minta diambilkan.

__ADS_1


"Banyak apa sedikit?" tanya Ulan, bersiap ambilkan nasi untuk Redi. Sebenarnya kalau mau kesal boleh saja, punya tamu kok merepotkan, ambil nasi sendiri saja tidak bisa. Tapi berhubung Ulan tidak merasa direpotkan, ia senang saja melayani Redi.


"Syarat saja ya asal ada nasi." jawab Redi, Ulan ambilkan secukupnya lalu serahkan pada Redi.


"Makan seadanya ya Bang." kata Ulan tersenyum.


"Makanan rumahan ini, jadi serasa di Indonesia." jawab Redi lalu mulai sendokkan nasi dan sayur berikut udang ke mulutnya.


Keduanya makan tanpa berbicara lagi, Redi juga tidak membahas apa yang tadi ia katakan pada Ulan. Sementara Ulan sibuk dengan lamunannya, entah apa yang ia pikirkan, sesekali keningnya tampak berkerut, mulut juga kadang komat-kamit dengan tangan ikut bergerak.


"Pikirkan apa?" tanya Redi sedikit terganggu melihat ekspresi dan gerakan Ulan.


"Design rumah tapi ada kolam renang di halaman depan, tanahnya kecil hanya seratus dua puluh meter." Ulan gelengkan kepalanya bingung pikirkan design rumah yang harus dibuatnya.


"Masa tamu begitu masuk rumah lihat orang berenang sih, apa tidak risih yang berenang." Ulan mendesah.


"Kamu lagi ada tugas?" tanya Redi.


"Iya tapi kok Ulan tidak sreg." jawabnya.


"Harus di halaman depan kolam renangnya?" tanya Redi.


"Permintaannya begitu." jawab Ulan.


"Permintaan dosen?" tanya Redi.


"Bukan, ini kerja sampingan Ulan. Teman Ulan di Indonesia minta di bikinkan. Bayarannya lumayan untuk anak rantau." Ulan terkekeh.


"Mau aku bantu?" tanya Redi, Ulan tampak berpikir.


"Tenang, aku tidak akan minta komisi." Redi menggoda Ulan sambil tertawa.


"Bayarannya juga ndak cukup buat ganti ongkos Abang ajari Ulan." Ulan ikut tertawa.


"Kalau takut terlihat oleh tamu, bisa disiasati dengan tanaman hias seperti palem kipas atau pohon lainnya yang rindang, tanah kecil berarti kamu bikin kolam renang yang minimalis." Redi memberi saran.


"Pohon beringin seram ndak Abang?" tanya Ulan bergidik.


"Seram tidak seram sih, tergantung ada penampakan apa tidak." jawab Redi tertawa. Ulan jadi ikut tertawa bersama Redi.


"Aku bantu cuci piring ya." kata Redi langsung membawa piringnya dan piring Ulan ke wastafel.


"Ndak usah Abang, biar Ulan saja." Ulan berusaha merebut piring ditangan Redi, tapi ia tersandung kaki kursi hingga nyaris terjatuh, kalau saja Redi menangkap Ulan dengan sebelah tangannya.


"Ugh..." Redi menahan nafas karena harus selamatkan Ulan dan juga selamatkan piring.


"Abang..." Ulan terbengong sambil pandangi Redi, ia sedang dipeluk Redi kini.


"Untung aku jago akrobat." jawab Redi setelah pastikan posisi Ulan sudah berdiri tegak sempurna. Ulan tersenyum sambil mengatur nafas dan detak jantungnya yang tak beraturan.


"Ulan saja yang cuci piring." katanya mengambil piring ditangan Redi, lalu mulai sibuk di depan wastafel sambil tenangkan diri.

__ADS_1


"Kaki kamu biru Ulan." jantung Ulan tambah mau copot saja rasanya saat Redi berjongkok mengusap kakinya yang terasa nyeri efek tersandung kaki kursi.


__ADS_2