
"Kak Kia bagaimana rasanya dipanggil sayang sama Om Lucky?" tanya Belin ingin tahu, mereka sedang di apartment Ulan kini bersama Redi mengantar Ulan pulang berganti pakaian.
"Biasa saja, Om Lucky dari dulu sering panggil sayang, sama seperti Om Daniel tadi panggil kamu sayang juga kan?" Kia santai saja.
"Kak Kia tidak Natsi Om Lucky?" tanya Belin kepo.
"Tidak pernah terpikir juga Beyin, yang benar saja. Kita tuh Om dan keponakan, mana bisa naksir sih. Kamu juga tidak naksir Om Redi kan?" selalu saja Kia membalikkan pertanyaan.
"Iya sih, Tapi kan Om Lucky bukan Om langsung Kak Kia."
"Tetap saja jadi Om dan keponakan."
"Ini gara-gara Om Winner sih mau jodohkan Kak Kia sama Om Lucky." Belin keceplosan.
"Eh yang benar saja." Kia terbahak.
"Mimpi apa Om Lucky kalau sampai dijodohkan sama aku." kembali terbahak sambil pegangi perut.
"Apanya yang lucu sih." Belin gelengkan kepalanya.
"Tidak lucu memangnya?" Kia langsung berhenti tertawa.
"Sama sekali tidak lucu." jawab Belin melengos.
"Oke lah, Ante Baen mana sih?" Kia mulai resah, Balen belum juga muncul.
"Menunggu Ante Baen atau Om Lucky, sudah jelas tadi sih Baen bersama Lucky dan yang lainnya." jawab Redi yang sedari tadi menyimak obrolan kedua abege di dekatnya.
"Om Redi sana sih temani Ante Ulan." Kia mengusir Redi, malas ada yang menguping pembicaraan ia dan Belin.
"Mau bahas Lucky ya, takut Om dengar?" Redi menggoda Kia.
"Tidak tuh." Kia mencibir sambil tertawa sok sinis.
"Aih, Kia sama Bang Lucky kah?" Ulan langsung cengengesan ikut menggoda.
"Ante lagi ikut-ikutan." Kia gelengkan kepalanya.
"Kak Kia ini banyak yang suka loh Ante, sepupu aku lagi naksir berat sama Kak Kia. Tiap sebentar tanya Kia apa kabar?" Belin senyum-senyum.
"Jadi pilih Lucky apa Alex nih?" Redi menggoda Kia.
"Pilih Om Redi deh." jawabnya santai.
"Oh tidak bisa." Redi jual mahal, Ulan jadi tertawa melihat wajah Kia yang monyong-monyong.
"Om tahu tidak Bang Alex itu waktu Kia satu mobil sama dia dan temannya yang dibahas Ante Baen terus, enak saja Kia dijadikan pelarian, no way." Kia mengibaskan tangannya.
"Bang Alex hanya timpali ucapan kedua temannya tahu." Belin membela sepupunya.
"Tetap saja dia juga ikut puji-puji Ante, ketahuan lah sebenarnya dia juga sama seperti temannya." jawab Kia nyengir lebar.
"Kamu cemburu?" Ulan malah menggoda Kia.
"Tidak." jawab Kia yakin.
"Jadi Alex masih punya peluang dong?" Redi kembali menggoda.
"Om Redi sih punya peluang." Kia malah menggoda Redi yang terbahak mendengarnya.
"Kamu tahu kan Om kesini mau apa?" Redi naikkan alisnya.
__ADS_1
"Tahu." jawab Kia santai.
"Berarti kamu tidak punya peluang." jawab Redi terkekeh.
"Ish penolakan." Kia malah terbahak.
"Beyin pikir-pikir Om Beyin nih ganteng banget loh." Belin pandangi Redi.
"Ish memangnya kecantikan kamu tuh menurun dari siapa?" tanya Redi tengil.
"Ayah." jawab Belin yakin.
"Ayah kamu wajahnya asia, sedangkan kamu kebule-bulean itu seperti siapa dikeluarga menurut kamu?" masih saja tengil. Belin pasang wajah berpikir dengan mulut seperti bebek.
"Masih kaya bule juga kalau begitu." Kia komentari Belin dengan wajah datar.
"Dipikir-pikir sih lucu loh." kata Belin.
"Kamu kebanyakan mikir." celutuk Redi tertawakan Belin.
"Ck... Om, Beyin belum selesai." merengek seperti anak kecil.
"Iya apa?"
"Ayah kenapa berwajah Asia sendiri sedangkan adik-adiknya seperti bule?" tanya Belin heran.
"Jangan-jangan Ayah sama Om bukan anak kandung." mulai halu, Redi tertawa dibuatnya.
"Enak saja." Redi mengacak anak rambut Belin.
"Habisnya tidak ada yang mirip Opa dan Oma." kata Belin lagi.
"Kalau Ayah dan Om anak pungut, kamu kenapa mirip Om Daniel dan Om Redi?" tanya Redi tertawa.
"Halu deh, meskipun Ayah Leyi muka Asia tapi tidak kalah ganteng sama adik-adiknya. Mereka sebenarnya mirip kok." kata Kia ikut menilai.
"Mereka harus test DNA." kata Belin serius.
"Kamu tuh yang harus test DNA." kata Redi sambil tertawa.
"Kok Beyin?" tidak terima.
"Karena kamu tidak mirip Ayah dan Nami, sedangkan Billian mirip." Redi tertawa puas.
"Jadi aku anak Om Daniel atau anak Redi?" kembali halu.
"Siapa yang mau punya anak kaya kamu? jajannya banyak." Redi kembali tertawa. Ulan ikut tertawa geli dibuatnya.
"Aduh, Kia juga jajannya banyak Om." Kia ikut-ikutan membuat Redi dan Ulan terbahak.
"Bagaimana ini?" Belin tanyakan pada Kia.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Kia bingung.
"Beyin anak siapa dong?" kepikiran rupanya bikin Redi kembali terbahak.
"Anak Leyi lah, bagaimana sih." Redi kembali mengacak anak rambut Belin.
"Beneran?"
"Beneran, tanya saja Baen yang suka usap perut Nami waktu hamil kamu." kata Redi masih tertawa.
__ADS_1
"kalian sudah lapar lagi belum? Lucky tadi Kirim pesan ajak kita makan nih." Redi tunjukkan handphonenya yang sekarang berdering, tampak nama Lucky disana.
"Asiik, makan apa kita." Belin dan Kia joget-joget.
"Ante, disini ada restaurant Korea halal tidak sih? Beyin mau makan Chadol Subdubu." kata Belin pada Ulan.
"Waduh, Ante ndak pernah makan itu." Ulan terkekeh.
"Di Jakarta saja kalau mau cari makanan Korea halal. Disini kita cari restaurant halal saja yang penting." kata Kia pada Belin.
"Sop tahu versi Jepang saja." kata Redi pada Belin.
"Ya sudah."
"Luck..." Redi menjawab telepon Lucky.
"Makan Red." kata Lucky.
"Dimana?" tanya Redi.
"Ini bocah mau makan di Mabrur." kata Lucky pada Redi.
"Kamu tahu Mabrur?" tanya Redi pada Ulan yang menganggukkan kepalanya.
"Pada dimana kita turun deh." kata Redi pada Lucky.
"Ketemu diparkiran saja." jawab Lucky.
"Kia mau makan sop tahu nih." Redi menggoda Kia.
"Oh nanti kita cari." jawab Lucky sigap.
"Bukan Kia kali." jawab Kia, sementara Redi julurkan lidahnya.
"Gue kebawah Luck." Redi tutup sambungan teleponnya.
"Ayo dek." ajak Redi pada Ulan.
"Dek." gumam Belin mencibir.
"Ck... jodohin sama Alex juga nih." ancam Redi pada Belin.
"Apa sih Om, aku naksir Panji tahu." kata Belin jujur sebutkan nama sahabat Alex.
"Panji naksir siapa?" tanya Redi.
"Ante Baen." jawab Belin disambut derai tawa Redi, Ulan dan Kia.
"Ih tapi Ante Baen kan sudah punya Om Daniel." kata Belin lagi.
"Terus kenapa?"
"Beyin masih punya peluang." optimis kepalkan tangan menyemangati diri sendiri.
"Kasihan deh." Ulan tertawa.
"Ante Ulan ndak pernah mengalami seperti kita karena ndak dekat Ante Baen sih." kata Belin lagi.
"Kalian juga cantik, ndak kalah sama Baen." Ulan berkata jujur.
"Iya sih tapi Ante Baen lahir duluan dan terkenal sih, jadi kita kalah pamor deh." sungut Belin mengingat Balen sudah jadi bintang sejak kecil.
__ADS_1
"Yang penting Ante Baen sudah ada Om Daniel, kita tunggu cowok-cowok itu sadar." kata Belin lagi langsung terbahak. Kia gelengkan kepalanya sambil menoyor kepala Belin, keduanya jadi rusuh sendiri.