Because I Love You

Because I Love You
PR


__ADS_3

"Anak Papa lagi apa?" Daniel mengusap dan menciumi perut Balen yang tampak mulai membesar, ia baru saja pulang bekerja. Saat ini gantikan Balen bersama Lucky mengurus Balena Hotel. Ya Lucky kembali dilibatkan karena Kia pun tengah hamil anak kedua, jadilah para suami yang dibuat sibuk, sementara istri dibiarkan menikmati masa kehamilannya. Untuk dunia perjengkolan di handel Redi yang juga sudah pindah ke Jakarta, tidak lagi menetap di Jepang.


"Aban, anaknya sudah tendang-tendang nih, lebih aktif dari C's dulu deh mereka." lapor Balen pada Daniel.


"Gadis-gadis Papa jangan bikin Mama sakit ya." bisik Daniel lagi bicara pada anaknya diperut. Menurut hasil USG Jenis kelamin anak di dalam kandungan perempuan, tentu saja ini membuat Daniel sangat senang, karena program mereka sesuai harapan, Daniel terus saja berdoa agar anak-anaknya dapat lahir dengan selamat dan sehat walafiat, begitu juga istrinya.


"Ndak sabar mau lihat gadis-gadis nih, mirip Mama apa mirip Papa lagi ya?" Balen terkekeh biarkan suaminya terus ciumi perutnya.


"Kalau mirip Papanya, Mama tidak boleh marah." Daniel ingatkan Balen sambil tersenyum


"Ndak apa deh mirip Aban aja." kata Balen mengalah, sudah pasrah karena yang tiga dominan mirip Daniel, Balen tidak mau berharap lagi setelah pengalaman sebelumnya.


"Menyerah?" tanya Daniel tertawa.


"Sudah jelas Gen keluarga Aban, Billian sama Beyin mirip Aban Leyi, Moa mirip Ledi Dei, C's? ndak usah ditanya deh, daripada Baen kecewa." jawab Balen bikin Daniel terbahak.


"Mirip kamu saja deh, jadi ada tiga yang cantiknya nanti." Daniel juga berharap anak gadisnya mirip dengan Balen yang selalu membuatnya jatuh cinta.


"Ndak usah kasih harapan Aban." kata Balen bikin Daniel kembali terbahak.


"Hari ini masih mual?" tanya Daniel.


"Sudah ndak, yang habis dari Singapore itu enak-enak aja, kalau kerja aja mual, jalan-jalan ndak." Balen terkikik geli.


"Iya biar Abang saja yang sibuk, kalian senang-senang saja, dirumah, nge Mal, Kuliner, kemana lagi biasanya?" tanya Daniel.


"Besok mau ke Sentul, Aban. Ada tempat makan bagus disana." Balen langsung semangat.


"Siapa saja?" tanya Daniel.


"Baen, Kia, Ulan. Beyin kerja sih, minggu lalu sudah kita culik, kalau besok diculik lagi Noah marah ndak ya?" tanya Balen.


"Jangan diganggu kalau lagi kerja."


"Ndak ganggu sih, cuma ajak aja." jawabnya sambil tertawa jahil.


"Maaaam, besok mau pergi lagi?" tanya Charlie yang mendengar pembicaraan Mama dan Papanya.


"Iya, kalian tidak apa kan di tinggal?" tanya Balen.


"It's ok but I'm so worry about my sister. Mam ajak pergi terus nanti mereka lelah Mam." Charlie ingatkan Mamanya.


"Ndak kok, cuma duduk manis di mobil terus turun makan." jawab Balen tenangkan Charlie.


"Mam tiap hari pergi Pap." Cadi mengadu pada Papanya.


"Tidak apa." jawab Daniel tersenyum.

__ADS_1


"Tapi Mam perutnya sudah besar begitu, malah pergi-pergi terus. Nanti kalau melahirkan di jalan bagaimana?" tanya Cadi.


"Eh Cadi jangan bicara sembarangan dong, Mama jadi takut nih."


"No Mam, perut Mam itu sudah mau jatuh rasanya." jawab Cadi.


"Sayang, kamu kapan HPL?" tanya Daniel.


"Bulan depan kan Aban, masih lama." jawab Balen.


"Serius bulan depan? yang Cadi bilang itu kok bikin aku kepikiran." jawab Daniel.


"Jadi?"


"Sebaiknya kamu jangan pergi jauh-jauh. Kalau ke Mal pilih yang terdekat dengan rumah bersalin." Daniel berikan solusi.


"Ish Aban masa ke Mal sekitaran komplek aja sih. Sentul dekat kan Aban?" tanya Balen.


"Kalau kamu mules saat di Tol yang Abang pikirkan." jawab Daniel.


"Kalau Mam tetap mau pergi jauh, Pap lebih baik sewa dokter dan ambulance." Chandra berikan ide, anak ini selalu saja berpikir kedepan.


"Ndak lucu ah Chandra." Balen kibaskan tangannya.


"I'm not kidding Mam. Kalau Mam tiba-tiba harus melahirkan dokter sudah ready, biar saja Mam melahirkan di ambulance." jawab Chandra, Balen langsung gelengkan kepalanya sementara Daniel tertawa dibuatnya.


"Tuh dengar mau ikuti saran Abang atau Chandra, silahkan saja." jawab Daniel.


"Empat orang pria di hadapan kamu ini sedang khawatirkan kamu sayang." jawab Daniel dengan lembut.


"Cadi, kamu ndak apa kan kalau Mama kulineran?" tanya Balen.


"Ya ajak saja dokternya kulineran." jawab Cadi.


"Kalian serius?" tanya Balen, keempatnya anggukan kepala.


"Ya ampun pada lebay deh semuanya." sungut Balen, C's pandangin Papanya sambil kerutkan kening. Mamanya tinggalkan mereka sambil merajuk.


"Pap, Mam keras kepala." gumam Charlie pandangi Papanya.


"Mama hanya shock karena kita berempat satu suara." jawab Daniel terkekeh.


"Bagaimana kalau Mam mogok makan, kasihan adik diperut Mam." Cadi tampak khawatir.


"Mama tidak akan begitu." Daniel tenangkan anak-anaknya.


"Tapi aku tidak salah kasih saran begitu kan Pap? ini demi Mam dan Adik." Chandra tidak enak hati.

__ADS_1


"Tidak sayang, kamu tenang saja." jawab Daniel.


"Pap selalu panggil Chandra sayang." protes Charlie.


"Loh Pap juga suka panggil kamu sayang." Chandra ingatkan Charlie.


"Kamu lebih sering di panggil sayang." jawab Charlie.


"Biar saja Cayi, Chandra kan yang lahir duluan." kata Cadi bikin Daniel terkekeh.


"Pap sayang kalian semua kok. Apa ada PR untuk besok?" tanya Daniel.


"Sudah beres Pap." jawab Chandra.


"Ini serius ndak ada yang bujuk Mama ke kamar?" teriak Balen yang sedari tadi merasa diabaikan ternyata minta dibujuk. Semua lalu tertawa sambil menyusul Mamanya ke Kamar, Daniel berjalan paling belakang, tentu saja ikut tertawa geli.


"Mam, tidak apa kan jalannya yang dekat sini saja, supaya kami tidak kepikiran sepanjang hari, sementara Mam senang-senang disana." kata Chandra bikin Balen mencelos, benar saja selama Balen senang-senang pasti mereka kepikiran khawatirkan Balen dan anak bayi diperutnya.


"Mam, benar yang Chandra bilang, aku suka khawatir kalau sore Mam belum sampai rumah." kata Charlie, Daniel naikkan alisnya pada Balen.


"Aku sih kasihan Mam kalau melahirkan tidak ada dokternya, siapa yang gotong Mam nanti?" Balen langsung meringis dengar pertanyaan Cadi.


"Iya deh iya, Mama kulinernya di Balena Hotel saja." kata Balen akhirnya, Daniel tertawa geli mendengarnya.


"Kenapa di Balena hotel Mam?" tanya Cadi.


"Biar Papa yang gendong kalau Mama mau melahirkan, Auntie Kia juga ada Uncle Lucky yang gendong." jawab Balen, ketiga jagoan Balen kompak tersenyum lebar.


"Aku sudah lama tidak ke Balena hotel sejak Mam sibuk acara sendiri." kata Charlie.


"Kalian mau ikut besok? pulang sekolah minta diantar ke Balena hotel saja kalau begitu."


"Aku tidak bisa, besok itu harus latihan basket." jawab Cadi cepat.


"Itu kan hanya main biasa di lapangan rumah Papon." kata Charlie.


"Sembarangan main biasa, kalau latihan serius itu bisa dimana saja, Cayi. Memang kamu tidak mau seperti Panta dan Ayah jadi atlet nasional?" tanya Cadi.


"Kamu saja sama Chandra, aku mau seperti Papon." jawab Charlie.


"Tidak jadi seperti Opa James?" tanya Daniel.


"Tidak, Opa James kata Ayah jarang dirumah, aku tidak betah harus tidur di tempat yang ganti-ganti." jawab Charlie.


"Sama saja Papon juga suka tugas luar kota." jawab Balen.


"Tapi Papon punya rumah sendiri, kalau Opa James harus tinggal dihotel, Mam kenapa Balena Hotel tidak dibangun disetiap kota? jadi kalau aku seperti Opa James aku bisa punya kamar sendiri di Balena hotel, tanpa bergantian dengan tamu lain." tanya Charlie pada Balen.

__ADS_1


"Tuh Aban, PR baru." kata Balen.


"Doakan saja sayang." kata Daniel mengacak anak rambut Charlie.


__ADS_2