
"Yeaaay, Malaaang!!!" Balen langsung bersorak ketika kendaraan mereka masuki kota Malang. Tetap ikuti perintah Kenan, mobil mereka selalu berada di belakang van yang Kenan sewa.
"Senang betul yang sampai Malang." Daniel tertawa melihat istrinya yang bersorak sambil joget-joget angkat tangan ke atas.
"Aban juga senang kan?" tanyanya pada Daniel.
"Iya kalau kamu senang, Abang pasti senang." jawab Daniel tersenyum.
"Oh Uncle, kamu selalu bikin aku iri." gerutu Tori menghembus nafas kasar.
"Tidak boleh iri, Roti." kata Richie tertawa.
"Ish, bukannya mikir." Tori kembali menggerutu.
"Ya, berarti rejeki kamu memang seperti ini." Richie tertawa senang kerjai Tori.
"Ichie, nanti kalau Tori ada yang natsi kamu pusing lagi." Balen ingatkan adiknya.
"Oh biar saja ada yang Natsi, tetap nanti menikahnya sama aku." jawab Richie tersenyum lebar.
"Semoga aku tidak berubah pikiran." sungut Tori menepuk bahu Richie.
"Semoga, aku doakan kamu tidak bisa ke lain hati." jawab Richie bikin Daniel tertawa.
"Seperti aku ya, pasti Baen sumpahi ini jadi tidak bisa ke lain hati." Daniel merangkul Balen.
"Eh Aban kok tahu sih, waktu Aban ndak telepon Baen berapa tahun itu, Baen langsung sumpahi Aban tahu." aku Balen sambil tertawa geli.
"Ish pantas saja, Abang seperti ini." Daniel mencium pipi istrinya.
"Tapi ndak nyesal kan Aban?" tanya Balen tertawa.
"Tidak dong, bersyukur malah." jawab Daniel tersenyum bahagia.
"Aban, Opon Baen itu jahil tahu, Aban nanti jangan pusing ya." pesan Balen saat mereka masuki komplek perumahan Opon.
"Yah, Abang kan sudah biasa hadapi kamu, Ichie, Redi dan anak-anak kita. Kamu bayangkan kelakuan kalian itu seperti apa." kata Daniel pada Balen.
"Ini beda Aban, kalau anak-anak kan Aban bisa marahi, kalau Opon mana bisa."
"Jahilnya lucu kok, tidak bikin kesal." kata Richie pada Daniel.
"Iya kalau kamu kan jahilnya bikin kesal." sungut Tori bikin Richie tertawa.
"Jangan kesal-kesal sama aku, nanti kamu rindu terus loh." Richie mengacak anak rambut Tori. Meskipun Richie sering bikin kesal tetap saja Tori sudah cinta mati, maunya menikah sama Richie saja.
Handphone Balen berdering, Bima yang hubungi Balen rupanya, sepanjang perjalanan Bima dan Aca terus saja hubungi Ante nya.
"Yaa..."
__ADS_1
"Sudah dimana Ante?" tanya Bima pada Balen.
"Sudah masuk komplek Opon, sebentar lagi sampai." jawab Balen.
"Ante, bawakan pempeknya Opa Bagus." pesan Bima pada Balen, belum juga sampai sudah pesan pempek si Bima.
"Memangnya masih bikin pempek? sudah tua masih juga kamu suruh masak."
"Bukan Opa kok yang bikin, pegawainya. Ante Opa kan sekarang punya rumah pempek, terkenal di Malang. Payah nih Ante tidak tahu."
"Ante Ulan ndak pernah cerita."
"Ante Ulan tidak tahu kali, itu Kisna yang urus."
"Keren Kisna sudah bisa urus usaha Papanya." Balen langsung memuji Kisna di depan Bima.
"Aku juga keren Ante, bukan Kisna saja yang keren."
"Kamu memangnya sudah bantu Panta?"
"Aku bantu Panta kok. Aku dan Aca hari ini mulai magang di kantor Papon." Bima banggakan diri.
"Itu kan karena tugas dari sekolah, hayo ngaku."
"Hehehe iya sih, itu juga cuma seminggu." jawabnya tertawa.
"Bima sudah dulu ya, sudah sampai nih." Balen matikan sambungan teleponnya saat Richie parkirkan mobil di carport rumah Opa Baron.
"Baeeen!!!" Opon ikutan berteriak sambil joget-joget sambut kedatangan anak cucu menantunya. Sudah tahu ya kenapa Balen suka joget-joget, apa Opon yang ketularan Balen ya?
"Aban itu Opon." Balen tertawa tunjuki Oponnya.
"Ya." Daniel jadi ikut tertawa lihat Opon yang jalan terpincang-pincang tapi paksakan diri joget-joget sambut semuanya.
"Lucu Opa kamu Baen." Tori ikut tertawa geli.
"Lucu tapi jahil." bisik Balen pada Tori. Balen segera turun dari mobil dan hampiri Opon lalu memeluknya.
"Ih Bau, katanya wangi." Opon tutup hidungnya.
"Bohong!" Balen tidak terima dibilang bau langsung ciumi diri sendiri mengendus.
"Baen wangi kok." katanya lagi pada Opa Baron.
"Bau ah, sana mandi." Opa Baron langsung menepuk bahu cucunya.
"Baen kan ndak nginap sini." katanya lagi.
"Kalian semua menginap disini, semua kamar sudah dirapikan dan layak huni." kata Oma Mita pada Balen dan yang lainnya.
__ADS_1
"Mas Vicky mana, Oma?" tanya Balen setelah peluki Oma.
"Vicky dirumah Papanya, baru kemarin dijemput." jawab Oma Mita sebut mantan suaminya.
"Oh, Mas Vicky mengungsi karena kita datang kah?" tanya Richie tidak enak hati.
"Tidak memang Vicky sudah seminggu disini, kemarin giliran menginap dirumah Papanya. Bukan karena kalian." jawab Oma Mita apa adanya
"Opon kakinya masih bengkak ya?" tanya Balen perhatikan kaki Opa Baron.
"Masih, jalan juga masih agak susah." jawab Opa Baron jujur.
"Kaya gareng ya Opon, kalau lagi kumat." kata Balen bikin semua terbahak.
"Cucu durjana, Opon sakit di bilang seperti gareng." gerutu Opa Baron tapi ikut tertawa geli.
"Ih Baen benar kan Mamon, coba Opon jalan deh." kata Balen minta Opa Baron berjalan, benar saja jalannya Opon agak sulit dengan pantat sedikit menungging.
"Masih bilang Baen cucu durjana? Baen kasih tahu yang benar." gerutu Balen langsung menuju dapur panggil asisten rumah tangga.
"Mau apa Baen?" tanya Daniel apa Balen.
"Bikin jus nanas sama lobak untuk Opon, itu obat Asam urat " kata Balen segera memberi arahan kepada asisten rumah tangga apa saja yang harus di berikan pada Opa Baron.
"Tuh sebentar lagi jus Opon datang, diminum loh jangan menolak." kata Balen pada Opanya.
"Baen bobonya dimana Oma? Baen mau rebahan." kata Balen kemudian pada Oma Mita.
"Baen, ajak Tori istirahat." kata Mamon pada Balen.
"Tori sama Mamon ya bobonya, biar Richie sama Papon." kata Nona pada Tori.
"Oke Mamon, biasanya aku sama Baen." Tori tertawa.
"Harap maklum ya Tori, Baen lagi persiapkan anaknya cucu dulu." kata Opon tanpa disaring.
"Opon!!!" Balen mendelik pada Opa Baron.
"Loh memang iya kan? memangnya Opon salah?" tanya Opa Baron tanpa dosa.
"Opon ndak Salah, tapi ngomongnya ndak disaring ih. Oma masakan Baen mana?" langsung tanyakan menu masakan.
"Mandi dulu sana kamu bau." kata Opa Baron lagi.
"Aban cium Baen deh, emangnya Baen bau ya?" langsung hampiri Daniel minta dicium.
"Ih, malu dong masa cium disini." bisik Daniel salah tingkah.
"Ndak apa cium aja." Daniel langsung ikuti maunya Balen cium rambut istrinya lalu cium dahi dan cium pipi.
__ADS_1
"Wangi kok." kata Daniel jujur.
"Tuh Opon kata Aban Daniel Baen wangi tahu." langsung protes pada Opon, sementara yang lain tertawa geli lihat Balen dikerjai Opa Baron.