
Seminggu berlalu, saat ini Balen dan Althea sedang berjalan cepat di koridor rumah sakit mengikuti Achara yang sedang terbaring di brankar pasien dan di dorong oleh perawat yang bertugas.
"Bagaimana ceritanya?" tanya Balen karena tiba-tiba saja dihubungi Althea saat Achara jatuh pingsan dikampus sementara Balen sedang dalam perjalanan ke kampus.
"Aku juga baru sampai dan saat hampiri Achara tiba-tiba dia terjatuh tidak sadar." jawab Althea.
"Sudah hubungi keluarganya?" tanya Balen.
"Tidak tahu nomornya, handphone Achara tidak ada di tas." jawab Althea. Achara tengah ditangani oleh dokter di UGD. Memang penyakit kalau sudah mau datang tidak pakai permisi, Achara yang rajin berolah raga dan selalu rajin lakukan pemeriksaan kesehatan kini malah terbaring di rumah sakit.
"Bagaimana kondisi teman saya, dokter?" tanya Balen saat dokter yang tangani Achara sudah selesai memeriksa Achara dan melepaskan sarung tangannya.
"Sedang di observasi, tadi sudah kami lakukan pengambilan darah." jawab si dokter yang perkiraan Balen seumuran Papon.
"Sebelumnya pasien ada keluhan apa?" tanya Achara.
"Tidak ada, teman saya sangat sehat." jawab Balen.
"Baiklah saya tinggal dulu." jawab si dokter lalu kembali memeriksa pasien yang lain.
"Bagaimana?" tanya Althea saat Balen hampiri.
"Masih menunggu hasil lab." jawab Balen, Althea anggukan kepalanya.
"Ayo..." Balen menarik tangan Althea dan hampiri Achara yang masih belum sadar juga.
"Suster, teman saya kenapa belum sadar?" tanya Balen khawatir. Suster hampiri Achara untuk melihat kondisinya.
"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan." jawab Sister membuat Balen dan Althea menarik nafas lega. Bagaimanapun dinegara orang Balen dan Althea yang menjadi keluarga Achara.
"Mau kabari pacarnya?" tanya Althea.
"Siapa? Markus atau Berryl?" tanya Balen bingung, karena saat ini Achara dekat dengan kedua pria itu.
"Kalau Markus aku bisa hubungi Daniel." kata Balen.
"Jangan Balena, jangan beritahu siapapun." tiba-tiba Achara menepuk tangan Balen yang paling dekat dengannya.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Balen tersenyum lega melihat temannya itu.
"Kamu kenapa bisa jatuh tiba-tiba?" tanya Althea.
"Tidak tahu, setelah dari California kondisiku tidak begitu baik, cenderung lemah." jawab Achara.
"Kamu tidak bilang kita, seharusnya kalau tahu begitu langsung ke dokter." omel Balen pada Achara.
"Ya, sekarang kan kita sudah di dokter." Achara terkekeh.
"Kenapa tidak boleh kasih tahu Markus?" tanya Balen.
"Tidak usah nanti malah repot kalau tiba-tiba Berryl hubungi aku, lebih baik mereka berdua tidak tahu." jawab Achara terkekeh.
__ADS_1
"Bagaimana sih, kalau punya pacar kan harusnya dia ikut sibuk urus kamu, jangan mau enaknya saja." Balen kembali mengomel.
"Masalahnya mereka bukan pacarku Balena." jawab Achara.
"Temanmu ini, sudah di tiduri tapi tidak mau merepotkan. Paling tidak dia bayari biaya perawatan kamu karena mereka sudah menguras habis tenaga kamu. Sepertinya kamu kelelahan dihajar Markus selama di California." dengus Althea kesal.
"Pssttt... kalian ngomel begitu kalau ada yang dengar bagaimana?" Achara mendelikkan matanya.
"Malu?" tanya Balen.
"Bukan malu nanti ada dokter disini yang minta tidur denganku juga." jawabnya konyol, langsung saja Althea menoyor kepala sahabatnya itu.
"Suster, teman saya sudah sadar." panggil Balen saat Salah seorang sister melewati mereka.
"Baik sebentar saya panggilan dokter." jawab sister tersebut. Tidak berapa lama dokter yang tadi bicara dengan Balen pun datang hampiri mereka, Balen dan Althea menjauh agar ruang gerak dokter dan perawat tidak terganggu.
"Selamat siang Nona, bagaimana ada keluhan?" tanya dokter pada Achara.
"Saya merasa lebih lemah akhir-akhir ini." jawab Achara.
"Makannya bagaimana?"
"Tidak nafsu makan, sudah beberapa hari terakhir hanya makan biskuit dan minum susu." jawab Achara apa adanya.
"Kamu harus makan dengan baik agar tidak membahayakan kondisi bayi dalam kandunganmu."
"Maksud dokter?" Achara tidak mengerti.
"Ya, terima kasih dokter." jawab Achara sedikit tercekat, tidak percaya jika ia hamil, Achara menarik nafas panjang.
"Oh my god, Achara. Bagaimana bisa?" Althea hampiri Achara begitu dokter dan perawat menjauh.
"Kamu hamil?" tanya Balen lagi memastikan. Achara mengangguk lemas.
"Anak siapa?" tanya Balen berbisik.
"Tidak tahu, seharusnya tidak hamil karena selalu pakai pengaman." Achara ikut berbisik.
"Bagaimana ini, kamu sendiri tidak tahu siapa bapaknya. Mau minta tanggung jawab sama siapa?" tanya Althea panik.
"Aku tidak mungkin membuang bayi ini." Achara mengusap perutnya. Senakal-nakalnya Achara ia tidak terpikir mau menggiurkan kandungannya.
"Jadi bagaimana, kita harus hubungi siapa?" tanya Balen bingung dengan kondisi sahabatnya.
"Biarkan aku tidur dulu, aku belum bisa berpikir." Achara segera membalik badan dan pejamkan matanya berusaha tenangkan diri. Tidak tahu harus minta tanggung jawab siapa, tapi Achara tidak mau juga main tunjuk siapa yang harus bertanggung jawab. Kalau sudah begini, Achara juga tidak tahu siapa yang tulus mencintainya. Balen dan Althea dengan setia menunggui sahabatnya tidur.
"Kamu dimana sayang?" tanya Daniel saat hubungi Balen.
"Lagi sama Althea dan Achara, Aban." jawab Balen tanpa beritahukan kondisi Achara.
"Markus hubungi Achara dari tadi tidak diangkat."
__ADS_1
"Sepertinya Achara ndak bawa handphone Aban, ndak dengar bunyi telepon dari tadi. Sekarang Achara lagi tidur." jawab Balen.
"Jadi Abang nanti harus jemput kamu dimana?" tanya Daniel.
"Nanti Baen kasih tahu ya Aban, kalau Aban sudah mau keluar kantor. Ini kita masih belum tahu mau lanjut kemana." jawab Balen.
"Iya sayang, kamu sudah makan belum?"
"Sebentar lagi, Baen belum lapar."
"Jangan sampai tidak makan ya, ingat diperut kamu ada anak kita." Daniel ingatkan istrinya.
"Iya, nanti jam dua belas Baen makan." jawab Balen tersenyum, senang dengan perhatian suaminya. Untung saja Daniel tidak bertanya detail lokasi Balen saat ini.
"Nona Achara sudah boleh pulang, tidak harus dirawat." kata perawat pada Althea.
"Silahkan kebagian administrasi dulu ya." katanya lagi tersenyum manis.
"Balena kartunya di dompetku." kata Achara balikkan badannya.
"Katanya tidur." Balen terkekeh tapi abaikan Achara, segera menuju administrasi.
"Aku ikut?" tanya Althea.
"Temani Achara saja." jawab Balen.
Pembayaran berjalan lancar, Balen gunakan kartunya. Kemudian kembali pada sahabatnya. Tampak Achara dan Althea sedang berkemas.
"Butuh kursi roda?" tanya Balen pada Achara.
"Ya, aku masih lemas." jawab Achara.
"Pulang ke Apartment ku ya, Max sudah tidak disini." Althea menawarkan.
"Iya." Achara menurut, khawatir juga kalau hanya sendiri saat kondisi lemah begini.
"Balena, jangan bilang Daniel ya." pinta Achara pada Balen.
"Ya, aku belum cerita kok." jawab Balen.
"Kamu harus test DNA supaya tahu siapa bapaknya." kata Balen lagi.
"Ya, setelah anak ini lahir." jawab Achara menghela nafas. Balen ikut menghela nafas lalu membantu Achara duduk di kursi roda.
"Kamu tidak bawa Mobil kan?" tanya Althea.
"Tadi diantar Aban Daniel kesini." jawab Balen.
"Balena, berarti Daniel tahu aku sakit?" tanya Achara khawatir.
"Tadi aku lupa bilang kamu sakit apa cuma bilang bertemu kalian disini ya?" jawab Balen berpikir keras, tapi tadi Daniel juga tidak tanya kondisi Achara sih, berarti mungkin Balen hanya bilang minta di antar ke rumah sakit. Balen jadi bingung sendiri.
__ADS_1