
"Opa, Oma..." Kia hampiri Micko dan Lulu lalu ciumi tangannya dengan sopan.
"Jadi menantu Opa juga kamu, Kia." Micko tersenyum lebar sambil menepuk bahu Kia.
"Papa sih..." Lucky langsung pasang wajah cemberut.
"Halah, Papa tahu kamu senang dengan kejutan semalam." jawab Micko menyeringai.
"Ya tapi jangan seperti semalam juga, aku sudah siap ajak Kia kabur saja kalau dia tidak berkenan." jawab Lucky jujur.
"Tapi Kia mau tuh, bilang apa dong sama Mama." Lulu langsung ikut-ikutan.
"Mama mau aku bilang apa? ini bukan April mop tahu."
"Ish, bukannya bilang terima kasih Mama kasih bidadari yang temani kamu seumur hidup." jawab Mama Lulu bikin Kia nyengir dibilang bidadari, agak berlebihan menurut Kia.
"Terima kasih ya Ma, tapi nasib aku empat tahun kedepan bagaimana? punya istri tapi terpisah jauh." Lucky bersungut.
"Apa bedanya sama punya tunangan tapi terpisah juga. Malah bahaya kamu tiap sebentar pasti datangi Kia ke Ohio, nanti anak orang kamu apa-apain lagi." gerutu Mama Lulu, Winner terbahak mendengarnya.
"Kamu pernah aku apakan selama ini?" tanya Lucky pada istrinya, Kia gelengkan kepalanya sambil nyengir.
"Yah kamu tanya begitu, Kia pasti takut jawabnya." sahut Winner tertawakan Lucky.
"Rese, masih perawan nih istri gue, gue jaga kaya porselen tahu." oceh Lucky, "Ayo lah aku lapar, hari ini tidak harus ke kantor kan, Pa?" langsung saja Lucky minta ijin tidak masuk kantor.
"Beneran masih perawan?" tanya Winner kepo, Kia tentu saja risih menjawabnya.
"Ya iya lah, belum gue apa-apain." jawab Lucky, semua langsung tertawa dibuatnya.
"Kenapa, semalam lu ditendang sama Kia?" tanya Winner lagi.
"Kepo deh kepo, Pa, aku tidak ke kantor sampai Kia berangkat ke Ohio " kata Lucky pandangi Micko.
"Kenapa begitu, kalian mau kemana?" tanya Micko.
"Sore ini ke Malang lanjut Korea terus aku antar Kia ke Ohio." jawab Lucky nyengir.
"Ada Winner kan bisa handle kantor." lanjut Lucky lagi.
"Selalu saja semau kamu ya." Lulu gelengkan kepalanya.
"Ini akibat Mama dan Papa yang tiba-tiba saja bikin aku punya istri." jawab Lucky terkekeh, bungsunya memang selalu saja semau gue.
"Ayo makan." ajak Lulu merangkul Kia menuju ke ruang makan yang jaraknya lumayan jauh dari ruang utama.
__ADS_1
"Kalian tidak menginap disini, lusa saja ke Malang bersama Kakakmu sekeluarga" Micko menawarkan.
"Iya, Kia juga belum bertemu Mama dan Papanya kan." Lulu ikut-ikutan.
"Kamu belum telepon Papamu pagi ini, sayang." Lucky ingatkan Kia.
"Nanti saja Om." jawab Kia, tawa Winner langsung meledak.
"Kenapa Lu?" tanya Lucky pada Abangnya.
"Beneran dipanggil Om lu sama Kia." Winner masih saja tertawa.
"Kan gue sudah bilang." Lucky ikut tertawa.
"Nanti juga berubah panggilannya, Kia masih adaptasi." Lulu memaklumi.
"Kalau panggil Om terus nanti Lucky dikira bujangan loh Kia?" Winner kompori Kia.
"Biar Om Lucky senang deh." jawab Kia bikin Lucky mencubit pipinya gemas.
"Oom..." langsung berteriak sambil usap pipinya.
"Lucky..." Lulu wakili Kia pukuli bahu bungsunya.
"Huhu Oma." Kia merengek minta perlindungan, Micko terkekeh, tidak ada yang berubah dari keduanya, sebelum menikah pun mereka selalu begitu.
"Pa, jadi aku boleh kan cuti tiga minggu?" tanya Lucky pada Micko saat mereka sudah duduk manis di meja makan.
"Yakin cuma tiga minggu?" tanya Micko
"Malah kalau boleh aku ikut pindah ke Ohio." jawab Lucky nyengir pandangi Micko lalu menoleh pada istrinya.
"Senang kan kalau aku temani kamu di Ohio?" tanya Lucky sambil menjawil pipi Kia.
"Beneran Om?" Kia langsung saja berbinar-binar, tentu saja senang ada Lucky di Ohio, bukan karena Lucky sudah menjadi suaminya, tapi Kia terbiasa diperhatikan Lucky sedari dulu.
"Kalau Papa ijinkan." Lucky naikkan alisnya kembali pandangi Micko yang cengar-cengir bahagia pandangi anak dan menantunya.
"Terserah kamu saja." jawab Micko akhirnya, mulai sendoki nasi kepiringnya.
"Kia mau makan apa? seperti Opa Kenan kah minum jus?" tanya Lulu pada Kia.
"Yang ada saja Oma, Kia belum sehebat Papon." Kia tertawa bayangkan gaya hidup sehat Opa Kenan yang kadang diikuti oleh Papanya dirumah.
"Kia belum bisa masak nih Ma, harus diajari." kata Lucky pada Mamanya.
__ADS_1
"Tidak usah, ribet." jawab Micko cepat.
"Hahaha Opa, nanti Kia belajar pelan-pelan." jawab Kia tertawa.
"Kalau Opa bilang tidak usah, ya tidak usah Kia, Lucky suruh bayar orang untuk masak. Yang penting kamu urus keperluan Lucky dan anak-anak kalian nanti. Urusan dapur serahkan pada ahlinya." jawab Micko tegas.
"Istri gue juga tidak bisa masak, santai saja Kia." Winner cengar-cengir.
"Yah terbukti pagi-pagi elu sudah disini Bang Winner." Lucky terkekeh.
"Oh iya kemana Lina?" tanya Lulu yang baru sadar kalau menantunya tidak ikut, hanya Winner bersama anak-anak dan babysitter saja.
"Lina lagi temani neneknya dirumah, Ma. Makanya bocah aku ajak kesini biar nenek tidak pusing." jawab Winner.
"Padahal anak-anak itu pelipur lara loh." Lulu gelengkan kepalanya.
"Buat Mama pelipur Lara, tapi Neneknya Lina tidak suka kalau dengar anak menangis. Anakku Mama tahu sendiri lihat Mamanya langsung mewek minta digendong."
"Neneknya menginap Bang?" tanya Lucky kadang panggil Abang kadang panggil nama saja pada Winner, dulu malah lebih parah Lucky suka mengaku sebagai Abangnya Winner.
"Tadi malam, hanya semalam saja. Nanti adiknya Lina jemput, bocah titip disini ya Ma, aku ke kantor." Winner nyengir pandangi Mamanya.
"Boleh dong." jawab Lulu tersenyum senang hari ini bisa bermain dengan cucunya.
"Pa, jadi aku bagaimana?" tanya Lucky lagi.
"Ya kan Papa bilang terserah kamu." Micko acuh tak acuh.
"Ya terserah juga mesti jelas dong, aku duduk dimana nanti di kantor Itu." berhubung belum jadi pengambil keputusan di kantor Papanya, maka Lucky pun minta arahan Micko.
"Nanti Papa atur." jawab Micko akhirnya.
"Yeay tidak jadi jarak jauh kita." Lucky bersorak senang seperti bocah sambil mengacak anak rambut Kia.
"Are you Happy, beib?" tanya Lucky, ganti lagi panggilnya, sekarang beib.
"Happy dong, terima kasih Opa." wajah Kia langsung terlihat sumringah.
"Ditinggal dong kita." Lulu bersungut.
"Winner suruh pindah kesini saja Ma, jadi Mama ditemani anak menantu sama cucu." Lucky melirik Winner jahil, sudah pasti Lina istri Winner tidak mau tinggal dirumah mertua, secara keluarga Lina hilir mudik datangi rumah mereka. Sebenarnya tidak masalah hanya saja Lucky kesal Lina menjaga jarak dengan keluarga suaminya tapi habis-habisan untuk keluarganya sendiri.
"Kompor deh, jangan konyol." Winner langsung menoyor kepala Lucky yang duduk di dekatnya.
"Om Winner, suami Kia nih." halah Kia so sweet betul bikin Lucky senyum-senyum senang dibela oleh istrinya.
__ADS_1